Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Mitra Desa


__ADS_3

Tanpa terasa waktu untuk menjemput Naia di padepokan Tunjung Seto pun tiba. Dewa tidak sabar melihat perubahan pada diri Naia, Silvia dan Nuraini setelah seminggu berlatih di padepokan Tunjung Seto.


Sementara itu, Naia, Silvia dan Nuraini merasakan perubahan besar pada diri mereka. Hati dan pikiran mereka menjadi lebih tenang dan fisik merekapun menjadi lebih segar dan bugar.


"Aku sengaja tidak mengajarkan kalian kanuragan, tapi meskipun kalian tidak belajar kanuragan, dengan kekuatan kalian sekarang, kalian bisa dengan mudah mengalahkan orang-orang yang akan berbuat jahat kepada kalian. Dan aku yakin, dengan kekuatan ini kalian bisa membantu tugas sang Adhimurti untuk mengalahkan kekuatan kegelapan yang menyelimuti negeri ini.." ucap mbah Sumi.


"Baik guru, aku akan selalu mengingat dan mengikuti nasehat yang guru berikan.." jawab Nuraini diikuti anggukan Silvia dan Naia.


"Teruslah terhubung dengan Sang Diri Sejati, karena Dia lah yang akan memberikan petunjuk apa yang harus kalian lakukan selanjutnya. Sepertinya sudah waktunya kalian pergi, itu sudah ada yang menjemput kalian. Datanglah ke padepokan ini kapanpun kalian mau, pintu padepokan ini akan selalu terbuka untukmu.." ucap mbah Sumi.


Waktu satu minggu memang tidak cukup untuk mempelajari Kitab Kilisuci yang diajarkan oleh mbah Sumi kepada mereka bertiga, namun mereka bertekad untuk terus berlatih meningkatkan kekuatan spiritual mereka. Dengan kekuatan yang mereka miliki, Dewa menjadi lebih tenang saat tidak bersama mereka, sehingga dia bisa lebih fokus merencanakan usaha yang dirintisnya.


*****


Setelah beberapa minggu, pembangunan gedung pusat pendidikan dan pelatihan tenaga keamananpun sudah mulai dibangun. Diperkirakan membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk menyelesaikan pembangunan gedung itu. Selama proses pembangunan itu, Dewa, Naia dan Silvia sering ke kota AG untuk melihat langsung progres pembangunannya. Sedangkan Nuraini memanfaatkan pembangunan gedung itu sebagai bahan untuk menyelesaikan skripsinya.


Sementara itu, Loreng dibantu dengan Luki dan beberapa orang anak buahnya, mengajak para petani di wilayah kota AG untuk bergabung menjadi mitra kerja PT. Perkutut Emas milik Dewa. Buku manual yang dibuat oleh Dewa, membuat Loreng dan Luki dengan mudah menjelaskan kepada para petani tentang kemitraan yang akan mereka jalankan.

__ADS_1


Memang tidak mudah menarik petani untuk bergabung dengan kemitraan yang dibangun oleh perusahaan Dewa, terlebih beberapa petani pernah mengikuti program yang serupa dan berakhir dengan kerugian di pihak petani. Tapi berkat ketelatenan Loreng dan kepandaian negosiasi Luki, tidak sedikit petani yang tertarik dengan program yang dibuat oleh Dewa. Bahkan mereka menaruh harapan besar agar usaha mereka di bidang pertanian bisa lebih sukses.


Di satu kesempatan Dewa bersama dengan Loreng dan Luki, melakukan sosialisasi program kemitraan pertanian untuk mengajak para petani di Desa Sidorukun, Kota AG bergabung di dalamnya. Para petani mengawali pertemuan itu dengan keluh kesah mereka, "Masalah kita selama ini adalah harga pupuk yang semakin yang semakin mahal, sehingga biaya tanam semakin tinggi. Belum lagi para tengkulak membeli hasil pertanian kita dengan harga yang sangat murah, sehingga sering kami rugi, tidak sebanding antara biaya yang kami keluarkan dengan hasil yang kami dapat. Itulah yang menyebabkan petani kita tetap miskin meskipun hasil panen melimpah. Lalu bagaimana solusi dari masalah kami..? Jangan-jangan perusahaan mas ini hanya ingin membeli hasil panen kami dengan harga murah seperti para tengkulak itu..?" ujar salah satu petani.


"Jadi disini kami menawarkan kepada bapak-bapak petani sebuah program kemitraan pertanian, mulai dari proses pra tanam sampai dengan pasca panen. Jadi sistemnya adalah perusahaan akan mendirikan koperasi, dimana koperasi itu akan dikelola sendiri oleh para petani atau keluarga petani. Kami, PT. Perkutut Emas akan memberikan bantuan modal kepada koperasi diantaranya berupa benih, alat pertanian dan pasca panen,............. Jadi keuntungan yang didapat koperasi akan dibagi 30% untuk perusahaan dan 70% untuk koperasi.." Dewa menjelaskan secara detail kepada para petani tentang sistem yang akan dijalankannya.


