Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 72


__ADS_3

Waktu belum terlalu malam, tapi rasanya tenaga Davi hampir habis terkuras. Baru saja menarik napas, ada lagi panggilan pesanan yang harus diantarkan. Setiap melewati meja pengunjung café, tawa mereka membuat batin Davi semakin meringis, dulu malam-malamnya dia habiskan bersantai dan tertawa seperti para pengunjung yang dia layani, sekarang? Dirinya adalah pelayan yang melayani.


Sumpah demi apapun dia tidak pernah terbayang akan berada di posisi ini. Davi berjalan menuju tempat sepi, dia menyadarkan tubuhnya di dinding. Batinnya terus menjerit menghadapi keadaan saat ini. Bahagia? Ini bukan kebahagiaan.


Davi membuka handphonenya, dia memandangi fotonya bersama Rachel dan Kia, senyuman terukir di wajahnya. Inilah kebahagiaannya yang dia buang begitu saja. "Andai aku menemukan teko berisi jin, aku tidak akan meminta 3 permintaan, aku cukup meminta 1 permintaan, yaitu bisa kembali padamu."


Davi sangat sadar kembali pada Kia adalah hal yang mustahil, sebab itu hanya kekuatan yang tidak masuk akal yang bisa membuatnya berada di posisi yang dia impikan.


"Mas Davi ...."


Panggilan yang terdengar dari audio yang menghubungkan semua pelayan terdengar, membuat khayalan Davi tentang Kia dan Rachel buyar.


Davi menekan tombol untuk menjawab. "Iya, saya di sini."


“Mas Davi! Tolong antar pesanan ini ke ruang VIP!” ucap salah satu pekerja dari ujung audio sana


“Siap!” Sepasang kaki terasa bengkak, tapi panggilan itu tidak bisa dia hindari. Pekerjaan mengantar minuman dan makanan, terus menantinya. Para pelayan lain juga sama sibuknya sepertinya, tapi mereka terbiasa dengan pekerjaan ini, senyuman mereka dan wajah mereka begitu tulus. Tidak seperti senyuman Davi yang dia paksakan.


Sedang di Rumah Sakit.


Tawa Rachel menjadi roh kebahagiaan semua orang, dokter yang merawat Rachel masih memeriksa anak cantik itu.


“Bagaimana kalau begini pusing?” Dokter meminta Rachel mengikuti geraknya.


“Enggak tante dokter,” sahut Rachel.


Dokter tersenyum pada Kia dan keluarga. “Syukurlah luka itu benar-benar tidak berbahaya, bahkan besok Rachel boleh pulang.”


“Asyik! Boleh sekolah juga dong?” ucap Rachel semangat.


“Sekolah nanti dulu, setelah pulang Rachel di rumah dulu,” sela Kia.


“Yah … padahal Rachel mau cepat-cepat digendong om Indra kemana-mana,” rengeknya.


“Jangan salah, walau di rumah om juga siap temani Rachel, Rachel mau kemana om gendong!”


Senyuman pun kembali menghiasi wajah Rachel.


Hidup Kia berjalan sangat lancar, kehilangan Davi tidak mempengaruhi keadaannya, kesedihannya hanya Rachel. