
Jika pekerjaan kantor tidak terlalu penting, Kia menghibahkan pekerjaan itu pada Dharma, sedang dia fokus menemani Rachel dan merawat Davi di rumah.
"Sial! Apa mau wanita ini!" Davi tiba-tiba melempar handphonenya.
"Ada apa mas?" Kia bingung melihat perubahan emosi Davi.
"Kamu masih temenan sama Likha di medsos?" tanya Davi.
Duggggh
Seketika Kia membeku mendengar Davi menanyakan tentang Likha. "Masih mas." Kia berusaha tenang.
"Cek sendiri medsos dia, aku udah blok dia di semua jejaring sosial aku, ini aku lihat karena ada yang ghibah dia di grup aku."
Kia penasaran dengan yang Davi ucapkan, dia segera membuka laman media sosial Likha, seketika tekanan darahnya naik melihat apa yang Likha posting, walau bagian laki-laki itu disensor, Kia sangat tahu itu adalah Davi saat mereka berada di luar Negri.
"Aku harus apa?" ucap Davi lemah.
"Biarin aja mas, kalau kamu nggak cukup ilmu buat ngedrama, kamu kuat mental buat ladenin dia, jangan ladenin dia, yang ada dia makin tenar kita makin busuk."
"Kamu percaya aku?"
"Aku memilih memberi kesempatan, karena aku percaya sama mas, jaga kepercayaan aku ya mas, kalau mas hancurkan lagi hatiku, aku takut aku jadi amnesia kalau aku pernah mencintai mas." Kia masuk kedalam pelukan Davi.
"Terima kasih sayang."
Kia kembali teringat Likha, entah apa tujuan wanita ular itu memposting foto lama dia dengan Davi, dengan caption: Hanya menunggu waktu aku dan kamu tetap bersama dan tak akan ada yang mampu memisahkan.
*
Hari baru kembali dimulai, Rachel sangat semangat menuruni anak tangga, bahkan mulut manisnya selalu bersenandung. "Pagi Ayah, pagi bunda." Rachel mencium bergantian dua orang yang sangat berharga dihidupnya.
"Pagi juga sayang," sahut Davi dan Kia bersamaan.
Seperti biasa, mereka segera sarapan bersama.
"Rachel ke sekolah sama bunda ya sayang," ucap Kia.
"Siap bunda, Rachel malah senang kalau diantar bunda atau Ayah, lebih senang kalau diantar keduanya sekaligus."
Davi mengusap wajah putrinya. "Nanti ya setelah Ayah benar-benar sembuh, Ayah sama bunda yang antar Rachel."
"Siap Ayah ...."
__ADS_1
Kia memanfaatkan kesempatan pagi ini untuk mengantar putrinya, agar memiliki waktu lebih berada di samping putrinya. Waktunya terlalu banyak tersita untuk pekerjaan, Kia ingin menggunakan waktu yang ada walau hanya sekedar mengusap wajah putrinya.
Di tengah jalanan sepi, Kia melihat mobil mogok di tepi jalan, dia memelankan laju mobilnya. Melihat siapa pengemudi mobil itu, Kia menepikan mobilnya.
"Rachel sayang, kamu tunggu di mobil ya, bunda mau tolongin Aunty Likha sebentar."
"Iya bunda."
Kia berjalan menuju Likha yang nampak kebingungan di depan mobil dengan kap depan yang terbuka.
"Mogok ya?" Pertanyaan Kia terdengar sedengah mengejek. Kia meneruskan langkahnya dan tersenyum pada sosok anak kecil yang tersenyum padanya.
"Hai Nanda, mau bareng Rachel nggak?"
"Mama aku gimana Aunty?"
"Mama kamu masih lama, kalau kamu sama mama bisa telat masuk kelas, bareng sama Rachel mau?"
"Mau Aunty." Nanda meraih tasnya dan keluar dari mobil.
"Kamu langsung ke mobil Aunty sana, di sana ada Rachel sayang."
Tanpa pamit pada ibunya, Nanda berlari menuju mobil Kia, terlihat dari sana Rachel membukan pintu mobil untuk Nanda.
"Kenapa malah bantu anakku!?" ucap Likha sinis.
"Bantuanku pada Nanda adalah bantuan sebagai sesama manusia. Sedang sama kamu, maaf ...." Kia memasang wajah mengejek seolah menyesal karena tidak bisa membantu Likha.
"Kalau sama kamu, aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena sikapmu seperti bukan manusia, malah lebih hina dari binatang! Jadi ... aku tidak tahu menolongmu karena apa." Kia melanjutkan langkahnya menuju mobilnya.
"Puas lihat aku begini?" sambar Likha.
Sontak langkah Kia berhenti, dia berbalik kearah Likha. "Enggak, biasa aja tuh."
"Apa mau Kak Kia?!"
Kia berjalan semakin mendekati Likha. "Harusnya saya yang bertanya begitu, apa mau kamu posting foto lama kalian?"
