Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Simpan penasaranmu


__ADS_3

Naia segera menyusul Nuraini yang sibuk memasak mie instan di dapur. Sedangkan Dewa dibantu Silvia, membersihkan rumah yang mereka tinggal selama dua hari.  Walaupun rumah Dewa tidaklah besar, tapi cukup membuat mereka berdua berkeringat saat membersihkannya, "Udah beres dan udah bersih mas.. Hhuuuhhft capek juga ya, gerah.. Aku tinggal mandi ya mas.." ucap Silvia sambil menyambar handuknya.


"Iya. Makasih ya Silvia, udah dibantuin bersihin rumah.." jawab Dewa sambil meletakkan sapu dan alat pel di tempatnya. Dewa kemudian menyiapkan menggelar karpet di ruang tengah, tempat biasa mereka makan bersama. Setelah itu Dewa pun bergegas masuk kamar mandi sesaat setelah Silvia selesai mandi.


Dewa dan Silvia mengobrol di ruang tengah sambil menunggu masakan siap. Tak lama kemudian, "Makanan siaaappp.. Mie goreng telor dadar bintang lima buatan aku sendiri.." ucap Naia membanggakan masakannya.


"Wiiihhhh.. Enak nih, pas perut lagi lapar, makanan datang.." ucap Dewa setelah keluar dari kamar mandi.


Nuraini menata makanan pelengkap di atas karpet, "Ini irisan cabenya kalau kurang pedas. Kalau mau tambah kecap, ini kecap pedasnya, kalau mau saos sambal, itu ada disana.." 


"Makasih ya Naia, Nur, udah dimasakin.." ucap Dewa.


Energi yang terkuras setelah membersihkan rumah ditambah perut yang lapar membuat Dewa makan dengan lahapnya.


Silvia mulai menggoda Naia, "Ini sih bukan mie bintang lima Nai, tapi bintang tujuh. Uenaaaaakk pake banget.." puji Silvia.


"Yeeee.. Emangnya puyer, bintang tujuh.." sahut Naia.


Mendengar celotehan Silvia dan Naia, Nuraini langsung menyenggol kakaknya dan memberi isyarat, kemudian mereka saling pandang dan menahan tawa melihat tingkah Silvia dan Nuraini.


"Eh.. Kenapa Nur..? Kok ketawa-ketawa segala sama mas Dewa juga..? Hayo kenapa..?" tanya Naia curiga.


"Enggak kok kak.. Kan tadi juga udah Nur bilang, kalian nih lucu. Kalau gak ketemu bingung saling nyariin, begitu ketemu langsung ribut sendiri gara-gara hal kecil.. Hihihi..." jawab Nuraini sambil tertawa kecil.


"Eh.. Kalau gak seperti itu bukan Naia sama Silvia. Walaupun kami ribut, tapi sebenarnya kita sehati. Iya kan Nai..?" ucap Silvia sambil mencolek tangan Naia yang sedang mengambil mie..


"Eh.. Jangan senggol dulu ah.. Jatuh kan jadinya.. Iya-iya kita memang sehati.." omel Naia sambil membersihkan mie yang jatuh di karpet.


"Udah-udah. Didepan makanan jangan bercanda. Nanti berkah makanannya ilang.." ucap Dewa.


Mie yang dimasak Naia dan Nurainipun habis tanpa tersisa. Nuraini membereskan semua peralatan bekas kami makan dibantu oleh Silvia, sedangkan Naia memilih duduk sambil mengobrol dengan Dewa, "Eee.. Mas, kapan nih kita mulai berlatihnya.. ?" tanya Naia.


"Terserah kamu aja non mau kapan dimulainya, semakin cepat semakin baik. Sekalian aja ajak itu teman-temanmu biar rame.. Tapi kalian tidak langsung belajar teknik bela dirinya, untuk seminggu awal ini kalian latihan fisik, karena fisik kalian perlu ditempa dulu biar kuat, baru nanti setelah seminggu lanjut berlatih teknik dasar bela dirinya.." jawab Dewa


"Iya deh, nanti aku ajak teman-teman yang mau. Si Oki tuh dulu pernah bilang pengen diajarin juga, biar kalau ada kejadian seperti dulu itu kita bisa melawan.." sahut Naia, dijawab dengan acungan jempol oleh Dewa, kemudian Naia bertanya, "Tapi mas kan yang ajari kami teknik bela dirinya..?" Naia memastikan.


"Untuk teknik dasarnya, aku malah pengen kalian belajar teknik bela dirinya bang Kosim, Mua Thai. Karena teknik itu punya pertahanan yang bagus dan banyak serangan yang mematikan, sangat cocok untuk bela diri praktis.." Naia hanya menganggukkan kepala mendengar penjelasan Dewa.

__ADS_1


Saat sedang sik mengobrol, tiba-tiba Risa datang bersama dengan Oki dan Satria dan membuat Dewa heran, "Loh itu mereka datang, kok mereka tau kita udah sampai..?" 


"Oh.. Aku tadi yang wa Risa. Minta dijemput balik ke basecamp.." jawab Silvia.


