
Rachel kembali tenang, melihat itu Kia perlahan meninggalkan kamar putrinya. Kia sangat tertekan oleh keadaan ini. Mempertahankan rumah tangga ini demi anak bukan isapan jempol belaka, dirinya sendiri menyaksikan dan merasakan bagaimana tersiksanya putrinya jauh dari Davi. Dirinya juga tersiksa melihat Rachel seperti ini.
Kia sampai di kamarnya, dia segera mengunci pintu kamarnya. "Keputusan apa yang harus aku ambil?"
Perhatian Kia tertuju pada secangkir teh yang tersaji di meja kecil di dekat tempat tidurnya. Pikiran Kia begitu kosong, perlahan dia menikmati teh hangat itu. Hingga tidak terasa isi cangkir itu sudah berpindah semua ke dala perutnya.
5 menit berlalu. Kia menghempaskan bobot tubuhnya di sofa empuk. Kini pikirannya tertuju pada remot AC. Entah mengapa ruang kamarnya terasa sangat penggap, tubuhnya terus dibasahi keringat. Suhu AC sudah berada di posisi paling dingin, namun Kia masih kegerahan.
"Apa AC nya rusak? Kenapa panas sekali ...." Kia tidak tahan, dia melepas bajunya, menyisakan kain segitiga dan cawan kembar berenda melekat di tubuhnya.
Ceklak!
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.
"Mas Davi!?" Kia syok melihat suaminya ada di kamarnya. Dia meraih bantal kecil untuk menutupi tubuhnya.
"Panas?" Davi terlihat sangat dingin, dia mengunci pintu kamar mandi lalu menyimpannya.
"Pergi kamu mas!" usir Kia.
Davi mengangguk, dia berjalan kearah pintu. Namun Davi tidak pergi meninggalkan kamar, melainkan mencabut kunci pintu kamar lalu menyimpannya.
Kia sangat tidak nyaman dengan keadaan ini. "Apa mau kamu mas!?"
"Aku mau cerita saja."
Davi perlahan membuka pakaiannya, memarkan dada bidang dan perutnya yang seperti roti sobek. Entah mengapa melihat tubuh Davi membuat darah Kia semakin mendidih dan ingin menyerang tubuh itu. Davi menyisakan celana panjangnya dan perlahan mendekati Kia.
"Jangan macam-macam kamu mas!" Kia berjalan menuju tempat tidur dan meraih selimut untuk membungkus tubuhnya yang nyaris polos.
"Aku nggak macam-macam, aku cuma mau cerita. Menceritakan awal kenapa aku terikat dengan Likha."
"Aku tidak butuh cerita kamu!"
"Tapi aku mau cerita." Davi duduk di sofa dan memulai ceritanya. "Awalnya biasa saja, bahkan aku tidak tertarik dengan dia. Persis kamu saat ini, yang tidak tertarik dengan ceritaku."
Davi meneruskan ceritanya. "Karena dunia aku itu hanya ada kamu, seindah apapun kemilau di luar sana, aku hanya menginginkan dirimu. Lalu sebuah musibah yang menimpaku membuat Likha merawatku, hingga dia mengikat hatiku dengan cara licik."
Kia tidak tertarik dengan cerita Davi, dia berusaha mengabaikan laki-laki itu.
"Likha menjebakku dengan memasukan obat biru entah lewat media apa, tapi kalau aku memasukan obat yang sama lewat secangkir teh." Davi mengisyarat pada gelas kosong yang ada di dekatnya.
"Jahat banget kamu mas!" Kia sangat marah mengetahui suaminya mencampur obat perangsang pada minumannya.
"Aku melakukan ini, agar kamu bisa merasakan bagaimana berada pada posisi aku sebelumnya. Aku tidak tertarik pada Likha, namun kobaran dalam diriku tidak bisa aku tahan. Seperti kamu saat ini, kamu tidak ingin melihatku, namun apa yang menyala dalam dirimu membuatmu sangat menginginkan diriku. Kita lihat apakah kamu mampu menolakku?" Davi membuka kain terakhir yang melekat pada tubuhnya dan perlahan mendekati Kia.
"Aku tidak akan--" Kia semakin tersiksa oleh ledakan keinginan yang begitu besar dalam dirinya. Sekuatnya dia menahan ledakan itu, dia tidak sanggup menahan diri dari keinginannya. Bahkan ada dorongan besar dalam dirinya untuk menyerang Davi tak mengenakan apa-apa itu.
"Ada 2 jalan, lakukan bersamaku, atau lemahkan reaksinya."
