Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 17


__ADS_3

Rasanya tenaga Kia terkuras habis untuk hari ini, namun pekerjaannya belum selesai. Kia meminta pelayan di sana mengantarkan segelas kopi untuknya. Aroma kopi yang menenangkan, Kia menikmati kopinya.


Drtttt!


Pesan aplikasi hijau mendapat pesan dari nomor asing. Kia membuka pesan tersebut, ternyata itu foto kebersamaan Davi dan Likha di tempat Ice cream viral.


"Hedeh ... ada-ada saja tangan manusia, kenapa yang ditangkap hanya Likha dan mas Davi?" Kia menggeleng dengan ulah CCTV amatiran itu, dia mengabaikan pesan itu.


"Pantesan mas Davi menolak, dia sudah tau reseko jika duduk bersama Likha tanpa aku." Kia tersenyum mengagumi kecerdasan suaminya menangkap situasi.


Di sisi lain.


Setelah selesai menikmati ice cream dan makan siang mereka, Davi mengajak Rachel, Likha dan Nanda ke gedung Apartemen Likha, namun mereka hanya membawa anak-anak menuju kolam renang.


Saat ini Rachel dan Nanda sangat asyik bermain air, mereka berdua tidak menyadari kalau orang tua mereka sudah menghilang dari area kolam renang. Tanpa sepengatahuan dua anak kecil itu, Davi membayar pelayan untuk menjaga Rachel dan Nanda.


Davi dan Likha menghabiskan waktu bersama di Apartemen yang dia beli untuk Likha.


"Mas, aku nggak nyangka banget anak-anak suka kolam renang di sini." Likha menyajikan ice cream yang mereka beli sebelumnya.


"Mereka bersenang-senang, kita juga." Davi menikmati ice cream yang ditaruh dipermukaan perut Likha, seperti khayalannya saat masih berada di restoran itu.


"Semakin enak ...." puji Davi.


Keduanya tenggelam dalam kegilaan mereka, melupakan anak-anak yang asyik berenang di bawah. Siang itu Davi habiskan bersama Likha, namun kesenangan mereka harus disudahi, saat pelayan yang menjaga Rachel dan Nanda mengatakan kedua anak itu mencari mereka. Davi dan Likha segera mengenakan pakaian mereka, dan menuju kolam renang dengan jalur yang berbeda muncul di pintu yang berbeda.


"Ayah dari mana? Kok aku sama Nanda ditinggal?" keluh Rachel.


"Siapa yang ninggal? Ayah ke toilet, takut kamu kenapa-napa, Ayah minta mereka jaga Rachel dan Nanda."


"Teyus, mama aku mana?" sela Nanda.


"Mama di sini sayang." Likha langsung membungkus tubuh putrinya dengan handuk. "Bagaimana? Suka berenang?"


"Syuka mama, syelu main syama Kakak Yacel," ucap Nanda cadel.


Di sisi bagian itu Davi dan Likha sangat bahagia. Davi meraih handphone keduanya, dia mengetik pesan untuk Likha.


*Sepertinya alam sangat mendukung hubungan kita, aku merasa Rachel dan Nanda memang ditakdirkan untuk jadi adik-kakak. Siap untuk jadi saudara Kia dalam rumah tangga?


Membaca pesan Davi seketika wajah Likha bersemu merah. Menjadi istri kedua Davi? Ya memang ini tujuannya.


Di belahan itu Davi berbahagia, berbeda jauh dengan hari Kia, lelah pusing, stres dengan pekerjaan, ditambah lagi teror-teror dari nomor baru yang mengirimkan foto-foto kebersamaan Davi dan Likha selama di tempat ice cream viral.

__ADS_1


"Apa mereka terlalu sayang padaku, atau aku target empuk mereka agar mereka mendapat drama ku menangis seri terbaru," gerutu Kia.


Langit kini bewarna hitam pekat, Kia baru sampai di istana mereka. Melihat bagaimana keceriaan Rachel yang menyambutnya rasanya beban yang bertumpu di pundaknya seketika lenyap.


"Rachel bahagia banget bunda, menghabiskan waktu seharian sama Ayah!"


Kia benar-benar bahagia melihat aura keceriaan putrinya. Rachel sangat dekat dengan Davi, kehilangan waktu sedikit saja dengan Davi, dia sangat kecewa. Kia langsung memeluk suaminya. "Terima kasih mas, kamu berhasil menghapus kekecewaan Rachel."


Davi tersenyum dan mendaratkan ciumannya di wajah Kia.


"Rachel tidur dulu ya bunda," pamit Rachel.


"Sudah makan?" tanya Kia.


"Sudah bunda, tadi Ayah beli makanan buat kami, cuma Ayah belum makan kata Ayah, Ayah mau makannya sama bunda."


