
Davi membeku sesaat melihat kedua orang tua Fanny dan Fanny ada di sana. Sesaat pikirannya tertuju pada kematian Rafa, terlebih dirinya juga tahu kalau Fanny dimanfaatkan Likha sehingga menjadi santapan Rafa saat malam ulang tahun Ingrid.
Rafa dibunuh orang suruhan Fanny? Itu tidak mustahil, dia sangat tahu bagaimana sifat Ayah Fanny yang keras dan tidak peduli dengan nyawa orang lain jika dia marah. Davi menjauhi Fanny sejak kecil, karena dia tidak suka Fanny yang terlalu manja, apa yang dia mau harus ditunaikan. Dia tidak menerima kata tidak jika sudah menginginkan sesuatu. Namun Fanny juga mudah bosan.
"Davi, duduklah. Om Malik mau bicara," ucap laki-laki yang duduk di samping Fanny.
Davi menyusun minuman pesanan itu lebih dulu. Lalu duduk di salah satu kursi.
"Fanny--"
"Aku tahu om kalau Fanny korban kelicikan istriku, maaf aku baru tahu hal ini, sebab itu aku tidak bisa pulang ke rumah. Saat tahu betapa liciknya wanita yang aku pilih itu, setiap melihatnya pikiranku hanya ada keinginan menghabisinya." potong Davi.
"Om--"
"Om mau bunuh dia, atau mutilasi dia terserah om, aku tidak peduli. Aku sangat sakit setelah mengetahui tipuannya." potong Davi lagi.
Malik tersenyum jahat, dia bisa merasakan bagaimana putus asanya seorang Davi. "Andai aku mau habisi Likha sangat mudah, tapi om mau balas dengan cara lain."
"Caranya?"
"Kita lakukan dengan cara saling menguntungkan, keinginan om tercapai, kamu juga puas."
"Caranya?"
"Kamu balas omong kosong Likha yang seolah mencintainya, buat dia benar-benar mencintai kamu, setelah itu kamu tinggalkan dia, salah satu hal yang menyakitkan yang dia rasa mengetahui kamu menikah dengan Fanny."
"Buatlah dia merana, dan kamu berbahagia dengan Fanny." tambah ibu Fanny.
"Sampai kapan kamu hidup seperti ini Kak? Aku akan memberikan kehidupan yang mirip dengan kehidupan lamamu, bukan cuma itu, jika bersamaku, ibu Kakak sangat bahagia."
Davi teridiam, dia teringat percakapan Eren dan Likha saat dia akan membeli rujak, saat itu Likha sangat jelas mengatakan akan meninggalkan Davi setelah dia melahirkan. Dia mencuri start meninggalkan Likha, lumayan untuk membalas rasa sakitnya, walau masih belum sepadan. Ide Malik juga sangat jitu, Likha terus membual mengatakan cinta, membalas bualan itu juga sesuatu yang menyenangkan
Davi menatap sendu pada Fanny, wanita ini jauh lebih cantik dari Likha saat ini. Kehidupan bersama Fanny juga lebih baik. "Aku setuju, tapi dengan syarat."
"Syarat apa?" Fanny sangat bahagia, akhirnya keinginnanya memiliki Davi akan segera terwujud.
"Jangan menuntutku untuk membalas cintamu, aku tidak yakin bisa. Bahkan saat ini aku tidak ingin mencintai lagi."
"Aku tidak akan menuntut cintamu, cukup bisa memilikimu saja." Fanny berlari kearah Davi dan memeluknya.
"Kita pulang ke rumah tante Ingrid sekarang, kita nikah siri malam ini juga sebelum kamu berubah pikiran!" pinta Fanny.
"Aku masih kerja," sahut Davi.
__ADS_1
"Mengundurkan diri sekarang, bilang orang tuamu menerima mu kembali," saran Malik.
Malam itu juga Davi mengundurkan diri bekerja pada Ronny, dia jujur pada sahabatnya kalau akan menikah dengan Fanny.
"Menikahi Fanny bukan pilihan yang baik, Davi. Kamu tahu sendiri bagaimana Fanny, jika menginginkan sesuatu dia berusaha sekuatnya, namun jika bosan dia membuang begitu saja."
"Aku tahu bagaimana Fanny. Hidup dengan Likha terasa hambar, dengan Fanny pun begitu, tapi kembali pada Kia juga aku sadar diri, sekeras apapun usahaku, tidak akan membuatnya mau kembali padaku. Hidupku saat ini kosong di mana saja aku berada, saat ini bersama Fanny menurutku sedikit lebih baik."
Ronny tidak bisa membantu lagi, tidak ada yang bisa dia lakukan pada mobil yang rusak parah, begitu juga peribaratan Davi saat ini. Sebelum pergi Davi berpesan pada Ronny jika Likha mencarinya ketempat itu, cukup katakan dirinya mengundurkan diri.
Mobil keluarga Fanny saat ini dikemudikan Davi. Kedua orang tua Fanny duduk di belakang, sedang Fanny duduk di samping Davi dan menyadarkan kepalanya di bahu Davi.
"Kapan surat ceraimu sama Kia keluar?" tanya Malik.
"Mungkin beberapa minggu lagi om."
