
"Beberapa bulan terakhir ada kelompok yang mengobrak-abrik tempat-tempat perjudian dan bandar-bandar narkoba di kota AB, D dan B..? Mereka sangat misterius, dan cara kerja mereka sangat rapi, mirip dengan pasukan Ganendra. Bahkan kami kesulitan untuk melacak mereka. Apakah mungkin kelompok ini dibuat oleh salah satu anggota regumu..?" tanya pak Gatot.
Meskipun mengetahui bahwa mereka adalah kelompok Serigala Darah, tapi Dewa tetap menggelengkan kepalanya, "Aku juga tidak tau. Tapi bukannya itu bagus, membantu pihak berwajib untuk memberantas mereka..?" jawab Dewa santai.
"Sudahlah, itu tidak ada hubungannya dengan pembahasan kita saat ini. Lalu apa rencana mas Dewa selanjutnya, apakah kamu masih ingin mencari tau kebenaran dari kasus yang menimpa regumu..?" tanya pak Sutiyono.
"Benar, apapun resikonya.. Aku ingin mereka membayar atas apa yang mereka perbuat. Satu lagi, aku juga ingin meminta bantuan untuk memulangkan komandanku dari Gazza.." ucap Dewa.
"Tenang saja, kami pasti akan membantumu. Aku akan segera mengirimkan informasi tentang Baros dan kerajaan bisnisnya. Untuk masalah komandanmu, aku akan segera mengaturnya.." sahut pak Handoko.
*****
Dewa segera kembali ke hotel dan mengumpulkan tiga orang petinggi Serigala Darah untuk memberikan instruksinya kepada mereka, "Jadi tugas kalian adalah terus awasi pergerakan dari Baros dan beberapa orang dalam daftar ini. Segera laporkan kepadaku apapun yang mereka rencanakan dan kerjakan.." ucap Dewa mengakhiri instruksinya.
"Ini bos, kami berhasil mendapatkan catatan transaksi keuangan dari beberapa bandar besar judi dan Narkoba.." ucap Doni, ketua kelompok Serigala Darah di wilayah kota B.
"Baik, aku akan mempelajarinya dulu. Kalian berhati-hatilah, kepolisian dan militer saat ini sedang mengawasi kalian.." ucap Dewa.
"Siap bos besar..!" ucap mereka serempak kemudian meninggalkan kamar hotel dimana Dewa menginap.
Dewa membuka dokumen yang diberikan Doni, dia membaca dokumen itu dengan teliti, tapi masih saja dia tidak bisa memahami isi dokumen itu, "Aaahhh.. Ini bagaimana cara membacanya..? Laporan seperti ini adalah keahlian Silvia untuk menganalisanya. Sudahlah, biar dia saja nanti yang memeriksanya.." gumam Dewa dalam hati.
"Salam tuanku, aku datang menghadap.." sapa Gandarwa Raja.
"Ada apa Raja, apakah ada hal penting yang ingin kamu sampaikan sehingga kamu meminggalkan kerajaanmu..?" tanya Dewa.
"Benar tuan, ada dua hal penting yang ingin aku sampaikan. Pertama, orang yang mencelakai Nurdiono bernama Sulam. Dia sebenarnya siluman harimau, kesaktiannya sangat tinggi sehingga dia bisa memiliki tubuh fisik seperti manusia. Kedua, Sulam dan Baros, Sang Pangeran Kegelapan, dia sudah memerintahkan anak buahnya untuk menangkap istri tuan dan Dewi Candrakirana.. Sulam bergerak dengan pasukannya dari golongan siluman dan para dukun ilmu hitam, sedangkan Baros memanfaatkan kekuasaannya untuk melakukannya.." ucap Gandarwa Raja.
Mendengar ucapan Gandarwa Raja, raut muka Dewa berubah menjadi tegang, "Jadi Baros sudah mulai turun tangan sendiri. Dia sudah tidak bisa bersabar rupanya. Tapi apa yang membuat dia tidak bisa lagi menunggu..?" tanya Dewa.
__ADS_1
"Maaf tuan, hal ini berhubungan dengan kehamilan Sang Dewi, karena saat sang Dewi hamil, maka kekuatan spiritual Sang Dewi akan terfokus pada anak yang dikandungnya. Ratu Kegelapan ingin memanfaatkan hal ini untuk mendapatkan sang Dewi. Selain itu, anak yang dikandung sang Dewi merupakan tumbal terbaik untuk kebangkitan penguasa kegelapan.." Gandarwa Raja menjelaskan.
"Mereka benar-benar biadap. Tapi sayang sekali, yang mereka incar adalah istri dan anakku. Gandarwa Raja, siap siagakan prajuritmu, kita sambut mereka..!" ucap Dewa dengan tegas.
"Baik tuanku.. Tidak hanya aku, tapi saudaraku, Gandarwa Rajabali juga akan bersiap memghadapi mereka. Sudah saatnya membalas dendam ratusan tahun yang lalu.." sahut Gandarwa Raja kemudian kembali ke kerajaannya.
"Terimakasih Gandarwa Raja. Aku Dewangga pasti akan membalas semua kebaikan kalian, meskipun kalian bukan dari golonganku.." gumam Dewa dalam hati.
Keesokan harinya, di salah satu kafe di sekitar hotel tempat Dewa menginap, Dewa menemui pak Handoko. Bersama dengan pak Sutiyono dan pak Gatot, mereka menyusun rencana untuk menghadapi Baros.
"Jadi begitulah informasi yang aku dapatkan. Aku sendiri juga tidak tau kapan Baros akan menjalankan rencananya.." ucap Dewa mengakhiri ceritanya.
