
Melihat Rachel mau melepaskan pelukannya, Kia merasa lebih baik. Dia berusaha mengendalikan perasaannya yang hampir terbang jika mengingat momen Indra menyuapinya. "Rachel tadi kenapa lari dari mobil, kan jadinya Rachel celaka karena nggak hati-hati."
"Tadi Rachel lihat Ayah, Rachel sudah teriak panggil Ayah, tapi Ayah tetap pergi." Air mata itu kembali membasahi pipi Rachel. "Ayah udah nggak sayang Rachel ...." jeritnya.
Terjawab sudah pertanyaan Kia, benar dugaannya Rachel melihat Davi mengantar Nanda ke Sekolah.
Misye melupakan Indra, niat ingin mengejek Kakaknya lenyap begitu saja, mengingat Davi lebih memperhatikan anak tirinya membuat luka lamanya kembali menganga.
Tiba-tiba Azriel mendekati Rachel, dan mengusap pundak temannya itu. "Aku juga dulu sedih karena papaku pergi dan nggak sama aku lagi, tapi kata om Indra jauh dari papa bukan berarti papa ngga sayang, justru kita akan dapat kasih sayang yang lebih banyak lagi. Aku merasa kehilangan papaku, tapi aku merasakan kasih sayang dan perhatian seorang papa dari om Indra."
"Bukan hanya itu, kata om Indra aku nggak boleh sedih hanya merasa rindu 1 orang, karena itu membuat semua orang sedih. Ingat nggak cuma papa yang sayang sama kita, masih banyak yang sayang sama kita!"
Rachel langsung memandangi semua orang yang ada di ruangan itu. Dia menyadari kesalahannya, dia membuat banyak orang sedih karena amukannya yang menginginkan Ayahnya. Tanpa mereka katakan, Rachel sangat tahu kalau Bunda, Luna, oma dan opanya menyayanginya.
Rachel menatap kearah Indra, tatapan sepasang mata yang masih tersisa air mata itu bagaikan sinar matahari yang membuat es batu meleleh. Tatapan Rachel membuat sekujur tubuh Indra terasa lemas.
"Apa aku juga bisa dapat kasih sayang seorang Ayah dari om Indra?" tanya Rachel.
Dorrr!
Rasanya sebutir peluru melesak menembus jantung Indra.
"Jangankan kasih sayang, jadi papa beneran buat Rachel om Indra juga mau," sambar Misye.
"Misye!" ucap Kia dan Indra bersamaan.
"Memang jodoh," ucap Misye.
"Kami sangat menyayangi Rachel, tapi untuk urusan Ayah, kami tidak bisa bantu," ucap Herman.
"Aku benci Ayah, Ayah jahat!" gerutu Rachel.
"Sama! Papaku juga jahat, dia hanya sayang anak barunya!" gerutu Azriel.
"Nggak boleh gitu, kita tetap sayang papa walau papa jahat," ucap Misye.
"Mama nggak jelas, bukannya kata mama kemaren anggap aja papa udah mati."
Misye langsung menutup mulut putranya.
"Emmm ... ternyata dia mengajarkan ajaran sesat pada Azriel," ledek Indra.
Rachel terlihat semakin membaik, ucapan Azriel yang mengatakan masih banyak yang sayang padanya selain Ayah, membuat Rachel teringat segala hal yang dia lewati bersama ibunya sebelumnya saat ke pasar dan ketempat wisata.
__ADS_1
Rachel meminta turun dari pangkuan Kia, dia menoleh pada Azriel. "Ziel, kamu bawa perlengkapan mewarna?"
"Bawa." Azriel langsung membongkar isi tasnya.
"Kita mewarna bareng yuk."
"Ayuk!"
Mereka semua duduk santai di sofa sambil memperhatikan Rachel yang asyik mewarnai buku bersama Azriel.
Pintu ruangan kembali terbuka, terlihat Nabila dengan wajah lelahnya memasuki ruangan itu, dia mengabaikan para orang dewasa yang memandanginya, Nabila terus berjalan mendekati Rachel.
"Gimana keadaan Rachel?" Nabila mengusap lembut bahu anak itu.
"Di sini masih sakit sama kaki, selebihnya aku baik."
Senyuman Rachel membuat Nabila yakin anak itu benar-benar baik.
"Aunty Nabila panik ya?" tanya Rachel.
"Paniklah, kan Aunty sayang banget sama Rachel."
