
Naia dan Silvia sudah putus harapan, mereka merasa bahwa tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan mereka dari ruda paksa yang akan dilakukan laki-laki bejat yang ada di depan mereka saat ini. Yang bisa mereka lakukan adalah semakin meringkuk berusaha untuk menutupi auratnya yang terbuka karena bajunya telah disobek oleh orang itu.
Sementara itu, di depan ruangan tempat Naia dan Silvia disekap, terlihat dua orang sedang berjaga, "Melihat dari gerak-geriknya, sepertinya kedua orang itu sangat terlatih. Aku harus bisa melumpuhkan mereka dengan sekali tarikan nafas. Tapi orang yang masuk ke dalam ruangan itu, aku seperti pernah melihatnya.." gumam Dewa dalam hati.
Setelah memahami situasi dan pergerakan dua orang itu, Dewa bergerak dengan cepat ke belakang salah satu penjaga, kemudian mematahkan leher penjaga tersebut
Sseeeeeettt.. Kraaaaaakk..
Dan setelah itu dia langsung bergerak menyerang titik rawan penjaga lainnya hingga jatuh tak sadarkan diri.
Jbaaaaaaagg..
Dewa mengambil pisau yang tersimpan di paha salah satu penjaga dan segera menendang pintu ruangan dimana Naia dan Silvia disekap.
Jbraaaaaakk..
Dewa segera masuk dan melihat orang yang memiliki kekuatan iblis itu sudah telanjang dada dan berjongkok di depan Silvia. Dewa melempar pisau yang dipegangnya ke arah orang itu, tapi dengan cepat orang itu menangkis pisau yang dilempar Dewa dengan tangannya.
Ctaaaaaaanggg..
"Kita berjumpa lagi anak muda, sebelumnya aku berterima kasih, berkat kamu dan teman-temanmu, aku mendapatkan tubuh ini. Sebenarnya kita tidak perlu berkelahi. Kita bisa membaginya sama rata, silahkan kau pilih sendiri mau Dewi Kilisuci atau Dewi Candrakirana. Nanti kita bisa tukar kalau sudah selesai.. Hahahaha.." ucapnya.
"Dasar kau keparat..!! Lepaskan mereka bangsat..!!" umpat Dewa marah.
Perasaan lega tersirat dari wajah Naia dan Silvia setelah mendengar suara Dewa, "eeemmm.. eeemmmm…"
"Tenang anak muda, lihatlah tubuh ini. Betapa mulus kulitnya, biar aku coba seberapa kenyal belahan dadanya dan aku akan membuka penutup dadanya untukmu.. Hehehehe.." ucapnya lalu tangannya berusaha untuk meraba dada Silvia.
Darah Dewa berasa mendidih melihat apa yang akan dilakukan orang itu, kemudian dengan langkah kalimasada Dewa segera bergerak dengan cepat, dan mulai menyerang orang itu dengan tinjunya..
Jthaaaaaaaakk..
Pukulan Dewa telak mengenai kepala orang itu sesaat sebelum tangannya menyentuh dada Silvia yang membuat dia terpental dan menabrak meja.
Bruaaaaaakk..
Dewa tidak menghentikan serangannya, dia segera menendang orang itu hingga terpental menabrak kaca jendela ruangan itu.
Jduaaaaaagg.. Krompyaaaaaangggg..
Anak buah Karman itu segera berdiri dan memasang kuda-kuda bersiap menerima serangan Dewa selanjutnya, "Hahahaha.. Kalau hanya ini kemampuanmu, dengan tubuhku yang sekarang, kau tidak akan mampu mengalahkanku.. Majulah..!! Keluarkan semua yang kamu miliki bocah..!!" ucapnya mengejek.
Dewa merangsek maju ke arah orang itu dan menyerangnya dengan pukulan dan tendangannya. Tapi serangan Dewa selalu dihalangi energi hitam yang selalu melindungi orang itu. Dewa merasa seperti memukul bantal.
Buuuuugg.. Buuugg.. Duuuuugg..
Dengan tawa yang menghina, dia membalas serangan Dewa dengan kekuatan gelapnya yang membuat Dewa harus menghindar atau menangkis serangan itu.
Weeeett.. Ctaaaaapp.. Ctaaaappp..
Jduuuugg.. Seeeeettt.. Ctaaaaap..
__ADS_1
Hampir lima belas menit mereka saling bertukar pukulan dan tendangan. Tapi yang membuat anak buah Karman terkejut adalah serangannya sama sekali tidak berpengaruh pada Dewa, "Pemuda ini memiliki sesuatu di dalam dirinya, energiku sama sekali tidak berpengaruh padanya. Aku akan menggunakan kekuatan pamungkasku.." pikirnya.
Dewa mundur beberapa langkah setelah mendengar pikiran orang itu, "Dia akan menyerangku dengan kekuatan iblisnya, Baik, akan aku gunakan kekuatan spiritualku.." gumam Dewa dalam hati.
