Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Siluman Kera Merah


__ADS_3

Dengan kekuatan spiritualnya, Dewa masuk ke dalam alam jiwa Mutiara. Berbeda dengan alam wening atau alam kalbu, alam jiwa berada di pikiran manusia, dimana sangat dipengaruhi oleh nafsu dan mudah dikendalikan oleh entitas dari luar. Dewa seperti berada di sebuah kota mati dengan banyak gedung dan persimpangan jalan, "Siluman itu membuat alam jiwa Mutiara seperti kota mati dan memiliki banyak sekali persimpangan jalan, pasti dia sengaja membuatnya seperti ini agar jiwa Mutiara tersesat dan tidak bisa mengendalikan kesadarannya lagi. Aku akan menggunakan persepsi jiwaku untuk mencari jiwa Mutiara.." gumam Dewa dalam hati.


Dewa mulai melangkah, dia mengandalkan persepsi jiwanya untuk mencari jiwa Mutiara. Setelah berjalan beberapa saat, Dewa berhenti di sebuah gedung yang terlihat tidak begitu megah, tidak seperti gedung yang ada di sekitarnya. Dewa dapat merasakan keberadaan Mutiara di dalam gedung itu. Dewa segera masuk ke dalamnya, Dewa terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia melihat jiwa Mutiara terlentang di selembar papan kayu dengan tangan dan kaki tertancap pasak yang terbuat dari kayu berwarna hitam, yang menembus sampai di papan kayu, sedangkan leher dan perutnya dibelit oleh rantai baja yang cukup besar. Di samping tubuh Mutiara, seekor ular yang sangat besar melingkarkan tubuhnya menjaga jiwa Mutiara, "Sungguh biadab siapapun yang tega melakukan hal ini.." umpat Dewa.


Merasakan kehadiran Dewa, ular itupun terbangun dan kemudian menyerang Dewa.


Sssssrrrtttt.. Whusssssh... Sraaaasshhhh..


Dewa segera menghindar dan tidak ingin membuang-buang waktu dia langsung membalas serangan ular siluman itu dengan kekuatan spiritualnya.


Sreeeeettt.. Dhuuuuuuaaaashh....


Pukulan Dewa tepat mengenai kepala ular itu dan membuatnya roboh. Dengan api putih, Dewa membakar tubuh siluman ular itu dan segera membebaskan jiwa Mutiara dari pasungannya, "Kamu siapa..? Aku ada dimana..?" tanya jiwa Mutiara.


"Nanti saja aku jelaskan, sekarang sebaiknya kita pergi dulu dari sini.." ucap Dewa, kemudian menggandeng Mutiara dan segera keluar dari gedung itu untuk mencari jalan kembali ke kesadaran fisik Mutiara. Tiba-tiba sesosok siluman kera merah dengan satu tanduk di kepalanya menghadang Dewa, "Hahahaha... Hebat juga kamu manusia, bisa menembus alam yang aku ciptakan di alam jiwa gadis ini. Tapi kamu tidak akan berhasil, aku akan menghancurkan jiwamu disini..!!" ucapnya dengan suara menggelegar.


Sementara itu, Nuraini, Naia dan Silvia terus membaca berulang-ulang ayat-ayat Al-Qur'an sesuai perintah Dewa. Lantunan ayat suci itu menjadi petunjuk jalan bagi jiwa Mutiara agar kembali ke kesadarannya, "Mutiara, kamu lari secepat mungkin. Ikuti jalan yang terang itu dan jawab panggilan orang tuamu saat kamu mendengar suara mereka.." ucap Dewa.


"Tapi aku takut mas, lebih baik aku menunggu mas saja.." jawab Mutiara.


"Lari sekarang, atau tidak ada lagi kesempatan. Jangan sia-siakan usaha orang tuamu..!!" ucap Dewa tegas.


Mutiara segera berlari sesuai dengan apa yang dikatakan Dewa. Siluman kera merah bertanduk itu pun berteriak kepada Mutiara, "Jangan harap kau bisa lari..!!" siluman itu berniat mengejar Mutiara tapi Dewa segera menghadangnya.


"Kalau kau ingin menangkapnya, lewati aku dulu.." ucap Dewa.


Siluman kera merah menyerang Dewa dengan cakar dan tendangannya.


Sraaaaaatt.. Whussss.. Wheeeett..


Dewa dengan tidak kalah gesit mengindar dan menangkis serangan siluman itu.


Seeeett.. Ctaaaapp..


Merasa tidak mudah melewati Dewa dengan serangan biasa, siluman kera merah mengeluarkan kesaktiannya berupa serangan bola api.


Whooooosss... Whoooosss..


"Seranganmu ini tidak ada artinya bagiku. Aku akan menangkapmu dan menghancurkan duniamu ini.." ucap Dewa kemudian mengembalikan serangan bola api siluman itu.


Dhaaaaass.. Booooommm..

