Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 38 Keduanya


__ADS_3

Kia dan Luna kembali ke Rumah Sakit dengan membawa banyak box makan siang. Baru saja membuka pintu kamar perawatan Davi, sepasang matanya di sambut pemandangan yang luar biasa indahnya. Keceriaan Rachel karena bersama Davi, ya keceriaan yang ada di sana bagaikan mata air yang berada di tengah-tengah gurun, sangat mendamaikan dan menyejukan hatinya. Di tempat tidur itu Rachel terlihat sangat bahagia, senyum ceria Rachel, itulah yang membuat dunia Kia sangat indah.


Semoga kebahagiaanmu perlahan bisa menghapus rasa sakit hati bunda, sayang. Bunda bertahan selain menebus rasa bersalah bunda, juga demi kebahagiaan kamu.


Kia terus memandangi anaknya yang sangat berarti untuknya.


"Sini bungkusannya kasih mama," sabut Fuza.


Sontak hal itu menarik perhatian Rachel, dia tersenyum melihat bidadari hidupnya sudah berada di ruangan yang sama dengannya. "Bunda kapan datang?"


"Baru aja." Kia mendekati Rachel, mendaratkan ciuman lembut pada Rachel."Yang bahagia sama Ayah, jadi lupa deh ama bunda," ledek Kia.


"Mana bisa begitu, bunda sama Ayah itu satu kesatuan bagi aku, aku nggak mau hanya ada salah satu saja. Harus berdua kayak gini!" Rachel meraih tangan Kia dan tangan Davi, dan menyatukan kedua tangan itu.


"Iya-iya!" Kia semakin gemas dengan tingkah putrinya.


"Rachel aja yang dicium, Ayah enggak?" sela Davi.


Kia tetap dengan senyuman termanisnya dan mendaratkan ciuman lembut ke wajah Davi.


***


Setelah dirawat di rumah Sakit selama satu minggu, perlahan keadaan Davi semakin membaik. Dia diizinkan untuk pulang. Hal ini melegakan bagi Kia, melihat putrinya terlalu sering ke Rumah Sakit, ada ketakutan dalam dirinya. Rumah Sakit bukan lingkungan yang baik untuk kesehatan Rachel. Kini perawatan Davi dilanjutkan di rumah, setiap pagi perawat laki-laki datang ke rumah untuk membantu Davi melakukan latihan gerak.


Davi bersama perawatnya berada di taman, Davi terus mengikuti instruksi perawatnya. Dari balkon kamarnya, Kia memperhatikan kegiatan Davi. Seketika batinnya terasa diikat membayangkan adegan itu Davi dan Likha dulu. Melihat langsung bagaimana perawat laki-laki itu memberikan terapis pada Davi, membuat Kia mengerti mengapa semua keluarganya keberatan kalau Likha merawat Davi.


Rasa ibanya pada Likha membuatnya lupa kalau tidak semua yang terlihat baik itu benar-benar baik, tidak semua manusia pandai bersyukur, dia memberi Likha cinta, tapi wanita itu memberinya luka. Hal lain yang membuka pikiran Kia, tidak baik jika laki-laki dan perempuan terlalu dekat, karena akan menimbulkan percikan yang tidak diinginkan, dan Kia merasakan dampak buruknya itu.


"Mengapa aku terlalu bodoh! Dengan nyamannya aku memberi ruang pada Likha leluasa berada sedekat itu pada Davi."


"Berhenti Kia mengingat itu, kamu memutuskan memaafkan Davi dan menerima dia kembali, buang semuanya Kia! Buang kenangan pahit itu!" Kia memaki dirinya sendiri.


Setelah merasa lebih baik, Kia menoleh kearah taman, di sana tampak perawat itu bersiap pergi, artinya latihan dan terapy hari ini ini selesai. Kia segera turun ke bawah. Saat Kia sampai di lantai bawah, dia berpapasan dengan perawat yang menjaga Davi.


"Bagaimana? Ada perkembangan?" tanya Kia.


