Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Sampah yang sebenarnya


__ADS_3

Setelah selesai mengobrol, Dewa dan Yuma segera berangkat menuju lokasi dimana mereka pernah menginterogasi Santoso mengendarai mobil SUV yang mereka pinjam dari pak Wira.


Sepanjang perjalanan, Dewa bercerita pertemuannya dengan Luki dan mengajak Yuma menemui Luki, "Setelah interogasi ini selesai, kamu ikut aku ke kota AG untuk bertemu dengan Luki. Selanjutnya aku ingin membicarakan langkah selanjutnya apa yang harus kalian lakukan.." ucap Dewa.


"Waaahh.. Aku tidak menyangka seperti itu perjalanan si karet. Aku sudah tidak sabar bertemu dengannya, bagaimana ekspresinya saat bertemu denganku nanti ya..? Hehehehe.." ucap Yuma.


Yuma memanggilnya si karet karena kelenturan tubuh Luki. Sebagai seorang ahli beladiri Wushu dan mantan atlet senam lantai, Luki memang mempunyai kelenturan tubuh yang lebih baik dari siapapun.


"Yang pasti telingaku akan mendengar kalian saling mengolok.. Hahahaha" ucap Dewa


"Bos, aku dapat informasi dari pria kecil, katanya kalian habis membongkar sindikat Narkoba ya..?" tanya Yuma penasaran.


"Iya kebetulan saja, itupun berkat kewaspadaan anak buah Loreng juga.. Oiya Yud, setelah kembali ke kota AB, cari tempat-tempat perjudian lalu hancurkan. Setelah itu sisanya biar diurus sama polisi. Tapi ingat untuk tidak meninggalkan jejak apapun. Aku rasa kalian bertiga sudah mampu melakukannya.. Kita sudah harus bergerak menganggu bisnis kecil mereka.." ucap Dewa.


"Siap bos. Nanti bisa kita kerahkan juga preman-preman yang sudah aku didik.. Terus bos kapan ke kota AB lagi..?" tanya Yuma ingin kepastian.


"Paling cepat salam satu bulan kedepan, sekalian menyiapkan segala hal sebelum aku meninggalkan kota AG. Aku juga berencana mendirikan perusahaan yang menyediakan profesional dalam bidang keamanan dan pengawalan untuk korporasi.." ujar Dewa menjelaskan rencana.


Yuma tersenyum mendengar rencana Dewa, "Ah kalau itu aku paham. Bos ingin membangun pasukan sendiri kan..? Emang bos tidak ingin kembali ke militer..?" tanya Yuma.


"Hahahaha.. Ternyata kamu paham maksudku, setidaknya kita harus mempersiapkan semuanya dengan matang. Kembali ke militer..? Sepertinya tidak, entahlah setelah mengetahui pasukan Ganendra dibekukan oleh pimpinan tertinggi angkatan darat, aku sama sekali tidak tertarik kembali ke dunia itu lagi.. Tapi aku membebaskan kalian, jika kalian ingin kembali, aku juga tidak akan menahan kalian.." ucap Dewa serius.


"Ahhhh, lebih baik aku ikut bos saja. Ternyata lebih tenang aku mengurus sasana dan preman-preman itu. Aku berasa menjadi seorang jendral.. Hahahahha.." jawab Yuma dengan tertawa.


Dewa ikut tertawa mendengar omongan Yuma. Dewa dapat merasakan kejujuran dari kata-kata Yuma. Tak mereka sudah menempuh perjalanan selama tiga jam.


*****


Sementara itu, Naia, Silvia dan Nuraini juga sudah berangkat ke kota AG mengendarai mobil Dewa, sedangkan pak Wira dan bu Santi bersama pak Gunawan dan bu Widya, mengendarai mobil SUV milik pak Wira.


"Kalau saja mas Dewa tidak datang waktu, aku gak ngerti apa yang terjadi sama kami.." ucap Naia memulai obrolan, lalu Naia dan Silvia mulai menceritakan kejadian yang mereka alami kepada Nuraini.


"Alhamdulillah, Tuhan masih sayang sama kakak dan selalu melindungi kalian.. Semoga hal ini tidak terjadi lagi ya kak, ngeri Nur bayanginnya.." jawab Nuraini ikut prihatin.


"Aamiin.. Iya Nur, akupun juga berharap begitu.." jawab Naia dan Silvia.


"Udah ah, bahas yang lain aja lah.." ucap Naia.

__ADS_1


"Eeee.. Kak, beneran bang Yuma yang segede itu kalah sama mas Dewa..?" tanya Nuraini penasaran.


"Iya aku juga penasaran nih Nai, lihat deh tampang bang Yuma, sereeeeemmmm.. Habis itu jari-jarinya segede pisang ambon, masak sih bisa kalah sama mas Dewa..?" tanya Silvia tidak percaya.


