
Setelah perjuangan yang luar biasa, akhirnya Eren sampai di titik pertemuan, terlihat Likha berlari keluar dari salon, dan dia langsung naik ke motor ibunya.
"Cepetan mama, pesta mereka sudah berlangsung lama." Likha menyebutkan nama gedung tempat Davi mengadakan resepsi.
"Aku kira dia sengaja nggak pulang karena ingin cari ribut sama aku agar kejutan mereka berhasil, ternyata ...."
Eren hanya mendengar deruan angin yang deras, dia tidak mendengar jelas ucapan Likha. Sesampai di depan gedung, tidak semudah yang mereka pikir bisa masuk begitu saja, para keamanan menahan mereka. Karena tidak memiliki undangan.
"Mama, bagaimana ini? Kita harus hentikan pesta mereka mama."
Pandangan Eren terpaku pada kelompok orang berseragam pelayan yang baru keluar dari mobil. Sebuah ide pun muncul. Eren menarik Likha ke suatu tempat, dia sibuk menarikan jemarinya diatas keayboard handphonenya.
"Kita harus menunggu sampai berapa lama lagi? Nanti pesta mereka selesai."
Saat yang sama seorang laki-laki menghampiri mereka dan memberikan bungkusan pada Eren.
"Seperti pesanan saya?" Eren memastikan.
"Silakan cek."
Eren memeriksa isi kantong plastik tersebut, melihat 2 setel seragam pelayan yang dia maksud, Eren tersenyum dan memberikan mahar seragam itu. Laki-laki itu segera pergi setelah mendapat uang dari Eren.
"Cepat kenakan ini!" Eren melempar 1 setelan pada Likha.
Kali ini otak Likha sedikit encer, tanpa bertanya dia tahu apa rencana ibunya. Keduanya segera mengganti pakaian mereka dengan seragam pelayan itu, mengenakan masker wajah, dan kembali ketempat acara dengan menumpangi taksi.
Eren meminta supir taksi masuk lewat jalur lain, dia tidak mau penjaga sebelumnya mengenali mereka. Rencana mereka berjalan lancar, mereka berdua lolos masuk ke gedung dengan berperan sebagai pelayan. Eren dan Likha melakukan tugas mereka sebagai pelayan, membawa minuman dan berjalan ke segala penjuru membawa nampan berisi minuman itu.
Likha menaruh nampan yang dia bawa ke meja terdekat, tangannya tidak sanggup lagi menahan nampan itu kala sepasang matanya melihat kemesraan Davi dan Fanny yang mengenakan gaun pengantin, keduanya terlihat sangat bahagia berdansa diatas sana.
Likha terus maju dengan sorot mata yang penuh kemarahan. "Pernikahan kalian tidak sah!" teriaknya.
__ADS_1
Sontak semua perhatian tertuju kearah Likha.
Fanny tersenyum sinis, rencana mengundang Likha dia batalkan, tapi wanita itu malah datang dengan mengenakan seragam pelayan. "Siapa kau datang-datang mengatakan pernikahan kami tidak sah?" Fanny menarik tangan Davi dan melingkarkannya di perutnya.
Air mata Likha tidak bisa ditahan, cairan itu mengalir deras begitu saja. "Aku istri Davi!"
"Oh ya? Mana buktinya? Yang aku tahu kamu hanya mantan istri sirinya."
"Ini buktinya!" Eren dengan bangga maju dan memperlihatkan surat keterangan pernikahan siri Davi dan Likha.
Tamu-tamu yang melihat jelas tulisan itu tertawa terbahak-bahak.
Merasa kejanggalan itu Eren memeriksa kertas yang dia perlihatkan. Jantungnya serasa ditikan sebuah benda tajam. Bagaimana mungkin surat keterangan nikah berubah menjadi surat talaq.
"Lihat sendiri, itu bukti kalian sudah berpisah. Davi statusnya sah duda, jadi ... dia bebas menikah dengan siapa saja." Fanny sangat puas bisa membuat Likha malu tanpa menyentuhnya.
"Dasar pelakor! Tega banget kalian berbahagia diatas rasa sakitku!" jerit Likha.