"Cara mengurangi efeknya, berendam di air dingin, atau berdiri di bawah shower, hawa dingin yang menjalar ke seluruh tubuhmu perlahan melemahkan keinginan itu."
__ADS_1
Mendengar itu, Kia berlari menuju kamar mandi, namun percuma kamar mandi sudah dikunci Davi.
"Kuncinya ada padaku." Davi memperlihatkan kunci yang dia pegang. "Jadi hanya ada satu jalan, lakukan bersamaku, maka kamu tidak akan tersiksa."
"Aku tidak mau!" jawab Kia.
"Yap, aku juga berpegang pada pilihan yang sama, menolak tawaran Likha yang memerkan tubuh polosnya padaku. Ya seperti keadaan kita ini, di posisimu adalah aku, dan posisiku adalah Likha.
"Tapi akhirnya aku kalah, aku tidak berdaya menolak tubuhnya. Seperti sekarang, kamu bisa merasakan bagaimana beratnya pada posisiku waktu itu."
Kia menghampiri Davi berusaha merebut kunci itu, namun dia terlalu lemah, ledakan itu membuat kedutan di setiap sendi-sendinya, membuatnya kehilangan kendali atas diri dan perasaannya. Hal ini membuat Davi mudah menyentuhnya.
Davi memeluk Kia, satu tangannya menahan perlawanan Kia yang sangat lemah, satu tangan lagi memberi sentuhan pada bagian tubuh Kia. Tidak bisa Kia pungkiri, sentuhan Davi adalah jawaban segala ledakan itu.
"Ini posisiku saat itu, aku membenci perbuatan Likha padaku, namun apa yang dia lakukan padaku adalah jawaban dari rasa yang meledak dalam diriku."
Kia tidak berdaya, dia sangat membenci Davi, berharap dirinya mampu mengakhiri semua ini, namun tarikan aneh dalam dirinya merasa tidak rela jika ini sampai di sini saja.
"Tolak aku Kia, kuatkan dirimu untuk menolakku."
"Lepasin aku mas!" Mulutnya berteriak lepas, namun dalam dirinya berharap lebih lagi mas, di dukung pula oleh anggota tubuhnya yang benar-benar membiarkan Davi menjamahnya. Kia sangat tidak mengerti dengan keadaan ini, Davi tidak menahannya, namun dirinya yang menuntut Davi agar lebih dan semakin lebih lagi.
"Bagaimana rasanya di posisi ini? Apakah kamu bisa melakukan apa yang hatimu dan otakmu inginkan?" Davi melepas hal terakhir yang masih melekat pada Kia.
Tanpa persetujuan Kia, dia mendorong Kia keatas tempat tidur, walau Kia berusaha melawan, tapi perlawanannya tidak berarti apa-apa bagi Davi. Davi memposisikan diri tepat pada pintu palung mariyuana, tanpa permisi Davi menembus begitu saja celah diantara dua tebing itu. Sesuatu yang melesak masuk begitu saja membuat Kia meracau tidak jelas.
"Hentikan mas!" jeritnya.
"Jangan berhenti ...." Kia terlihat seperti cacing kepanasan.
"Begini?" Davi bergerak perlahan.
Kia tenggelam, ya inilah jawaban dari ledakan itu. "Lebih cepat mas ...."
"Kenapa kamu menikmatinya sayang? Ayo tampar aku! Tendang aku!" tatang Davi. Saat yang sama Davi semakin mempercepat tempo permainannya, membuat Kia semakin tenggelam dalam permainan itu.
Kia sangat membenci keadaan ini, mengapa dia tidak berdaya menendang Davi, malah membuka dirinya agar Davi semakin leluasa. Mengapa semua yang Davi lakukan malah meredakan ledakan itu, semakin Davi beraksi, ledakan itu seperti padam namun menimbulkan ledakan yang lain.
Kia semakin terbakar oleh reaksi obat yang menguasainya, dan benar-benar diluar kendalinya, dia malah merubah keadaan lalu memimpin petualangan itu. Melihat hal ini, Davi membiarkan Kia mengexpresikan dirinya sendiri.
"Bukannya kamu sangat benci aku? Ayo tampar aku! Jangan nikmati ini, bukankah ini pelecehan? Aku bisa kena pasal memperkosa istri sendiri."
Kia tidak peduli, dia terus mengikuti ledakan dalam dirinya.
"Tapi ... lihat keadaan ini? Kamu yang memperkosaku."
