
Momen manis saat Davi bisa mendekap tubuh Kia juga dilihat Eren, wanita paruh baya itu membeku dan mengabadikan hal itu. Sebelum Davi menyadari keberadaannya, Eren menarik Nanda untuk pergi secepatnya dari sana.
Detik yang sama Handphone Davi yang satunya berdering, terlihat nama Fanny sebagai pemanggil. Davi segera menerima panggilan itu.
"Ada apa sayang ...."
"Sayang! Sayang! Kita ini baru nikah 3 hari, Kak Davi kejam! Tega nipu aku!"
"Katanya ke Sekolah buat anak Likha! Tapi Kak Davi malah dekati Kia!"
Davi melihat keadaan sekitar masih ramai, saat yang sama dia juga melihat Eren melaju dengan motornya meninggalkan area sekolah. Davi mengabaikan Eren, saat ini lebih baik fokus pada Fanny. Davi segera menuju mobilnya.
"Kenapa diam?! Kak Davi pasti masih sama Kia!"
Davi kembali mengintip keadaan di luar, dia menghela napas panjang, saat melihat orang-orang Malik ada di sekitar sekolah itu, kini dia memahami kemarahan Fanny. Davi merubah panggilan telepon mereka menjadi panggilan video. Kini wajah Fanny jelas di layar handphonenya.
"Aku sendirian." Davi memperlihatkan keadaannya.
"Di mana Kak Kia sembunyi?!"
"Kia tidak semurah itu, mana mau dia sama aku. Yang harus kamu ingat, aku memutuskan menikah sama kamu, karena aku tahu aku tidak memiliki kesempatan kembali pada Kia."
"Hanya wanita bodoh yang mau menerima laki-laki yang sama berkali-kali setelah disakiti, Kia wanita cerdas, kesempatan yang dia beri hanya sekali, aku mengulangi kebodohanku, tidak ada lagi harapan kembali walau aku mempersembahkan dunia dan seisinya di bawah kakinya."
"Apa yang kamu lihat dari laporan orang suruhanmu tidak seperti yang kamu pikirkan. Memang benar aku sangat mencintai Kia, tapi Kia tidak cinta aku dia malah tidak suka melihatku. Cintaku pada Kia tetap ada, sampai kapan pun dia tetap ada di hatiku, hanya tipu daya Likha membuatku terjatuh kelembah derita membuat hatiku lupa akan cinta sebenarnya, lalu kau memungutku dari sana. Saat kau memungutku kau tahu bagaimana keadaanku, apa yang bisa diharapkan dari seseorang yang putus asa sepertiku?"
"Kalau kau tidak terima adanya cinta yang tertanam kuat di hatiku buat Kia, buang saja aku, karena aku tidak akan mampu membuang rasa cinta itu."
Fanny bungkam, dia terlalu mencintai laki-laki ini, bagaimana dia membuangnya?
"Maafkan aku sayang."
"Tidak perlu minta maaf, inilah aku."
"Kapan ke Apartemen aku? Aku kangen banget."
"Secepatnya sayang."
"Aku tunggu, aku tahu aku tidak bisa membuatmu melupakan Kia, tapi aku akan membuatmu menikmati ikatan kita."
"Aku sangat menikmati setiap detik kebersamaan kita, sampai jumpa lagi sayang, aku mau lanjut balas dendam pada si ratu drama."
"Lanjut sayang, aku tunggu hasilnya."
Davi menyimpan handphone barunya, dia segera melajukan mobilnya menuju kontrakan Likha.
Di rumah, Eren langsung memperlihatkan handphonenya pada Likha. "Apa mama bilang, Davi sedang berusaha mendekati Kia lagi."
__ADS_1
Likha merasa bukan hanya hatinya yang nyeri, tapi perutnya juga. "Nggak mungkin Kia mau nerima Davi lagi!"
Saat yang sama Likha mendengar deruan mesin mobil yang berhenti di depan rumah. Sesampai di kontrakan Likha, terlihat sepeda motor Eren sudah terparkir di teras. Dipastikan infotemen sudah sampai di telinga Likha. Davi memasuki rumah itu, keadaan sangat mencekam ditambah tatapan sinis dari Eren.
