Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
8. Merasa Bersalah


__ADS_3

Tak terasa 2 bulan berlalu begitu saja. Davian masih betah berbaring setiap hari di kasurnya.


Kia memandangi laporan medis suaminya, tidak ada yang mengkhawatirkan, namun hanya butuh istrirahat. 2 bulan apakah ini waktu yang sebentar?


"Laporan ini tidak salah Likha?" Kia memastikan.


"Itu yang saya terima saat mengantar kak Davi ke Rumah Sakit untuk pemeriksaan."


Kia menoleh pada suaminya. "Aku tidak bermaksud apa-apa mas. Tapi luka mas sudah sembuh, aku hanya takut ada sesuatu yang serius karena sudah 2 bulan mas begini."


"Mau bagaimana sayang? Jalan sedikit mas pusing," kilah Davi.


"Kita periksa lagi ya mas ...."


Davi tegang, jika pergi ke Rumah Sakit lagi maka Kia akan tahu kalau dia sudah sembuh. "Aku capek sayang, aku semakin down jika ke Rumah Sakit walau hanya periksa sebentar."


"Aku harus gimana Kak? Apa. Sebaiknya Kakak cari perawat lain? Ya ... Kali saja keadaan Kak Davi membaik jika perawat hebat yang menjaganya," ucap Likha.


"Tidak perlu Likha, mas Davi hanya butuh waktu."


*****


Kia benar-benar sulit mempercayai hal ini, dia teringat adiknya yang juga seorang perawat. Kia mengajak Luna bertemu saat jam makan siang disebuah Restoran.


Luna tiba lebih awal di tempat janjiannya dengan Kakaknya. 10 menit berlalu akhirnya Kakak perempuannya itu menampakan batang hidungnya.


"Ada apa Kak? Tumben Kak Kia ajak aku ketemuan."


"Kamu merasa aneh nggak sama keadaan mas Davi?" Kia balik bertanya pada Luna.


"Memangnya Kak Davian kenapa?"


"Sudah 2 bulan berlalu, tapi tidak ada perkembangan. Dari pandanganmu sebagai perawat, apakah itu wajar?"


"Belum pulih? Masa sih Kak? Bukannya tangan dan kaki Kak Davian hanya cedera biasa, bukan patah?"


"Itu dia, kata dokter asal ditangani dengan benar 3 minggu Davian akan pulih. Cedera di kepalanya juga tidak berbahaya. Tapi mas Davi selalu mengeluh pusing kalau duduk lama."


"Kakak ajak periksa lagi, takutnya ada apa-apa gitu," usul Luna.


"Sudah, tapi mas Davi selalu jawab dia baik-baik aja hanya butuh waktu."


"Apa karena perawatnya cantik, jadi Kak Davi betah sakit?"


"Kamu jangan bikin Kakak takut, Luna!"


"Kita selidiki saja Kak, aku hanya heran kenapa Kak Davi belum pulih."


Kakak beradik itu larut dengan pemikiran mereka, hingga mereka tidak menyadari kalau ada yang mendengar semua obrolan mereka. Wanita yang berusia 48 tahun itu undur diri pada teman-temannya, dia segera menuju toilet.


Tut ....


Hanya suara itu yang menyapa indra pendengarannya.


"Likha ... angkat teleponnya!" gerutunya.


Panggilan pertama tidak terjawab, dia berusaha menghubungi putri tertuanya itu.


"Apa mama? Kenapa mama ganggu aku sih ...." rengek dari ujung telepon sana.

__ADS_1


"Likha! Sudahi kesenangan kamu di rumah itu!"


"Nggak akan mama!"


"Ini mama baru mendengar rencana Luna dan Kia, mereka ingin menyelidiki kenapa Davi betah sakit!"


"Mama serius?"


"Ngapain mama bohong! Kalau kamu berhasil jadi istri kedua Davi, kan mama juga seneng!"


"Aku harus gimana ma?" rengek Likha.


"Atur rencana ulang, sudahi dulu kegiatan di sana. Kamu bisa-bisa aja bicara sama Davi!"


Di kediaman Davian dan Kia.