"Lumayan bu, ada kemajuan. Sampai besok lagi bu," pamitnya.


Kia mempercepat langkahnya menuju taman, di sana dia melihat Davi mencoba berlatih sendiri.


"Enggak capek mas?" sapa Kia.


"Enggak lah, aku berharap cepat sembuh, agar bisa beraktivitas lagi. Aku rindu manjain kamu, aku rindu kerja."


"Minum obat dulu mas, udah waktunya." Kia mengambilkan obat yang sudah disiapkan di atas meja taman itu.


Davi segera menelan semua obatnya. "Terima kasih," ucap Davi.


"Ini memang tugas aku, nggak usah makasih." Kia mengambil kembali gelas yang Davi pegang.


"Bukan ini, tapi atas semua ini, kamu masih berbesar hati menerima aku lagi," ucapnya lirih.


"Sudah jangan diingat lagi." Kia mengusap lembut pundak Davi. "Kita lupakan, kita buka lembaran baru cerita kita."

__ADS_1


"Bagaimana Apartemen yang terlanjur aku beri untuk Likha?"


"Jangan bahas itu mas."


"Tapi itu kejahatan yang luar biasa yang telah ku lakukan."


"Berikan saja Apartemen itu, anggap itu harga persahabatan dan persaudaraan yang telah dia jual."


"Terlalu mahal sayang," ucap Davi lemah.


"Tidak seberapa, karena dia telah membuang ikatan yang tulus dari orang-orang yang mencintainya tanpa sarat. Sebanyak apapun harta, tidak akan mampu membeli cinta dan sahabat yang tulus, walau banyak teman itu hanya membayar sekelompok penjilat agar mau menjadi yang dia mau."


Kia menepuk bahu Davi. "Tidak ada rugi untukku, karena yang rugi hanya Likha."


Davi sangat terharu, dia menarik Kia kedalam pelukannya. "Serasa jadi pengantin baru," goda Davi.


"Nakal!" Kia mencubit pelan perut Davi, membuat laki-laki itu meringis menahan rasa geli.


"Ah ... hampir 10 hari aku tidak menyentuh pekerjaanku," keluh Davi.


"Tenang aja mas, mas itu punya anak buah yang sangat patuh, selama mas sakit, Dharma rajin banget bolak-balik Rumah Sakit demi antar berkas penting yang harus ditanda tangani."


"Yap, aku beruntung punya pegawai seperti Dharma, juga istri cerdas sepertimu."


"Selama di Rumah Sakit, aku menangkap sesuatu yang beda, aku merasa gimana ... gitu lihat Dharma sama Luna. Beberapa kali aku nggak sengaja lihat mereka bareng."


"Dharma sama Luna?" Davi mempertimbangkan 2 orang itu.


Drtttttt!


Getaran panjang itu menyita perhatian Kia. "Nah! Panjang umur yang kita gibah nelepon aku." Kia memperlihatkan layar handphonenya pada Davi, di layar itu tertera nama Dharma sebagai pemanggil.


"Angkat sana, pasti penting." ucap Davi.


Kia segera menerima panggilan Dharma. Persis apa kata Davi, ada hal penting yang harus Kia selesaikan sebagai perwakilan Davi. Setelah menyudahi panggilannya, wajah Kia seketika murung.


"Harus ke kantor?" tebak Davi.


"Iya, tapi mas gimana?"


"Nggak apa-apa, kamu selesaikan semuanya."


Andai ingin menolak pun tidak bisa, karena dia harus bertanggung jawab atas perusahaan suaminya. Lagi-lagi Kia harus meninggalkan Davi demi menyelesaikan pekerjaan kantor.


***


Hari demi hari terus berjalan, Davi masih berjuang untuk memulihkan diri, Kia sendiri kembali disibukan dengan dua pekerjaan, sedang Rachel, dia yang paling bahagia, setiap pulang sekolah dia bisa bermain sepuasnya dengan cinta pertamanya.


"Kenapa sih kalau Ayah kerja, Ayah kadang lupa aku?" ucap Rachel.


