
Suasana masih pagi, tapi di salah satu sudut kantor, beberapa pekerja terlihat berkumpul, entah apa yang menarik perhatian mereka.
"Gila ih Davi, demi selingkuhannya rela keluar dari istana demi hal yang dia sebut cinta."
"Gue sebagai sepupu dia aja malu, walau gue nggak suka sama Kia, tapi Likha dan Kia bagai bumi dan langit, nggak tahu otak Davi kejedot apa hingga milih Likha si pelakor! Selama dia sama Kia gue nggak pernah dengar dia kekurangan uang, lah tadi malam dia malah mau minjem uang dan nanya lowongan pekerjaan. Udah blangsak! Tapi dia nggak sadar juga"
"Keadaan seperti itu mau bertahan sampai kapan? Lama-lama juga nanti Davi menyesal, emang bisa lancar uh ah tanpa makan?"
"Gue sebagai laki-laki ya, lebih penasaran ama pelayanan Kia, perempuan yang tampil sederhana untuk umum belum tentu sederhana di dalam kamarnya."
"Tapi Davi emang sinting, dia lebih terpesona sama permen yang nggak dibungkus dibanding permen yang hanya dia saja yang tahu rasanya."
"Paling lama mereka bertaham ya 6 bulan, anggap 1 tahun lah, apalagi Likha, nggak bakal kuat hidup susah, dia nggak bakal mau nerima Davi yang miskin itu untuk selamanya."
"Yup, bisa jadi sekarang dia mikir target berikutnya."
Perceraian Davi dan Kia menjadi obrolan hangat orang-orang yang mengenal 2 sosok itu. Seorang laki-laki yang mendengar perbincangan hangat itu segera meraih handphonenya dan mulai mengetik pesan.
*Likha, sekarang lu jadi bahasan banyak orang.
Dalam hitungan detik pesan laki-laki itu dapan balasan dari Likha.
\=Aku tahu, sebab itu aku menghilang dari kota. Aku mengasingkan diri di mana tidak ada orang yang mengenal kami dilingkup tempat tinggal kami
*Karena kamu membuatku bahagia, aku hanya memberi saran, kamu harus pertahankan pernikahan kamu, atau orang-orang akan membullymu.
\=Iya, saat ini aku juga mempertahankan pernikahan ini karena kebohonganku yang mengatakan aku menerima Davi apa adanya, aku bertahan bukan karena cinta. Jika aku membuang Davi sekarang, semua orang pasti sangat bahagia karena apa yang mereda duga benar terjadi.
*Butuh bantuan?
\=Enggak Rafa, makasih banyak atas perhatianmu.
Rafa belum sempat menyimpan handphonenya, tiba-tiba atasannya memanggilnya.
"Ada apa Pak?"
"Kamu antar barang orderan kemaren ya, alamatnya ada di mobil."
"Siap Pak." Rafa segera menuju parkiran kantor, mobil yang biasa dia kemudikan selalu terparkir di basement.
__ADS_1
Rafa tersenyum bahagia, boneka barbie yang bernyawa itu berdiri di dekat mobilnya. Dia mempercepat langkahnya. "Hallo Baby Doll ku. Ternyata kamu bisa menemukanku, mau ulangi malam panas kita?"
Namun tiba-tiba ada sekelompok orang yang menangkap Rafa.
"Ada apa ini?" tanya Rafa.
"Introgasi dia, kalau dia tidak mau jawab habisi nyawanya!" Setelah memberi perintah Fanny segera pergi dari sana, sedang Rafa dibawa orang-orang suruhan Fanny.
***
Kontrakan Likha.
Davi mengenakan kaos oblong warna biru dan celana bahan warna hitam, saat ini itulah setelan terbaiknya.
"Mas mau kemana?" tanya Likha.
"Mau cari kerja, do'a in mas ya sayang. Semoga mas bisa memberi kemewahan seperti dulu."
"Aku nggak berharap seperti dulu, seperti ini saja aku bahagia." Likha masuk kedalam pelukan Davi.
"Sudah dulu ya, mas harus kerja demi masa depan kita dan anak kita."
*Kia, aku boleh ke rumah kamu Nggak? Aku mau ambil kotak handphoneku.
Tink!
Pesan jawaban dari Kia langsung masuk.
\=Tidak perlu ke rumahku, semua barangmu ada di rumah ibumu.
Davi merasa lega, dia segera menumpangi angkutan umum untuk menuju rumahnya, entah berapa kali dia ganti angkutan agar sampai ke kediaman Ingrid. Belum cukup sampai di situ, dia harus mengorder ojek online untuk memasuki komplek perumahan itu.
