
Davi melajukan motornya menuju cafe sahabatnya. Harapannya ada pekerjaan di sana walau hanya seorang pelayan. Sesampai di sana keadaan cafe cukup ramai. Tidak seperti sebelumnya setiap datang Davi selalu memesan tempat VIP, sekarang dia hanya bisa duduk di depan bar kecil untuk menunggu sahabatnya.
"Mau pesan sesuatu?" tawar pelayan.
"Saya hanya mau bertemu Ronny," sahut Davi.
"Oke, akan kami sampaikan pada mas Ronny."
Pelayan itu pergi kearah belakang, beberapa saat kemudian dia kembali bersama Ronny. Melihat Ronny begitu sinis, saat itu juga batin Davi meringis. Kehilangan banyak uang, dia tidak menemukan lagi orang-orang yang bermuka manis padanya, termasuk sahabatnya. Dulu Ronny selalu menyambutnya dengan senyuman dan pelukan.
"Langsung ke ruanganku." Ronny berjalan melewati Davi begitu saja.
Mau tak mau Davi berjalan mengekori Ronny menuju ruangan yang dimaksud.
"Kamu tega banget sama aku, sahabat sendiri kamu bohongin!" sambar Ronny.
"Aku tidak punya muka kalau aku ngaku yang selingkuh aku."
"Maaf yang Kia beri tidak berarti, kamu tetap memilih jal4ng itu? Lalu dimana otakmu Davi!"
"Demi cinta aku kehilangan fungsi otakku," keluh Davi.
"Bukan cinta, itu hanya kesesatan nafsumu! Ya begitulah karena perbuatan Zina yang kamu lakukan, Tuhan mempunyai cara untuk membuatmu berada di posisi paling hina!"
"Perbuatan Zina itu tidak hanya merugikan pelakunya, tapi bikin malu keluarga dan menghancurkan semuanya!"
"Aku sudah merasakan langsung kehancuran itu." Wajah Davi sangat lesu. "Sudah terlalu banyak orang yang menghujatku, kamu juga ingin menambahi?" ucap Davi lemah.
"Tanpa hujatan kalian pun aku sangat terpuruk dengan penyesalanku."
"Aku tidak menghujat, ini kekecewaan seorang sahabat." Ronny menarik napasnya dalam, sebanyak apa pun dia berkata, semua tidak akan memperbaiki keadaan Davi, nasi sudah jadi basi, bukan bubur karena sudah tak bisa dimakan lagi. Membuat Davi menyesal pun tidak berguna. Inilah akhir perbuatan hina yang dia lakukan.
"Kamu ke sini cari kerja?" tebak Ronny.
Davi mengangguk lemah.
"Sudah kuduga." Ronny berdecih, tidak tahu lagi harus berkata seperti apa melihat manusia paling bodoh di depan matanya. "Mentalmu siap? Bukan aku sombong, tapi pelangganku orang kantoran, siap melayani yang mungkin orang itu sebelumnya menjadi pelayan kamu."
__ADS_1
"Mau gimana lagi, istriku hamil. Aku butuh kerja. Aku pikir Bapakku akan memberiku pekerjaan. Ternyata Bapak dan ibuku membiarkanku sendiri."
"Nanti malam datang saja, gajih hanya 50 ribu per malam, kalau mau silakan, nggak juga enggak masalah."
"Baik, nanti malam aku akan datang."
"Kamu bahagia dengan pilihanmu?" tanya Ronny.
Davi bungkam, dia sendiri tidak mengerti apa itu bahagia, yang dia tahu dia hanya merasa senang, tapi ada beban yang membuatnya merasa begitu tertekan.
"Kurasa tidak, bagaimana kamu bisa bahagia setelah menyakiti orang baik."
Davi semakin menunduk.
"Orang baik yang disakiti mereka memilih diam, hati-hati loh. Walau Kia berkata aku rela, namun alam belum tentu merelakan. Bahkan balasan alam lebih menakutkan dari balasan manusia."
"Aku harus bagaimana Ron?"
"Ya nikmati saja panen karmamu."
Davi ingin berkata lagi, namun sahabatnya itu berdiri dari tempat duduknya. "Aku banyak pekerjaan, maaf aku harus sudahi obrolan kita."
Dada Davi terasa diikat kuat oleh seutas tali, dulu jika jenuh berada di kantor, stress jika di rumah. Maka dia tinggal memilih hotel atau villa untuk memperbaiki moodnya. Kehidupannya sangat diimpikan banyak orang, dirinya dengan bodohnya pergi dari kehidupan itu.
