Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
69 Perasaan


__ADS_3

Pemeriksaan kehamilan Likha lancar, keadaan janin dan ibunya sehat. Itulah yang dokter katakan setelah melakukan USG. Mereka meminjam mobil Eren hanya untuk ke Rumah Sakit, setelah pemeriksaan kehamilan rutin selesai, Davi segera mengantarkan mobil ke kediaman Eren. Namun pemandangan mengejutkan menyapa indra penglihatan mereka. Di depan rumah Eren, wanita itu berdiri di samping mobil mini bus, terlihat beberapa orang sibuk memasukan barang ke bagasi mobil.


Melihat hal itu Likha panik, dia segera membuka pintu mobilnya, namun detik yang sama ada orang lain juga yang menarik pintu mobil itu. Likha sangat tidak mengerti, namun dia dipaksa keluar dari mobil.


"Mas jangan tarik-tarik! Saya bisa keluar sendiri, kalau saya kenapa-napa masnya saya laporin!" maki Likha.


"Buktinya Anda tidak kenapa-napa bukan? Jangan terlalu drama!" laki-laki itu masuk ke mobil.


Saat Likha mendongakan wajahnya, ternyata Davi juga ditarik paksa dari mobil itu. Sedang dua orang itu pergi begitu saja membawa mobil itu.


"Mama ada apa ini?"


"Kamu mencintai laki-laki yang salah. Ayah Kia menarik semua sahamnya dari perusahaan yang papa Nomad kelola, membuat perusahaan itu seketika terpuruk. Papamu memilih tinggal di rumah anaknya, dan dia harus menceraikan mama agar hidupnya dijamin anak-anaknya. Sedang mama, mau nggak mau harus tinggal sama kalian."


Davi menunduk lesu, menyesal juga saat ini tidak berguna.


"Ayo masuk, kita kembali ke kontrakan kalian."


Nomad lebih beruntung, walau dia terjun bebas ke jurang kenistaan, tapi anaknya masih bersedia menerimanya, sedang Davi? Kedua orang tuanya saja tidak peduli padanya. Bahkan Pak Yudi sampai detik ini tidak bisa dihubungi.


Kontrakan kecil itu seketika terasa pengap, semula rumah itu terasa cukup, namun saat ini terasa sangat sempit untuk 3 orang dewasa dan 1 orang anak kecil.


Tenaga Davi seakan terkuras habis membantu Eren menurunkan barang-barangnya. Dia duduk di teras rumah mengumpulkan sedikit tenaga lagi. Namun kedatangan 2 orang dengan menaiki sepeda motor membuat istirahatnya terganggu.


"Permisi, benar tempatnya ibu Eren?"


"Benar," sahut Davi. Saat Davi ingin memanggil wanita itu sudah muncul dari pintu.


"Motor saya?" Eren memastikan.


"Silakan di cek bu surat-suratnya."


Eren segera memeriksa, setelah terverifikasi, mereka pun pergi. Eren menoleh pada Davi. "Bisa naik motor?"


"Bisa ma."


"Baguslah, kamu segera jemput Nanda ke sekolahnya." Eren memberikan kunci sepeda motor itu pada Davi.

__ADS_1


"Tapi Helmnya nggak ada ma."


"Beli sana, masa bikin!" ucap Eren sinis.


"Masalahnya ...."


Eren langsung memberikan uang pada Davi, dia sangat tahu menantunya itu saat ini sangat miskin. Davi memandang uang yang Eren berikan, rasanya dia berada di titik paling rendah karena tidak mampu membiayai dirinya sendiri, malah harus menerima uang dari orang lain, sedang dirinya adalah tulang punggung.


"Apa bengong! Cepat sana!" maki Eren.


Davi menarik napas dalam, ibunya saja tidak membentaknya seperti ini jika memerintah. Sedang dulu, orang-orang berbicara begitu halus padanya, tidak ada yang berani berteriak padanya kecuali Rachel. Detik itu juga perasaan Davi diikat kuat oleh rasa rindu pada putrinya. Dia semakin merindukan kehidupan lamanya yang mustahil bisa kembali.


"Mas, mama marah kalau mas diam aja gitu, sebelum mama lebih marah, buruan jemput Nanda ya mas."


Davi mengangguk dan segera menuju motor itu. Sumpah demi apa? Motor satpam komplek perumahannya jauh lebih bagus daripada motor yang dia naiki saat ini. Mengingat akan menjemput Nanda, Davi berharap bisa bertemu Rachel di sana.


