Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
10.


__ADS_3

Davian mengalihkan pandangannya yang sedari tadi menatap layar laptop, kini sepasang matanya tertuju pada Kia. "Ada apa sayang?"


"Jangan terlalu lelah ya sayang, kamu baru sembuh."


"Pekerjaan aku masih banyak sayang--" Davi terkejut, karena dari bawah ada sentuhan lembut yang memainkan kelelakianya. Merasakan kehangatan dan belitan lidah, Davi menyadari kalau Likha tengah melahap milikknya.


Kia heran dengan rekaksi Davi. "Mas baik-baik aja?"


"Iya, mas baik-baik aja."


"Apa perlu aku temanin?" tawar Kia.


"Tidak perlu sayang, sepertinya aku sampai pagi di sini."


"Ya ampun mas, kamu besok harus kerja lagi."


Davi berusaha menyembunyikan kenikmatan yang menyapa sekujur tubuhnya rasakan karena kelakuan nakal Likha di bawah meja sana. Berulang kali Davi mengatur napasnya. "Malam ini aku mau kerja sampai pagi, untuk besok kamu dulu ya wakilin aku."


Kia menatap wajah suaminya penuh selidik.


"Kalau kamu nggak kasih aku waktu buat kerja kapan selesainya?" ucap Davi.


Melihat Kia berjalan kearahnya, Davi mengisyarat pada Likha di bawah sana, Likha faham, dia segera mengembalikan milik Davi ke sangkarnya. Saat yang sama Kia duduk di pangkuan Davi.


Davi dan Likha sama-sama ketakutan. Davi segera memindahkan kursi kerjanya menuju samping, agar Kia tidak menyadari sosok Likha.


"Mas ... ada yang bangun di bawah sana." Kia merasa tempat yang dia duduki menegang.


"Ya pasti dia bangun, karena kontak batin sama mata atas, saat mata atas lihat kamu, maka kepala bawah bangun."


"Mau aku tidurin?" tawar Kia.


"Kalau kamu tidurin yang bawah, yang atas ikut tidur, kapan kerja aku selesai?"


Melihat suaminya begitu serius, Kia tersenyum dan menciumi wajah suaminya. "Ya sudah aku tidur duluan ya."


Saat Kia keluar dari ruangan kerjanya, Davian menghela napas lega.


"Sayang ... kunci dulu pintunya, nanti kejadian sama terulang lagi aku nggak yakin aku kuat sabar," rengek Likha. Dia sangat kesal. Saat menikmati indahnya terbang diantara awan, saat ingin lebih tinggi keadaan menghempasnya begitu saja.


Davi segera mengunci pintu, dan membalas perbuatan Likha padanya. Ruangan itu dipenuhi suara nyanyian dewasa yang bersahutan. Hanya rehat beberapa menit, keduanya memulai lagi peraduan mereka.


jarum jam dinding kini menunjukan pada angka 4. Davi merasa ini adalah sesi terakhir sebelum para pelayan bangun. Setelah menyiram ladang Likha untuk kesekian kalinya, Davi mencium wajah cantik yang terlihat lelah itu.

__ADS_1


"Malam ini adalah malam paling terindah untukku," ucap Davi.


"Aku juga merasakan ini adalah yang terbaik, setelah ini aku tidak tahu apakah aku bisa merasakan lagi kehangatan darimu."


Likha segera mengenakan pakaiannya, dan dia kembali ke kamarnya dengan langkah tertatih. Sedang Davian merehatkan mesin yang semalaman full dia ajak bekerja.


Kia terbangun, dia melirik jam handphonenya. "Sudah jam 5, mas Davi belum kembali." Kia bangun dan menuju ruang kerja suaminya. Terlihat suaminya tertidur di depan laptop yang masih menyala.


"Ya ampun mas, kamu benar-benar begadang." Kia membangunkan suaminya dengan menciumi leher suaminya. "Sudah pagi mas ...."


"Sebentar lagi ...." rengek Davi.


"Pindah ke kamar mas, matiin dulu laptonya," usul Kia.


Mata Davi sulit terbuka, tapi dia melakukan apa yang Kia suruh. Davian kembali melanjutkan tidur di kamarnya dan Kia.


Kia sudah selesai mengerjakan pekerjaan paginya, dia terlihat cantik dengan setelan kerjanya. Saat keluar kamar dia bertemu dengan Likha dan Rachel.


"Ayah masih sakit bund?" tanya Rachel.


"Ayah cuma capek, tadi malam Ayah kerja lembur sampai pagi." Pandangan Kia tertuju pada Likha.


Mendengar kata-kata Kia, Likha mengulum senyum, dia teringat sepanjang malam dia menggila bersama Davi.


