
Kebahagiaan yang Kia rasa bagaikan menikmati segelas air es saat cuaca begitu panas, melepaskan rasa dahaga yang teramat menyiksa, dan menyegarkan tenggorokan karena dinginnya. Tapi air es yang dibiarkan lama di suhu ruang, tidak akan dingin lagi, hanya ada embun di gelas yang menampung air itu.
Seperti halnya kebersamaan yang indah bersama Davi, keberadaan Davi sangat berdampak pada keceriaan Rachel, senyum dan tawa Rachel karena adanya Davi perlahan memudarkan rasa sakit yang Kia rasa.
Kebahagiaan Rachel seakan tidak bisa dia tukar dengan benda yang ada di bumi ini. Namun seiring berjalannya waktu, kebahagiaan itu seakan melemah, seperti es batu yang diletakan di suhu ruang, perlahan meleleh dan sering waktu menjadi air yang tidak dingin lagi. Begitu pula kebahagiaan Kia, rasanya semakin melemah dan memudar.
1 bulan ini Davi kembali pada kebiasaan buruknya, tidak pulang untuk makan malam, bahkan pulang larut malam jadi kebiasaanya. Bukan hanya itu, dia juga tetap bekerja di akhir pekan. Prilaku Davi seperti ini menimbulkan prasangka yang bukan-bukan, dan perlahan membuka rasa kecewa yang sudah dia kubur. Sekuat apapun Kia meyakinkan hatinya kalau Davi masih memegang janjinya, tetap saja ada bisikan goib yang lain membuatnya mencurigai Davi melakukan hal yang bukan-bukan.
"Bunda ...."
Panggilan itu membuat Kia berhenti dengan segala pemikiran sesatnya. "Ada apa sayang?"
"Ayah nggak pulang untuk makan malam lagi?"
"Mungkin pekerjaan Ayah masih banyak sayang. Kita makan berdua yukkk." Kia berusaha tersenyum walau hatinya sangat getir dengan keadaan ini.
Sumpah demi apapun, ingin rasanya Kia menukar segala hal yang dia punya untuk mengembalikan kebahagiaan putrinya. Wajah murung itu, membuat Kia semakin sedih.
"Maafin Ayah ya sayang ...." Kia sangat mengerti darimana sumber kekecewaan itu.
"Kita makan yuk bun, Rachel mau belajar lagi setelah ini."
Kia berusaha tetap tersenyum, walau air matanya terasa di ujung melihat kekecewaan di wajah putrinya. Benar saja setelah makan malam, Rachel bergegas menuju kamarnya. Kia menghitung waktu yang berlalu. Merasa cukup jeda waktu yang dia tunggu, Kia perlahan berjalan menuju kamar putrinya, dia menempelkan sisi wajahnya di daun pintu kamar itu.
Dalam kamar Rachel.
Anak manis itu tidak sanggup lagi berusaha tegar. Rachel bersandar di pintu kamarnya, wajahnya kini benar-benar terlihat hancur, perlahan tubuh itu merosot, dan Rachel duduk di lantai dengan memeluk kedua lututnya.
"Hiks ... aaaa ...." tangis itu tetap terlepas walau berusaha dia tahan.
"Apakah Rachel anak nakal, Tuhan? Mengapa keinginan Rachel agar selalu sama Ayah bunda saat melewati malam begitu sulit Rachel dapat? Hiks aaaaa!"
"Rachel tidak butuh baju bagus lagi, baju Rachel sudah banyak, Rachel tidak minta apa-apa lagi, Rachel hanya mau setiap malam selalu bersama Ayah dan bunda."
Samar Kia mendengar isak tangis dan jeritan hati anaknya. Dia hanya bisa membelai daun pintu, seolah dia membelai kepala putrinya.
Merasa tidak mendengar apa-apa lagi, Kia peelahan meninggalkan kamar Rachel dan segera menuju kamarnya. Setelah mendengar segala keluh kesah Rachel, Kia tidak mampu memejamkan matanya.
Pikirannya tertuju pada kunci mobilnya. Kia mengambil cardigan tebal dan tasnya, lalu mengambil kunci mobilnya. Saat dia menuruni tangga terlihat bi sarah masih membereskan meja makan.
