
Sepanjang malam Davi memaksa otaknya bekerja, memikirkan bagaimana cara agar punya tempat aman bersama Likha. Hotel? Entah mengapa dirinya tidak yakin.
Apa aku juga harus membeli penthause buat Likha?
Davi teringat akan temannya yang membeli penthause untuk wanita simpanannya. Davi meraih handphone dan mulai mencari informasi property itu. Harga miliaran membuat Davi terdiam sejenak. Bagaimana dia bisa mengeluarkan uang sebanyak itu dari rekeningnya tanpa sepengatahuan Kia.
"Mas ... ayok tidur, udah malam," ucap Kia yang setengah tersadar.
Davi segera menyimpan handponenya dan berbaring memeluk Kia.
Hari baru menyapa, saat matahari menampakan cahayanya, Kia dan keluarga sibuk dengan rutinitas pagi mereka. Davi bersiap ke Perusahaan, dan Rachel bersiap untuk sekolah. Selesai sarapan mereka mulai menjalani kesibukan mereka. Rumah pun kembali sepi.
Pagi hari semangat masih full, tapi tidak berlaku bagi para pekerja Kia. Mereka semua terlihat murung seakan baru selesai bekerja seharian penuh, padahal suasana masih pagi.
Kia baru menginjakan kaki ke Restorannya, dia heran melihat karyawannya berkumpul bukan bekerja seperti biasa. "Ada apa ini?" sapa Kia.
"Bu, gawat. Nyonya Crolina membatalkan semua pesanan mereka," adu salah satu pekerja.
"Kenapa bisa? Apa alasan beliau?" Kia balik bertanya.
"Beliau tidak memberi alasan apa-apa, beliau hanya mengatakan membatalkan semua pesanan."
"Sepertinya Nyonya Crolina membatalkan pesanan karena kecewa melihat Ibu." Salah satu pekerja mendekati Kia dengan membawa handphone, pada layar handphone terlihat foto Kia, Davi, Eren dan Pak Nomad.
Kia membuang napasnya kasar, seperti dugaannya, Nyonya Crolina akan membencinya karena akrab dengan pelakor yang kini berstatus sebagai istri Pak Nomad.
"Jangankan Nyonya Crolina, saya juga marah besar bu, walau ibu tidak terlibat, akrab dengan pelakor itu sama saja menyakiti perasaan mantan istrinya bu.
"Ini memang ujian saya, kalian semua tetap semangat!" ucap Kia.
__ADS_1
"Stok menu yang akan dimasak pagi ini bagaimana bu?" sela salah satu koki.
"Tetap masak seperti rencana, sebagian kalian bagi untuk semua pekerja di sini, sebagian minta kurir mengantar makanan itu ke kantor suami saya."
"Ibu rugi besar, bukankah ibu tidak meminta DP saat Nyonya Crolina memesan banyak paket?"
Kia tersenyum kecil. "Tidak ada rugi jika ku sedekahkan. Ayo kerjakan semuanya."
Kia kembali ke ruang kerjanya, bagaimana pun dia berkata dia baik-baik saja, namun ada goresan kesedihan menyelimuti hatinya. Sebagai wanita dia tidak suka akan perbuatan Eren, namun dia masih memandang Likha. Kia mengambil handphonenya, dan membuka laman media sosial milik Eren yang memang tidak digembok. Kia sangat menyayangkan melihat laman media social Eren penuh dengan foto-foto mesra bersama suami barunya, wanita itu begitu bangga memamerkan hasil rampasannya.
Perasaan Kia diselimuti kesedihan, karena menjadi bagian penyebab rasa sakit wanita lain, dia menghabiskan waktu di dalam ruangannya.
Perusahaan Davi.
Davi tidak fokus bekerja, pikirannya masih tertuju pada Likha. Bagaimana mempersiapkan istana untuk mereka berdua. Terlintas dipikiran Davi untuk mengambil pinjaman, namun hal ini mudah diketahui Kia.
Suara ketukan pintu membuyarkan pikiran Davi. "Masuk," ujarnya.
Perlahan pintu terbuka, memperlihatkan sosok Dharma. Wajah laki-laki yang berusia 30 tahun itu begitu ceria. Tanpa izin dari Davi, dia langsung duduk dikursi yang ada di depan meja kerja Davi.
"Di mana Anda dapat wanita sehebat istri Anda? Aku juga mau satu Tuan." Dharma masih terlihat sangat semangat.
"Apa maksudmu?" Davi kesal, walau hatinya ada wanita lain, tapi dia tidak rela wanitanya disukai orang lain.
"Nyonya Kia benar-benar cerdas, feeling dia akan keuntungan proyek yang Tuan abaikan, hal itu seperti yang Nyonya Kia perkirakan." Dharma memberikan laporan proyek itu pada Davi.
"Keuntungannya sangat besar!" Dharma begitu antusias.
Davi segera memeriksa laporan, sepasang matanya berbinar melihay nominal keuntungan yang di dapat.
__ADS_1
Likha, akhirnya jalan terbuka untuk istana kita berdua, batin Davi.
"Mau ditransfer ke rekening mana Tuan?"
"Nanti aku kirimkan." Pikiran Davi saat ini ingin membuka rekening baru, agar jejak pengeluarannya tidak terendus Kia.
Davi sangat bahagia, dia segera meninggalkan kantor. Pertama yang dia lakukan membuka rekening baru, hingga dia melajukan mobilnya menuju suatu tempat.
Setelah beberapa saat kepergian Davi, kurir pengantar makanan datang membagikan kiriman makanan dari Restoran Likha. Mendengar hal itu Dharma sangat semangat. Dia mengambil porsi miliknya begitu girang. "Nggak nyangka Tuan malah langsung syukuran," ujarnya.
Tidak hanya karyawan Davi, Kia juga mengirimkan makanan untuk Karyawan Nabila dan Indra, perusahaan mereka berdua juga berada di gedung yang sama dengan perushaan Davi.
Mendengar ada kiriman paket dari Restoran Kia, Nabila segera menghubungi Indra.
"Apa Bila?" sapa Indra di ujung telepon.
"Kamu dapat kiriman box makanan dari Kia?"
"Iya dapat, banyak pula, cukup untuk orang sekantor," sahut Indra.
"Ada kabar bahagia apa ya? Aku juga dapat banyak."
"Mungkin Kia syukuran atas keberhasilan proyek suaminya."
"Proyek kemaren?" Nabila memastikan.
"Iya, proyek yang Kia perjuangkan itu sukses besar. Tapi anehnya Davi malah meminta keuntungannya agar dikirim ke rekening baru."
"Biarlah urusan Davi, aku nggak suka sama dia, jangan bahas dia." Nabila langsung menyudahi panggilannya dengan Indra. Dia segera membagikan kiriman Kia pada karyawannya.
__ADS_1