"Oh.. Kirain mau nginep sini lagi kalian.." ucap Dewa.


"Maunya sih gitu kak, tapi masih besok masih harus ke lokasi KKN, lagian gak enak juga sama teman-teman, ntar dikira kita gak setia kawan.." jawab Nuraini dibarengi anggukan dari Silvia dan Naia.


"Assalamu'alaikum.." ucap mereka.


"Wa'alaikumsalam.. Sini masuk.. Wah telat kalian, baru aja kita makan. Kalian udah makan..?" tanya Naia.


"Udah.. Tadi selesai makan langsung kesini.." jawab Risa.


Risa, Oki dan Satria, setelah bersalaman dengan Dewa, untuk beberapa saat ketiganya diam dan entah bingung atau takut untuk memulai pembicaraan. Sampai akhirnya Dewa mengawali obrolan dengan mereka, "Gimana kabar kalian..? Preman kampung itu masih menganggu kalian kah..?" tanya Dewa basa-basi


"Oh.. Alhamdulillah mas sudah gak diganggu lagi.." jawab Risa.


"Iya bang, tapi di warung sebelah balai desa itu sekarang makin tambah ramai bang. Kadang-kadang mereka juga mengawasi basecamp kita, ya kami jadi kadang khawatir juga bang.." sambung Oki.


"Eh.. Aku buatin minum dulu ya..? Kalian duduk santai aja, anggap aja rumah sendiri.." ucap Dewa sambil berdiri, tapi Silvia segera mencegahnya, "Gak usah mas, biar aku aja yang bikin.." ujar Silvia sambil melangkah ke dapur diikuti Naia.


"Kalau itu aku kurang tau mas, sepertinya sih enggak mas. Tapi gak tau juga sih, aku gak berani lihat warung itu. Kayak trauma kalau lihat warung itu.." jawab Risa dengan wajah murung.


"Udah kalian gak usah terlalu khawatir gitu, yang penting mereka gak ganggu aja. Risa juga, kamu tenang aja, gak usah takut.." sahut Dewa menenangkan Risa.


Silvia datang dengan membawa beberapa cangkir minuman kemudian, "Diminum gih, mumpung masih hangat.." ujar Silvia menawarkan.


"Makanya mas, kemarin itu Oki bilang kalau pengen latihan bela diri sama mas, tapi mereka gak tau apa mas Dew, eh mas Dede bisa mengajari mereka apa gak.." ucap Naia hampir keceplosan.


"Gak masalah, asalkan kalian serius mau berlatih.." ucap Dewa


"Beneran boleh bang..? Wah kebetulan sekali kalau begitu.." jawab Oki antusias.


"Iya boleh, mumpung kalian juga masih ada waktu paling gak sampai KKN berakhir.. Lumayan lah bisa berlatih dasarnya, tapi ya seperti yang aku bilang tadi, harus sungguh-sungguh.." jawab Dewa.


"Latihannya dimana dan mulai kapan mas..? Latihan disini..?" tanya Risa penasaran.

__ADS_1


"Kalian diskusi aja dulu sama Naia kapan mulainya. Kalau bisa secepatnya aja, biar punya waktu agak banyak. Karena latihan bela diri itu harus bertahap.. Tempat latihannya di sasana Lerengwilis dekat kantor kecamatan itu, untuk jam latihannya menyusul aja deh, nanti aku kasih tau lewat Naia aja.." jawab Dewa.


Obrolan mereka terhenti ketika adzan magrib berkumandang dari musholla sebelah rumah. Dewa pun mengajak mereka untuk sholat berjamaah di musholla, "Ayuk, terutama yang cowok, sholat jamaah di musholla. Yang cewek kalau mau ikut juga gak pa pa.." ajak Dewa kepada Oki, Satria dan yang lain.


"Aku dirumah aja deh mas, temani Silvia yang lagi halangan.." sahut Naia.


"Aku juga masih belum sholat. Udah hari-hari terakhir sih.." jawab Risa menjelaskan kalau dia juga sedang halangan.


Akhirnya hanya Dewa, Oki, Satria dan Nuraini yang berangkat ke musholla berjamaah sholat magrib dan menunggu di musholla sampai sholat isya' selesai. Setelah selesai sholat isya', merekapun pamit untuk kembali ke basecamp.


Setelah kepergian Naia dan yang lainnya, Dewa membuat dua cangkir kopi. Melalui persepsi jiwanya, Dewa bisa merasakan bahwa mbah Sastro sebentar lagi akan bertamu ke rumahnya. Dan benar saja begitu selesai membuat kopi, terdengar suara salam dari mbah Sastro, "Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam.. Silahkan masuk guru, silahkan duduk, kebetulan kopinya baru saja dituang.." jawab Dewa sambil menyuguhkan kopi kepada mbah Sastro.


"Hehhehhehhe. Nak Dede sudah sekarang sudah terbiasa memakai persepsi jiwa, hingga tau aku akan bertamu.. Bagaimana kabarmu nak Dede..?" ucap mbah Sastro.


"Alhamdulillah seperti yang guru lihat aku dalam keadaan yang sangat baik. Masalah persepsi jiwa, semua berkat ketelatenan dan kesabaran guru dalam membimbingku.." jawab Dewa.