"Apa kamu tidak punya cermin? Aku menikah dengan Davi status dia sah duda, sedang dirimu?" sindir Fanny.
"Wah ada malin teriak maling, yang maling itu dirimu," cibir salah satu tamu undangan.
Likha merasa dirinya dilempar ke lubang yang tidak berdasar, bagaimana dia membela diri, semua orang tahu dia lah yang menggoda Davi dan menyebabkan Davi dan Kia bercerai, saat ini Davi diketahui sah berpisah dari Kia, dan tanpa sepengatahuannya Davi sudah memberinya surat talaq.
Malik menatap tajam wanita yang membuat putrinya kehilangan mahkotanya. Dia tidak melepaskan wanita itu begitu saja, namun memberinya pelajaran saat ini bukan saat yang tepat. Malik hanya mengintruksikan untuk mengusir Likha dan ibunya, dan menjaga ketak semua pintu masuk, dia tidak ingin ada kekacauan di hari bahagia putrinya.
Likha dan ibunya tidak berdaya, mereka diusir paksa dari pesta. Keduanya terpaksa pulang, ternyata rasa malu tidak hanya mereka dapat saat di gedung, sepanjang jalan selalu ada yang menghujatnya dan ibunya. Viralnya video Likha mengamuk membuat Likha semakin tidak punya keberanian memperlihatkan wajahnya. Dia hanya mengurung diri di rumah kontrakan kecil itu.
Bahkan kini tetangganya juga ikut mencibirnya, karena baru mengetahui kalau suami yang dia banggakan selama ini hasil merampas milik orang lain.
Sedang di sisi lain.
__ADS_1
Kia tidak peduli dengan kabar bahagia Davi, atau kabar keterpurukan Likha, yang mana hasil curiannya dirampas oleh wanita lain. Kia lebih fokus untuk mendampingi Rachel dan memberi kebahagiaan buat anaknya.
Keluarga Kia tengah barbeque di pesisir pantai, Herman dan Fuza sibuk memanggang, sedang Rachel sangat antusias menunggu hidangab yang tengah dimasak.
"Kak, sepertinya ada pernikahan di sini." Luna mengisyarat ke arah sisi lain dari pantai itu.
"Sepertinya, itu tamu-tamu juga mulai berdatangan," sahut Kia.
"Rasanya aku ingin berterima kasih pada pengantin yang mempercayakan acara ini padaku, karena sambil bekerja aku bisa melihat bidadari hatiku."
Kia sekeluarga menoleh kearah yang sama, Kia seketika kesal melihat Rury yang berjalan kearah mereka.
"Siapa dia Kak?" tanya Luna.
"Ceritanya panjang, dan aku tidak mau cerita." Kia kembali menoleh pada Rury. "Bisa jaga sikap dan kata-katamu, aku ini bukan ABG yang bahagia mendengar kalimat bucinmu!"
Wajah Kia sangat tidak bersahabat. "Jika kamu masih begini, aku tidak memandangmu sebagai teman lagi, ingat aku ini seorang wanita yang memiliki anak, aku tidak ingin anakku mendengar hal-hal seperti tadi."
Rury mematung, rasa malunya begitu besar, rasanya ingin sekali mengubur dirinya hidup-hidup kedalam pasir.
Tiba-tiba sepiring sosis bakar dan potongan daging disodorkan padanya. "Kami tahu permata kami sangat berkilau, sehingga membuat siapa saja silau akan kemilaunya."
Rury menatap laki-laki paruh baya yang masih menyodorkan piring padanya.
"Ambil, tanganku pegal."
Rury mengambil piring itu, dan mengucapkan terima kasih.
"Anak kami sulit mempercayai laki-laki untuk masalah hatinya, kamu menggodanya sama saja mengantarkan lehermu ke tukang jagal, maafkan Kia, dia masih tidak bisa mempercayakan hatinya."
Rury menunduk dan mengangguk, dia mencoba mengusir rasa tidak enak yang mengikat hatinya dengan mencoba hidangan yang ada di tangannya.
__ADS_1