
Harapan Davi untuk memperbaiki rumah tangga bersama Kia sangat jauh, alasan Kia diam ditempat tanpa keputusan bukan karena masih ada rasa cinta, tapi hanya karena Rachel. Davi terus berkendara di jalanan, memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Deringan khusus handphonya terus terdengar, Davi tidak menghiraukan panggilan dari Kia. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menerima panggilan. Mendengar Kia memintanya kembali hanya demi Rachel, perasaan Davi semakin hancur. Dia menutup panggillanya dan melempar handphonenya.
"Jika aku mati, kamu tidak kesulitan lagi untuk menjelaskan pada Rachel saat dia bertanya tentang Ayahnya." Davi menabrakan mobilnya ke beton pembatas jalan yang tinggi, seketika mobil yang dia kendarai terbalik berkali-kali di jalanan sepi.
Sontak hal ini menarik perhatian pengguna jalan yang lain, beberapa menit kemudian jalan semakin ramai saat kedatangan beberapa mobil kepolisian, ambulan, dan dinas terkait.
Di kediaman Kia.
Kia berjongkok memunguti serpihan apel gigit yang terburai. Menarik napas dalam, berusaha memahami emosi putri kecilnya.
"Rachel mau marah sam bunda boleh, mau nangis sekuat Rachel silakan. Tapi bunda sedih, Rachel sudah berani menghancurkan benda. Rachel tau sendiri benda itu harus kita dapat dengan bekerja. Rachel begini, sama saja menghancurkan kerja keras bunda."
Ceklak!
Pintu kamar itu kembali terbuka, terlihat wajah Rachel dengan mata bengkak. Anak manis itu menangis sambil memeluk celengannya.
"Maafin Rachel ...." isaknya. Anak manis itu menyesal karena menghancurkan handphone ibunya.
Kia melepas kembali puing apelnya, dan memeluk putrinya. "Maafin bunda juga."
"Rachel ganti handphone bunda dengan uang tabungan Rachel."
Kia berjongkok di depan putrinya. "Terima kasih, bunda bangga dengan tanggung jawab Rachel. Tapi bunda tidak butuh ganti dari Rachel, bunda hanya ingin Rachel janji sama bunda. Janji tidak akan merusak barang orang lain saat menangis, dan janji tidak menyakiti diri sendiri."
"Rachel Janji bun."
"Menangis boleh, merusak dan menyakiti diri sendiri mau pun orang lain itu nggak boleh ya sayang."
Rachel kembali memeluk Kia. "Maafin Rachel bun ...."
"Iya bunda maafin, tapi bunda minta syarat boleh?"
"Apa bunda?"
"Rachel harus pergi sama bunda, temanin bunda sarapan, sama temanin bunda cari handphone."
"Baik bun."
"Nangisnya udahan apa belum?"
"Udah bun, capek."
**
__ADS_1
Kia merasa lega, akhirnya anaknya bisa berhenti menangis, dan mau menemaninya keluar. Setelah mengisi perut mereka di sebuah restoran, Kia menuju tempat penjualan apel untuk membeli penunjang usahanya itu.
Sedang di sisi lain.
Rumah Sakit tempat Davi di rawat. Para petugas kebingungan, karena nomor yang Davi simpan dengan nama 'my love' tidak bisa dihubungi.
"Bagaimana ini? Nomor istri korban tidak aktif, sedang korban harus segera mendapat tindakan medis," keluh salah satu perawat.
"Cari lagi kontak lain yang ada di riwayat panggilan korban, siapa tahu ada orang tua atau apalah itu," usul perawat yang lain.
Yang memegang handphone Davi berusaha mencari kontak yang disimpan dengan nama yang mendekati kalau itu bagian keluarga.
"Ada kontak dengan nama Bapak Y, dan Papa Herman!" seru perawat.
"Coba hubungi salah satu, kalau tidak menerima, hubungi nomor kedua."
Perawat itu memutuskan menghubungi nomor Pak Yudi. Beruntung nomor yang mereka tuju langsung menerima panggilan mereka.
"Selamat pagi," sapa di ujung telepon.
"Selamat Pagi Pak, mohon maaf Pak, kami izin mengganggu waktunya sebentar. Apakah Bapak mengenal Davian Alamsyah?"
"Itu nama anak saya."
"Baik, saya akan segera ke sana."
"Secepatnya ya Pak, kami harus mengambil tindakan yang harus disetujui pihak keluarga demi keselamatan pasien."