Davian merasa heran, tiba-tiba raut wajah Likha yang ceria seketika berubah muram. Melihat Likha menyudahi sambungannya, dia segera menghampiri patner ranjangnya itu.


"Kenapa sayang?" tanya Davian.


"Aku baru nerima kabar dari informan terpercaya aku, kata dia Kak Kia mulai curiga kenapa Kak Davi belum kunjung pulih."


Davian membuang napasnya kasar. Sejak 1 bulan yang lalu cedera kaki dan tangannya sudah sembuh total, bahkan luka di kepalanya juga sudah pulih. Hanya saja dia sengaja pura-pura sakit agar setiap hari bisa mengarungi lembah Likha.


"Bagaimana?" rengek Likha.


"Aku belum punya cara buat Kia percaya."


"Terus kita bagaimana?" Likha sangat sedih. "Aku baru merasakan luar biasanya dilayani kamu, apa ini akhir segalanya?"


"Untuk hal itu, kita atur nanti, pastinya kita lakukan itu di luar," ucap Davi.


"Ini masih jam makan siang, aku mau menjalankan rencana pertamaku." Davian segera berjalan menuju Walk-in closet, dan meraih setelan kerja yang selama 2 bulan ini tidak pernah dia sentuh.


"Mau ke kantor bikin kejutan buat Kia. Kamu di rumah aja ya, siapin hati kalau ini hari terakhir petualangan kita di rumah ini." Davi mencium dalam pucuk kepala Likha.


"Gimana cara aku obatin rindu sama kamu jika aku tidak di rumah ini? Sedetik aja nggak lihat kamu dunia aku itu suram banget," keluh Likha.


"Sabar, tapi aku usahakan nanti malam kita ketemu di luar."


Likha keluar dari kamar Davi, sedang Davi bersiap menuju kantornya. Saat dia mengayunkan sepasang kakinya tanpa alat bantu, para pelayan yang melihat itu sangat terkejut. Davi melempar senyum pada wajah-wajah yang syok itu. "Jangan ada yang bilang sama Nyonya kalau saya sudah pulih," ucapnya.


Tidak berbeda dengan para pekerja di rumahnya. Para pegawai kantornya juga sangat terkejut melihat kedatangan Davian.


"Saat Nyonya kembali, jangan ada yang bilang kalau saya ada di ruangan, saya mau kasih istri saya kejutan atas kesembuhan saya," ucap Davian, dan dibalas anggukan para pegawai yang ada di depannya.


*


Selesai makan siang bersama Luna, Kia kembali ke kantor Davi. Di tengah perjalanan Kia menepikan mobilnya, entah mengapa perkataan Luna membuat hati dan pikirannya seketika kacau. Dia meraih handphone dan menghubungi bi Sarah.


"Iya Nyonya." Jawaban dari ujung telepon.


"Bi, selama Likha bekerja di rumah, apa ada hal mencurigakan?"


"Mencurigakan seperti apa Nyonya?"


Kia bingung harus memberi contoh apa. "Misal berduaan lama di kamar." Likha merasa pertanyaan ini sangat keterlaluan, dia menelungkupkan wajahnya pada setiran mobil. Pertanyaan bodoh, namun jika tidak dia tanyakan dia yang tersiksa.


"Belum pernah Nyonya. Selama Likha bekerja di sini, jika harus masuk kamar Tuan, dia selalu mengajak saya atau pelayan lain. Mungkin dia tau akan ada persangkaan buruk seperti ini, sebab itu dia menjaga di awal."

__ADS_1


Ya Tuhan ... apa yang aku pikirkan terlalu jauh. Maafkan aku Likha .... batin Kia.


"Andai Tuan mau sendiri, meminta Likha pergi, Likha selalu meninggalkan beda yang berbentuk segi empat di kamar Tuan, kata dia andai Tuan butuh dia, Tuan bisa memanggilnya, dan dia bisa datang secepatnya walau posisi dia ada di kamar sebelah."


"Selama ini saya melihat Likha selalu mengurung diri di kamar sebelah kalau Tuan ingin tidur."


"Kalau Nyonya merasa tidak enak, lebih baik ganti perawat laki-laki saja."


Kia terdiam mendengar semua cerita bi Sarah.


"Makasih ya bi, saya mau lanjut kerja dulu."


