
Eren tidak ingin uang taksi terbuang sia-sia, walau hatinya kesal karena cibiran orang yang mengenalnya, Eren terus menjelajahi mall. Hingga rasa lapar menderanya membuatnya menyeret sepasang kakinya menuju Restoran favoritenya. Sehingga Eren terkejut kalau meja di belakangnya saat ini ditempati besannya.
"Tante percayakan semua pendaftaran nikah resmi dan yang lainnya sama kamu, sebenarnya Davi sudah menikahi istrinya secara siri, tapi tante mau mereka nikah resmi juga."
Eren dan Likha saling tatap, senyuman terukir di wajah keduanya. Mereka tidak menyangka kalau besan mereka diam-diam mengurus pernikahan Davi secara resmi.
"Oh iya, tante mau gimana lagi nih untuk resepsinya?" tanya rekan bicara Ingrid.
"Aku ingin menjadikan pesta ini kejutan. Aku berusaha menyibukan Davi agar mereka cekcok dikit, terus nanti ya taraaaa."
"Oke-oke aku faham tan, semoga yang kami persiapkan membuat tante puas."
Ingrid dan rekan bicaranya sama-sama pergi meninggalkan restoran itu, setelah Ingrid pergi Likha dan ibunya saling berpelukan.
"Mama ... aku bakal nikah resmi mah!"
"Makanya kamu jangan neror-neror suami kamu lagi, sekarang kita tahu apa yang Davi siapkan untuk kita.
Sedang di sisi lain, Fanny tiba-tiba keluar dari sudut dan langsung menggandeng lengan Ingrid.
"Untung ibu menyadari keberadaan dua racun itu, jadi ibu punya ide buat alihin pikiran mereka."
"Tapi mereka kegirangan bu, jangan-jangan mereka mikir pesta yang ibu siapkan untuk Likha dan Davi," tebak Fanny.
"Biarkan mereka tersesat oleh pemikiran mereka sendiri."
Sesampai di luar mall, Fanny dan Ingrid dijemput Davi. Mereka segera pergi meninggalkan mall untuk persiapan pesta pernikahan mereka.
"Kak, bagaimana kalau akad nikah kita nanti kita undang mertua dan istri kamu?" usul Fanny.
__ADS_1
"Gila kamu, yang ada mereka rusuh di pesta kita."
"Bagus malah, semakin anarkis mereka, semakin malu mereka."
Davi tersenyum, ide Fanny menurutnya cemerlang. "Tapi gimana undangnya?"
"Kita pikirkan itu nanti, saat ini kamu siapkan surat talaqmu pada Likha, terus tukar dengan surat keterangan pernikahan kalian, saat dia ngamuk semoga dia lupa baca kalau yang dia bawa surat talaq," usul Ingrid.
"Iya bu, untuk hal itu sudah aku lakukan beberapa hari lalu."
Semenjak dari mall, Likha seketika merasa manari di awan, dia sangat bahagia dengan rencana kejutan ingrid. Hari demi hari berlalu. Walau hampa, tapi Likha berusaha bahagia menanti kejutan itu tiba.
Sedang di kota, kabar pernikahan Davi mulai tersebar, bahkan sampai pada Kia. Davi hanya masa lalu yang sudah Kia ikhlaskan, mau apa laki-laki itu dia tidak peduli. Kia fokus pada acara grand opening perusahaan barunya.Sedang keadaan dipinggiran kota, Likha dan ibunya malah tidak tahu adanya kabar berita pernikahan Davi dan Fanny.
Acara yang Kia persiapkan jauh-jauh hari pun tiba. Kia bersama keluarga terlihat begitu bahagia, banyak para pengusaha muda juga berhadir di acaranya.
Suara tepuk tangan menggemuruh, Kia dengan senyuman yang menghiasi wajahnya terus maju menuju podium.
"Mbak Kia, sebelum membuka sambutannya, boleh cerita sedikit gitu bagaimana tetap berkarir walau kehidupan dalam keadaan terpuruk," ucap salah satu pembawa acara."
"Bagaimana ya, saya juga tidak tahu. Jujur saya sangat terpuruk saya tidak setangguh yang terlihat. Membuat saya terlihat kuat karena ada dukungan dan semangat dari mereka semua." Kia mengisyarat pada keluarganya yang duduk satu meja dengan Nabila dan Indra.
"Keadaan setiap wanita berbeda. Saat saya ditinggal, saya punya pekerjaan untuk bertahan hidup, walau saya kehilangan tongkat kehidupan saya, saya masih bisa berusaha berdiri walau tertatih karena punya penghasilan sendiri."
Kia menunduk sejenak membayangkan perempuan yang bernasib sepertinya, yang ditinggal suami hanya karena suami memilih wanita lain. Tapi wanita itu tak seberuntung dirinya, banyak yang tidak berdaya, karena tidak punya keluarga atau tak punya pekerjaan, hingga pasrah bertahan dalam rasa sakit demi anak yang butuh banyak biaya.
