Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
12.


__ADS_3

Di dalam ruangan kecil itu keduanya sampai pada puncak tertinggi mereka. Davi menghujani wajah Likha dengan ciuman, sambil mengembalikan kepala elang yang baru saja selesai melanglang ke lembah kenikmatan.


"Terima kasih sayang." Davi tidak bisa berhenti menghujani wajah Likha dengan ciuman hangatnya.


Krekkk! Tek!


Mendengar hal itu, refleks Likha menutup kembali bagian depan tubuhnya dengan kain gaunnya yang panjang.


Keduanya semakin syok, ternyata yang membuka pintu itu putri kesayangan Davi.


"Ra-Ra-Rachel?" Davi bingung berkata apa, beruntung elangnya sudah kembali tidur di sarangnya.


"Ayah sama aunty Likha sedang apa?" Rachel memandangi orang dewasa itu penuh selidik.


"Ah-- ini- mata Aunty kelilipan, Ayah Rachel bantu niup," kilah Likha.


"Masih sakit Aunty?" tanya Rachel polos.


"Masih sayang, aduh perih." Likha mengibaskan tangan ke udara, mengipas mata dengan lambaian tangannya.


"Sini Rachel bantu tiup." Anak kecil polos itu masuk ke dalam kamar mandi mendekati Likha.


Jantung Likha berdentum tidak beraturan, dia turun dari tempat duduknya dan membungkuk pada Rachel, agar anak itu mudah meniup matanya.


"Bagaimana Aunty?" tanya Rachel.


"Sudah lebih baik sayang. Makasih ya." Likha menghempas napasnya, merasa lega karena Rachel percaya dengan alasannya.


***


Di ruang tamu Kia mulai resah, sudah 30 menit suaminya berada di kamar mandi. Berulang Kali Kia melirik jam tangannya.


"Ayo Kia coba kue ini, ini tante yang bikin sendiri loh." Eren mencoba mengalihkan perhatian Kia.


"Terima kasih Tante, tapi Kia udah kenyang. Kia mau cari Rachel dulu, itu anak keasyikan main sama Nanda," kilah Kia. Dia segera menuju tempat di mana Nanda dan Rachel bermain. Sampai di ruangan itu, hanya ada Nanda di sana.

__ADS_1


"Nanda, Kak Rachel mana sayang?"


"Kakak Rachel ke kamar mandi."


"Lanjut mainnya sayang, tante mau nyusul Kak Rachel dulu."


Kia berpikir Davi lama di kamar mandi karena membantu Rachel. Saat dia sampai di kamar mandi, benar saja Davi berdiri di depan pintu kamar mandi sendirian.


"Mas nungguin siapa?" sapa Kia.


"Sayang?" Davi berusaha tersenyum. "Rachel ada di dalam, ya mas tunggu aja."


"Aku sudah besar, tidak perlu di temenin, Ayah nakal nggak mau dengarin Rachel," gerutu gadis imut yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ada apa ini ribut-ribut?" Likha berjalan kearah mereka dengan membawa nampan berisi teko dan kudapan.


"Aku hanya khawatir mas Davi kelamaan, takut dia kenapa-napa, makanya aku susul," sahut Kia.


"Kirain kak Kia kangen aku karena aku lama nggak balik keluar. Maaf aku lama, tadi bantu bibi di dapur siapin menu ini," Likha mengisyarat pada kue yang ada di nampan.


"Ya udah, kita ke ruang tamu lagi," ajak Kia.


"Iya sayang boleh." Kia mengusap lembut pucuk kepala putrinya.


Davi dan Likha masih berdiam diri di tempat mereka. Likha perlahan mendekati Davi.


"Alam saja sangat merestui Rachel menjadi Kakak Nanda," bisik Likha.


Davi tersenyum bahagia. "Terima kasih untuk malam ini." Davi mengedipkan mata pada Likha, dan segera menyusul Kia.


Mereka semua kembali berkumpul di ruang tamu, namun Davi lebih fokus pada handphone, dia sibuk chating bersama Likha.


*Kak, bagaimana kalau Rachel cerita? Chat Likha.


\=Rachel tidak mengerti, andai dia cerita paling dia bilang kamu kelilipan.

__ADS_1


*Aku masih belum siap kehilangan keindahan ini Kak.


Davi melirik kearah Kia, terlihat wanita itu asyik berbincang dengan Nomad dan Eren. Davi mengalihkan pandangannya kearah Likha, jemari tangannya begitu lincah menari diatas layar sentuh itu.


\=Aku juga takut semua ini berakhir, kamu tahu hidupku sangat hampa saat tidak bersamamu.


Membaca pesan Davi, Likha merasa terbang tinggi ke udara, akhirnya Davi masuk kedalam perangkapnya.


\=Aku tidak mau tau, besok kamu harus temui aku!


*Kak Davi sama Kak Kia dulu untuk itu, soalnya aku lagi cari kerja, jika aku selesai memenuhi tanggung jawabku, aku sendiri yang mengejar Kak Davi.


\=Aku tidak mau tau, pokoknya besok kamu sama aku titik!


Davi menyimpan handphonenya, dan ikut bergabung dengan obrolan Kia, Pak Nomad dan Eren.


Jam 10 malam, Kia izin undur diri pada keluarga Likha, mereka meninggalkan kediaman itu dan segera kembali menuju istana mereka. Kia merasakan ada reaksi yang berbeda dari suaminya saat sebelum ke rumah Likha dan setelah meninggalkan rumah Likha. Entah dari mana energy sekuat itu, energy yang merubah Davi yang terlihat murung begitu kilat menjadi Davi yang berwajah ceria.


"Mas bahagia banget ini, seperti menang proyek milyaran," ucap Kia.


"Masa? Bukannya aku selalu bahagia asal sama kamu?" goda Davi.


"Enggak, saat dari rumah mas itu murung, sekarang ceriaaa banget!"


"Mas itu moodnya mengikuti kamu, mungkin saat di rumah, mas kurang nyaman karena kamu berpikir banyak hal, setelah di rumah tante Eren kamu sangat bahagia, ya mas ikut bahagia."


Kia mencium lembut pipi suaminya, dan menyandarkan dirinya di bahu suaminya. Rasa bahagia Kia sejenak terusik karena ada aroma asing dari baju suaminya. Mengingat bagaimana wangi yang sama juga ada di rumah Eren, Kia mengusir pikiran kotor itu, terlebih aroma itu sangat kuat saat di rumah Eren, hal wajar jika menempel pada baju suaminya.


Kia mengintip ke kaca spion, memastikan keadaan Rachel di belakang sana. Terlihat putri kesayangannya itu memejamkan matanya. Kia merasa ini waktu aman untuk melakukan hal lumrah sepasang suami-istri. Jemarinya memberi sentuhan di bawah sana.


"Aku tadi kaget saat liat mas di depan toilet, kok bawahan mas kusut kucek gitu."


"Ha ha!" Davi tertawa menutupi kegugupannya. "Tadinya mau pipis saja, eh ternyata mules, aku cepat-cepat nurunin dan begitulah, jadi kusut!" kilah Davi.


"Kok nggak mau bangun mas." Kia merasa senjata suaminya tak sensitif dengan sentuhannya.

__ADS_1


"Mungkin lelah, kamu tau sendiri bagaimana pekerjaanku."


Kia tetap tersenyum, dan menghentikan kegiatan ringannya, percuma juga berusaha membangunkan sesuatu yang betah tertidur.


__ADS_2