"Hahahaha.. Ada apa anak muda, kau mulai lelah..? Kalau begitu rasakan kekuatanku ini dan pergilah menemui tuan Yamadipati di neraka. Dan saat kau mati tidak ada lagi yang bisa menghalangiku untuk menikmati tubuh kedua Dewi itu.. Hahahahha..." ucapnya lalu maju menyerang Dewa.
Dewa melihat tangan orang itu diselimuti asap hitam pekat yang membuat perasaan Dewa sedikit tertekan, "Energi inilah yang menyerang dan membuat Santoso hampir mati. Aku harus berhati-hati menghadapinya.." gumam Dewa dalam hati.
Sambil terus menghindar, Dewa membaca puji sesanti yang pernah dibacakan oleh Sang Diri Sejati, dan tiba-tiba api putih menyelimuti tubuh Dewa. Dengan cepat aku membalas serangan orang itu. Suara ledakan terdengar keras saat kedua tinju mereka bertemu.
Dhuaaaaaaarrrrr....
Anak buah Karman pun terpental dan menabrak tumpukan kayu palet dan memuntahkan darah.
Bruaaaaakk…
"Huuuaggggghh..!! I-ini api Dewi Agni. B-bajingan siapa kamu sebenarnya..?" ucapnya sambil melarikan diri keluar gudang dengan memegangi tangannya.
Dewa segera mengambil pisau yang ada di paha anak buah Karman lainnya, dia menyalurkan energi spiritualnya ke pisau itu dan melemparkannya ke arah orang itu.
Swiiiiinngggg.. Jleeeeeeebbbb…
"Aaarrrggghhh..!! Bangsaaatt..!! Aku akan membalas ini ribuan kali lipat..!!" umpatnya sambil mencabut pisau yang mengenai punggungnya lalu dia masuk ke dalam mobil van berwarna hitam dan pergi.
"Cepat juga larinya. Baiklah, kubiarkan kau hidup lebih lama lagi. Dan api suci, dia bilang api Dewi Agni, ternyata bisa membakar energi iblis itu.." ucap Dewa dalam hati.
Dewa sengaja tidak mengejarnya, "Ah.. Naia dan Silvia, semoga saja mereka tidak apa-apa.." gumamnya. Dewa segera menuju ruangan yang ada di dalam gudang dan memotong tali yang mengikat mereka. Naia langsung berhambur memeluk Dewa sesaat setelah ikatannya lepas dan menangis sejadi-jadinya, sedangkan Silvia terlihat duduk melipat kaki ke dadanya untuk menutupi auratnya.
Dewa membiarkan Naia untuk sesaat, sampai dia tenang, "Sudah.. Sekarang sudah aman. Maafkan aku yang belum bisa menjaga kalian hingga terjadi hal ini.." ucap Dewa kepada mereka.
"Aku hanya berfikir untuk mati kalau saja tangan bajingan itu menyentuh tubuhku. Maafkan kami yang selalu membebani mas Dewa.." sahut Silvia.
"Eh.. Sudah-sudah. Kalian tenang. Sekarang sudah aman, gak usah khawatir. Sebentar, aku ambil jaket sama sweeter di mobil dulu.." ucap Dewa. Setelah memakai pakaian yang diberikan Dewa, Naia dan Silvia keluar gudang dan kemudian bersembunyi di mobil Dewa.
Yuma segera menemui Dewa, "Gimana bos, apa kedua nyonya bos sudah aman..?" tanya Yuma saat mereka bertemu.
"Alhamdulillah Yud, mereka berada di mobil sekarang. Seandainya terlambat sedikit saja aku gak tau apa yang terjadi sama mereka. Sayangnya salah satu pelaku berhasil kabur.." ucap Dewa, lalu mengajak Yuma menuju gudang.
Setelah menyingkirkan tubuh anak buah Karman, Dewa mengajak mereka bersembunyi, "Jadi kita akan sergap Karman disini. Kita harus tangkap dia hidup-hidup karena dia salah adalah salah satu petunjuk dari kasus kita. Sekarang kita sembunyi dulu.." ujar Dewa kepada Yuma dan Faruq.
Setelah satu jam menunggu, akhirnya Karman dan kedua anak buahnya datang. Karman mendapati gudang dalam keadaan kosong, "Heh.. Kemana Broto dan yang lainnya..? Mobilnya juga gak ada.." ucap Karman.
"Mungkin mereka sudah tidak sabar menyewa hotel untuk menikmati kedua gadis itu bos.." ucap anak buah Karman.
Dewa memberi kode kepada Yuma dan Faruq untuk melumpuhkan anak buah Karman. Yuma meloncat dari tumpukan pallet dan diarahkan ke salah satu anak buah Karman. Faruq sendiri dengan cepat berlari dan menendang anak buah lainnya.
Bruuuuuuukk.. Jdaaaaaaakkk...
Karman sangat terkejut, "S-siapa kalian..? J-jangan-jangan kalian adalah....."
Karman tidak melanjutkan ucapannya karena pukulan Dewa tepat mengenai tengkuknya dan membuat dia pingsan.
__ADS_1
Jduuuuuugggg...
Kemudian Dewa mengambil tas yang ada di tangan Karman, dia mengamankan dokumen yang ditandatangani pak Wira dan beberapa bendel uang ratusan ribu, "Nih buat kalian.." Dewa melempar dua bendel uang ratusan ribu kepada Yuma dan Faruq.