__ADS_1


Siluman kera merah terpental setelah terkena bola apinya sendiri. Dengan langkah kalimasada Dewa bergerak ke arah siluman itu dan menangkap tanduknya kemudian mematahkan tanduk yang ada di kepalanya, "Guruku pernah mengatakan kepadaku, kebanggaan dari siluman adalah tanduknya. Sekarang aku akan menghapus kesombonganmu itu.." ucap Dewa sambil memukul tanduk siluman itu.


Kraaaaaakkk..


"Aaarrrgghhh.. Bangsaaatttt.. Aku akan membunuhmu..!!" teriak siluman kera merah.


Dewa segera mengeluarkan api putih di telapak tangannya, "Bagaimana kau akan membunuhku..?" ucapnya sambil menunjukkan api putih di tangannya.


"Aarrggg.. Panaaaasss.. Panaassss..!! Ampuunnn.. Ampuni aku, jangan bakar aku..!! Panaaasss..." rintihnya.


"Aku bisa saja mengampunimu, tapi katakan siapa yang menyuruhmu dan apa tujuannya..!!" bentak Dewa.


"A-aku tidak tau.. Panaaaasss.. S-sungguh aku t-tidak tau.." ucapnya.


Dewa mengeluarkan api putih semakin besar yang membuat siluman itu semakin kepanasan, "Ternyata kamu tidak tau apa-apa, jadi tidak ada gunanya mengampunimu.."


"Aaarrgghhhh.. Panaaasss.. S-simpan apimu dulu, aku akan mengatakan yang sebenarnya.. Aku diperintah oleh mbah Brewok, seorang spiritualis gelap, dia adalah tuanku karena mbah Brewok adalah sekutu penguasa kegelapan. Kamu bisa mencarinya di dekat air terjun Rondosewu.." ucapnya.


"Mengapa mbah Brewok ingin mencelakai gadis tadi..?" sahut Dewa.


"Aku tidak tau, sungguh aku hanya menjalankan perintah mbah Brewok saja. Yang jelas ada seseorang yang membayar mbah Brewok dan aku tidak peduli siapa yang membayarnya, aku hanya mengikuti perintah mbah Brewok saja.." jawabnya.


"Mbah Brewok seorang spiritualis gelap, mungkin maksudnya semacam dukun santet.." gumam Dewa dalam hati.


Dengan mencengkeram leher siluman kera merah bertanduk, Dewa kembali ke fisiknya. Dewa membuka matanya dan meminta sesuatu kepada pak Hendra, "Tolong beri saya satu botol kaca.."


Bu Wina bergegas mencari botol berbahan kaca dan memyerahkan kepada Dewa, "Ini mas botolnya.." ucapnya. Dewa menerima botol itu dan bergegas memasukkan siluman kera merah ke botol kaca itu lalu menutupnya dengan kekuatan spiritualnya.


Sementara itu, Nuraini, Naia dan Silvia terus melantunkan ayat suci Al-Qur'an dan pak Hendra terus memanggil nama putrinya hingga akhirnya Mutiara sadar, "Ayah.. Bunda.. " ucap Mutiara lirih dan disambut pelukan bu Wina.


"Alhamdulillah kamu sudah sadar nak.." ucap bu Wina.


"Sebenarnya putri bapak telah dirasuki oleh siluman, dan aku telah menangkapnya ke dalam botol kaca ini. Jiwa anak bapak telah disandra olehnya, sehingga dia tidak bisa mengendalikan kesadarannya dan makhluk inilah yang mengendalikan raga Mutiara.." ucap Dewa.


"Seperti apakah wujud makhluk itu..? Apakah aku bisa melihatnya..?" tanya pak Hendra.


"Baik, aku akan membuat kalian bisa melihat makhluk itu.." Dewa berjalan ke arah cermin yang ada di ruangan itu, kemudian meletakkan botol kaca itu di depan cermin. Pak Hendra melihat cermin itu, meskipun samar, pak Hendra masih bisa melihat makhluk itu, "Makhluk apa itu..? Seperti ada tanduk di kepalanya.."


"Itu siluman kera merah bertanduk, sebangsa jin yang menjadi abdi dari kuasa kegelapan.." jawab Dewa.


"Apakah sejenis jin kafir kak..?" tanya Nuraini.

__ADS_1


"Mungkin saja, kakak juga tidak tau dia ini masuk dalam golongan apa.." jawab Dewa.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan dengan siluman itu..?" tanya pak Wira.


"Aku akan memenjarakannya pa.." kemudian Dewa diam, dia memanggil Gandarwamaya, "Gandarwamaya datanglah, aku memanggilmu.." ucapnya dalam hati.


Tiba-tiba semua merasakan hawa dingin di ruangan tersebut yang membuat bulu kuduk mereka berdiri. Gandarwamaya berdiri di samping Dewa, tentunya hanya Dewa yang bisa melihatnya, "Aku datang tuanku.. Ada apa tuanku memanggilku..?"