Senyuman Rachel semakin lebar, benar adanya banyak yang sayang padanya. Tidak masalah mengihklaskan 1 orang yang tak lagi sayang padanya. "Kalau sayang, peluk dong." Rachel membuka kedua tangan meminta Nabila memeluknya.
Nabila langsung memeluk Rachel dan mengusap lembut punggung anak itu. "Rachel yang pintar ya sayang, kasian bunda kalau Rachel kenapa-napa, kebahagiaan bunda itu cuma Rachel."
Mendengar perkataan Rachel, Kia sangat bahagia, dia langsung memeluk orang yang berdiri di sampingnya.
"Bunda emang suka iri sama aku, aku peluk Aunty, bunda nggak mau kalah malah peluk om Indra!" omel Rachel.
Kia langsung melepaskan pelukannya, dia sangat yakin dari tadi yang berdiri di sampinya adalah Ayahnya.
"Sebentar lagi kenaikan kelas, Rachel nanti gimana sekolahnya?" tanya Azriel.
"Pakai tongkat lah!" tiba-tiba Luna datang membawa sepasang kruk.
"Enggak mau!" jerit Rachel.
"Kalau nggak mau pakai tongkat, ya pakai kursi roda." ejek Luna.
"Aku nggak mau juga."
"Gimana kalau om gendong? Jadi setiap pergi dan pulang sekolah, om Indra yang antar jemput Rachel. Di kelas Rachel mau apa tinggal suruh Azriel, kan mama dia yang buat Rachel begini," ucap Indra.
__ADS_1
"Kalau digendon om aku mau." Rachel semangat, kini pandangannya tertuju pada Kia.
Tatapan itu membuat Kia sangat tidak nyaman. Sudah berkali-kali perkataan anaknya membuatnya terjebak dengan perasaannya sendiri.
"Bunda jangan iri ya, nanti lihat aku digendong om Indra, bunda juga pengen."
Kia mengusap kasar wajahnya, tepat seperti dugannya, perkataan Rachel sungguh ajaib.
"Rachel, kalau om Indra jadi papa Rachel, Rachel mau?" tanya Misye.
"Eh kita latihan gendong dulu yuk Rachel, kan selagi di Rumah Sakit Andai om nggak sengaja jatuhin Rachel, om nggak perlu bawa Rachel ke Rumah Sakit lagi, kan kita masih di sini." Indra mendekatkan punggungnya pada Rachel.
"Ih om! Om mau jatuhin aku ya!" Rachel memukul punggung Indra.
"Enggak, kata om kan seandainya."
Rachel kesal, tapi dia berusaha naik ke punggung Indra. Dengan batuan Nabila, Rachel berada di punggung Indra.
"Tak gendong, kemana-mana," nyanyian Indra.
"Ah ... nggak asyik!" gerutu Rachel.
"Gendongan om nggak enak?" Indra memastikan.
"Bukan om, tapi ada selang infus, bikin susah gerak jauh."
"Siapa bilang susah, sini kita bisa kemana-mana, om Indra gendong kamu, aku yang dorong ini." Azriel turun dari tempat tidur dan mendorong tiang infus, agar Rachel bisa kesudut mana saja dia mau.
"Ih ... masih nggak bisa jauh!" Rachel mengisyarat pada colokan listrik mesin persegi yang menempel di tiang infus, mesin yang mengatur turunnya cairan infus.
"Sudah dulu latihannya, makanya Rachel cepat sembuh ya biar bisa om gendong kemana-mana." Indra kembali menurunkan Rachel ketempat tidurnya.
***
Rumah yang menjadi tempat bernaung Davi dan Likha tidak setenang sebelumnya, tangisan Nanda yang kepanasan karena tidak ada pendingin udara memekak telinga. Kepala Davi semakin stres, beban bertambah sedang pekerjaan belum ada. Davi meraih kunci motor dan helm.
"Mau kemana kamu?! Motor itu mama beli buat antar jemput Nanda sekolah! Bukan buat wara-wiri kamu!" sembur Eren.
"Aku mau cari kerja ma, kerja kantoran sulit, mungkin ada lowongan di cafe sahabatku."
"Owh, bagus. Sana pergi jangan kembali kalau belum dapat uang!" omel Eren.
Likha kesal mendengar makian ibunya, dengan susah payah dia bangun dan mendekati Davi. "Jangan diambil hati perkataan mama ya."
__ADS_1
"Enggak, mama juga benar." Davi mengusap sisi kepala Likha dan mendaratkan ciuman diantara kedua alis Likha. "Mas pergi ya."
"Hati-hati mas."