Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 37 Aduh!


__ADS_3

Keadaan di ruangan Davi cukup tenang, hingga kedatangan Nabila dan Indra membawa kabar mengejutkan, membuat yang di ruangan itu meradang. Kia baru saja selesai menonton video salam 5 jari yang viral. Kia hanya bisa memijat keningnya mengetahui kejadian ini.


"Kenapa Luna malah bertindak bodoh begini, padahal semua sudah selesai," keluh Kia.


"Apanya yang selesai?" sela Nabila.


"Temani aku menunggu Luna di luar." Kia tidak mau membahas lanjut, dia segera menarik Nabila meninggalkan ruangan itu.


Sedang di kamar perawatan Davi, Indra menangkan semua orang, dia menjamin bahwa video itu akan dia atasi secepatnya.


***


Nabila dan Kia menunggu pintu lift terbuka, kala pintu terbuka, Nabila lega karena tidak ada orang lain, hanya dirinya dan Kia, dia bisa melanjutkan pertanyaannya.


"Apa maksutmu beres?" tanya Nabila.


"Aku memberi mas Davi kesempatan untuk memperbaiki hubungan kami."


"Hubungan kalian nggak ada yang salah! Yang salah tuh otak Davi!" Nabila kesal mengetahui Kia malah memaafkan Davi.


"Penyakit yang paling mudah kambuh itu selingkuh! Hal ini menyebabkan timbulnya tekanan batin! Perlu diingat, tekanan batin tidak ditanggung asuransi kesehatan untuk penangobatannya!"


"Aku meminta mas Davi meyakinkan aku, dan dia telah bersumpah atas nama Tuhan dan atas nama kedua orang tuanya, juga membuat perjanjian hitam putih."


"Para pejabat di sumpah pakai Al-qur'an, demi nama Allah saya berjanji!" Nabila mencontohkan saat orang mengambil Sumpah. "Tidak akan bla! Bla! Bla. Hasilnya? Yang maling tetep aja maling, kagak ingat ama sumpah diri sendiri kalau tidak akan melakukan korupsi dan lainnya."


Kia tersenyum melihat Nabila yang begitu emosi, dia langsung memeluk sahabatnya itu.


"Napa malah meluk! Aku lagi ingetin kalau sekarang sumpah itu kagak ditakutin ama yang bikin, makanya enak banget melanggarnya, kita yang di janjiin dan pegang janjinya yang nyesek!" omelnya.


"Andai Mas Davi tetap melanggar sumpahnya, ya mungkin aku akan merasa sakit, tapi masih besaran rasa sakit dia dari rasa sakitku. Aku berharap Mas Davi benar-benar menyesal dan kuat memegang janji dan sumpahnya."


Nabila masih belum puas melontarkan kemarahannya, namun pintu lift yang terbuka membuatnya harus menahan ucapannya.


"Bunda ...."


Di depan pintu lift ada Rachel, Luna, dan Dharma.


"Eh ketemu kalian di sini." Kia langsung memeluk putrinya.


"Bawaan kamu banyar ya Dharma, sini aku bantu," sela Nabila.


"Terima kasih Nyonya, tapi saya bisa," tolak Dharma.


"Nabila, kamu bantu bawa Rachel saja ke ruangan Ayahnya, pasti Rachel kangen sama Ayah kan sayang?" Kia mengacak gemas rambut putrinya.


"Bunda nakal!" protes Rachel, kesal karena rambutnya berantakan karena keisengan ibunya.


"Sudah sana sama Aunty Nabila, bunda mau cari sesuatu sama Aunty Luna."


Luna merasa tidak nyaman, pasti ada hal serius yang membuat Kakaknya ingin pergi berdua dengannya.


"Oke bunda, sampai jumpa lagi." Rachel mengikuti Dharma dan Nabila memasuki lift.

__ADS_1


Sedang Kia menarik Luna keluar dari Rumah Sakit.


"Parkir di mana mobil kamu?" tanya Kia.


"Di sana." Luna menunjuk arah mobilnya. "Mau kemana Kak?"


"Masuk mobil dulu."


Luna segera membuka pintu mobil, melihat Kia masuk begitu saja, Luna pun mengikuti.


"Kita mau kemana Kak?"


"Kenapa kamu lakukan itu? Kenapa kamu kotori tangan kamu?"


"Kakak tau?" Luna mengerti apa maksud Kia.


"Video kamu menampar Likha viral, bahkan mereka beri judul pelakor gagal."


Luna bergegas mencari handphonenya.


"Percuma kamu cari, sudah ditangani Indra."


"Maaf Kak, aku tidak kuat menahan diri saat dia menampakan wajahnya di depanku."


"Bukankah Kakak selalu ingatkan hindari dia secara halus."


"Sudah kak, dia yang berusaha mengejarku."


"Jika lain kali bertemu dia, anggap tidak melihat dia, walau dia berada tepat di depan matamu. Jangan cemari namamu dengan menyentuh dia."