"Lupa?"


"Iya, Ayah bisa nggak pulang karena bekerja, bunda juga bekerja, tapi selalu ada buatku. Iya bunda nggak selalu ada di sampingku saat siang, tapi bunda selalu ada saat aku membutuhkan."

__ADS_1


Davi menciumi gemas putrinya yang mulai besar itu. "Itulah hebatnya wanita, digengggamannya dia bisa mengerjakan banyak pekerjaan dalam satu waktu yang sama, sedangkan Ayah tidak akan sanggup seperti bunda. Bunda memang terbaik," ungkap Davi.


"Hm ... hidung bunda gatel, kayaknya ada yang gibahin bunda ini!" Kia memasuki rumah dengan tatapan penuh selidik yang dibuat-buat.


"Bunda ...." Rachel berlari kearah Kia dan langsung memeluk wanita yang dia panggil bunda itu.


"Gimana sekolahnya Princess-nya bunda hari ini?"


"Lancar bunda." Rachel meraih tangan Kia dan menariknya agar mendekat pada Davi.


"Tugas jaga Ayah hari ini bagaimana?" tanya Kia.


"Semua berjalan dengan baik, lihat Ayah semakin membaik!" Rachel membanggakan diri.


"Makin bangga bunda sama Rachel, Rachel memang anak hebat!" puji Kia.


"Ayah juga hebat, sekarang Ayah bisa angkat tangan." Davi memperlihatkan perkembangannya.


"Aku senang lihatanya." Kia mendekati Davi memastikan laki-laki itu tidak memaksa untuk bergerak.


"Bukan hanya bisa diangkat tangannya, malah sekarang bisa peluk bunda juga." Saat yang sama Davi menarik Kia kedalam pelukannya.


"Ih Ayah! Yang jagain Ayah dari siang aku, kok bunda yang dipeluk!" protes Rachel.


Kia tertawa melihat kemarahan putrinya, dia melepaskan pelukan Davi dan segera menggendong putrinya. "Cemburu ya ...." goda Kia.


"Enggak, tapi harusnya Ayah peluk aku dulu, baru bunda!" Rachel membela diri.


"Ini Ayah peluk keduanya, Rachel sama Bunda sama-sama hal terindah dalam hidup Ayah."


Kebahagiaan yang terpancar mencerminkan itu keluarga yang sangat harmonis, seolah tidak pernah ada kerenggangan dalam istana itu. Kia berusaha melupakan segala kepahitan itu, senyum dan keceriaan Rachel yang membuat hatinya kuat untuk tetap tersenyum dan memeluk laki-laki yang pernah menggores luka di hatinya.


***


Di sisi kota yang lain.


Setelah mengetahui Davi kecelakaan, Likha berusaha menghubungi laki-laki itu, tapi Davi benar-benar membuang dirinya. Saat ini dirinya tidak hanya kehilangan Davi, namun juga kehiangan Luna sahabatnya. Likha mondar-mandir di kamarnya memikirkan langkah selanjutnya.


Ceklak!


Pintu yang terbuka menarik perhatian Likha, terlihat wajah ibunya yang terlihat kesal.


"Kenapa kamu?" tanya Eren sinis.


"Aku mikirin rencana bagaimana dekatin Davi lagi mah."


"Pertama, kamu jangan pakai kartu yang dia berikan, dan ambil semua barang kamu, jangan tinggal di Apartemen itu lagi, biar dia yakin kalau kamu mencintai dia, bukan karena hartanya."


"Iya mama, sejak dia ninggalin aku, aku nggak sentuh kartu itu."


"Sebenarnya mama nggak suka kamu masih berharap sama Davi, secara dia bukan siapa-siapa tanpa Kia, tapi ... mendekatinya untuk menghancurkan Kia mama setuju, ya anggap balas dendam aja, walau video penamparan Luna sudah dihapus, mama masih nggak terima anak mama dikata pelakor gagal!"


***

__ADS_1


__ADS_2