"Waaaahhh.. Makasih bos.." jawab mereka.
"Yud, ikat dia seperti kamu ikat Santoso waktu itu, lalu masukkan dia ke dalam mobil pak Wira. Lalu Faruq bawa mobil Karman dan Yudha bawa mobil pak Wira. Kita kembali ke villa.." perintah Dewa.
"Siap boss.." jawab mereka.
*****
Mereka kembali ke villa di desa Candi. Dalam perjalanan Dewa menghubungi pak Wira memberitahukan bahwa Naia dan Silvia berhasil diselamatkan. Setelah berjalan sekitar tiga puluh menit, mereka sampai di Villa. Naia dan Silvia disambut pelukan oleh bu Santi sesaat setelah memasuki villa, "Alhamdulillah.. Dewa telah berhasil menyelamatkan kalian.." ucap bu Santi sambil menangis.
"Iya ma, mas Dewa yang menyelamatkan kami.." jawab mereka.
"Kak.. Alhamdulillah kalian selamat. Kalian tidak apa-apa kan..?" tanya Nuraini khawatir.
"Alhamdulillah Nur, hampir saja kehormatan kami direnggut oleh para bajingan itu. Untung saja mas Dewa datang tepat waktu menyelamatkan kami.." jawab Naia.
"Emang bagaimana kejadiannya nduk..? Kok bisa kalian sampai diculik..?" tanya bu Widya.
"Kami juga gak tau bu, saat kami sedang mengobrol di kursi taman, tiba-tiba ada yang menyekap kami dari belakang. Kami sudah berusaha berteriak, tapi entah mengapa tubuh kami tiba-tiba lemas, setelah itu aku tidak tau lagi apa yang terjadi. Dan saat terbangun tangan dan kaki kami sudah terikat.." jawab Naia sambil memperagakan tangannya yang terikat.
"Ma, maafin kami ya, sudah buat mama khawatir. Maafin kami juga bu.." ucap Silvia sambil menundukkan kepala.
Bu Widya kemudian memeluk Naia dan Silvia. Tak henti-hentinya beliau mencium mereka berdua.
Sementara itu di teras Villa, Dewa bersama Yuma, Sandhi dan Faruq tengah mengobrol, "Terima kasih atas bantuan kalian. Tanpa bantuan kalian mungkin mereka berdua tidak akan selamat.." ucap Dewa
"Santai saja bos, yang penting kedua nyonya bos selamat. Bos jangan sungkan begitu lah.." jawab Yuma.
Tak lama kemudian pak Wira dan pak Gunawan sampai di Villa, "Saya ucapkan terimakasih karena kerja keras kalian, Naia dan Silvia bisa selamat.." ucap pak Wira.
"Tidak perlu berterimakasih pak, itu sudah menjadi kewajiban kami.." jawab Dewa dan diikuti anggukan Yuma, Faruq dan Sandhi.
"Dewa, ada hal yang ingin aku bicarakan. Sebaiknya kita ngobrol di dalam saja.." ucap pak Wira.
Sebelum menyusul pak Wira ke dalam rumah, Dewa memberikan satu bendel uang kepada Sandhi, "Sandhi, ini buat kamu.."
"Waduh, terimakasih bos.." jawab Sandhi.
"Sandhi dan Faruq, nanti kalian langsung saja kembali ke sasana, itu mobil Karman akan jadi mobil operasional kalian disini. Dan kamu Yud, nanti kamu bantu aku untuk menginterogasi Karman.." ucap Dewa.
"Siap boss.." jawab mereka.
"Bos, sepertinya ada hal penting yang ingin dibahas oleh mertua bos. Sebaiknya bos segera menyusul beliau kedalam.." bisik Yuma.
"Entahlah Yud, yang penting masalah Naia sudah selesai. Aku sangat lega bisa menyelamatkan mereka. Tapi aku juga malu karena tidak berhasil melindungi mereka sehingga mereka bisa diculik. Aku curiga angan-jangan semua ini sudah direncanakan. Bagaimana mungkin Karman tau kalau keluarga pak Wira berada disini..?" jawab Dewa penuh penyesalan.
"Bisa jadi bos, tapi jujur aku heran ada yang bisa kabur dari bos. Bagaimana ceritanya bos..?" tanya Yuma.
__ADS_1
"Kamu ingat kejadian di GOR, ada laki-laki tua dengan kekuatan aneh..? Nah.. Dia mempunyai kekuatan yang sama dengan laki-laki tua itu. Dan aku merasa kekuatannya jauh lebih besar dari laki-laki tua itu.." jawab Dewa serius, lalu menceritakan kejadiaan saat bertarung dengan orang itu. Dewa segera menemui pak Wira di ruang tengah setelah selesai bercerita.
Sementara itu, Yuma hanya bisa bergidig ngeri setelah mendengar cerita Dewa. Dia membayangkan kekuatan orang itu, karena hanya sedikit orang yang bisa berdiri setelah menerima pukulan Dewa, terlebih di titik-titik vital.l