"Biar mas Davi bisa ingat kalau aku adalah kebahagiaannya. Yah ... aku tahu dia blokir aku, tapi aku yakin pasti ada yang membahas prestasiku, aku tahu banyak orang yang menyoroti kehidupanku, secara segala hal tentangku sangat menarik, menjadi trending dalam sebuah forum dan nantinya tak sengaja pasti Kak Davi melihat kenangan itu."
"Emang nggak tau diri kamu yah! Saya sengaja menutup aib kamu, agar kamu punya wajah untuk tetap meneruskan hidupmu, tapi kamu malah membuka aib sendiri. Kalau aku mau, aku buka kejahatan kamu, maka tak ada tempat di kota ini yang menerima kamu."
"Buka aja kak, aku tidak takut! Toh yang rugi dan malu Kakak juga kalau orang tahu suami seorang Azzalea Rizkia terpikat seekor lalat sepertiku."
__ADS_1
"Aku tidak takut malu, dan aku tidak takut nama mas Davi tercemar, aku hanya kasian padamu, sebab itu aku diam." Kia berbalik meninggalkan Likha, namun dia kembali menoleh pada Likha.
"Oh iya lupa, Apartemen yang Mas Davi belikan untukmu, tidak usah kamu kembalikan. Anggap saja itu pembayaran apem kamu yang diicip mas Davi."
"Hei! Aku bukan pell4cur!!!"
"Makanya kau harus terima kasih padaku, karena aku menaikan sedikit derajatmu, kamu tahu pell4cyr itu lebih terhormat daripada pell4korr." Kia berbalik dan meninggalkan Likha sendirian.
Sesampai di mobil Kia berusaha tersenyum pada dua anak kecil yang menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Kita jalan ya sayang, mamanya Nanda masih nungguin bengkel, jadi kita ke Sekolah lebih dulu." Begitu santai Kia perlahan melajukan mobilnya menuju Sekolah Rachel dan Nanda.
***
Davi bisa dikatakan pulih sepenuhnya, laki-laki itu memulai kembali rutinitasnya yang dia tinggalkan selama 12 minggu. Walau Davi bisa kembali bekerja di perusahaan, namun Kia tidak bisa melepas begitu saja pekerjaannya di perusahaan Davi, ada beberapa hal yang harus dia selesaikan sebelum melepas kembali pekerjaan itu pada Davi.
"Bagaimana mas? Ada yang kurang lengkap atau gimana? Kalau mas sudah memahami semuanya, besok aku nggak kesini lagi." Kia setia membungkuk di samping Davi sambil memperlihatkan dan melaporkan pekerjaan yang dia pegang selama Davi pemulihan.
"Luar biasa, kenapa sih kalau kamu pegang perusahaan ini, wah banget pergerakannya."
"Biasa aja mas, malah aku lancang karena menendang beberapa pegawai mas, mereka ada yang semena-mena dan main potong gajih, aku selalu memperhatikan para pekerja kita, kalau kita memberi hak mereka dengan benar, mereka juga bekerja penuh cinta. Untuk yang menyalah gunakan jabatan, ya ini bikin perusahaan nggak bisa maju, dia mempekerjakan orang yang menguntungkan dia, bukan mempekerjakan orang yang benar ahli dibidangnya, atau yang mau bekerja keras demi kemajuan bersama."
"Aku akan lebih selektif lagi kedepannya, terima kasih sayang "
"Jangan cuma ngandelin anak buah, ada baiknya mas juga pantau langsung dengan tiba-tiba biar yang licik tidak sempat mengganti kulit mereka.
"Iya sayang." Davi menepikan laptop dan berkasnya, dia menarik Kia agar duduk di pangkuannya. Perlahan dia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Kia, menikmati wangi dari tubuh istrinya itu, namun baru beberapa tarikan napas, kegiatan itu harus berhenti.
Mendengar ketukan pintu, Kia segera turun dari pangkuan Davi dan mempersilakan yang mengetuk pintu untuk masuk.
"Selamat siang Tuan, Nyonya." Dharma muncul diantara pintu. "Maaf mengganggu, model yang akan menjadi brand ambasador perusahaan kita sudah tiba."
"Kemaren bukannya patner kita masih bingung menunjuk model?" sela Kia.
"Kali ini mereka sudah pasti Nyonya, modelnya ada di luar."
"Suruh masuk, biar kita bisa ngobrol santai dulu," pinta Kia.
Dharma memberi hormat pada Kia dan Davi dengan bahasa tubuhnya, dia segera memanggil model itu untuk masuk ke ruangan Davi.
"Ini model baru kita, Tuan, Nyonya." Dharma mengisyarat pada wanita yang muncul dari pintu.
"Hai, selamat siang semua."
__ADS_1
Melihat sosok yang masuk, seketika Davi terkejut, bahkan dia refleks berdiri kala melihat sosok cantik itu.