"Jangan om lagi, papa." koreksi Fanny.
"Aku belum terbiasa," sahut Davi.
"Rafa, apakah itu--"
"Siapa yang bisa kuat melihat seseorang yang merenggut kehormatan putrinya bernapas bebas?!" ucap Malik kesal.
"Maafkan aku Kak Davi, aku tidak murni lagi," ucap Fanny lirih.
"Maafkan aku juga, aku hanya orang bodoh yang tidak punya pendirian," ucap Davi.
"Sudah-sudah, lupakan masa lalu kalian, kedepan kalian harus hidup bahagia."
Di kediaman Inggrid keadaan terasa hangat, Ingrid sangat bahagia akhirnya mimpinya bisa terwujud juga. Setelah kata Sah di ucap kedua saksi, mereka semua semakin ceria.
Davi dijamu hangat oleh ibunya, bermacam makanan enak yang lama tidak bisa dia makan, akhirnya bisa dia cicipi lagi.
Sedang di sisi yang lain.
Likha sangat gelisah, dia terus bergerak ke kanan dan ke kiri, mencari posisi berbaring yang enak. Kandungan yang semakin besar membuatnya merasa sangat gerah. Baju dastarnya saat ini basah oleh keringat.
"Mama ..." panggil Likha.
Kamar ibunya dan kamarnya hanya disekat kasiboard. Suara Likha pun jelas di dengar Eren.
"Sudah malam, tidur!" omel Eren.
__ADS_1
"Ma ... perasaanku nggak enak."
"Mending perasaanmu yang nggak enak, lah mama hidup mama nggak enak!"
Ibunya tidak peduli padanya, rasanya Likha merasa sendiri di dunia ini. Likha bangun dan meraih handphonenya, dia menekan panggilan pada nomor Davi. Berulang kali Likha terus menelepon Davi, namun tetap saja panggilannya tidak diangkat Davi.
"Mas ... sesibuk apa kamu? Kenapa tidak bisa menjawab satu pesanku, tidak bisa menerima satu panggilanku. Aku kangen kamu mas ...." gumam Likha.
Likha melirik jam pada layar handphonenya, terlihat angka 00.01 Likha kembali berusaha menghubungi Davi. Tetap saja, nomor yang dia tuju tidak bisa dihubungi.
Apa kamu udah tidur ya mas? Padahal jam segini kamu sudah selesai bekerja.
Sedang di kamar Davi yang ada di rumah Ingrid. Kamar itu dihiasi banyak bunga-bunga segar, Ingrid menyulap kamar itu menjadi kamar pengantin. Taburan bunga mawar merah yang membentuk simbol hati yang ada di kasur sudah tidak berbentuk. Kelopak bunga itu sudah tersebar tidak beraturan karena goncangan hebat di tempat tidur itu.
"Istri kamu telepon," ucap Fanny terbata karena serangan Davi.
"Handphoneku sudah ku silent. Biarkan saja." Davi fokus dengan kegiatannya. Ini rasa yang hilang yang dia temukan lagi.
Handphone Davi terus menerus berkedip, sedang Davi terus menerus melakukan kegilaannya. Davi melewati malam panasnya bersama istri baru, di kamar indah, kasur empuk dan ruangan yang ad pendingin udara. Sedang Likha gelisah di sebuah kamar kecil dan pengap, beralaskan kasur tipis, dia terus memikirkan Davi sepanjang malamnya.
Keesokan harinya, wajah Davi dan Fanny begitu berseri, melihat menantu impiannya itu, Ingrid terus menggoda Fanny.
"Bagaimana malamnya?"
"Ibu apaan sih." Wajah Fanny seketika bersemu merah.
Ingrid menoleh pada Davi. "Karena kamu mewujudkan mimpi ibu, ibu memenuhi janji ibu. Nanti siang kamu ke kantor Bapak, petinggi perusahaan akan rapat tentang perubahan kepemimpinan perusahaan Bapakmu."
"Tidak perlu bu, papaku sudah mempersiapkan perusahaan yang akan Davi pimpin," sela Fanny.
"Bu, maafin Davi selama ini hanya bisa bikin ibu kesal." ucap Davi lirih.
"Ibu maafin, apalagi sekarang ibu sudah bahagia punya menantu seperti yang ibu harapkan." Ingrid langsung memeluk Fanny.
Kehidupan lama Davi benar-benar kembali, walau saat ini dirinya masih tinggal di rumah ibunya. Setidaknya dia menghabiskan waktunya di ruang ber ac dan memijat laptop, bukan dengan lap di tangannya. Tapi hatinya tetap kosong, di dalam sepinya wajah Kia dan Rachel terus menari dalam pikirannya.
Sudah hari ketiga Davi pergi, Likha terus memandangi jalanan menanti kepulangan Davi. Sesekali dia mengirim pesan lagi, walau tak satu pun pesannya yang dibalas Davi.
"Ibu berpikir, jangan-jangan Davi kabur karena nggak kuat hidup melarat sama kamu," ucap Eren.
"Mama ...."
"Pasti dia sedang mengemis untuk kembali pada Kia," ucap Eren.
__ADS_1
"Andai Davi mengemis pun Kia tidak akan kembali padanya!"