
Indra berusaha melupakan apa yang terlanjur dia katakan. Dia terus mendayung sampan itu hingga sampai ke tepi.
“Horeee akhirnya kita bisa sampai tanpa susah mendayung sendiri, om Indra hebat dayungnya lebih cepat dari bunda.” Rachel melompat kegirangan setelah berhasil menginjakan kakinya ke daratan.
Sedang Kia dan Indra mendadak pendiam.
“Om, kok om Indra juga di sini?” pertanyaan Racel memecah kebisuan mereka.
“Om kalau bingung harus apa. Ya om sering ke sini. Nggak tahu kenapa om nyaman aja menyendiri di sini,” sahut Indra.
“Seperti bunda. Bunda juga kalau menghilang pasti ada di sekitar sini,” oceh Rachel.
“Sayang, kita pulang yuk ….” Kia berusaha mengalihkan pembicaraan Rachel dan Indra.
“Oke bunda.” Rachel menoleh pada Indra, “bye om ….”
“Bye juga manis, hati-hati di jalan ya.”
***
Sudah 3 hari istana Kia dan Davi kosong, Kia menginap di rumah kedua orang tuanya agar Rachel tidak merasa kesepian, sedang Davi entah di mana dia berada. Gugatan cerai sudah Kia ajukan, hanya menunggu waktu saja untuk proses yang lain. Selain restoran, Kia juga sibuk dengan perusahaan yang tiba-tiba kehilangan kaptennya. Namun berkat dukungan dua sahabatnya, urusan itu menjadi lebih mudah.
“Apa aku sanggup menjalankan kembali perusahaan ini?” Kia memandangi berkas yang sedari tadi dia teliti.
“Kalau kamu tidak sanggup, jual saja.” Usul Nabila.
“Kalau kamu mau jual, aku siap membelinya, jika yang membeli perusahaan ini aku, aku akan jamin tidak mengganti para pekerja di sini, namun jika yang membeli orang lain, aku tidak yakin para pegawai yang selama ini bekerja untuk perusahaan ini masih diperkenankan berjuang atau tidak,” ucap Indra.
“Aku bukan sok ya Kia, urusan cinta mah aku payah, mengejar pujaan hatiku saja aku sampai sekarang masih gagal. Tapi kalau bicara mah aku hebat, denger ya saran dari temanmu yang sesat ini. Sebaiknya kamu tidak terlalu sibuk bekerja, kamu perbanyak waktu bersama Rachel, jangan biarkan Rachel merasa kosong karena posisi Davi yang hilang dalam dunianya.”
“Aku setuju sama Nabila, andai kamu mau bisnis, usahakan bisnis yang bisa kamu jalankan dari rumah, dan jam kerja saat Rachel sekolah saja. Selebihnya kamu milik Rachel.” Indra menambahi.
__ADS_1
“Modus lu!” omel Nabila.
“Aku harus apa sih? Iya in apa katamu salah, nentang juga salah,” keluh Indra.
“Ini keputusan besar, aku mau rundingkan dulu sama papa,” jawab kia.
Setelah membereskan beberapa hal, termasuk mengurus pencopotan nama Davi dari perusahaan itu, Kia segera meninggalkan perusahaan itu, dia mempercayakan semua proses pada Indra. Kia melirik jam tangannya, waktu Rachel pulang sekolah masih lama, dia melajukan mobilnya menuju rumahnya yang beberapa hari ini dia tinggal. Sesampai di sana tidak ada yang berbeda. Beberapa pelayan sibuk melakukan pekerjaan rutin mereka. Melihat Kia datang seketika semuanya menyambut Kia.
“Nyonya sehat?” tanya bi Sarah.
“Sehat bi, kalian semua bagaimana?”
“Kami sehat Nyonya, hanya saja kami sangat mengkhawtirkan Nyonya.”
“Saya tidak apa-apa bi, ini cara tuhan menyingkirkan orang-orang yang tidak tepat dalam hidup kita. Mungkin saya terlalu buruk sebagai manusia makanya mas Davi dikirimkan seorang bidadari untuk melengkapi hidupnya,” ujar Kia.
“Saya keberatan! Justru Nyonya orang baik, dan Tuan disingkirkan dari hidup Nyonya karena dia seperti lalat yang terus terbang dalam hidup Nyonya,” ucap pelayan lain.
“Setuju, Lalat mah doyannya sama sampah seperti Likha,” pelayan lain menambahi.
Para Pelayan itu seketika menunduk, mereka benar-benar takut melihat reaksi wajah Kia saat ini.
“Maafkan kami Nyonya, jujur kami sangat sakit dengan kejadian kemaren.”
“Karena kalian terlalu kasar, saya hukum kalian!” Kia masih dengan wajah tegasnya. “Kalian semua berhenti mengerjakan pekerjaan ini—”
“Jangan pecat kami Nyonya,” potong salah satu pelayan.
“Siapa yang mau mecat? Saya mau tugasin kalian semua untuk mengemasi semua barang-barang Davi, jangan tertinggal walau sehelai benang pun,” titah Kia.
Para pelayan itu sangat bahagia, menyingkirkan barang-barang manusia Beg0 level tertinggi, itu pekerjaan yang sangat menyenangkan.
__ADS_1
“Siap Nyonya,” ucap para pelayan serentak.
Mereka semua mengikuti Kia menuju kamar, di sana para pelayan sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Semua barang Davi sudah berpindah, Sebagian dalam koper, namun Sebagian besar ada dalam dus. Kia pun harus menyewa jasa angkut barang untuk mengantar semua itu ke rumah Ingrid.
Istana itu sudah tidak ada kenangan tentang Davi, foto keluarga kecil bahagia dengan senyuman merekah Kia, Davi dan Rachel pun di turunkan, foto itu kini hanya menjadi penghuni Gudang rumah itu. Kia mengisi kekosongan dinding itu dengan foto Rachel sendiri. Hanya itu kebahagiaan Kia saat ini.
Kia memandangi keadaan rumahnya yang jauh berbeda. Entah mengapa keputusan perpisahan ini seperti menumbuhkan sayap di punggungnya. Kia merasa dirinya bisa terbang bebas.
Andai ingin terus berandai-andai, dia ingin lebih berani memperjuangkan hatinya. Rachel memang sangat terluka, namun membiarkan Rachel terluka dampaknya tidak terlalu menakutkan, asal banyak dukungan untuk anak itu. Rasa takut Kia waktu itu membuatnya tidak bisa berpikir jauh.
Kia kembali ke kamarnya, dia mengasi beberapa keperluannya, sedang bi Sarah sibuk mengemasi barang-barang Rachel.
"Nyonya, barang Non Rachel sudah dimasukan dalam bagasi mobil Nyonya, barang Nyonya mau dibantu bawa?" tawar bi Sarah.
"Boleh bi, itu bawa aja." Kia menunjuk sebuah koper dan tas jinjingnya.
BI sarah segera menyeret koper itu, sedang Kia masih mematung memandangi kamarnya. Saksi cinta dan perjuangannya bersama Davi.
"Aku sangat berterima kasih atas luka ini mas, andai kamu tidak lukai aku, aku pastinya selalu mencintaimu seperti orang gila. Sekarang aku tidak tahu kemana rasa itu pergi."
Kia masih tenggelam dengan pemikirannya, deringan handphone membuat pikiran Kia buyar, dia segera meraih benda yang terus berdering. Tertera nama Ingrid di layar handphonenya. Kia segera menerima panggilan itu.
"Eh Kia! Apa maksud kamu mengirim semua barang Davi ke rumahku hah!" maki Ingrid dari ujung telepon sana.
"Nggak ada maksud, bukannya Davi anak ibu? Wajar dong saya mengirim semua barang dia ke rumah ibu," sahut Kia.
"Tapi anak saya masih berhak atas rumah itu! Perpisahan kalian bukan pengkhianatan Davi!"
"Tapi dia meninggalkan rumah ini demi benih hasil perselingkuhan mereka, terserah ibu, jika ibu minta harta gono-gini, ya namanya ibu mempersulit proses perceraian kami. Jika ada yang mempersulitku, Davi tidak akan mendapatkan apapun, justru dia akan saya pastikan mendekam dipenjara sama wanita itu. Saya kurang baik apa coba? Saya mengirimkan semua itu untuk dia."
"Akhirnya kamu menampakan wujud asli kamu, selama ini kamu bersembunyi dengan gaya sok baikmu itu!" maki Ingrid.
__ADS_1
"Anak ibu yang membuat Kia yang baik itu hilang, saat ini hanya ada Kia yang nggak peduli sama anak ibu dan siapa saja yang membelanya!"
Kia memandangi Handphonenya, dia heran tiba-tiba panggilannya terputus.