Takut? Davi malah merasa bahagia, dia bisa merasakan bagaimana sakitnya perasaan Likha saat ini jika memang benar wanita itu mencintainya. Semakin sakit Likha semakin puas dirinya.
"Kamu bilang ke sekolah buat Nanda, tapi apa? Kamu malah peluk mantan istri kamu!"
"Aku nggak peluk! Itu dia nggak sengaja jatuh dan aku tangkap," Davi membela diri.
"Halah drama! Mending mas jujur! Mas masih cinta kan sama Kia, dan mas berharap bisa kembali sama dia!" maki Likha.
"Masih cinta? Bahkan aku selalu mencintai Kia, aku tidak pernah berhenti mencintai dia! Kembali padanya? Ya aku mau banget! Ini harapan dan mimpi terbesarku! Tapi kamu tahu sendiri dia tidak akan menerimaku! Puas!" Suara Davi menggelegar di kontrakan itu.
"Mas tidak cinta aku?" suara Likha mengecil.
Cinta padamu? Cih! Sebelumnya iya, saat ini aku hanya ingin menyakitimu perlahan! Kau pikir aku tidak tahu omong kosongmu selama ini?
Davi ingin menjawab tidak, namun susunan dendamnya akan berakhir lebih awal.
"Setelah pengorbanan besar yang aku lakukan padamu, kamu masih meragukan cintaku?" Davi menggelengkan kepalanya. "Waw ... ternyata kamu tidak bisa melihat perjuanganku. Pengorbananku meninggalkan istana mewah dan hidup menderita bersamamu. Apa ini juga masih kurang!"
"Kamu masih sehat? Ingat Likha, kamu mengambil paksa aku dari pelukan Kia, ayo berpikir sehat! Saat kamu masuk ke hatiku, sudah ada Kia dalam hatiku, bagaimana mungkin aku bisa lupa cintaku sedang kalian ada di tempat yang sama dan waktu yang sama."
Davi menatap sinis pada Likha. "Ini aku yang bodoh, apa kamu yang bego? Kamu mengambil punya orang, namun menuntut orang yang kamu kuasai untuk melupakan dan tidak mencintai pemilik sebelumya, apa kamu ingat sama kata-katamu kalau rela jadi yang kedua, jangan-jangan itu hanya omong kosongmu, mungkin cinta yang kamu besar-besarkan selama ini juga tidak pernah ada."
Tanpa berkata lagi, Davi pergi dari rumah pengap itu.
"Mas ... maafin aku ...." Likha berusaha mengejar Davi, hingga dia terjatuh, saat keluar rumah kakinya tersangkut beton bagian pintu tinggi dari permukaan lainnya.
Namun Davi tetap melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu, pura-pura tidak melihat kalau Likha jatuh.
"Mas ...." Likha memegangi perutnya, tiba-tiba dia merasakan sakit yang luar biasa. "Mama ...." Likha panik melihat darah mengalir di kedua pahanya, rasa sakit yang hebat membuat Likha kehilangan kesadarannya.
Eren panik mengetahui hal itu, dia berusaha mencari bantuan dan segera membawa Likha ke Rumah Sakit terdekat. Sepanjang jalan menuju Rumah Sakit Eren berusaha menghubungi Davi, tapi panggilannya tidak diterima. Hingga sampai di Rumah Sakit, Davi tetap tidak mengangkat panggilannya.
"Keluarga Nyonya Likha." panggil salah satu perawat.
"Saya ibunya sus."
"Kami mohon maaf sebesar-besarnya, kami tidak bisa menyelamatkan bayi yang dikandung Nyonya Likha."
"Anak saya bagaimana sus?"
"Nyonya Likha sendiri baik-baik saja."
Eren bisa bernapas lega, pikirannya setelah bayi itu lepas, Likha bisa melanjutkan misinya untuk mencari laki-laki mapan lain. Eren menghempas bobot tubuhnya ke kursi yang berjejer. Belum hilang pemikiran itu, kedua mata Eren dikejutkan dengan berita yang ada di koran yang di baca orang di sampingnya.
