
Likha merasa beruntung, karena tubuhnya yang masih tidak menarik membuatnya tidak dilirik pengunjung. Wanita penghibur di tempat ini banyak yang masih sangat muda, sebab itu pengunjung lebih memilih daun muda dan seksi, mereka melewati Likha begitu saja. Namun ini hanya baik untuknya di satu sisi saja, sisi yang lain laki-laki yang mereka panggil Muma itu menatap tajam padanya.
Likha berusaha cuek, dan memasang senyuman palsu, bahasa tubuhnya seolah menarik tamu yang datang, namun dalam hatinya sangat berharap tidak ada yang sudi menyewa jasanya.
Jarum panjang menunjukan jam 5 pagi, Likha satu-satunya yang tidak bisa memberi setoran pada pemilik tempat ini. Muma mengisyarat anak buahnya untuk menyeret Likha, dalam hitungan detik Likha diseret ketempat yang jauh, pojokan gelap dan sepi berada di belakang bangunan itu. Muma mengikutinya dengan kobaran kemarahan yang begitu besar.
"Kasian anak baru itu, semoga dia bisa tetap hidup sampai matahari menampakan cahayanya," ucap salah satu wanita penghibur di sana.
Plak!
Sekali ayunan cambuk mengenai permukaan kulit Likha. Likha menjerit, rasa sakit yang teramat membuatnya tersungkur.
"Saya beli kamu mahal-mahal! Tapi kamu tidak memberi apa-apa pada saya!" Kesekian kalinya cambuk itu mengenai kulit Likha.
"Sudah Muma, kalau Muma siksa dia begini lalu dia mati, Muma semakin rugi besar."
"Iya Muma, kalau tubuhnya memar makin tidak bernapsu pengunjung melihatnya."
"Begini saja Muma, bagaimana kalau kita permak dulu dia, bentuk tubuhnya, jika dia sudah menarik baru kita suruh bekerja?"
"Benar Muma, ku lihat caranya tadi malam saat menarik pelanggan terlihat bagus, sepertinya dia suhu dalam menarik perhatian orang."
"Siapkan tempat untuk mengurung dia agar dia perawatan dan kerja keras memperbaiki bentuk tubuhnya." Laki-laki itu mengajak anak buahnya untuk pergi dari sana.
***
Hari demi hari berlalu begitu saja, setiap orang masih bergelut dengan kesibukan masing-masing. Setelah mengantar Rachel, Kia segera menuju gedung perusahaannya yang baru, sesampai di sana dia disibukan banyak berkas pekerjaan.
"Permisi Bu Kia." Sekretaris Kia mendekat membawa beberapa dokumen.
"Ada apa Syila?"
"Ini ada titipan dari anak buahnya Pak Indra, katanya beliau tidak bisa mengantarkan langsung."
Kia menerima dokumen itu dan memeriksanya. Namun otaknya tidak bekerja untuk memahami dokumen itu, dia terbayang kejadian di pantai, dan Indra pergi dengan rasa kecewa.
Apa aku terlalu jahat sama Indra? Sudah 2 bulan dia tidak menemuiku. Selamat Kia, kamu kehilangan sahabat yang sejak dulu kamu jaga.
Kia menyudahi menatap dokumen itu. "Makasih ya Syil." Kia kembali dengan kesibukan sebelumnya.
__ADS_1
"Ada lagi bu."
"Apa lagi?"
"Di luar ada tamu yang ingin bertemu ibu, namanya Dharma."
Kia tersenyum mendengar nama itu. "Izinkan dia masuk."
"Baik bu."
Dalam hitungan detik, Dharma memasuki ruangan Kia dengan wajah bahagia.
"Bagaimana Dharma? Kamu masih galau memilih ikut sama siapa?"
"Enggak, sudah saya putuskan untuk bekerja sama Nyonya Azzalea Ryzkia," ucap Dharma mantap.
"Aku senang mendengarnya, karena pekerja keras yang jujur dan cerdas seperti kamu mulai langka," puji Kia.
"Anda terlalu berlebihan Nyonya."
"Hei, mana keraguanmu beberapa waktu lalu, yang ragu ingin ikut aku atau Davi? Yang katamu, karirmu saat ini juga karena Davi, dia orang yang mengasah bakatmu hingga aku bisa melihat kwalitas dirimu."