Beberapa petani mulai tertarik dengan skema kerja sama yang diungkapkan Dewa, walaupun ada yang masih ragu tentang skema kerja sama itu, "Kalau seperti itu, perusahaan mas sama saja seperti tengkulak, membeli hasil pertanian kami. Bedanya hasil pertanian kami dibeli dengan harga lebih tinggi, tapi pada akhirnya masyarakat akan membeli beras dengan harga yang lebih mahal.." ucap salah satu petani.


"Apakah perusahaan bisa menjamin menyediakan pupuk murah..? Kalau harga pupuknya mahal ya sama saja biaya produksi juga akan tinggi, akhirnya pendapatan kami para petani juga akan tetap rendah.." sahut lainnya.


Dewa tersenyum mendengar keluhan para petani, dengan santun dia menjawab, "Jadi yang membeli hasil pertanian bapak-bapak adalah koperasi yang bapak kelola dari modal yang diberikan PT. Perkutut Emas. Kemudian koperasi melakukan proses pasca panen, dan hasilnya dijual kembali oleh koperasi kepada masyarakat sekitar. Memang harganya akan menyesuaikan, tapi keuntungan bersih yang didapat koperasi akan kembali lagi kepada anggota berupa SHU, seperti yang sudah saya utarakan tadi.." ucap Dewa.


"PT. Perkutut Emas akan menerapkan pertanian organik, jadi melalui koperasi, kami akan menitipkan kepada kelompok tani hewan ternak untuk dipelihara. Sama halnya dengan pertanian, hasil ternak juga akan dikelola koperasi untuk penjualannya. Sedangkan kotoran ternak akan diolah oleh kelompok tani sebagai pupuk. Kami akan membantu peralatan untuk pengolahan kotoran ternak menjadi pupuk.." jawab Dewa.


"Wah sistemnya begitu kompleks dan ribet. Apakah kami mampu menjalankannya mas..?" tanya salah satu petani.


"Bapak tenang saja, kami akan memberikan pelatihan manajemen kepada setiap pengurus koperasi. Jadi langkah awal, bapak-bapak bentuk kelompok tani dan tunjuk siapa yang akan mengelola koperasi petani ini.." jawab Luki.

__ADS_1


"Selanjutnya setelah kelompok tani dan koperasi terbentuk, maka kami akan menyebut para petani di desa ini sebagai mitra desa.." sambung Dewa.


Disaat itu juga, banyak petani di desa Sidorukun dengan sukarela bergabung dengan program kemitraan perusahaan milik Dewa. Hal serupa juga terjadi di desa-desa lainnya. Hanya dalam hitungan tidak sampai tiga bulan, telah banyak petani menandatangani kerja sama dengan perusahaan Dewa. Bahkan ada petani yang berasal dari kota lain yang juga ingin bergabung dengan program kemitraan yang Dewa rencanakan. Para petani memiliki harapan besar agar nasib mereka bisa berubah dengan mengikuti program kemitraan PT. Perkutut Emas.


"Alhamdulillah ternyata program kita diterima dengan baik oleh para petani bos.." ucap Loreng.


"Benar Reng, tapi mengapa aku merasa ini terlalu mudah ya..? Biasanya jika sesuatu dengan mudah kita gapai, maka godaan atau cobaan akan semakin besar. Aku berharap kalian tetap waspada, jangan sampai lengah. Aku juga tidak tau apa cobaan yang akan kita hadapi.. Gunakan mata batin kalian saat menghadapi apapun, agar kalian bisa lebih jernih dalam melihat sesuatu.." ucap Dewa.


"Siap bos, aku akan mengingat apa yang bos katakan.." ucap Loreng.


Setelah mengetahui jumlah petani yang bergabung dengan program yang Dewa rencanakan, Silvia mulai menghitung berapa besar nilai investasi yang mereka butuhkan untuk melaksanakan program tersebut. Hanya dalam beberapa hari Silvia telah menyelesaikan hitungannya, "Mas, coba mas pelajari, ini perhitungan kebutuhan investasi untuk program yang akan kita jalankan.." ucap Silvia.


"Oiya sayang, masing-masing perangkat desa mengijinkan kita untuk memakai gedung balai desa untuk mengadakan pelatihan pengelola koperasi mitra desa. Mereka hanya menunggu jadwal pelatihan dari kita aja.." ucap Naia.


"Oiya bos, untuk sementara sudah ada 50 orang yang siap kita didik untuk menjadi tenaga keamanan, mereka dari anak buah Loreng dan Jono dan rata-rata mereka berusia 25 tahun. Apakah perlu ditambah lagi bos..?" tanya Yuma.


"Baiklah, aku akan coba pelajari dulu dan berkonsultasi dengan papa untuk masalah ini. Dan untuk pelatihan, akan kita adakan setelah proyek pembangunan gedung selesai.. Untuk sementara tidak perlu menambah orang dulu. Oiya, hubungi bang Santoso, minta dia menjadi salah satu instruktur di tempat kita. Aku juga sudah meminta kepada Niko untuk menjadi instruktur juga.." jawab Dewa.

__ADS_1


Sementara itu, tanpa sepengetahuan Dewa dan Naia, pak Wira dan pak Gunawan telah sepakat memilih hari dan tanggal pernikahan untuk mereka.


__ADS_2