Sesampai di kediaman Ingrid, keadaan sangat sepi. Davi terus memanggil ibunya. Cukup lama, akhirnya dia menemukan sosok yang dia cari tengah mengepel ruang tengah.
"Ibu beres-beres sendiri?"
"Ya terpaksa, ibu tidak sanggup bayar jasa banyak pelayan, jadi harus mengerjakan sebagian pekerjaan rumah sendiri."
"Bapak mana?"
__ADS_1
"Entah, mengetahui perceraianmu dan Kia, Bapakmu ngamuk sampai nampar ibu, nggak cuma itu Bapakmu juga ceraikan ibu."
Davi memandangi keadaan rumahnya yang sangat sepi. "Ibu mau ditemanin tinggal disini?"
"Kalau istrimu Fanny, ibu mau. Kalau istrimu Likha TIDAK! Nikmati sana kehidupan yang kalian pilih, ibu tidak mau kalian repotin!"
Davi menunduk sejenak, dari banyak perempuan sukses yang terpikat pesonanya, dia malah menjatuhkan dirinya sendiri ke kehidupan sedih yang tak pernah dia bayangkan. Davi menarik napasnya begitu dalam. "Ya sudah, aku mau ambil beberapa barang, kata Kia dia mengirimkan barangku ke rumah ibu."
Inggrid tidak menghiraukan Davi, dia fokus mengepel lantai rumahnya. Sedang Davi segera menuju kamarnya.
"Barangmu di kamar tamu!" ucap Ingrid sinis.
Davi berbalik, dia segera menuju kamar tamu. Beberapa saat kemudian dia keluar dengan tas jinjing di tangannya. "Bu, boleh minjam uang? Davi nggak punya uang buat pulang."
Ingrid menatap sinis putranya, tapi jika dia tidak memberikan, putranya akan berlama-lama di sini. Ingrid memberikan 2 lembar uang pecahan 100 ribu. "Pergi sana! Nikmati pilihanmu!"
"Jika otakmu sudah bisa berpikir, jika kamu bersedia menceraikan Likha lalu menikahi Fanny, ibu akan tunjuk kamu sebagai pemimpin pengganti Bapakmu, selama kamu sama Likha, ibu nggak akan bantu kamu! Uang itu bukan bantuan dari ibu, tapi ibu mengusirmu agar segera meninggalkan rumah ini!"
Davi tidak merespon, dia terus melangkah pergi. Setelah meninggalkan komplek perumahan ibunya, Davi segera menuju counter handphone, kini apel krowak itu bukan miliknya lagi, di tangannya ada handphobe baru dan uang sisa penjualan apelnya. Pikiran Davi hanya ingin mempersiapkan kebutuhan dapur mereka. Dia segera menuju supermarket terdekat.
troli belanja yang dia dorong berisi beberapa kebutuhan, perhatian Davi tertuju pada deretan buah duren, dia segera mendekat ke area buah. Saat ingin mengambil buah duren kupas yang tinggal satu-satunya, tak sengaja dia bersentuhan dengan pelanggan lain.
"Mas Davi?" Kia sangat terkejut dengan keadaan Davi, kulitnya yang putih bersih kini terlihat agak coklat, hampir saja dia tidak mengenali mantan suaminya itu. Kia mengamati keranjang belanja Davi, berisi kebutuhan ibu hamil dan kebutuhan dapur. "Owh belanja. Ya sudah mas aja ambil itu."
"Nggak kamu saja, aku cuma mau lihat tadi."
"Oke." Kia mengambil duren kupas itu dan memasukan trolinya.
Davi menarik napasnya dalam, Kia di depan matanya begitu dingin.
"Jangan lupa, sebentar lagi kenaikan kelas Rachel, dia pasti berharap kamu datang," ucap Kia.
"Aku masih boleh bertemu Rachel?" Davi memastikan.
"Yang berakhir hanya ikatan suami istri antara kita, bukan ikatan Ayah dan Anak antara kamu dan Rachel. Kalau tidak sibuk, sisihkan waktumu untuk anakmu." Kia segera mendorong troli belanjanya.
Davi memandangi Kia yang semakin menjauh dari pandangan matanya. Entah kenapa wanita itu terlihat semakin cantik setelah dia meninggalkannya.
Kia masih seperti yang dulu, dia terlihat semakin cantik dimatamu karena Likha yang jauh berbeda.
__ADS_1
"Ahhh! Ada apa ini, wajar Likha tidak menarik, dia saat ini hamil dan aku tidak mampu membelikan dia skin care!" Davi mengusir pemikiran sesat yang hampir membuatnya jatuh dalam rasa penyesalan karena meninggalkan Kia dan memilih Likha.