"Iya bener. Orang aku lihat sendiri kok. Awalnya sih imbang, tapi begitu mas Dewa serius, cuma butuh dua gerakan aja buat jatuhin bang Yuma.." jawab Naia bangga.


"Kakaku memang yang terbaik. Pantesan kalian berdua sangat mengidolakan kak Dewa.. Hihihihi.." ucap Nuraini.


"Yeee.. Siapa coba yang gak rontok hatinya sama mas Dewa.. Tuh mbak Novi aja sampai nungguin kepastian dari mas Dewa.." uvap Naia.


"Eh.. Beneran Nai..? Mbak Novi emang mantannya mas Dewa..? Bener gitu Nur..?" tanya Silvia penasaran.


"Mbak Tiara itu bisa dibilang mantannya kak Dewa pas SMA. Bahkan saat kak Dewa baru jadi tentara mereka masih berkomunikasi, tapi mbak Novi gak tau kalau mas Dewa itu tentara. Kak Dewa sempat bilang ke Nur kalau ingin memberi kejutan buat mbak Novi, tapi ya gitu, kak Dewa tiba-tiba hilang gak ada kabar, mbak Novi akhirnya putus asa nyariin kak Dewa, akhirnya dia tunangan sama orang lain.." jawab Nuraini.


"Oooohh begitu ceritanya.. Eeee... Kalau teman-teman mas Dewa, selain bang Yuma, kalian udah kenal..?" tanya Silvia.


"Kalau aku sih belum, tapi mas Dewa pernah bilang, anggota regunya ada satu cewek tomboy. Eeee tapi aku lupa namanya.." jawab Naia.


Mereka pun asyik mengobrol selama perjalanan. Entah jam berapa mereka akan sampai di kota AG. Mungkin mereka butuh empat sampai lima jam perjalanan untuk sampai ke desa Lerengwilis.


*****


Dewa membaca kidung keselamatan yang ada di dalam kitab Kalimasada, "Sakehing lara pan samya bali, Sakeh ngama pan sami mirunda, Welas asih pandulune, Sakehing braja luput, Kadi kapuk tibaning wesi, Sakehing wisa tawa, Sato galak lulut, Kayu aeng lemah sangar, Songing landhak guwaning, Wong lemah miring, Myang pakiponing merak.." kemudian dia berbicara dengan ular tersebut, "Hai ular, aku perintahkan kau pergilah. Aku membutuhkan tempat ini dan jangan menganggu kami.."


Dewa seakan memahami maksud ular itu, dia seperti mengatakan bahwa Yuma menghalangi jalan untuk dia keluar. Kemudian dia berkata kepada Yuma, "Yud, kamu masuklah. Tidak apa-apa ular ini tidak bermaksud jahat. Kitalah yang menganggu istirahatnya.." ucapku kepada Yuma.


"Baik boss.." ucap Yuma sambil melangkah ragu-ragu.


Dan benar saja, begitu Yuma masuk, ular itupun langsung pergi meninggalkan pos pantau itu.


"B-bagaimana kau melakukannya bos..? Kau bisa mengerti bahasa hewan..?" tanya Yuma takjub.


"Ya aku seperti mengerti apa yang ular itu katakan. Sekarang turunkan dia dan buka penutup kepala dan sumpalan mulutnya.." ucap Dewa kemudian Yuma melakukan apa yang dikatakan Dewa.


"Bajingan..!! Lepaskan aku keparat..!! Kamu belum tau siapa aku hah..!!" umpat Karman.


Yuma menampar Karman berulang kali dan membalas umpatannya.

__ADS_1


Plaaaaakk.. Plooookk..


"Bangsat..!! Siapa yang mengijinkanmu bicara..!! Kau hanya bicara untuk menjawab pertanyaan bos ku, paham..!!" bentak Yuma.


"Hhmmmm.. Karman Adikusuma, pemilik Kusuma Group, kamu cukup jawab pertanyaanku dengan jujur dan jangan berbelit-belit.." ucap Dewa dengan pandangan tajam.


"S-siapa kalian..? A-apa yang kalian inginkan..? Aku bisa memberi kalian uang, tapi ampuni aku. Biarkan aku pergi.." ucap Karman ketakutan.


"Uang..? Kami tak butuh uang harammu..!! Baik aku akan memperkenalkan diri. Orang yang baru saja menamparmu itu dia adalah Raja Neraka, tentunya kau bisa menebak siapa aku kan..?" ucap Dewa.


Karman sangat terkejut hingga dia merasa tenggorokannya kering. Dia sangat ketakutan, keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya.


"Yud, beri dia minum. Aku tidak ingin dia mati dulu. Ada hal yang harus dia jelaskan kepada kita.." ucap Dewa, lalu Yuma memberi minum Karman.