__ADS_1
"Bi, bibi istirahat di kamar dekat kamar Rachel, soalnya aku mau pergi, titip Rachel ya bi."
"Iya Nyonya." Bi Sarah menatap nanar kepergian Kia. Walau wanita itu terlihat tegar, namun sorot matanya begitu redup, seakan banyak menyimpan segala luka.
"Semoga rumah tangga Nyonya dan Tuan baik-baik aja," gumam bi Sarah.
Kia tidak bisa lagi berdiam diri, dia tidak mau bodoh seperti sebelumnya. Dengan semangat membara dia mencari kontak Dharma dan menanyakan pekerjaan kantor pada Dharma.
"Tuan sepertinya masih di kantor, ada beberapa berkas yang masih beliau periksa, tapi tidak ada lembur untuk malam ini."
Doar!!!
Jawaban Dharma sangat mengejutkan, tidak ada lembur di kantor malam ini. Mendengar semua jadwal Davi dari Dharma, semakin membuat hati Kia meradang.
Malam ini Davi tidak lembur, lalu kemana suaminya setelah jam pulang kantor? Hal itu terus berputar dikepala Kia. Kia memakirkan mobilnya di sebuah parkiran umun, lalu sengaja menyewa mobil dari sebuah rental online, dia melakukan semua ini hanya untuk mencari kebenaran.
Aku tidak mau disalahkan lagi, oke waktu itu sebagian besar kesalahanku, tapi kali ini?
Kia menggelengkan kepalanya berulang kali. Karena jika Davi mengingkari janjinya, ini bukan lagi kesalahannya. Kia memarkirkan mobil sewaanya di depan kantor Davi, dia berusaha menguatkan hati untuk melihat kenyataan di depan matanya.
Entah berapa lama Kia berdiam diri, namun Kia terus menunggu Davian di parkiran kantor suaminya itu, hingga fokus Kia seketika tertuju pada mobil hitam yang mulai meninggalkan wilayah perusahaan itu, Kia sangat mengenali mobil itu, ya itu mobil Davian. Kia mengikuti mobil Davian dari jarak aman. Jantung Kia semakin tak menentu saat dia melihat mobil Davi memasuki sebuah hotel.
"Mas, aku mohon semoga pemikiran aku salah."
Kia terus bergumam sambil menunggu Davian menghilang di pintu masuk hotel. Melihat Davi sudah tidak terlihat, Kia segera turun dan memasuki hotel itu.
Kia langsung disambut salah satu pekerja hotel, Kia beralasan dia ditunggu oleh klien bisnisnya di Restoran hotel itu. Penampilan Kia sangat meyakinkan, dan pekerja hotel membiarkan Kia memasuki hotel mereka.
Saat Kia akan memasuki area restoran, dia melihat Davi memapah seorang wanita cantik dan berjakan kearahnya, Kia langsung bersembunyi sebelum Davi menyadari keberadaannya. Kia kembali mengikuti Davian, dia melihat Davian memasuki lift, dan terus memapah seorang wanita, Kia berusaha mengenali wanita yang mengenakan baju seksi itu, namun wajahnya bersandar pada Davi, sulit bagi Kia untuk mengenali wajahnya. Kia melihat Davian membuang secarik kertas ke tong sampah, setelah Davian pergi, Kia langsung mencari hal yang Davi buang itu, dia menemukan lantai tujuan Davi dan nomor kamar mereka. Kia segera menuju lantai yang sama.
Sesampai di kamar itu, Kia menekan bel pintu, saat pintu terbuka, sosok yang membuka pintu itu sangat terkejut melihat Kia ada di depan matanya.
Sekujur tubuh Kia bergetar hebat melihat suaminya yang membukakan pintu. "Tega kamu mas!"
"Kia? Kenapa kamu di sini? Kamu ikutin aku?"
"Ya! Aku ikutin kamu, dan aku kecewa mas! Aku sadar aku ini tidak sempurna! Tapi kenapa kamu setega ini sama aku! Kamu lupa sama janji kamu! Alasan kamu lembur! Tapi apa?!"