Kia benar-benar tidak mampu mengontrol dirinya, reaksi obat itu hanya menuntutnya untuk membimbingnya untuk menanjak kepuncak yang lebih tinggi lagi.
"Maafkan aku, setidaknya aku mendapat kenangan manis sebelum hubungan kita berakhir." Davi merubah posisi dan memimpin kembali, membuat Kia berada dibawah kendalinya.
***
__ADS_1
Entah berapa sesi yang mereka lewati bersama, jam menunjukan jam 3 malam, Davi memastikan reaksi obat itu masih ada atau sudah habis, dia perlahan mendekati Kia, namun wanita itu mendorongnya. Davi tersenyum, berarti efek obat itu sudah hilang.
"Sebelum melakukan rencana ini padamu, aku sudah tau kalau setelah hal ini kamu semakin membenciku." Davi mendaratkan ciuman di wajah Kia, namun istrinya itu malah mendorongnya.
"Sekarang kamu sudah tahu bagaimana rasanya aku, menolak tapi tidak berdaya."
"Tapi setelah kejadian seperti ini, bukannya menjauh, aku malah semakin tenggelam. Inilah kebodohan aku, aku malah mengejar rasa yang terlanjur ku kecap." Davi berjalan menuju kamar mandi, sesaat kemudian dia keluar dengan setelan yang baru.
Kia terisak membayangkan keadaan Davi seperti yang dia rasakan beberapa jam lalu.
Davi kembali mendekati Kia. "Maafkan aku, sebelum kamu memutuskan meninggalkanku, aku hanya ingin kamu tahu rasanya. Aku tergoda bukan karena dia cantik, mulanya begitu tapi aku terus menerus terjerumus."
Davi menarik napasnya begitu dalam. "Aku tidak memaksamu untuk memaafkanku, tapi aku mohon ... beri aku kesempatan untuk membahagiakan kamu dan Rachel."
Davi meninggalkan kamar itu, dia merehatkan mesinnya yang panas ke ruang kerjanya.
Di kamar Kia. Wanita itu meringkuk sendiri di tempat tidur. Membenci dirinya sendiri mengapa menikmati semuanya, mengapa membiarkan Davi leluasa menyentuhnya. Dia terbayang saat Davi membiarkan dia menjadi pemimpin pergulatan, bukannya dia berhenti, dirinya malah semakin lepas kendali.
"Arggggt!" Ingin rasanya menghantamkan kepalanya pada tembok.
"Aku membencinya, kenapa aku menikmatinya ...." Kia terus menyalahkan dirinya atas pertarungan sengit bersama Davi.
Keesokan paginya.
Para pelayan terkejut melihat Davi pagi-pagi sudah di rumah, perhatian mereka terfokus pada warna merah menghiasi leher laki-laki itu. Davi tidak menghuraukan tatapan para pelayan padanya, dia begitu asyik bermain bersama putrinya.
"Ayah, kenapa leher Ayah banyak warna merah?" Rachel memperhatikan leher Ayahnya.
"Ayah sering tidur di mobil, nah mobilnya banyak nyamuk."
"Makanya bersihin mobilnya biar nyamuk nggak betah!"
"Siap Tuan Putri!" Davi kembali fokus pada permainannya dan Rachel.
"Tadi malam Rachel mimpi ditinggal Ayah, Rachel sedih ...."
"Kan Rachel memang sering Ayah tinggal kerja, kenapa sedih."
"Tapi Ayah ninggalin Rachel bukan pergi kerja, tapi--"
"Ninggalin Rachel pergi ke wc!" Davi menyerang putrinya dan menggelitikinya.
Suara tawa Rachel memecah kesunyian pagi, hal ini terus menarik perhatian para pelayan. Bukan hanya para pelayan yang menyaksikan keseruan Ayah dan anak itu, Kia juga mematung melihat Rachel begitu bahagia bersama Davi, yang membuatnya hatinya sangat sakit, ungkapan kesedihan Rachel bermimpi ditinggal Davi. Sedang mimpi itu akan jadi nyata jika dia memilih bercerai dengan Davi.
"Bunda ...." teriakan Rachel membuat wanita diatas sana terperanjat.
"Iya sayang?" sahut Kia.
"Kenapa bunda tidak bangunkan aku kalau tadi malam Ayah di rumah?"
"Am ...." Kia bingung, terus berusaha berpikir memberi jawaban yang masuk akal. "Setelah dari rumah oma, Rachel kan tidur, bunda nggak tega bangunin."
__ADS_1
"Oh iya, aku ketiduran sejak diperjalanan." Rachel kembali bermain bersama Davi.