"J-jadi k-k-kau adalah D-Dewa dan Yudha s-si Raja Neraka..? A-aku mohon a-ampuni aku.." ucap Karman terbata-bata ketakutan


"Selamat.. Jawaban anda benar, tapi sayang sekali ini bukan kuis berhadiah tapi ini hari penghakimanmu.." jawab Yuma dengan senyum sinis.


"Sekarang jelaskan mengapa kau ingin nyawa kami dan katakan siapa orang yang menjadi dalang dari rencana busuk itu.." ucap Dewa serius.


"B-bukan. Aku tidak ikut dalam masalah itu. I-itu semua rencana dari Baros dan Man Tio. Kau pasti tau siapa Baros, dia adalah seorang pensiunan bintang dua dan dia juga salah satu pejabat di pemerintahan. Bisnisnya yang ada di kota B dan pulau Dewata kalian obrak-abrik, Baros kehilangan hampir 500 miliar karena itu. Selain itu, uang yang hilang juga merupakan uang dari beberapa perwira bintang militer dan kepolisian. Selain itu, Baros juga hampir kehilangan kepercayaan presiden dan parlemen. Sedangkan Tio berhubungan dengan penyelundupan senjata di perbatasan yang kalian gagalkan. Baros juga terlibat didalamnya, dan beberapa perwira dikorbankan untuk menyelamatkan namanya. Bahkan Tio akhirnya menjadi tersangka dan dipenjara. Selain itu, dia juga mengalami kerugian yang tidak sedikit, aku dengar hampir 200 miliar dan salah satu perusahaannya juga ditutup karena masalah itu.. Itulah alasan mereka menjebak kalian.." cerita Karman.


"Kau tidak terlibat..? Bukankah kapal yang digunakan untuk mengangkut senjata malam kejadian itu adalah kapal milik PT. Kusuma Water Energy..? Lalu atas dasar apa kau mengatakan tidak terlibat..?!" tanya Dewa dengan nada keras.


"Baros menyewa kapalku, aku juga baru tau kalau kapal itu digunakan untuk menjebak kalian beberapa saat setelah kejadian. Aku tau dari seorang bintang dua bernama Mulyanto, dia adalah orang kepercayaan Baros yang masih aktif bertugas. Kegagalan mereka menghabisi kalian, sehingga kalian berhasil melarikan diri, itu membuat rencana mereka gagal total, dan akhirnya atas laporan komandan kalian, polisi militer mengusut kasus itu. Beberapa perwira menengah dan tinggi ikut menjadi korban demi menutupi keterlibatan Baros, sehingga terlihat bahwa ini adalah masalah internal di tubuh angkatan darat.." jelas Karman


"Lalu senjata di dalam kapal itu, darimana mereka mendapatkan..? Jelas senjata itu senjata kelas atas dan bukan standar yang digunakan di lingkungan militer kita, bahkan pasukan elit dan khusus saja belum tentu memilikinya.." tanya Dewa.


"Man Tio lah yang mengusahakannya. Dia sengaja mendatangkan senjata dari negara yang tidak mempunyai hubungan diplomasi dengan negara kita agar skenario bahwa kalian menyelundupkan senjata itu bisa diterima oleh petinggi.. Hanya itu yang aku tau, selebihnya aku tidak mengetahui sama sekali.." jawab Karman.


Dewa terdiam beberapa saat, dia terlihat berfikir tentang sesuatu, "Aku yakin tidak sesederhana itu. Apakah mungkin ini berhubungan dengan itu..? Ahh.. Sudahlah, kebenaran akan terungkap seiring waktu.." gumam Dewa dalam hati.


Dewa bisa merasakan dengan persepsi jiwanya bahwa tidak ada lagi yang diketahui Karman selain yang dikatakannya, tidak ada sedikitpun yang ditutupi olehnya. Orang kalau mau mati, mereka pasti akan berusaha untuk jujur.


"Informasi terakhir yang aku dapatkan, saat ini pimpinan tertinggi angkatan darat sudah membekukan pasukan Ganendra dan pencarian terhadap kalian sudah dihentikan. Tapi polisi militer tetap melakukan penyelidikan pada kasus ini.." ucap Karman menambahkan.


"Bagaimana Baros dan Man Tio melakukan bisnis perjudian dan Narkoba..?" tanya Dewa menyelidik.

__ADS_1


"Ya. Baros adalah pemain besarnya, dialah yang membagi wilayah sekaligus mengatur siapa oknum aparat yang menjadi pelindungnya, baik itu perjudian atau narkotika. Sedangkan Man Tio dia hanya sebagai pengatur regulasinya atau aturan main antar pengusaha judi dan bandar. Aku hanya mengambil sebagian kecil dari bisnis perjudian itu, hanya sebagian kecil dari judi online yang aku jalankan.." jawab Karman.


"Merekalah penjahat yang sebenarnya, tapi berkedok orang mulia karena kedudukan dan hartanya. Sungguh biadab yang mereka lakukan.. Sampah..!!" umpat Dewa dalam hati.


__ADS_2