Kehidupan yang dia pilih sangat menyedihkan. Matahari bersinar terik, sedang dirinya hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans. Kepalanya memakai helm termurah yang bisa dia temukan. Sesekali Davi melirik pergelangan tangannya yang memerah terbakar teriknya sinar matahari.


"Semoga Rachel masih bisa mengenaliku," gumamnya.


Sesampai di sekolahan, Davi menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak? Seorang pemimpin perusahaan saat ini terlihat seperti tukang ojek pangkalan. Desas-desus bisikan para orang tua murid pun sangat menyakiti hatinya.


"Papa Davi?"


Suara itu menarik perhatian Davi. "Ayok pulang, Nenek sama mama nunggu Nanda di rumah." Davi memakaikan helm anak-anak pada Nanda.


"Begini nih korban pelakor, seketika otaknya terbalik! Anak pelakor disayang! Anak sendiri dibuang!"


Davi berusaha tegar walau saat ini dia merasa sangat hancur. Dia membantu Nanda naik keatas motor. Melihat posisi Nanda sudah aman, Davi segera naik ke motor itu. "Pegangan sama papa ya," ucap Davi.


"Davi, ini kamu?" Misye sangat syok melihat keadaan Davi.


Davi sangat tahu bagaimana tanggapan Misye, dia menghidupkan mesin motornya dan meminta Nanda berpegangan. "Aku permisi Misye." Rasanya Davi tidak punya kekuatan lagi untuk menunggu lebih lama di sana, dia mengubur harapannya untuk bertemu Rache, semakin lama di sana, semakin sakit hatinya oleh kalimat-kalimat pedas yang benar adanya.


"Davi tunggu!" teriak Misye.


Namun laki-laki itu tetap melajukan motornya menuju gerbang sekolah.

__ADS_1


"Davi ... aku cuma mau bilang Rachel kecelakaan," gerutu Misye.


Di Rumah Sakit.


Indra masih menyuapi Kia makan. Sedang Rachel perlahan mulai tenang. Namun suara pintu yang terbuka menarik perhatian Indra dan Kia.


"Om Tante." sapa Indra.


"Rachel kenapa?" tanya Fuza.


Sedang Herman tidak bertanya, dia langsung memeriksa Rachel.


"Dia lari dari mobil, dan ketabrak mobil di parkiran sekolah," jelas Kia.


"Siapa penabraknya?" tanya Herman.


"Adik saya om, maafkan Misye." sela Indra. Indra memberikan makanan yang dia pegang pada Fuza. "Bantu Kia makan, tan. Dia kelaparan tapi Rachel nggak mau lepas sama dia."


Fuza melanjutkan menyuapi Kia, sedang Herman berdiri di samping Kia, terus mengusap kepala Kia dan Rachel bergantian.


"Luna mana? Papa mau beri pelajaran tu anak!" gerutu Herman.


"Luna terpaksa kerja, rekan dia yang gantiin juga harus pulang. Sudah pa, Luna nggak salah. Dia sengaja nggak langsung kabarin juga demi kebaikan kita semua, kalau papa ngebut terus kecelakaan, kan derita kami bertambah." ujar Kia.


Pintu ruangan kembali terbuka, terlihat Misye yang datang bersama putranya. "Bagaimana keadaan Rachel?" tanya Misye.


"Mulai membaik, hanya ada bagian kaki yang retak, dan beberapa jahitan di sisi kepala, tapi tidak ada luka yang serius banget," sahut Kia.


"Aku bener-bener nggak sengaja. Maafin aku ...." ucap Misye.


"Maafin Rachel juga, udah bikin kamu susah begini." sesal Kia.


"Oh iya, ini makan siang titipan mama, ayok kita makan sama-sama." ajak Misye.


"Kalian aja, ini aku makan di suapi mama." Kia mengisyarat pada makanan yang hampir habis.


"Ya ampun Kia, manja banget kamu, udah punya anak masih saja disuapin mama!" ucap Misye.

__ADS_1


Tiba-tiba Rachel melepas pelukannya pada Kia. "Bunda selain cengeng juga manja, bukan cuma oma yang suapin, tadi juga di suapin sama om Indra."


Seketika tatapan penuh selidik dari Misye tertuju pada Indra. Sedang Indra pura-pura tidak menyadari tatapan dari adiknya itu.


__ADS_2