Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 53


__ADS_3

Kia sampai di hotel lain yang akan mengadakan acara pilihan Ingrid. Baru saja memasuki ballroom hotel itu, mata Kia disambut pemandangan begitu indah. Dekorasi yang menyulap ruangan itu tidak main-main. Kia terpana melihat semua ini. Pantas saja mertuanya tidak menginginkan pesta darinya.


"Eh yang jaga pintu luar siapa?"


"Belum ada, memangnya kenapa?"


"Kenapa ceroboh sih, ingat kata Nona Fanny, jangan sampai ada wanita yang bernama Kia masuk ke ruangan ini sebelum acara."


"Fotonya mana?"


"Dia lupa kasih."


"Dasar ceroboh, ada ratusan orang nama Kia di kota ini, bikin black list tapi nggak cantumin foto!"


Pembicaraan beberapa orang itu membuat Kia melupakan keindahan ballroom ini.


Ada rencana apa ini? Mengapa Fanny melarangku masuk tempat acara sebelum acara dimulai?


Merasa dirinya orang yang dilarang masuk ruangan itu, Kia mengambil masker dari dalam tasnya, dan langsung mengenakannya.


"Ini souvenirnya nggak banget! Nggak sesuai sama tema acaranya! Andai acara nikahan sederhana, okelah pakai ini." Salah satu pekerja memainkan souvenir yang Fanny siapkan.


"Menurut kabar yang aku dengar, Nona Fanny akan menyalahkan semua ini pada menantu yang berulang tahun."


Rasanya Kia mendengar suara geledek di siang bolong saat matahari bersinar terik. Sulit mempercayai enyataan di depan matanya. Ternyata dia memang sudah ditarget untuk dipermalukan, persis seperti dugaan Luna.


Di depan mata Kia terlihat seorang laki-laki dengan setelan jas rapi. Dia begitu sibuk memerintah lewat walkie-talkie yang dia pegang. Saat Laki-laki itu menyimpan walkie-talkienya, Kia mendekat kearahnya.


"Permisi, Anda pemimpin event organizer ini?" sapa Kia.


Laki-laki itu mengamati penampilan Kia dari atas hingga bawah. "Anda orang kantor yang akan menggantikan saya?"

__ADS_1


Kia mematung, pikirannya masih memproses mengiyakan atau jujur tentang dirinya. Tapi jika jujur Fanny penyihir itu berhasil dengan rencananya. "Iya benar sekali, saya ditugaskan untuk mengurus acara ini."


"Bagus! Silakan ambil alih tugas saya. Saya harus segera pergi."


"Baik Pak." Kia tersenyum bahagia.


Akhirnya Tuhan memberinya jalan pada Kia untuk menyelamatkan nama baiknya sebelum namanya dicemari oleh kesalahan yanh tidak dia perbuat. Sedang laki-laki itu langsung meninggalkan ballroom hotel tersebut.


Dengan ilmu yang dia miliki, Kia menambah banyak menu untuk acara nanti malam, bukan hanya itu dia juga menambah souvenir mewah. Waktu Kia seakan disita oleh pekerjaan dadakan hari ini. Demi kelancaran pekerjaannya, Kia memindah tugas para pelayan bayaran Fanny, saat ini hanya ada para pekerjanya yang bekerja keras bersamanya. Semua ini harus dia benahi, sedang dia memiliki waktu hanya hitungan jam.


Matahari mulai meredup, Kia terduduk lemah di salah satu kursi. Semua persiapan seperti yang Kia harapkan. Pandangan Kia tertuju pada tasnya, dia teringat ada set perhiasan berlian yang dia bungkus seadanya. Sebuah ide pun seketika muncul.


***


Acara yang Luna jalankan.


Luna, Nabila, Indra, dan Dharma berkumpul di satu meja. Saat ini suasana mulai hening, anak-anak panti itu beristirahat di kamar yang disediakan untuk mereka. Tidak ada lagi terdengar teriakan mau pun tawa.


Krik! Krik! Krik!


"Bagaimana kalau setelah salam, langsung do'a saja. Misal ya: Selamat ulang tahun tante Ingrid, semoga sehat dan bahagia selalu, semoga segala do'a dan harapan tante segera dikabulkan." usul Nabila.


"Bagaimana kalau harapan tante ingrid kembuat Kak Kia celaka? Kak Nabila lupa, kalau Nyonya Ingrid nggak suka sama Kak Kia?" sambar Luna.


