
Pelukan itu sangat menenangkan, tangan Indra mengusap lembut punggung Kia. "Jika kamu berhenti hanya karena menginginkan kehamilan, sebaiknya jangan. Aku setuju kamu berhenti karena kamu ingin berbahagia bersama keluarga, memiliki waktu lebih banyak untuk Rachel. Karena biasanya inilah yang membuat seorang wanita karir merindukan rumah, ingin mengisi tiap detik waktu dengan kebersamaan keluarga."
Kia melepas pelukannya pada Indra. "Mengapa aku baru melihat dan merasakan cintamu yang luar biasa ini?"
Indra menangkup wajah Kia dengan kedua telapak tangannya. "Segala hal sudah diatur Tuhan pada saat yang tepat, kebahagiaan kita atau masalah anak, semua sudah ada yang mengatur, kita jalani semua dengan bahagia, kita terus berusaha untuk menjadi hamba yang baik, untuk janji Tuhan kita tidak perlu mempertanyakan kapan itu terwujud, apalagi menagihnya."
"Mungkin mulai sekarang aku mengurangi kegiatanku saja, untuk perusahaan Rachel, akan aku percayakan pada orang-orangku."
"Jika kamu senang dengan begitu, aku mendukungmu. Kamu tidak bekerja pun aku tidak akan membuatmu kecewa seperti sambutanmu yang panjang waktu itu, di mana zaman sekarang wanita dipandang lemah jika tidak mampu mandiri, dan perkataan Luna tempo hari sangat menohok, karena benar banyak sosok suami yang menyepelekan kewajibannya karena merasa istrnya punya penghasilan sendiri, padahal istri berpenghasilan pun tidak menghapus kewajibannya sebagai suami."
Keputusan Kia sudah bulat, dia ingin fokus menjaga kesehatan untuk program kehamilan yang akan dia pilih, namun tetap memantau semua usaha yang sudah lama dia miliki.
Waktu terus berjalan.
Sebuah taksi berhenti di depan cafe yang masih tutup.
"Maaf Pak, kami buka jam 2, ini baru jam 11 siang." ucap satpam yang berjaga.
__ADS_1
"Saya tahu, saya ke sini mau bertemu Ronny, saya sudah mengatur janji dengan Ronny."
Satpam itu terpaksa mengantarkan pria yang terlihat menyedihkan itu menuju ruangan Ronny.
"Permisi Pak, di luar ada seorang laki-laki, katanya dia sudah mengatur janji dengan Anda."
"Oh iya, persilakan dia masuk."
Setelah laki-laki itu masuk, satpam segera meninggalkan ruangan Ronny.
"Aku panen karma Ron. Sejak bercerai dengan Kia hidupku tidak ada indah-indahnya." Davi menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di sana.
"6 bulan terakhir, perusahaan papa Fanny bangkrut, Fanny terpaksa bercerai denganku karena tidak kuat hidup kekurangan uang, ku dengar dia akan menikah dengan rekan bisnis papanya."
"Duda lagi kamu." Ronny terkekeh membayangkan nasib Davi, walau Davi menetap di luar negri, mereka selalu berhubungan via chat dan telepon.
"Kia itu seperti dewi keberuntunganku, sejak menikah dengannya karirku melejit, tapi setelah bercerai, aku terpuruk begitu jauh sampai detik ini."
__ADS_1
"Jangan ingat Kia terus, semakin kau ingat dia semakin sesak hatimu. Sekarang, kamu cukup perhatikan putri kalian, Rachel. Walau bagaimana keadaan kalian, Rachel tetap putrimu."
"Sejak Kia menikah dengan Indra, aku benar-benar menjauhi semuanya. Termasuk putriku."
"Pantas saja hidupmu semakin blangsak! Karena kamu mengabaikan kewajibanmu sebagai Ayah."
"Indra dan Kia memiliki segalanya, Rachel tidak butuh butiran debu yang ada padaku," sahut Indra.
"Walau anakmu diasuh oleh orang terkaya di dunia, kamu tetap harus memberi apa yang menjadi haknya sesuai kemampuan kamu. Jika seorang Ayah mengabaikan kewajibannya pada putrinya, maka Tuhan akan menarik semua rezeki Ayah itu."
Davi terdiam, apa karena hal ini kehidupannya semakin susah?
"Tetap jalankan kewajiban kamu sebagai Ayah, karena Rachel adalah kewajibanmu, jika kamu memberi mereka menolak, Tuhan Maha Mengetahui, dia tetap mencatat usahamu walau tidak berjalan sepenuhnya."
"Sekarang aku tidak punya apa-apa, Ron."
"Saat ada sesuatu, sisihkan untuk putrimu, walau hanya bernilai sebiji permen."
__ADS_1