__ADS_1
Setelah sempat tidak memiliki kapten, akhirnya Ramundya Grup menunjuk pemimpin baru Perusahaan mereka.
Di bawah tajuk itu, terlihat wajah Davi berjabat tangan dengan Malik, pemimpin banyak perusahaan yang cukup terkenal. Seketika Eren galau, menelantarkan Davi atau bersikap manis pada Davi lagi.
Di Apartemen Fanny.
Davi sekilas membaca pesan Eren dari atas layar handphonenya. Dia tersenyum sinis membaca kalau Likha keguguran. Hidup Davi seperti kehilangan arah, yang dia inginkan hanya membalas semua kebohongan dan tipuan Likha. Tipuan yang membuatnya meninggalkan wanita yang tulus mencintainya.
Kia, setiap mengingat wanita itu seketika napas Davi terasa berat. Ingin kembali, tapi dia sadar diri Kia tidak akan menerima dirinya lagi. Berjuang mendapatkan Kia itu sia-sia. Davi sangat mengingat peringatan Kia. Kalau dia memberi rasa sakit lagi, maka dia akan kehilangan Kia yang mencintainya. Dan ini benar adanya, saat bertemu Kia, dia tidak melihat lagi pancaran cinta dari sorot mata Kia.
Baginya Kia saat ini adalah rembulan yang indah di langit sana, sedang dirinya hanyalah seekor pungguk yang merindu dan mencintai bulan. Sadar diri dan putus asa dua hal yang berbeda. Kia tidak akan menerimanya lagi, inilah yang membuat Davi selalu becermin dan menyimpan rasa cintanya. Memperjuangkannya hanya mengganggu dan membuat Kia tidak nyaman.
Hidup bersama Kia seperti berada diatas gunung yang tinggi, tiba-tiba dia memilih terjun bebas, saat di dasar jurang, dia baru menyadari kehidupan diatas sana yang tulus dan penuh cinta, sedang jalan untuk naik lagi tidak ada. Dia tak memiliki apapun untuk berusaha menuju tempatnya semula.
Davi berusaha menepikan pikirannya tentang Kia, saat ini dirinya berada tepat di depan pintu Apartemen Fanny.
"Taddaaaa ...."
Davi berusaha tersenyum dan memperlihatkan kebahagiaannya.
Fanny menatap Davi penuh selidik. "Kenapa Kakak sangat bahagia?"
"Alam pun tidak menginginkan aku dan Likha terikat, saat ini dia keguguran."
"Kak Davi mau temani dia?" ucap Fanny lemah.
"Enggak lah! Mending sama kamu di sini." Davi menyerang Fanny, dan menggendongnya menuju kamar.
Rasa kecewa yang Likha sebabkan, membuat Davi merasa dirinya bukan manusia lagi, dia lebih menceburkan diri pada kubangan kebodohan yang lain demi membalas dendamnya, menikahi Fanny, hanya untuk membalas Likha, dia tidak peduli bagaimana penderitaan Likha di sana.
Keadaan kota kini gelap, Likha mulai tersadar, dia meraba perutnya, entah mengapa terasa kosong.
"Mama ... apa yang terjadi padaku?"
"Kamu keguguran, tim dokter tidak bisa menyelamatkan bayimu."
"Mas Davi mana? Mama sudah kabari dia kalau aku di Rumah Sakit?"
"Rasanya jempol mama keseleo karena menulis banyak pesan padanya, tapi tidak satu pun dia baca, di telepon juga tidak diangkat!"
"Mas ... di mana kamu mas, anak kita udah nggak ada, aku butuh kamu mas ...."
"Sudah sama mama dulu, Davi sibuk memperbaiki hidupnya, masalah anak, nanti bikin lagi!"
"Aku butuh mas Davi mama ...."
"Jangan manja! Ada mama sama Nanda di sini!"
__ADS_1
Air mata Likha terus mengalir, saat ini dia sangat merindukan Davi dan membutuhan dukungan suaminya itu. Sedang laki-laki yang dia rindukan malah menertawakan nasibnya, dan berbahagia dengan istri barunya.