"Ya ampun Kak, banyak banget." Kia merasa uang dalam amplop itu begitu tebal.


"Rezeki kamu."


Pagi itu mereka sarapan tanpa Davi. Selesai sarapan Likha berpamitan pada Kia, sedang Kia segera menuju kantor Davi. Rachel sendiri diantar supir menuju sekolahnya.


Davian masih di kamarnya, saat dia terbangun, dia melihat pesan dari Likha kalau dia sudah pergi. Juga ada pesan dari Kia.


Davian terdiam sejenak, tadi malam benar-benar petualangan terakhirnya bersama Likha di rumah ini. Davi mencari tau beberapa informasi dari medianya, dia mencari tempat yang aman dan terpercaya untuk dia singgahi nanti bersama Likha. Beberapa nama hotel sudah dia catat, Davian segera menyegarkan tubuhnya dan survei ke hotel-hotel yang menurut informasi aman dan terjaga.


Davi mengenakan pakaian rapi, dan meluncur ke tempat yang dia tuju. Di sana Davian bertemu dengan manager hotel itu, setelah mendengar semua penjelasan sang Manager, Davian sangat yakin privasinya sangat terjaga jika menggunakan tempat ini dengan kekasih gelapnya. Terlebih hotel itu ada jalur khusus keluar untuk wanita teman ranjang para tamunya, agar tak tetangkap kamera mata-mata yang mencurigai mereka. Mendengar semua itu Davi semakin yakin, dia memesan 1 kamar untuk percobannya nanti.


"Saya akan hubungi lagi jika istri saya setuju." Alasan ingin menghabiskan waktu berdua dengan istri menjadi alibi Davi.


Saat Davian meninggalkan hotel itu, dia bertemu salah satu rekan bisnisnya. Rekan bisnisnya itu melempar senyum pada Davi, dan perlahan mendekati Davi.


"Bagaimana Davi? Dunia hitam pekat ini sangat indah bukan?"


Davian tersenyum, dia memahami maksud pertanyaan temannya. "Anda salah Pak, saya hanya ingin warna baru untuk saya dan istri saya." kilah Davi.

__ADS_1


"Aku tak mampu sepertimu Davi, yah ... memang mencintai istriku, tapi aku butuh hiburan. Wanita di luar yang aku pakai, hanya sebagai penghibur dan aku membayar mahal sebagai upah jasa mereka. Tapi untuk menikahi, no."


Davi tersenyum, dia sendiri merasakan apa yang temannya rasakan.


Sebelum merasakan indahnya petualangan bersama Likha, Davi sangat menjauhi dunia seperti ini, saat teman-teman bisnisnya ke luar negri bersama wanita gelap mereka, Davi tidak pernah tergoda. Mungkin saat ini, jika ada rapat di luar negri, Likha akan dia bawa bersamanya.


"Tidak lama lagi, aku tidak menggunakan tempat ini lagi."


"Kenapa? Apa karena bertemu aku?" Davi terkejut dengan ungkapan temannya.


"Karena aku baru membeli Apartemen yang memiliki keamanan ketat, aku dan babyku hanya melakukan itu di sana."


Davi terdiam, bahkan saat temannya pergi dia masih tenggelam dalam pemikirannya. Apakah dia juga harus membeli unit Apartemen yang serupa?


***


Setelah dari rumah Kia, Likha kembali ke rumah ibunya. Kia rebahan di kamar yang disediakan ibunya untuknya.


"Likha, kapan kamu datang?"


Mendengar sapaan itu Likha segera bangun. "Baru aja ma, untung mama kasih tau rencana Kia, kalau enggak, kacau semua rencanaku."


"Davi berhasil kamu taklukan?" Eren memastikan.


"Tentu mama, mungkin sebentar lagi dia akan meneleponku."


Saat yang sama handphone Likha berdering, terlihat nama Davi tertera di layar benda pipih itu.


"Apa ku bilang?" Likha memperlihatkan layar handphone pada ibunya.


Likha menarik napas, mempersiapkan suara manja untuk menyapa telinga Davi. "Sayang ... Kangen ...." ucap Likha.


"Aku juga kangen kamu, kapan bisa ketemu?"


"Kamu mau ketemunya kapan sayang?" balas Likha.


"Temui aku di hotel bagaimana, aku menemukan tempat aman. Kalau kamu setuju aku pesan kamar sekarang. Nanti kirim alamat hotel lewat chat ya."


"Sebentar ya Kak, aku pastiin waktu aku, Kakak tau sendiri aku udah 2 bulan tidak bertemu putriku."


"Kabari aku secepatnya."


Likha tersenyum puas, dia menyimpan kembali handphonenya. "Liat mama, dia terikat padaku."

__ADS_1


__ADS_2