Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 55


__ADS_3

Semua orang masih menunggu Ingrid buka suara, termasuk Davi. Davi mendekatan wajahnya ke sisi telinga Kia. "Jangan bilang kalau yang buat ibu syok itu hadiah kamu."


"Kalau memang iya itu dariku kenapa?" Arah pandangan Kia masih tertuju kepanggung acara.


Davi menghempas kasar napasnya, dia tidak menyangka Kia akan membelikan hadiah semahal itu untuk ibunya.


Kia merasa Davi tidak enak padanya, karena harga perhiasan itu memang mahal. Yang membuat Kia mengabaikan harganya, karena itu salah satu investasi. Bisa dijual lagi jika kepepet. "Aku bekerja keras bukan untuk keluarga kita, bukan untuk kebutuhan hidup kita, untuk menyambung hidup kita bertiga aku sudah mendapatkan lebih dari cukup, ya nafkah yang kamu beri padaku, sedang hasil kerja kerasku ya untuk membahagiakan keluargaku, ibumu juga ibuku."


"Itu terlalu mahal," protes Davi.


"3 Miliar untuk ibumu itu mahal? Lalu 5 Miliar untuk--" Kia menahan ucapannya, hampir saja dia menyebut nama Likha. "Sudahlah, aku memang salah. Maafkan aku karena aku tidak meminta izinmu lebih dulu. Aku selalu mengambil keputusan sendiri selama hal yang aku ambil itu untuk kebahagiaan keluarga kita, dan hal itu tidak menyusahkanmu." Kia segera pergi meninggalkan tempat itu.


Davi mematung, dia tidak marah karena Kia tidak sengaja mengingatkan akan kebodohannya, tapi dia marah mengapa mengatakan mahal, sedang perkataan Kia benar. Dia merasa murah membeli Apartemen mewah untuk Likha, tapi dirinya merasa 3 Miliar perhiasan untuk ibunya terlalu mahal. Padahal tidak ada yang bisa membayar jasa seorang ibu selama hamil, melahirkan, dan membesarkan anaknya. Davi mencoba mencari sosok Kia, namun istrinya itu menghilang dari keramaian.


"Aduh jeng, apa nunggu sampai subuh baru kasih tau siapa yang kasih hadiah itu?" keluh salah satu tamu.


Ingrid masih berusaha tersenyum, dia menitipkan hadiah berharga itu pada pelayan pribadinya. "Dalam kartu pesannya tidak boleh sebut nama, cukup aku yang tahu. Kata-kata dalam kartu ini membuatku terharu, katanya semua ini tidak ada nilainya, karena aku lebih berharga perhiasan mana pun yang ada di dunia ini," ucap Ingrid.


"Oh ...." Semua tamu terharu mendengar kalimat yang Ingrid bacakan.


"Ayo kita lanjut acaranya, jangan biarkan waktu berlalu sia-sia walau sedetik jeng." Ingrid turun dari panggung acara, dia bergabung bersama tamu yang lain.


"Eh jeng, pestamu ini akan selalu aku ingat jeng, idemu luar biasa memberikan souvenir cincin seindah ini." Salah satu tamu memerkan jemari tangannya yang memakai cincin putih yang memilki permata ungu.


Lagi-lagi Ingrid dan Fanny saling tatap, bagaimana centong kayu berubah menjadi cincin indah itu. Hari ini seakan bukan hari bahagia Ingrid, rencana yang dia susun sedemikian rupa bersama Fanny tidak satupun ada yang berhasil.


Fanny mendekatkan mulutnya ke sisi telinga Ingrid. "Tan, aku cari tau dulu ya, jantungku seketika tak sehat karena kejutan-kejutan tak terduga ini," bisik Fanny.


"Iya sayang, selamat bersenang-senang ya ...." alibi Ingrid. Ingrid kembali berbincang dengan teman-temannya.


***


Fanny berusaha mencari pelayan yang dia bayar. Bahkan sampai keluar ballroom, Fanny tidak menemukan orang suruhannya.

__ADS_1


"Bagaimana Nona Fanny, apa Anda puas dengan acara yang kami siapkan?"


Suara itu membuat Fanny terkejut, dia berbalik, kala melihat sosok tampan yang mengenakan setelan jas abu-abu itu, Fanny berusaha tersenyum. "Sangat puas, oh iya untuk pelunasan acara minta sama yang berulang tahun ya."


