Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 78


__ADS_3

Likha di Rumah Sakit sendirian, saat ini Eren mengatar jasad bayi yang begitu tampan itu keperistirahatan panjangnya. Saat Eren kembali, Likha masih terlihat sangat terpukul.


"Sudah ikhlaskan anak itu, sangka baik saja mungkin dia tidak mau hidup melarat bersama kalian sekarang, sebab itu dia memilih surga. Kamu tahu sendiri kan di alam rahim jika bayi tidak menerima takdir yang tertulis, maka dia tidak akan hidup, ya salah satunya meninggal dalam kandungan saat ini."


"Handphone aku mana ma, aku mau telepon Davi."


"Davi sedang memperbaiki nasib kita, beri dia waktu Likha."


"Aku mau telepon dia."


Eren mengalah, dia memberikan handphone Likha. Sedang Likha ssgera menghubungi Davi, puluhan kali panggilannya tidak diterima Davi juga. Jemari Likha menari bgitu lincah di atas keayboard menuliskan pesan untuk Davi.


*Mas! Angkat telepon aku, jangan anggap panggilan aku mainan, kamu bahagia karena merasa aku khawatirkan, saat ini bukan saat yang tepat merasa seperti itu, aku sangat sedih mas, anak kita udah nggak ada. Pulang mas, aku butuh kamu.


Pesan terkirim, tapi tidak di baca oleh Davi, air mata Likha terus bercucuran, saat dia butuh suami, suaminya malah tidak bisa dia hubungi.


3 hari berlalu, Likha benar-benar merasa kosong, rasanya dia tidak hanya kehilangan buah cintanya, namun juga kehilangan cinta yang menyemai benih itu. Rasa rindu, rasa kesal dan marah berkecamuk dalam hatinya. Setelah kembali ke kontrakan, Kia lebih sering melamun.


Apartemen Fanny.


Selama 3 hari keduanya terus menggila di kamar itu, rasanya dunia benar-benar dihuni oleh mereka berdua saja. Matahari semakin condong ke arah barat, Davi dan Fanny keluar dari kamar mereka dengan pakaian lengkap. Petualangan gila itu akhirnya selesai.


"Kak, Kakak pulang dulu saja ke rumah Likha, kalau Kakak pulang saat ini aku tenang karena dia tidak bisa melayani Kakak."


"Andai dia bisa pun, aku malas. Aku tidak tertarik padanya, melihat wajahnya aku terbayang semua omong kosong dia dalam chat pribadi dia dengan Rafa."


"Jangan begitu, Kakak harus kembali, tapi cari waktu yang tepat supaya dia tidak curiga saat Kakak tidak mau menyentuhnya."


Davi teringat handphone Rafa, bagaimana bisa hanya ada 1 chat dan 1 kontak tersisa. "Handphone Rafa, itu pekerjaan anak buah papa Malik?"


"Apa lagi? Kalau tidak di hapus semua kontak dan chat yang lain kecuali nomor Likha, Kakak tidak akan tahu kejutan itu. Kakak sangat benci padaku, bagaimana caraku membuka mata selain dengan cara itu?"


Davi tersenyum dan memeluk Fanny. Walau tak memiliki rasa, setidaknya hidupnya lebih baik. "Kamu terbaik sayang."

__ADS_1


"Udah dulu ah, Kakak pulang dulu sana, lanjut drama ku menangis."


"Aku nggak mau pulang ke sana, melihat wajahnya aku sangat benci!"


"Kakak harus pulang, selain demi lancarnya misi kita, aku juga mau keluar Negri sebentar selesaikan beberapa pekerjaan, setelah itu aku tidak akan keluar negri lagi, selamanya aku akan berada di bawah ketek Kak Davi."


"Janji hanya seminggu?"


"Janji sayang." Fanny sangat bahagia karena Davi merasa keberatan dia tinggal.


"Semoga aku kuat puasa, kamu itu sekarang jadi candu aku." Davi menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Fanny dan melukis polkadot merah di sana.


Wajah Fanny seketika menghangat, dia sangat bahagia jika Davi seperti ini padanya.


"Sampai ketemu satu minggu lagi Kakak."


Ciuman Davi menjalar ke sisi wajah Fanny. "Aku jemput nanti mau?" bisik Davi.


"Nanti ada yang lihat."


"Mau Kakak gimana aku siap."


