Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Kabar bahagia


__ADS_3

Setelah berbagi kisah tentang kesuksesannya membangun kerajaan bisnisnya, pak Wira kemudian mengatakan tujuan sebenarnya dia datang ke kota AB, "Kebetulan kalian semua berada disini, jadi kedatangan adalah keputusan yang terbaik.. Silahkan mas Gun untuk menyampaikan informasinya.." ucap pak Wira.


"Terimakasih dik Wira.. Jadi hari ini saya umumkan bahwa akhir bulan depan aku akan menikahkan putriku Nuraini, sekaligus secara resmi saya mengundang kalian semua untuk ikut menjadi saksi pernikahan Nuraini.." ucap pak Gunawan.


Suasana hening, hingga Dewa bertepuk tangan untuk kabar gembira itu yang kemudian semua yang hadir ikut bertepuk tangan sehingga suasana di dalam ruangan menjadi ramai dan meriah. Nuraini beranjak dari duduknya kemudian datang dan memeluk pak Gunawan, "Terimakasih ayah.." ucapnya


"Waaahhh.. Bos kecil menikah, Alhamdulillah..." ucap Loreng dan Roni bersamaan.


"Semoga mbak Nur bahagia dan dikaruniai banyak anak.." ucap Tiara.


"Terimakasih atas do'anya Tiara.." ucap Nuraini.


"Ternyata Niko benar-benar akan menikahi dengan Nur akhir bulan ini, aku bisa lebih tenang sekarang.." gumam Dewa dalam hati.


Pak Wira mengangkat tangannya meminta semua yang di ruangan itu tenang, "Satu lagi, bahwa setelah Nuraini melakukan prosesi ijab qabul, dilanjutkan dengan acara ijab qabul putriku Naia dengan Dewa. Dengan kata lain, saya akan menikahkan Naia dengan Dewa setelah mas Gunawan menikahkan putrinya, Nuraini.." ucap pak Wira.


Berbeda dengan saat mendengar berita tentang Nuraini, berita yang diumumkan oleh pak Wira membuat Dewa dan Naia terdiam dan bingung karena tidak pernah sekalipun pak Wira dan pak Gunawan mengajak mereka bicara perihal pernikahan itu. Meskipun mereka semua tau bahwa Dewa dan Naia adalah sepasang kekasih, tapi kebingungan di wajah Dewa dan Naia membuat semua yang hadir di ruangan itu diam.


"Bos akan menikah..? Tapi mengapa sepertinya bos dan nyonya bos terlihat bingung ya..? Apakah bos dan nyonya bos tidak tau perihal ini..?" gumam Yuma dalam hati


"Hah..? Mengapa Naia tidak cerita kalau akhir bulan ini mereka akan menikah..? Apa mereka tidak tau, atau memang papa sama ayah sengaja tidak memberitahu mereka..?" tanya Silvia dalam hati.


Suasana hening beberapa saat hingga Naia membuka suaranya, "M-menikah akhir bulan ini..? Papa serius..?" tanya Naia bingung.


"Ini tidak sedang bercanda kan yah..? Mengapa ayah tidak memberitahuku sebelumnya..?" tanya Dewa yang sama bingungnya dengan Naia.


"Kalau melibatkan kalian dalam rencana ini, maka tidak akan pernah selesai. Lebih baik kalian ikuti saja apa kata kami para orang tua ini, kami sudah mengaturnya untukmu.." ucap pak Gunawan.


"Oiya, ini papa bawa undangannya, mungkin kamu ingin mengundang teman-teman kuliahmu, tapi hanya untuk dua puluh orang saja.." ucap pak Wira sambil memberikan tumpukan undangan tanpa nama.

__ADS_1


"T-tapi pa, apa gak terlalu cepat..? Lagian juga kuliahku belum selesai, apa gak sebaiknya nunggu kuliahku selesai dulu..? Belum lagi mas Dewa juga masih harus selesaikan pembangunan pusat pelatihannya.." protes Naia.


"Sudahlah kamu ikuti aja apa kata orang tua. Papa dan mas Gunawan sudah menghitung dengan cermat, dan ini adalah waktu terbaik untuk kalian menikah.." ucap pak Wira sambil tersenyum.


Naia hanya menggembungkan pipinya setelah mengetahui protesnya sama sekali tidak didengarkan oleh pak Wira. Walaupun demikian, Naia merasa sangat bahagia, hal yang dinantikannya akhirnya datang juga, meskipun lebih cepat dari dugaannya. Berbeda dengan Silvia, perasaan sedih terlukis di wajahnya meskipun dia berusaha untuk tetap tersenyum, "Ada apa dengan diriku..? Mengapa aku sedih mendengar berita ini, bukankah aku seharusnya bahagia..? Mengapa aku merasa akan kehilangan Naia dan apa aku menginginkan hal yang sama dengan Naia..? Tidak-tidak.., perasaan ini tidak boleh dibiarkan, mas Dewa diciptakan untuk Naia. Seharusnya aku bahagia, kebahagiaan Naia adalah kebahagiaanku juga.." gumam Silvia dalam hati.


Hal yang sama dengan Silvia juga dirasakan Tiara. Meskipun dia terlihat tertawa, tapi dia merasa sangat sedih, "Bang Dewa akan menikah dengan mbak Naia, tapi mengapa aku merasa akan kehilangan bang Dewa..? Apakah setelah menikah, bang Dewa tetap sayang padaku..? Mengapa aku seperti iri dengan mbak Naia..? Enggak-enggak.., aku tidak boleh seperti ini, justru aku yang seharusnya menjaga kebahagiaan mereka.." ucap Tiara dalam hati.