"Memiliki pekerjaan sendiri walau penghasilannya kecil itu bagai memiliki sumur sendiri di tengah padang pasir, walau sumur itu hanya memiliki mata air yang mengeluarkan setetes air, itu sangat berarti bukan?"
"Penghasilan itu selain membantu keluarga, juga membantu diri kita sendiri. Tidak ada salahnya bergatung seribu persen pada suami, namun bisa menghasilkan uang sendiri menjadi penyelamat saat kapal kita pecah saat dihantam batu karang. Andai saya tidak memiliki pekerjaan mungkin saya bisa gila, bagaimana saya meneruskan hidup saya, sedang yang membiayai saya tiba-tiba menghilang."
__ADS_1
"Adanya pekerjaan sendiri selain mendapat uang, kita juga bisa mengalihkan pikiran kita. Sejenak lupa akan masalah, saat pikiran kita lebih tenang kita bisa mengatasi masalah. Tapi untuk pekerjaan yang diambil sesuaikan pekerjaan kita dengan keadaan dan kemampuan kita."
"Intinya, jangan dipaksakan untuk bekerja jika tidak menemukan pekerjaan yang tepat, namun tetap memikirkan peluang kerja apa yang bisa dijalankan tanpa mengganggu rutinitas kita. Jika belum menemukan solusi jangan diambil pusing, tetap jalani hidup dan terus mencari peluang, jangan terlalu pasrah dengan keadaan karena ada yang bekerja untuk kita. Jika kita bisa menjadi ibu dan istri wanita hebat juga pebisnis yang sukses, mengapa tidak?"
"Banyaknya wanita yang bertahan dalam rasa sakit, hanya karena demi anak-anak mereka, karena jika berpisah mereka tidak mampu menanggung biaya hidup mereka."
"Bukan mengatakan laki-laki itu sama, banyak yang setia, seperti papa saya. Walau banyak yang muda pengen dijadiin istri muda, tapi papa tetap bangga menggandeng tangan mama saya kemana saja."
"Tapi apa salah bersedia payung sebelum hujan? Walau suami kita orang baik sampai akhir, tapi hasil dari usaha kita bisa membantu banyak hal tidak sebatas rumah tangga kita. Ada yang berkata suami saya gajihnya lebih dari cukup, ya walau hasil pekerjaan kita tidak buat keperluan rumah, ya kita bisa membahagiakan diri sendiri tanpa menadah lebih dulu."
"Tidak mengucilkan wanita yang berjuang di rumah tanpa gajih, tapi jika ada kesempatan, bekerjalah tidak ada ruginya jika kita bekerja, tapi tetap anak-anak yang di utamakan ya, karena waktu sama mereka tidak bisa diganti dengan uang, pandai-pandai kita mengatur waktu."
"Ditambah pelakor zaman sekarang sadiss, jadi pintar-pintar kita saja menyikapi kehidupan modern ini. Saat pelakor masuk dalam rumah tangga kita, kita punya kekuatan penuh memilih keputusan apa, mempertahakan atau mengikhlaskan."
Kia menyudahi perkataannya.
"Wah, oleh sebab ini mbak Kia membuka banyak usaha untuk perempuan?"
"Salah satunya itu, agar para wanita hebat tetap bisa bekerja tanpa mengabaikan pekerjaan rutin di rumahnya, tanpa melewatkan kebersamaan dengan anak-anaknya. Tapi apapun takdir dan pilihan setiap orang, tidak hina walau hanya meminta haknya pada suami, tapi juga tidak rugi jika bisa bekerja. Kita hormati keputusan setiap orang menjalani hidupnya."
"Keindahan lain jika memiliki penghasilan sendiri, kita bisa bahagiakan orang tua kita dengan penghasilan kita mereka tidak pernah meminta, tapi sebagai anak apakah kalian merasa bahagia jika bisa memberi sesuatu pada orang tua kita? Banyak kepala rumah tangga yang berpenghasilan dibawah UMR mencukupi kebutuhan di rumah saja sulit, bagaimana membahagiakan yang diluar rumah seperti orang tua saudara dll, inilah kebahagiaan lain jika kita berpenghasilan sendiri."
"Jika ada kesempatan bekerjalah, jika tidak ada, jangan berkecil hati, apapun posisi kita, kita semua adalah wanita hebat."
Acara terus berlanjut, Kia menjadi pusat perhatian banyak orang, bahkan acaranya saat ini ditonton oleh Davi secara live di media sosial.
Setiap perkataan Kia, Davi membayangkan keadaan itu. Selama mabuk dengan selingkuhannya, Davi melupakan istri dan anak dan hanya membiayai selingkuhannya. Bagaimana istri dan anak melanjutkan hidup jika posisi Kia saat itu hanya mengandalkan uang bulanan darinya.
"Aku tahu kalau selingkuh tidak ada indahnya, tapi aku tetap saja bodoh dan terpedaya. Saat ini aku hanya mengambang di lautan penyesalan selamanya," gumam Davi.
__ADS_1