Kia meneruskan kembali tujuannya. Walau lelah mengerjakan 2 pekerjaan, demi meringankan beban suami, Kia berusaha terlihat tegar dan semangat menjalani semua pekerjaannya.


Kia masuk ke ruangan Davi, dia masih tidak menyadari keberadaan Davi di sana. Kia memutar kursi kerja yang menghadap ke belakang, tarikan yang berat membuat perhatian Kia tertuju pada kursi itu. Sepasang matanya seketika berbinar melihar sosok Davian yang tengah duduk di sana."


"Mas ...." Kia langsung mencium pipi suaminya. "Mas sama siapa ke sini? Terus yang gantiin mas pakai setelan ini siapa?"


"Aku ke sini sendiri, dan aku mengganti pakaianku juga sendiri."


Davian berdiri tegak tanpa bantuan. Membuat Kia semakin syok.


"Surprize ...." Davian memutar badannya, memperlihatkan pada Kia kalau dia sudah sembuh.


"Mas ...." Kia sangat bahagia melihat suaminya sembuh.


"Jadi tadi pagi mas bohongin aku?" Kia menangis haru melihat suaminya benar-benar sembuh.


"Aku sengaja menyembunyikan kesembuhan aku, karena aku mau kasih kejutan buat kamu. Selama aku sakit kamu melakukan banyak hal untuk aku. Aku sengaja bohong, aku ingin mencari waktu yang tepat untuk mrngejutkanmu."


Kia tidak bisa berkata lagi, melihat suaminya pulih, ini kebahagiaan terbesarnya. Dia langsung memeluk Davi.


"Makasih ya sayang ... atas semuanya." Davian menyudahi pelukan mereka, tanpa permisi dia melahap habis bibir Kia, ruangan itu pun dihiasi suara pertukaran saliva yang begitu liar. Tanpa melepaskan ciumannya, Davi menggiring Kia menuju kamar pribadinya.


Sesampai di sana, pakaian yang baru dia kenakan beberapa menit yang lalu, saat ini kembali tanggal. Suasana siang semakin panas, suami istri itu melakukan kegiatan yang lumrah bagi mereka di sana.


Davi segera mengenakan pakaiannya, dan berjalan menuju ruang rapat. Davi melanjutkan kembali pekerjaan yang lama dia tinggalkan selama sakit. Walau tidak tahu sampai mana progres pekerjaan mereka, ada Dharma yang selalu membantunya.


"Kami sangat senang melihat Pak Davian pulih kembali," ucap salah satu patner bisnis.


"Iya Pak, terima kasih karena memahami keadaan saya."


"Nyonya Kia mana Pak?" tanya rekan bisnis yang lain.


"Istri saya punya usaha sendiri, saat dia tahu saya sembuh, dia fokus melakukan pekerjaan yang selama ini dia kerjakan," kilah Davi.


"Istri Anda wanita cerdas, dia begitu memahami pekerjaan ini," puji rekan bisnis yang lain.


Davi berusaha tersenyum, walau hatinya perih. Entah kehebatan apa yang Kia miliki, sehingga orang-orang selalu memujinya.


Kia sendiri masih berada di kamar pribadi yang ada di ruangan Davi. Pertarungan mereka begitu liar sehingga Kia kewalahan meladeni naf-su suaminya. Di kamar itu, Kia sudah terlihat segar dan cantik. Dia mengingat rencananya dan adiknya saat di Restoran. Kia kembali menghubungi Luna.


"Apa Kak Kia?"


"Rencana yang udah kita susun, kita batalin."


"Kenapa Kak?"


"Mas Davi ternyata sudah sembuh, ini dia sudah di kantor dan melakukan pekerjaanya." Kia menceritakan semuanya, tentang Davi yang pura-pura masih sakit hanya demi menunggu waktu yang tepat untuk memberi kejutan padanya.

__ADS_1


"Aku senang mendengarnya, kita jadi punya sangkutan dosa pada Likha, Kak. Karena sempat memikirkan dia melakukan hal aneh-aneh sama Kak Davi."


"Iya, Kakak juga merasa bersalah karena ikut memikirkan Likha seperti itu.


__ADS_2