"Selamat bergabung Dharma, posisimu tetap seperti dulu, bedanya kamu menggantikanku jika aku tidak di tempat."
"Siap Nyonya, terima kasih telah percaya pada saya."
"Mau kerja sekarang apa besok?" tawar Kia.
"Besok boleh? Saya mau kencan dulu sama pacar saya."
"Wah selamat, akhirnya udah punya pacar."
Detik yang sama handphone Dharma berdering, dia segera menerima panggilan itu.
"Iya Luna, sabar. Aku lagi pamitan sama bu Bos."
"Luna ...." Kia menyebut nama itu dengan setengah mengejek.
Dharma tersenyum masam, dia segera pergi meninggalkan ruangan Kia sebelum Kia menanyainya siapa sosok Luna. Sesampai di mobilnya Dharma kena pukulan dari kekasihnya.
__ADS_1
"Kenapa tadi kamu sebut nama! Kan Kak Kia jadi nebak itu aku!" Luna terus memukuli Dharma.
"Kan kamu nggak mau dipanggil sayang, kata kamu lebay begitu, coba kalau kamu mau aku nggak akan sebut nama." Dharma membela diri sambil menahan pukulan dari Luna.
Luna menghentikan pukulannya. "Iya juga ya, kalau aku bolehin panggil sayang, jadi kamu nggak perlu sebut namaku." Luna tenggelam oleh pemikirannya. "Kalau di telepon dan Chat boleh panggil sayang, tapi kalau ngomong langsung kek gini, biasa aja."
"Setuju." Dharma bahagia, akhirnya bisa memanggil kekasihnya dengan panggilan sayang.
***
Jam pulang sekolah Rachel, kesibukan Kia harus berhenti, dia selalu meluangkan waktu untuk menjemput Rachel, dan santai sejenak di mana saja tempat yang Rachel pilih. Saat ini Rachel memilih Restoran cepat saji, satu king burger tengah dia nikmati. Sedang Kia menikmati kentang goreng.
"Punya Ayah enak ya bund ...." ucapnya sedikit tak jelas karena mulut yang juga sibuk mengunyah makanan.
"Makan dengan benar, nggak baik mulut penuh tapi sambil ngomong." Kia mengusap sisa saos yang menempel di sisi bibir Rachel.
Rachel berhasil mengosongkan mulutnya, dia menatap sendu pada Kia. "Punya Ayah enak ya bund?"
"Apa enaknya?"
"Ya bunda nggak perlu capek kerja, bunda bisa fokus sama aku."
"Kata siapa kalau punya Ayah kehidupan kita akan begitu?"
"Nggak kata siapa-siapa sih bun, aku hanya melihat kehidupan Aunty Misye saja, sejak dia menikan, Aunty tak sesibuk dulu lagi."
"Tapi bunda nggak ngerasa capek walau kerja, bukannya saat Ayah sama kita bunda juga kerja? Lagian pekerjaan bunda mudah. Walau bunda sibuk, bunda juga tetap ada buat Rachel, fokus sama Rachel, em ... apa waktu bunda buat Rachel masih kurang?"
Rachel tidak bisa menjawab, karena ibunya sangat melimpahinya dengan kasih sayang.
"Sejak Aunty Misye nikah, dan lihat kebahagiaan Ziel, aku juga pengen punya Ayah baru seperti Azriel."
Seketika tenggorokan Kia terasa diikat, dia tidak bisa memberi penjelasan pada Rachel akan keputusannya tetap sendiri.
"Senang lihat Azriel tadi, dia sangat bahagia punya Ayah lagi, saat lomba Azriel sama Daddy dia, dan aku sama om--" Rachel langsung menutup mulutnya, dia melupakan janjinya pada Indra agar tidak cerita pada ibunya kalau Indra yang menemaninya lomba Ayah dan Anak di Sekolah.
"Om?" Kia menatap Rachel penuh selidik.
"Aku lomba nggak sama opa, tapi aku ajak om Indra, kata om Indra boleh tapi jangan bilang bunda." Rachel menunduk, dia merasa bersalah karena membuka rahasia dirinya dan Indra.
__ADS_1