"Orang licik seperti Likha pastinya dia seorang ratu drama, kamu cubit dia, maka dia akan drama seolah kamu ingin membunuhnya. Sebelum dia punya kesempatan untuk drama dia, jangan beri dia panggung. Drama tanpa panggung tidak akan berjalan."


"Iya Kak, maafin aku."


"Maafin Kakak juga."


"Kak, aku belum beli buah, tadi gara-gara ketemu Likha aku melupakan tujuanku."


"Tidak masalah, ayo kita beli, sekalian ambil makan siang buat kita semua."


*


Di ruangan Davi.


Melihat Rachel hanya datang bersama Dharma dan Nabila, membuat Davi terus memandangi kearah pintu.


"Ayah cari siapa?" tanya Rachel.


"Bunda mana? Tadi bunda keluar sama Aunty Nabila," sahut Davi.


"Bunda pergi sama Aunty Luna, tadi Aunty Luna lupa beliin pesanan Bunda."


"Rachel beli apa aja tadi sama Aunty?" sambut Fuza pada cucu tersayangnya.

__ADS_1


"Banyak oma, itu dibawain om Dharma."


Saat yang sama Dharma memberikan kantong belanja yang dia bawa pada Fuza.


"Urusan kami sudah selesai, aku sama Nabila izin pamit ya," ucap Indra.


"Kok pergi om? Padahal Rachel baru sampai," protes Rachel.


"Rachel main sama Ayah dulu, pasti Rachel kangen banget kan sama Ayah? 3 hari ini Rachel nangis ... terus!" Indra mencubit gemas kedua pipi Rachel.


"Kan Rachel takut om kalau Ayah kenapa-napa."


"Tapi seperti kata om kan, Ayah pasti baik-baik saja, karena Ayah sayang sama Rachel." Indra mengusap lembut kepala anak manis itu.


"Iya, om memang baik deh!"


Indra mendekati satu per satu semua orang yang ada di ruangan, sambil mengucap kata pamit. Namun saat dia pamit pada Davi, Davi menahannya.


"Terima kasih, selama aku punya masalah sama Kia, kamu malah bersikap sebagai sahabat yang baik," ucap Davi.


Indra sangat faham maksud tersimpan dari kata-kata Davi. "Sudah aku katakan, aku dan Kia hanya teman, tidak lebih."


"Aku pikir kamu-" Davi menahan ucapannya.


Indra mengerti apa yang ingin Davi ucapkan. Indra mendekatkan wajahnya pada telinga Davi. "Hanya laki-laki bodoh yang mengejar cinta perempuan bersuami, yah ... aku memang mencintai Kia, tapi cinta sebagai teman, sebagai sahabat, tidak lebih dari itu."


Davi merasakan langsung apa yang Indra ucapkan benar adanya, selama permasalahannya dengan Kia, Indra benar-benar bersikap seperti sahabat. Tidak memanfaatkan keadaan untuk membuatnya dan Kia berpisah. Padahal situasi seperti ini sangat menguntungkan bagi Indra untuk mengambil hati Kia. Indra malah membereskan segala masalah yang timbul karenanya, termasuk meredam desas-desus yang timbul karena video penamparan yang Luna lakukan.


***


Kebahagiaan begitu jelas di sana. Polah Rachel menjadi pusat perhatian mereka. Menyaksikan langsung bagaimana kebahagiaan Rachel bisa bersama Davi, membuat Herman memahami keputusan Kia. Sejak menginjakan kakinya di ruangan ini, cucunya itu terus menempel pada Davi.


"Ayah, masih ada yang sakit nggak?" Rachel terlihat memeriksa keadaan Davi.


"Masih, tapi sebentar lagi pasti sembuh, karena ada bunda dan Rachel yang rawat Ayah."


"Ayah jangan terlalu sering kerja lagi, nanti sakit lagi. Rachel sedih kalau Ayah terus tidur seperti kemaren."


"Iya sayang, Ayah akan usahakan selalu di rumah temanin Rachel sama bunda."


"Ini mau lagi nggak jajanannya?" Fuza menyodorkan jajanan yang Rachel nikmati.


"Nanti lagi oma, Rachel mau peluk Ayah dulu."


"Sayang banget sama Ayah ya?" Fuza mencubit gemas pipi Rachel.


"Sayang ... banget! Rachel suka nangis kalau Ayah nggak pulang." Rachel menyadarkan wajahnya ke dada Davi.


"Aduh! Dada kanan Ayah masih sakit sayang." jerit Davi.


"Yah ... gimana Rachel peluk Ayah?"


"Pelan-pelan bisa, jangan tiba-tiba kayak tadi," pinta Davi.

__ADS_1


"Begini?" perlahan Rachel meyandarkan wajahnya.


"Nah ... begini nggak sakit."


__ADS_2