"Ya sudah, Rachel tidur sana, bunda mau mandi dulu abis itu mau makan sama Ayah."


Setelah Rachel dan Kia menghilang dari pandangannya, Davi mengambil handphonenya dan melakukan panggilan video dengan Likha.


"Sayang ... miss you so much ...." ucap Likha manja.


"Aku juga sayang." Davi mencium layar handphonenya seolah mencium Likha.


"Sayang ... aku punya seragam dinas baru, saat kamu datang nanti kamu mau coba yang mana?"


Likha tertawa bahagia di ujung telepon sana. "Nanti sayang pilih ya, mau seragam kelinci ...." Likha memperlihatkan lingerie kelincinya.


"Atau mau cerita dosen dan mahasiswa? Terserah mau kamu mahasiswa atau dosen." Likha memperlihatkan 2 seragam dinas pasutri itu.


"Kalau aku yang dosen?" Wajah Davi terlihat sangat menginnginkan hal itu.


"Kalau kamu dosen, aku mahasiswa polos yang kamu polosin."


"Kalau aku Mahasiswa?" Davi sulit menyembunyikan hasratnya.


"Kalau kamu mahasiswa, aku dosen yang mengajari kamu." Likha mengisyarat kegiatan panas dengan memasukan jari telunjuknya ke mulutnya.


"Aku benar-benar di ujung ini." Davi merasa aliran darahnya mengalir begitu deras.


"Satu lagi sayang, ada seragam SMA dan SMP." Likha memperlihatkan seragam SMA dan SMP yang berukuran sangat kecil.


"Uhh ... bisa aku liat contoh saat dipakai?"

__ADS_1


Likha meletakan handphone diatas meja, dia mengganti pakaiannya di depan mata Davi.


Di tempat lain, Davi merasa kepala atas dah bawahnya berdenyut hebat melihat Likha seperti itu. Berulang kali Davi mengurut kepala atasnya.


"Ini anak SMA, cocok nggak sayang?" Likha meliukan tubuhnya begitu manja.


"Amm ...."


"Sayang kamu mau makan apa?"


Pertanyaan Kia membuat Davi langsung menutup panggilan videonya bersama Likha. Dia segera menghampiri Kia.


"Aku mau masakan kamu, apa aja."


"Bukannya udah beli kata Rachel?"


"Iya ada, tapi pengennya masakan kamu."


Kia segera menuju dapur mempersiapkan masakan untuk Davi. Davi sendiri segera menyusul Kia, dia setia berdiri di samping Kia, memperhatikan wanita itu memasak. Pandangan Davi tertuju pada masakan Kia, namun pikirannya terus terpusat pada Likha.


Bagaimana menyusul wanita itu, hal ini terus Davi pikirkan. Dia tidak punya alasan untuk keluar rumah, sedang hasratnya terlanjur berkobar begitu besar. Davi merengkuh pinggang Kia, menelusupkan tangannga dibalik gaun mini yang Kia kenakan.


"Mas ... ini dapur bukan kamar kita." Kia terbawa arus yang mulai menyapa saraf-sarafnya.


"Nggak apa-apa, para pelayan sudah kembali ke rumah belakang, Rachel sudah tidur apa yang kamu takutkan?" Davi mematikan kompor, dia membawa Kia ke sudut lain, dan semakin mendalami maksudnya.


Davi menyingkap bagian bawah Kia, dia menggendong Kia dan mendudukannya di meja, perlahan Davi mulai menyatukan diri mereka. Entah mengapa dia susah menikmati kegiatannya saat bersama Kia.


"Sayang ... keluarkan suaranya lebih keras," pinta Davi.


"Aku tidak yakin di sini aman mas," sahut Kia.


"Tolong sayang, aku susah keluar, aku butuh dukungan kamu."


"Pindah ke kamar aja ya, biar aman." usul Kia.


"Aku mau di sini, suasana baru."


Demi suaminya, Kia berusaha mengeluarkan suara lembutnya, lantunan A dan H, terkadang terselip abjad O dan U menemani huruf H, suara Kia seakan menggema di ruangan itu.


"Orang dewasa benar-benar membingungkan!"


Mendengar suara itu sontak Kia dan Davi langsung mengehentikan kegiatan mereka dan melepas persatuan mereka.

__ADS_1


"Ra-Rachel sayang?" Kia gugup, jantungnya semakin berdegup kencang menyadari putrinya melihat sesuatu yang tidak harus dilihat. Kia perlahan turun dari meja dan mendekati Rachel.


"Bunda, makasih sudah masakin Ayah, Ayah bawa kedepan ya masakan bunda." Davi berusaha terlihat normal, dia memindahkan masakan Kia ke piring dan segera pergi meninggalkan dapur.


__ADS_2