Pagi yang tenang seketika menjadi pagi yang mencekam, Pak Yudi dan sang istri segera ke Rumah Sakit. Mereka sangat syok melihat keadaan Davi saat ini.
"Ada keluarga pasien yang datang selain kami?" tanya Pak Yudi.
"Kami berusaha menghubungi nomor istrinya, tapi tidak terhubung," ucap salah satu perawat.
"Kalian berdua siapanya pasien?" tanya salah satu petugas medis yang lain.
"Kami berdua orang tua Davian Alamsyah, dok." ucap ibu Davi.
"Saya Pak Yudi, dan ini Ingrid istri saya," terang Pak Yudi.
Dokter menjelaskan keadaan Davi, dan meminta orang tua Davi menyetujui surat persetujuan operasi yang akan mereka lakukan pada Davi.
"Apakah keadaan anak saya parah dok?" tanya Pak Yudi.
"Beruntung mobil anak Bapak keamanannya canggih, sehinga kecelakaan berat yang dia alami, tidak membuatnya mengalami cedera yang sangat serius." Dokter menjelaskan keadaan Davi, yang harus mendapat penanganan medis walau keadaanya tidak terlalu parah.
__ADS_1
"Lakukan yang terbaik untuk anak saya dok," pinta Pak Yudi.
Melihat tim dokter memasuki ruangan, Ingrid menarik suaminya ke pojokan sepi. "Davi kecelakaan, Kia malah tidak ada di sini!"
"Mungkin dia sibuk, dengar sendiri pihak Rumah Sakit sudah menghubungi Kia, namun tidak terhubung." Pak Yudi tidak menyalahkan Kia karena tidak ada di sini, dia sangat memahami bagaimana perasaan wanita itu. Rasa sakit yang anaknya berikan pada Kia, tentu tidak akan bisa dia lupakan sepanjang hidupnya.
"Ibu mau telepon Kia!" Ingrid berusaha menghubungi Kia, sama saja. Nomor yang dituju sedang tidak aktif.
"Yang tenang bu, mungkin Kia diperjalanan menuju Restorannya. Begini saja, biar Bapak utus orang suruhan Bapak mencari Kia di rumahnya dan juga restorannya."
"Sana cepat, istri macam apa ini, suami kena musibah dia tidak bisa dihubungi!" gerutu Ingrid.
Anakmu yang salah, dia yang menciptakan musibah besar pada keluarganya, batin Pak Yudi.
Davi mulai mendapatkan penanganan medis, Ingrid terlihat cemas, dia kembali fokus pada handphonenya.
"Mau telepon siapa?" tanya Pak Yudi.
"Telepon orang tua Kia!" omelnya.
Pak Yudi dan istri terlihat sangat kalut, beberapa menit yang lalu utusan Pak Yudi memberi kabar kalau Kia tidak ada di rumah, mau pun Restorannya.
"Apa mereka punya masalah Pak? Tidak seperti biasa Kia sesulit ini dihubungi!" keluh Ingrid.
"Apa yang terjadi pada Davi jeng?
3 orang yang baru saja datang bagai angin segar yang menyapa relung hati Ingrid dan Yudi, mereka terlihat lebih tenang melihat keluarga besan mereka datang.
"Davi kecelakaan Jeng, saat ini menjalani operasi," sahut Ingrid.
"Kia mana?" Fuza tidak melihat putrinya di sekitar sana.
"Ini dia jeng, sejak tadi kami berusaha menghubungi Kia, tapi nomor Kia tidak aktif."
"Luna, kamu cari Kakakmu di Restorannya!" titah Herman.
"Percuma Pak, Kia tidak ada di rumah dan tidak ada di Restoran," sela Pak Yudi.
"Luna, apa Kakakmu dan suaminya ada masalah?" tanya Fuza pada anak bungsunya.
"Apa om Yudi sudah cari di sekolah Rachel?" Luna sengaja menghindar dari pertanyaan ibunya. Walau berjanji pada Kia tidak akan menceritakan masalah itu, namun dia tidak mau berbohong pada ibunya.
"Belum, tapi kamu tidak usah ke sana, biar anak buah om saja yang cari Kia di sana," sahut Pak Yudi.
"Tidak semudah itu om, anak buah om akan sulit masuk ke area sekolah. Biar aku saja." Luna segera pergi, dia takut ibunya mengulangi pertanyaan yang sama jika dia tetap berada di sana.
__ADS_1