Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 91


__ADS_3

Perasaan Indra saat ini seperti terjun bebas dari sebuah gedung yang tinggi, sakit tapi entah mengapa tetap ingin berada di puncak gedung itu lagi.


"Maafin aku Ndra."


"Nggak perlu minta maaf, Kia. Santai saja."


"Bisa kita ketemu nanti sore?"


Indra membuang napasnya kesal, dan menjauh dari meja kerjanya. Kini laki-laki itu berdiri di sisi kaca dan menikmati pemadangan dari sana. "Buat apa?"


"Pertemuan terakhir kita sebagai teman."


"Kamu nolak aku, bukan berarti pertemanan kita berakhir Kia."


"Aku ingin beri kesempatan terakhirmu untuk bersama Rachel sebagai omnya, sudah ya Ndra. Sampai jumpa lagi nanti sore." Kia segera meninggalkan ruangan itu.


Indra mengusap kasar wajahnya, seperti dugannya jika dia nekat melamar Kia, pasti ada hal yang akan berubah. Seketika moodnya memburuk setelah kepergian Kia.


Di sisi lain.


Fuza mondar-mandir sambil memegangi handphonenya. Dia tidak bisa merangkai kata untuk menolak lamaran Indra. Apalagi Ayu, ibu Indra juga temannya.


"Mama ngapain mondar mandir gitu?" tegur Luna.


"Kia menolak lamaran Indra, dia minta mama beri jawaban pada Bu Ayu. Jujur mama tidak bisa mengatakan, andai kamu di posisi mama, saat lamaran terbaik datang, apa alasan kamu menolak itu?"


"Akhirnya ... berani juga kak Indra ngelamar." Luna tersenyum sendiri. "Nggak usah ditolak mah, kalau tante Ayu tanya apa jawaban Kia, minta aja Kak Indra nanya sendiri."

__ADS_1


"Mama nggak enak sayang."


"Sini hape mama." Luna merebut handphone ibunya dan mengetik pesan begitu cepat.


*Bu Ayu, untuk kepastian lamaran kemaren, sebaiknya Indra saja yang tanyakan langsung jawabannya pada Kia. Saya sudah sampaikan lamaran itu pada Kia.


Pesan terkirim, Luna segera mengembalikan handphone itu pada ibunya. "Sudah mamaku sayang, jangan dibikin pusing hal yang mudah, cukup permudah hidup kita dan orang yang berkaitan sama kita, ingat firman Tuhan, barangsiapa mempersulit orang lain, maka AKU akan mempersulit hidupnya. Mama jangan ikutan bodoh dengan mengikuti konten mempersulit hidup."


Fuza terdiam, dia membaca pesan yang Luna kirimkan pada ibu Indra.


*


Setelah pulang sekolah, Kia mengajak Rachel mengunjungi banyak tempat. Hingga tujuan mereka sampai di suatu tempat yang menjadi titik pertemuannya dengan Indra.


Baru memasuki ruangan yang dia pesan, Rachel langsung melepaskan genggaman tangannya pada Kia.


"Om Indra!" Anak itu menghambur menuju pelukan Indra.


Perlahan Rachel melepaskan pelukannya pada Indra. "Kangen sama om, sejak Zeil punya Ayah aku nggak pernah ketemu om lagi di Sekolah."


"Idih nakal, bukannya kita ada ketemu beberapa hari yang lalu."


Rachel tersenyum kaku memperlihatkan deretan gigi-giginya yang putih. "Maafin aku ya om, aku kemaren bablas cerita ke bunda kalau aku lomba sama om."


"Nggak apa-apa, kamu jangan minta maaf. Seharusnya om Indra yang minta maaf, karena mungkin ini terakhir kita bertemu."


"Om mau ninggalin aku?"

__ADS_1


"Enggak sayang, hari ini hari terakhir om Indra jadi om kamu, karena nantinya Om Indra akan jadi Ayah kamu."


Rachel dan Indra kompak menatap Kia begitu tajam. Sedang tatapan Kia masih tertuju pada Rachel.


"Seperti permintaan kamu sayang, kamu ingin om Indra jadi Ayah kamu, dan om Indra sebagian dari kebahagiaan kamu. Kalau kamu bahagia, bunda juga bahagia."


Pandangan Kia beralih pada Indra. "Maaf Ndra, aku tidak bisa menerima lamaran ibumu, karena aku pengen kayak remaja-remaja gitu dilamar langsung oleh pasangannya, terus aku jawab Iya!"


Kekalutan hati Indra seketika berubah jadi luapan kebahagiaan yang sangat besar. Dia berulang kali mengatur napasnya.


"Aku nggak punya alasan buat nolak kamu Ndra, kamu sayang sama anak aku, sayang sama keluargaku, sayang sama aku. Aku nggak bisa tidur memikirkan jawaban tidak untuk lamaran itu."


Indra langsung menggendong Rachel. "Rachel yakin mau jadi anak om?"


"Yakin! Aku sayang sama om!"


Indra memberikan Rachel pada Kia, saat yang sama dia berlutut pada dua wanita cantik itu sambil memegang tangan Kia dan tangan Rachel. "Rachel, Kia. Kalian berdua wanita hebat bagiku. Bersediakah kalian menerimaku jadi bagian dari dunia kalian?"


"Sebentar, kalau Ziel kan manggil Ayah dia yang songong itu papa, panggil Ayah baru dia Daddy. Daddy mamy, papa mamy enak. Kalau aku?" Rachel menunjuk wajahnya sendiri.


"Aku pangil bunda, panggil Ayah Davi Ayah, kalau panggil om Indra apa?"


"Papa Indra gimana?" usul Indra.


"Papa-bunda, nggak cocok!" protes Rachel.


Indra menunduk memaksa otaknya bekerja, apa panggilan yang enak buatnya yang pas disandingkan dengan bunda.

__ADS_1


Bersambung.


Nah otor juga pusing panggilan buat Indra apa enaknya nih?😂😂😂😂😂


__ADS_2