"Aku juga mendapatkan informasi bahwa kemarin siang saat kita mengadakan pertemuan, Baros ternyata mengumpulkan beberapa petinggi militer dan kepolisian, pasti mereka sedang membahas sepeti apa yang mas Dewa katakan tadi.." ucap pak Gatot.
"Apakah Baros akan memerintahkan jajaran militer dan kepolisian untuk mencari istrinya..?" tanya pak Sutiyono.
"Aku rasa itu tidak akan dilakukan Baros. Dia pasti akan membentuk tim khusus untuk melakukannya. Tapi mengapa dia sangat terobsesi dengan istrimu..? Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya..? Sepengetahuanku, memang Baros sangat menyukai wanita muda untuk dijadikan wanita simpanannya.." ucap pak Handoko.
"Tenanglah mas Dewa, kami akan selalu membantu dan mendukungku. Aku akan segera mencari informasi tim yang akan diturunkan oleh Baros.." ucap pak Handoko.
*****
Sementara itu, sesaat setelah sampai di kerajaannya, Gandarwa Raja segera mengumpulkan para punggawa kerajaan, "Para panglima dan senopati kerajaan Wilis, dengarkan titahku..! Tuanku Sang Wisnu memberikan perintah untuk menyiagakan para prajurit untuk melawan para brekasaan yang akan menyerang. Tujuan mereka adalah untuk meculik istri tuanku Sang Adhimurti, Dewi Kilisuci dan Dewi Candrakirana, dan kita harus melindungi Sang Dewi sampai titik darah penghabisan.."
"Siap baginda, kami akan melaksanakan titah baginda Gandarwa Raja.." jawan mereka serempak.
Tiba-tiba angin bertiup kencang, Gandarwa Rajabali datang bersama dengan beberapa panglima dan senopatinya, "Ada apa kakang Raja, mengapa engkau memintaku datang kemari..?" tanya Gandarwa Rajabali.
"Saudaraku, tak lama lagi para brekasaan akan menyerang kerajaanku. Tujuan mereka adalah menculik sang Dewi, dan tuanku memerintahkan kepadaku untuk melindungi sang Dewi.." ucap Gandarwa Raja.
__ADS_1
"Oh..., jadi penguasa kegelapan sudah tidak bisa menunggu lagi. Lalu apa rencanamu kakang Raja..?" tanya Rajabali
"Dengarkan titahku..! Aku menunjuk adi Rajabali sebagai panglima tertinggi dalam perang kali ini. Pasukan di bagian timur akan dipimpin oleh Singo Barong, bagian barat aku serahkan kepada Singo Joyo. Gandarwamaya akan memimpin pasukan untuk menjaga keamanan Sang Dewi........" selanjutnya Gandarwa Raja menjelaskan strategi untuk menghadapi para siluman pasukan dari Sulam.
"Baiklah... Sugriwo, Subali, kalian pimpin pasukan telik sandi untuk mengamati pergerakan dari musuh. Putraku, Pangeran Srenggi, pimpin pasukan untuk mengawasi wilayah udara.. Sekarang kalian bubar dan segera laksanakan titah baginda Gandarwa Raja.." sambung Gandarwa Rajabali.
"Baik tuan Panglima.." jawab mereka serempak.
Para panglima dan senopati kedua kerajaan segera meninggalkan pendopo agung kerajaan Wilis. Mereka langsung menjalankan perintah dari raja mereka, menyiapkan menyiagakan pasukan.
"Kakang Maya, meskipun ini baru pertama kali, tapi jangan sampai kita kalah oleh brekasaan itu. Kita tunjukkan kesaktian kita kepada mereka.." ucap Srenggi.
"Benar kata adi Srenggi. Aku yakin kita akan memenangkan perang kali ini. Bagaimanapun kita harus membantu tuanku Dewa untuk membasmi angkara murka penguasa kegelapan.." ucap Gandarwamaya kemudian mereka pergi menuju kerajaannya masing-masing.
*****
Mbah Sastro merasakan suasana di desa Lerengwilis berubah dengan drastis, "Hehhehhehhe.. Sesuatu yang besar akan terjadi di desa ini. Tapi aku sama sekali tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi disini.." gumam mbah Sastro dalam hati.
"Disaat seperti ini kamu masih bisa tersenyum Sastro..?" ucap mbah Sumi yang tiba-tiba mendatangi mbah Sastro.
"Hehhehhehhe... Tunjung Seto, kamu sama sekali tidak berubah. Selalu datang tiba-tiba seperti ini. Sepertinya kamu semakin tua semakin hebat saja.." ucap mbah Sastro.
"Sudahlah tidak perlu membahas hal yang tidak penting.. Aku datang kemari karena aku merasakan aura spiritual disini berubah. Apakah memang waktunya sudah dekat..?" tanya mbah Sumi.
"Benar, aku juga merasakan hal yang sama. Memang sudah sangat dekat, meskipun dalam hitungan waktu di alam kita masih beberapa bulan kedepan. Tapi kita juga harus samapta ing gati sawiga ing diri, kita harus tetap waspada..." jawab mbah Sastro.
"Benar apa katamu. Mari kita lindungi cucu-cucu kita, selain ibunya, mereka juga menjadi sasaran penguasa kegelapan. Jangan sampai penguasa kegelapan menumbalkan mereka demi kebangkitannya.." sambung mbah Sumi.
Disaat mbah Sastro dan mbah Sumi berbincang, sesuatu melesat dengan sangat cepat di atas rumah mbah Sastro.
__ADS_1
Whuuuuuuuzzzzzz...