"Aku mau ketemu Rachel saja." Davi menambah kecepatan motornya, dia terus menjelajahi jalanan menuju komplek perumahan yang dulu dia huni.
Sesampai di depan pagar, keadaan rumah sangat sepi, bahkan pagar pun dikunci. Davi menekan klakson motornya agar satpam mendengar. Hanya hitungan detik satpam rumahnya keluar, raut wajah penjaga rumah itu sangat syok melihat Davi.
"Ini Tuan?" Dia terlihat membuka gembok pagar.
"Rachel ada Pak?" ucap Davi.
"Oh beneran Tuan, saya benar-benar sulit mengenali Anda."
Hati Davi mencelos, tanpa dikata pun dia sadar banyak perubahan fisiknya.
"Sejak Tuan pergi, Nyonya juga pergi, kata bi Sarah Nyonya menetap di rumah kedua orang tuanya."
__ADS_1
Gagal sudah ingin bertemu Rachel, Davi tidak punya keberanian kalau harus ketempat Herman. "Ya sudah Pak, saya pamit saja. Tadi saya hanya ingin bertemu Rachel."
Davi kembali menaiki motornya, dia berhenti di sebuah taman komplek perumahan itu, dia meraih handphonenya dan menghubungi Kia. Namun nomor yang dia tuju tidak aktif. Davi membuka aplikasi hijau, namun riwayat chatnya dengan Kia terhapus. Davi mencari kontak Kia, lagi-lagi dia kecewa, foto profil wanita itu abu-abu.
"Sepertinya aku diblokir Kia." Namun jemari Davi tetap mengirim test chat, lagi-lagi hatinya tertampar, chatnya tidak terkirim.
Davi terpaksa pulang ke kontrakan, membawa kabar bahagia kalau dirinya mendapat pekerjaan sebagai pelayan di cafe temannya.
"Kerjanya malam mas?"
"Iya, cafenya buka dari siang, tapi khusus siang banyak anak-anak remaja yang kerja di sana, jadi mas shift malam sampai jam 12."
Likha terlihat sedih, tapi mau bagaimana, pekerjaan begitu sulit di dapat. Bukan cuma Davi yang memiliki gelar tapi tidak dapat pekerjaan, tidak mudah dapat pekerjaan di masa sulit ini.
"Cafe temen kamu jauh? Ini kok kilometernya banyak banget!" Eren membandingkan layar handphonenya dengan jumlah kilometer dari motor yang Davi bawa.
Mampus aku! Aku tidak nyangka kalau mama Eren menghitung kilometer motor itu, jerit hati Davi.
"Aku kan datangi banyak tempat ma, aku datangi cafe terjauh dulu, ternyata cafe yang terdekat yang nerima aku."
"Jangan berani-berani bohongin mama, mama ini justru yang pandai bohongin orang!" kecam Eren.
Davi meringis dalam hati.
Selamat Davi, sebentar lagi kamu juga akan jadi pembohong handal.
**
Davi melewati malamnya dengan penuh perjuangan, hinaan cibiran, dan hal-hal menyedihkan harus dia terima dari pelanggan yang dia layani. Keringat pun mulai membasahi tubuhnya. Dulu bekerja santai namun hasilnya waw, saat ini bekerja waw namun hasilnya tidak cukup untuk bertahan sehari.
Andai ada mesin waktu, aku ingin menghapus waktu di mana Likha ada dalam kehidupan kami, jika dia tidak datang, aku tidak akan tergoda dan tidak akan segila ini, jika tak mengenalnya, aku tidak akan berada di posisi ini.
Hanya bisa berandai, mengancam bunuh diri agar kehidupan lama kembali juga percuma.
Ingat Davi, bukan Kia yang rugi kehilangan kamu, tapi kamu yang rugi karena melepaskan Kia.
Kata-kata Misye terbayang di kepalanya. Dan saat ini, dia benar-benar merasakan kerugian yang sangat besar. Kia kehilangan dirinya, dia masih banyak teman dan sahabat yang ada untuknya, ada kedua orang tua yang menerimanya. Sedang dirinya?
__ADS_1
Satu hal yang Davi sadari, sejak dulu dia memang sendiri. Dunia Kia yang memberi warna dalam hidupnya. Orang yang menyayangi Kia lalu juga sayang padanya karena dia cintanya Kia, setelah dia pergi semua kebahagiaan itu juga pergi bersama Kia.