"Lihat makhluk itu, berikan hukuman untuknya dan penjarakan dia seumur hidupnya.." ucap Dewa dalam hati.


"Ternyata siluman kera merah bertanduk. Siluman ini sering digunakan para dukun ilmu hitam untuk mencelakai manusia. Selain itu, dia juga akan menguasai raga dan pikiran orang yang dicelakainya. Dia suka sekali makan daging mentah.. Baiklah tuan, serahkan dia padaku, aku pasti akan melaksanakan perintah tuanku.." ucap Gandarwamaya kemudian membawa botol kaca itu pergi.


Semua terkejut ketika tiba-tiba botol kaca yang ada di depan cermin menghilang, bersamaan dengan itu, Gandarwamaya kembali ke kerajaannya untuk melaksanakan perintah tuannya.


"Alhamdulillah, masalah putri bapak sudah berakhir, siluman yang merasuki putri bapak tidak akan pernah menganggu lagi. Tapi aku masih belum tau siapa yang merencanakan ini semua, bahkan siluman itupun juga tidak mengetahui siapa yang membayar dukun itu.." ucap Dewa.


"Sebaiknya kita lanjutkan obrolan kita ini di ruang tengah, ada beberapa hal yang ingin aku bahas dengan mas Dewa.." ucap pak Hendra.


Mereka bersama-sama pergi ke ruang tengah untuk berbincang. Saat mereka berjalan menuju ruang tengah, Nuraini berbisik kepada Dewa, "Kak, siapa tadi yang datang dan membawa pergi botol kaca berisi siluman itu..? Melihat dari pakaiannya seperti pakaian kerajaan.."


"Hah...! Kamu bisa melihatnya..?" tanya Dewa terkejut.


"Iya aku bisa melihatnya, meskipun tidak begitu jelas. Tapi aku yakin kalau sosok itu menundukkan badannya untuk memberi hormat kepadaku, kak Naia dan Silvia sebelum dia pergi.. Tapi kayaknya hanya aku aja yang bisa melihatnya.." bisik Nuraini.


"Nanti saja kakak ceritakan tentang siapa sosok tadi.." jawab Dewa dengan berbisik pula.


Sang Bupati langsung mengucapkan terimakasih kepada Dewa sesaat setelah mereka duduk, "Sebenarnya aku sudah pasrah atas kondisi putriku, kalau saja kalian tidak datang, mungkin besok aku akan mengirimnya ke rumah sakit jiwa. Aku sangat berterimakasih kepada kalian, terutama mas Dewa karena telah berhasil menyembuhkan putriku.."


"Sudahlah pak, yang penting putri bapak sudah terbebas dari makhluk itu. Kedepannya, Mutiara harus lebih rajin beribadah dan berdo'a, setidaknya sholat lima waktu jangan pernah ditinggalkan. Setidaknya ada tameng di dalam diri Mutiara.." ucap Dewa.


"Semua adalah salahku, aku kurang memperhatikan ibadah putriku.." ucap pak Hendra penuh penyesalan.


"Aku juga minta maaf kepada ayah dan bunda, karena sering membohongi kalian, saat ayah atau bunda tanya apakah aku sudah sholat, aku selalu menjawab sudah, padahal aku belum melakukannya. Tapi mulai sekarang aku berjanji untuk lebih tertib lagi melaksanakan sholat.." sahut Mutiara.


"Tapi kalau boleh tau, apakah sebelumnya kamu pernah menyinggung seseorang sehingga dia tega melakukan hal ini padamu..?" tanya Dewa.


"Seingatku aku tidak pernah menyinggung siapapun, baik perkataan maupun perbuatan. Hubunganku dengan teman-temanku juga baik-baik saja sebelumnya. Eemmm, yang aku ingat malam itu di rumah dinas papa aku mendengar suara seperti petasan di ruang tengah. Kemudian aku terbangun dan keluar kamar untuk melihat ada apa sebenarnya. Aku lihat ada asap berwarna merah gelap, kemudian asap itu mengelilingi aku.. Setelah kejadian itu, setiap menjelang magrib, aku sering melihat sosok mengerikan seperti hendak memperkosaku.." Mutiara berusaha mengingat setiap kejadiannya.


"Lalu apa yang terjadi..?" tanya Naia penasaran.


"Entahlah, aku tidak bisa mengingat jelas. Aku tidak bisa membedakan mana yang halusinasi dan kenyataan. Hanya aku seperti berjalan sendiri di sebuah kota yang sepi, lalu aku tidak ingat lagi apa yang terjadi, sampai aku ketemu sama mas Dewa.." jawab Mutiara.

__ADS_1


Setelah mendengar cerita Mutiara, Dewa menceritakan apa yang dialaminya saat mencari jiwa Mutiara, "Jadi yang diceritakan Mutiara barusan adalah saat kami berada di alam jiwa Mutiara.." ucap Dewa mengakhiri ceritanya.


__ADS_2