"Santai saja Nona, semua pembayaran sudah dilunasi tadi siang, saya senang jika Nona puas dengan acara yang kami siapkan."


"Kak Rury, boleh aku tau siapa yang melunasi?"


"Kamu tanya bagian admin saja ya, aku ke sini bukan untuk acara, tapi cari penipu!"


"Penipu?" Fanny ingin bertanya lebih banyak, namun laki-laki yang dia panggil Rury itu pergi begitu saja.


Di tempat acara.


Davi duduk sendiri di meja yang khusus untuknya sekeluarga. Ibunya masih asyik bersama teman-temannya, sedang Kia menghilang entah kemana.


"Permisi Tuan." Salah satu pelayan mendekatkan nampan yang berisi lipatan kertas.


"Dari siapa?" tany Davi.


Davi membuka lipatan kertas, dan membaca goresan pena yang tertera pada lembaran kertas yang dia pegang. Davi membuang kertas itu, dan segera membuka handphonenya.


"Kak Davi ...."


Sapaan itu menarik perhatian Davi. Davi menatap tajam sosok Fanny yang datang membawa 2 gelas minuman.


"Boleh aku duduk di sini temani Kakak?"


Davi tidak menjawab, tapi Fanny tetap saja duduk di dekatnya.


"Aku sengaja ambil 2 gelas, aku liat dari tadi Kakak tidak mengambil apa-apa. Ini minuman buat Kakak."


"Perasaanku sangat buruk setelah melihat wajahmu!" sambar Davi.

__ADS_1


"Maafin aku ya Kak ...."


"Aku begitu hanya rindu sama Kak Davi, tapi tidak bisa melepas kerinduan sama Kakak."


Davi diam saja, membuat Fanny kesulitan sendiri. Dia meminum minuman miliknya.


"Aku memang salah Kak, maafin aku." Fanny mendekatkan gelas yang belum tersentuh itu pada Davi. "Minum dulu kak, semoga perasaan Kakak lebih adem dan bisa memberi maaf untukku."


Diluar dugaan Fanny, Davi malah mengambil gelas minuman yang sudah dia minum. "Kak itu bekas aku, yang ini saja masih baru."


"Aku lebih percaya minuman yang sudah kamu minum." Davi langsung menegak habis sisa minuman yang ada dalam gelas.


"Kenapa diam saja? Bukannya kamu mau minum bareng aku?" ucap Davi.


Fanny gelagapan, dia tidak tahu harus bagaimana.


"Kenapa kamu takut minum air dari gelas itu? Apa minuman itu kamu kasih sesuatu?"


"Enggak kak ...." Fanny membela diri.


"Kalau memang benar tidak kamu kasih apa-apa kenapa kamu tidak mau meminumnya? Kamu takut?" tantang Davi.


"Enggak takut." Fanny semakin terlihat gemetaran.


"Kalau nggak takut, ayok buktikan kalau minuman itu aman, dengan kamu meminumnya sampai habis! Kalau kamu tidak mau meminumnya, aku akan uji minuman itu, jika aku menemukan zat berbahaya, aku akan memberi perhitungan padamu!"


Detik itu juga Fanny menegak habis minuman yang ada di gelas itu. "Sekarang Kakak udah puas?"


"Puas," sahut Davi.


"Aku heran sama Kakak, kenapa sih Kakak nuduh aku yang enggak-enggak! Aku kecewa sama Kakak!" Fanny berlari menuju pintu keluar.


Sedang Davi merasa puas karena berhasil mengembalikan serangan itu pada pembuatnya. Davi kembali menatap layar handphonenya, dia menonton video yang dikirim nomor asing padanya. Video itu menangkap gerak-gerik mencurigakan Fanny. Dalam video terlihat jelas Fanny memasukan sesuatu ke gelas yang memang dia siapkan untuk Davi.

__ADS_1


Pesan pada selembar kertas yang dia terima, berisi pesan agar Davi berkenan menghubungi nomor yang tertera, orang yang menulis pesan ingin mengirim sesuatu pada Davi. Setelah Davi menghubungi nomor itu lewat chat, akhirnya nomor asing itu mengirim video tentang kelicikan Fanny.


Siapa pun kamu, aku sangat berterima kasih padamu, berkat video kamu, aku bisa selamat dari jebakan Fanny.


__ADS_2