Sepasang pengantin baru itu harus berpisah. Fanny bersiap kembali ke luar Negri, sedang Davi kembali ke kontrakan Likha dengan mobil yang dibelikan oleh Fanny. Sesampai di kontrakan Likha, Davi disambut tatapan sinis wanita yang dia benci itu.


"Bagus ... istri menderita karena keguguran kamu keluyuran tidak bisa dihubungi!" sambar Likha.


"Aku buru-buru pulang setelah baca pesan kamu kalau kamu keguguran, tapi ini sambutan kamu?"


Davi meneteskan air mata buayanya. Rumus yang dia pakai jika menghadapi pembohong maka kebohongannya harus lebih buruk, tipuannya juga harus lebih tinggi. Karena melawan orang gila kita hari lebih gila dari orang itu.


"Ada apa ini? Suami pulang bukan disambut tapi malah disembur sama omelan!" Eren muncul dan langsung membela Davi.


"Aku sedih mah, 3 hari ini aku bekerja keras agar kehidupan kuta semua bisa lebih baik, tapi apa sambutan anak mama. Dia merasa paling menderita karena kehilangan anak, apa dia tidak tahu betapa menderitanya aku!? Aku harus bekerja sedang hatiku risau memikirkan istriku yang pastinya butuh aku."

__ADS_1


"Kerja apa sih kamu mas! Masa nerima telepon aja nggak bisa!" teriak Likha.


"Aku bekerja di sebuah perusahaan! Kerjaku tidak boleh pakai handphone pribadi selama jam kerja, puas kamu!"


"Malam ini aku cuti, tapi kamu malah sambut aku begini, aku kecewa."


Davi ingin pergi, namun Likha langsung menahannya. "Maafin aku mas. Aku begini karena aku terlalu cinta sama kamu, aku hanya ingin kamu sepanjang waktu bersamaku."


Davi memutar bola matanya mendengar kalimat Likha. Sangat malas berurusan dengan Likha, namun jika pergi begitu saja tidak sepadan dengan derita yang Likha sebabkan dalam hidupnya.


"Jika bisa memilih, aku rela makan nasi sama garam asal kamu seoanjang waktu bisa aku peluk." Likha menagis tersedu dan masuk kedalam pelukan Davi.


Wajah Eren seketika masam mendengar ucapan Likha.


Semoga itu hanya rayuannya saja, bukan kata dari hatinya. Enak saja milih hidup melarat asal terus sama Davi, mending hidup enak walau suami selalu sibuk kerja.


Eren segera pergi dari sana, memberi waktu pada Likha untuk bermesraan dengan suaminya.


Davi melepaskan pelukannya pada Likha, dia memegang kedua tangan Likha dan menatap langsung sepasang mata yang masih berair mata itu.


"Ingat janji aku, aku ingin bahagia in kamu. Aku tengah berjuang sayang. Fahami keadaanku, kamu sangat tahu bagaimana kesibukanku dulu, saat ini malah lebih parah karena aku hanya buruh. Masalah anak, jangan terlalu dipikir, kita bisa bikin lagi." Davi mentoel hidung Likha dan mengedipkan sebelah matanya.


Wajah Likha seketika bersemu merah, bikin anak lagi? Ini hal yang sangat dia inginkan, sudah lama dia tidak melakukan itu bersama Davi. Namun keadaanya saat ini membuatnya harus menahan keinginannya.


"Ke kamar yuk ...." Davi memasang wajah genitnya.


"Nggak bisa mas, habis turun mesin."


Davi mengusap wajahnya pura-pura menyesal karena lupa keadaan Likha. "Maafkan aku, aku terlalu rindu sama kamu, untuk aku sibuk kerja, kalau nggak kerja aku bisa gila menahan semua ini."


"Mas mau aku buatin sesuatu?"


"Nggak perlu, mas mau istirahat saja. Mas capek banget lembur setiap malam." Davi mengambil dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang pada Likha. "Terserah kamu buat apa, saat ini cuma segini yang bisa mas kasih."

__ADS_1


Likha menatap sedih lembaran uang yang dia pegang, sebelumnya uang sulit namun dia bisa bersama Davi setiap menit, saat ini? Dia merasa Davi menjauh darinya.


Sedang di balik tirai kamar yang satu, mata Eren seketika berubah hijau melihat lembaran yang Likha pegang. Apalagi saat ini di depan rumahnya terparkir mobil.


__ADS_2