"Sayang sabar dulu ...." Davian berusaha menahan Kia, namun yang ada wanita itu mendorongnya dan meringsek paksa masuk ke kamar yang Davi tempati.
__ADS_1
Sesampai di dalam kamar, Kia membatu saat melihat 4 orang yang mengelilingi wanita cantik yang terbaring di tempat tidur.
"Misye?" Akhirnya Kia mengenali sosok yang tidak sadarkan diri itu adalah adik perempuan Indra.
"Kak Kia, kami sangat berterima kasih, berkat bantuan suami Anda, Nona kami selamat," ucap salah satu Asisten Misye.
Kia merasa menjadi orang paling bodoh di dunia, dia berteriak dan menuduh Davi mengkhianatinya. Tapi kenyataannya suaminya malah menolong adik sahabatnya.
Davi menunduk lemas, entah mengapa hatinya begitu sakit mengetahui Kia mencurigainya, bahkan mengikutinya seperti ini. Berulang kali Davi mengehela napas untuk mengumpulkan tenaganya menghadapi Kia.
"Saat di kantor, aku mendapat laporan kalau Misye rapat bersama klien luar Negri. Kamu pernah bilang jangan bekerja sama dengan mereka, karena data-data perusahaan mereka tidak jelas. Mengingat hal ini, aku sudah membatalkan, aku percaya penuh atas pemikiranmu."
"Tanpa persetujuan Tuan muda, Nona Misye malah menerima tawaran kerjasama, dan mereka mengajak Nona untuk membahas kerjasama lanjutan," sambung Asisten pribadi Misye.
"Kami tidak punya akses untuk menuju ruang VIP yang digunakan untuk meeting, hanya Tuan Indra dan Tuan Davi harapan kami. Tuan Indra tidak bisa dihubungi, sebab itu kami menghubungi Tuan Davian." adu Asisten yang lain.
"Setelah selesai rapat, aku mencari Misye karena Indra saat itu tengah rapat, saat aku tahu Misye menemui klien mencurigakan itu, aku berusaha mencarinya, dan apa yang aku temukan? Mereka membuat Misye mabuk dan ingin memanfaatkan Misye."
Davian kembali mengatur napasnya. "Mengingat bagaimana kebaikan Indra untuk kita, aku rela melewatkan makan malam keluarga untuk menyelamatkan adiknya."
"Maafin aku ...."
"Sudah, kita pulang saja." Davi menarik Kia kepelukannya dan mebawanya pergi meninggalkan hotel itu.
"Mana mobil kamu?"
"Aku naik taksi," kilah Kia.
"Ya sudah, kita pulang. Mobil aku di sana." Davi menunjuk kearah mobilnya.
Keduanya berjalan bersama menuju mobil, sesampai di dalam mobil, Davian menatap istrinya begitu dalam. "Aku tahu akhirnya kamu tidak percaya padaku, jujur melihat kamu membuntutiku seperti ini aku sangat sakit."
"Maafin aku mas, aku tidak bisa tenang 1 bulan ini mas nggak pernah pulang untuk makan malam, mas tahu Rachel sangat kecewa."
"1 bulan ini aku sangat sibuk, sering lembur. Kamu tahu Nabila menarik sahamnya dari perusahaan kita. Agar tidak terlalu berdampak, Misye masuk dan mengganti posisi Nabila."
Kia membeku mengetahui sahabatnya tidak lagi menjadi bagian perusahaan Davi. Ingin mencari informasi alasan Nabila menarik saham, tapi saat ini dia belum menyelesaikan masalahnya dengan Davi.
"Aku sudah melarang Misye menyetujui kerja sama, tapi dia malah nekad menemui tamu itu, dia kekeh ingin lanjut kerjasama, ternyata ketakutan aku benar-benar terjadi."
__ADS_1
"Maafin aku atas kejadian ini mas, aku benar-benar kalut. Sangat sakit mas sebuah pengkhianatan itu, maafin kecurigaan aku mas."
"Tidak masalah, aku sangat mengerti, kamu memaafkanku saja aku sudah sangat bahagia. Saat ini aku hanya berharapkamu bisa percaya aku" Davi mengusap lembut sisi kepala Kia.