"Tadi aku lihat rumahmu ramai dengan mahasiswa. Kamu tidak khawatir mereka tau dirimu yang sebenarnya..?" tanya mbah Sastro menyelidik.


"Sebenarnya tiga diantara mereka sudah tau tentang diriku yang sebenarnya.. Yang pertama cewek yang berjilbab, Nuraini namanya. Dia adalah adik kandungku yang paling kecil, yang kedua cewek yang berambut panjang, Naia namanya, kami sudah dijodohkan oleh orang tua kami, dan yang ketiga cewek yang rambutnya sebahu dan paling tinggi diantara mereka, Silvia namanya. Dia adalah sahabat dari Naia.." jawab Dewa menjelaskan.


Mbah Sastro mendengarkan penjelasan Dewa dan tersenyum, "Hehhehhehhe.. Adikmu itu punya persepsi jiwa yang sangat kuat. Dia pasti anak yang sangat tekun beribadah. Sedangkan calon istrimu itu dia sangat tulus mencintai kamu. Bahkan dia rela menukarkan hidupnya untuk keselamatanmu. Sedangkan sahabatnya, hhhhheeh.. Dia akan mengorbankan apapun untuk kebahagiaan sahabatnya. Mereka itu seperti satu nyawa dalam dua tubuh. Selebihnya, lebih baik tidak aku katakan dulu kebenarannya kepadamu.." ucap mbah Sastro lalu menarik nafas panjang lalu melanjutkan ucapannya, "Kau sungguh beruntung, jika aku seusiamu dan aku berada pada posisimu, maka akan kunikahi keduanya.. Hehhehhehhe..." ujar mbah Sastro sambil menepuk pundak Dewa.


Dewa sangat terkejut dengan ucapan mbah Sastro tentang Naia dan Silvia, dia ingin menanyakan maksud ucapan gurunya itu, tapi mbah Sastro segera mengalihkan pembicaraannya, "Sudahlah gak usah dibahas dulu masalah tadi. Kedatanganku kemari karena kegelisahan hatimu memanggilku. Sekarang tunjukkan padaku, mana barang yang ditinggalkan olehnya.." pinta mbah Sastro.


Dewa menunjukkan tusuk gigi yang ditinggalkan oleh nenek di rest area KM 45. Dewa masih bisa merasakan energi spiritual yang begitu pekat walaupun sudah dua hari dia menyimpannya.


Mbah Sastro menerima tusuk gigi yang diberikan Dewa, selanjutnya beliau tertawa terkekeh, "Hehhehhehhe.. Hehhehhehhe.. Ternyata dia sudah menampakkan dirinya.. Eeee.. Apa nak Dede percaya kalau aku katakan bahwa dia memang sengaja menunggumu di tempat itu..?" tanya mbah Sastro.


"Maksud guru nenek yang meninggalkan tusuk gigi yang guru pegang itu..? Apakah guru mengenalnya..? Dan bagaimana beliau bisa tau bahwa aku akan istirahat disana..? Apakah semua yang terjadi hanyalah kebetulan saja..? Lalu mengapa beliau menungguku..?" Dewa sangat penasaran dengan ucapan mbah Sastro hingga bertanya beberapa pertanyaan sekaligus.


"Tentu aku mengenalnya, siapa dia, dan bagaimana dia tau, tanyakan sendiri padanya. Tidak lama lagi nak Dede juga akan berjumpa dengannya.. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semua yang terjadi di dunia ini sesuai dengan rancangan Sang Hyang Agung.. Hehhehhehhe.." ucap mbah Sastro sambil tertawa terkekeh. Mbah Sastro memegang tusuk gigi itu lalu melanjutkan ucapannya, "Dia menunggumu ya tentunya untuk menitipkan tusuk gigi ini padaku, untuk memberitahuku bahwa dia sudah keluar dan sedang mencari murid dan dia sudah menemukan kandidatnya.." mbah Sastro semakin membuat Dewa panasaran. Tapi mbah Sastro segera memperingatkan Dewa, "Simpan penasaranmu, sekarang aku akan menjelaskan sedikit tentang kitab lain selain kitab yang sudah kamu pelajari.." ucap mbah Sastro lalu meminum kopinya.


"Ada apa dengan kitab yang aku pelajari ini guru..? Apakah ada versi lain dari kitab ini..?" tanya Dewa bersemangat.


"Sebenarnya bukan versi lain. Lebih tepatnya kitab yang kamu pelajari itu mempunyai pasangan.. Kamu pasti merasakan energi spiritual yang kamu rasakan di tusuk gigi ini sedikit berbeda dari milikmu. hal ini karena sifat dari kedua kitab itu berbeda.." jawab mbah Sastro serius.

__ADS_1


Dewa makin penasaran dengan penjelasan mbah Sastro. Muncul pertanyaan dalam benaknya, "Bagaimana sebuah buku mempunyai pasangan..? Dan siapakah sebenarnya yang mengarang kitab itu..?" gumam Dewa dalam hati.


__ADS_2