"Naia dan Nuraini, kalian minggu depan harus pulang untuk dipingit, jadi selama seminggu ini kalian delegasikan urusan pekerjaan kepada yang lainnya.." sambung pak Gunawan.


"Tenang saja bos kecil, percayakan urusan pembangunannya padaku. Setelah menikah bos kecil bisa tenang berbulan madu bersama suami.. Hehehehe..." ucap Yuma.


"Eh, bang Yuma bisa aja.." sahut Nuraini malu-malu.


Entah siapa yang memulai, tapi suara tepuk tangan kembali terdengar di ruangan itu dan membuat suasana kembali meriah. Dua berita yang membuat mereka bahagia dan bersemangat.


"Hei anak muda, jangan ulangi kejadian beberapa tahun yang lalu. Kali ini kau harus datang..!" ucap pak Gunawan tegas.


*****


Setelah selesai menyantap hidangan yang disiapkan, Yuma, Roni dan yang lainnya segera kembali ke kota AG. Demikian juga pak Wira dan pak Gunawan kembali ke kota L untuk menyiapkan acara pernikahan putri mereka.


Malam itu, di kamarnya, Silvia duduk di pinggir kasurnya sambil memeluk kedua kakinya. Ucapan pak Wira tentang pernikahan Naia terus terngiang di telinganya yang membuatnya semakin gelisah. Kejadian saat pertama kali bertemu Naia hingga saat Dewa menyelamatkan mereka dari pemerkosaan tiba-tiba muncul di kepala Silvia yang membuatnya semakin sedih, "Apakah semua akan berakhir begitu saja..? Apakah aku benar-benar akan jauh dari Naia dan mas Dewa..?" tanya Silvia dalam hati.


Tok.. Tok.. Tok..


Terdengar ketukan di pintu kamar Silvia, "Vi.. Kamu belum tidur kan..? Boleh masuk kah, ada yang ingin aku bicarakan.." suara Naia dari balik pintu.


Ckleeekk.. Ckleeekk..

__ADS_1


Silvia segera membersihkan air matanya sambil membuka pintu kamarnya, "Ada apa Nai..? Kok belum tidur..?"


Naia segera merangsek masuk dan memeluk Silvia, "Kenapa kamu berfikir seperti itu..? Apa kamu sudah lupa apa pernah yang aku katakan..?" ucap Naia dengan suara bergetar menahan tangis.


"Heii.. Kamu ini ngomong apa sih..?" ucap Silvia.


"Sudahlah, apa yang kamu pikirkan aku tau semua, tidak usah kamu sembunyikan lagi. Vi, selamanya aku tidak akan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi. Dan mas Dewa bukan milikku seorang, tapi juga milikmu. Mas Dewa itu milik kita berdua, apakah masih perlu aku ulang lagi ucapanku ini..?" tanya Naia.


Silvia merasa beban pikirannya terangkat mendengar ucapan Naia, "Maaf aku sudah membuatmu khawatir. Aku salah sudah berfikir berlebihan, hingga aku lupa akan ajaran mbah Sumiati. Bodohnya aku sudah meragukanmu, maafin aku ya..?" ucap Silvia kemudian memeluk Naia.


"Vi, bantu aku buat jaga mas Dewa.." ucap Naia diikuti anggukan Silvia.


*****


Sementara itu, Dunhill bersama anak buahnya telah berhasil mengungkap siapa saja kelompok tersembunyi yang ada di kota AB. Sama hal nya dengan geng Serigala merah, mereka adalah mantan tentara bayaran yang menjadi buronan, kemudian mereka bersembunyi dan akhirnya menguasai sisi gelap kota AB. Kelompok ini sangat membenci pemerintah yang sekarang.


"Setidaknya aku tau bahwa mereka saat ini bukanlah lawan. Aku harus bisa menguasai mereka agar tidak mengganggu rencana bos besar.." ucap Dunhill dalam hati.


Selain itu, beberapa anak buah Dunhill yang ada di kota B juga berhasil mendapatkan informasi tentang kematian Nurdiono, Sang Wapres.


"Aku tidak menyangka bahwa kematian wapres berhubungan dengan Baros. Ternyata insting bos besar sangat tajam, dia yakin bahwa kematian Nurdiono tidak wajar.." gumam Dunhill.


"Sudah siap bos, apakah informasi itu dikirim sekarang..?" ucap salah satu anggota Serigala Merah.


"Sebentar, sekalian tunggu info dari kelompok Brengos. Seharusnya sebentar lagi dia akan mengirimkan hasil penyelidikannya.." jawab Dunhill.


Tak lama berselang, hp Dunhill berbunyi. Sebuah foto dikirim oleh Brengos dengan penjelasan dibawahnya.


[Brengos] |Beberapa minggu sebelum wapres meninggal, orang ini terlihat sering keluar masuk rumah Baros. Kemudian dia juga terlihat di kediaman pak wapres. Aku tidak berhasil menadapatkan data orang ini, setiap kali anak buahku membuntutinya, dia langsung menghilang bagai ditelan bumi..|

__ADS_1


"Siapa orang ini..? Apakah orang ini menguasai sejenis ilmu hitam..? Don, sekalian kirim foto ini juga kepada bos besar.." ucap Dunhill kepada anak buahnya.


__ADS_2