"Iya juga ya."


"Begini saja, anak-anak panti ucapkan selamat ulang tahun secara kompak, terus tulis dikertas kalimat yang akan dibaca sama tante Fuza. Isi doa selamat ulang tahun jeng Ingrid, semoga sehat selalu. Semoga segala harapan dan doa yang baik dan yang dirodhoi sang pencipta, dikabulkan."


"Setuju! Kalau doa dan harapan untuk menyusahkan orang lain kan nggak diridhoi Tuhan!" sambar Nabila.


"Deal gitu do'anya ya? Jujur aku udah malas mikir!" ujar Luna.

__ADS_1


"Iya, itu aja."


***


Kia memesan salah satu kamar hotel di sana untuk merehatkan tubuh dan otaknya yang dia paksa bekerja sepanjang siang. Hingga saat matanya terbuka, ternyata hari sudah gelap. Kia segera bersiap untuk pesta ulang tahun impian mertuanya itu.


Di ballroom hotel.


Davi sangat kesal melihat Fanny ada di acara ibunya, ingin rasanya menarik paksa wanita itu dari ruangan itu. Namun genggaman tangan Kia membuatnya berpikir dua kali. Jika dia menyeret Fanny, sama saja mempermalukan keluarganya.


Tamu undangan semakin banyak yang hadir, dan mereka mengambil tempat ternyaman bagi mereka. Acara band yang diisi oleh penyanyi ternama memanjakan telinga mereka.


"Fanny ... tante nggak nyangka acara yang kamu siapkan semewah ini." Ingrid berputar-putar seperti anak kecil yang terlalu bahagia.


"Aduh jeng, ini pestanya mewah sekali, souvenirnya aduh ...."


Mendengar aduan salah satu tamu, pikiran Fanny sudah saatnya dia memulai rencanya. "Oh, itu Istri Kak Davi yang siapkan, souvenirku masih dalam perjalanan, untung Kak Kia ada ide souvenir pengganti." Fanny begitu bangga, dia tidak sabar menantikan reaksi kecewaan tamu itu.


"Semoga souvenir dari Kia tidak mengecewakan ya jeng, aku tidak bisa berpikir lagi jeng. Di hari bahagiaku ini, besanku malah tidak bisa hadir di acaraku." Air mata buaya Ingrid mulai menetes.


Karena pengakuan Ingrid kalau besannya tidak bisa hadir, menimbulkan desas-desus yang tidak mengenakan, walau kabar perselingkuhan Davi sangat lemah, namun ketidak hadiran kedua orang tua Kia menguatkan dugaan itu.


Inggrid masih sibuk melap air mata bawangnya dengan tisu, dia yakin drama ku menangis yang dia susun bersama Fanny, sukses mempermalukan Kia dan keluarga. Namun band yang mengisi acara tiba-tiba menghentikan permainan musik mereka.


Yes! Pasti ini kekacauan lain yang aku minta sama pegawai EO, batin Fanny.


Sebuah layar besar yang ada di tengah ruangan menyala. Menampilkan sosok Rachel yang menyanyikan lagu 'selamat ulang tahun' dari Gellen Martadinata. Suara merdu Rachel berhasil menarik perhatian semua tamu undangan yang ada di ruangan itu.


Sial anak setan kenapa suaranya bagus sih! Gerutu Fanny.


Lagu Rachel berakhir, anak itu masih tersenyum dan berulang kali mengatur napasnya. "Selamat ulang tahun nek, tiada yang bisa kami beri, hanyalah doa dan rasa cinta kami buat Nenek."

__ADS_1


Saat yang sama kamera yang menyorot Rachel semakin mundur, hingga memperlihatkan semua orang yang ada bersama Rachel. Ucapan selamat ulang tahun dari anak-anak panti pun pecah. Mendengar semua itu, tamu undangan sangat takjub, seketika sangka buruk mereka pada Fuza dan Herman lenyap, dua sosok itu tidak ada di acara Ingrid, karena mereka juga menjalankan acara untuk Ingrid.


Ingrid dan Fanny saling tatap, hanya bisa menyimpan kekesalan dalam hati, karena rencana untuk membuat nama kedua orang Kia buruk, rencana itu gagal total. Walau batin mereka diselimuti kemarahan, kekecewaan, keduanya tetap memasang senyum kearah layar, karena saat ini panggilan video itu masih terhubung.


__ADS_2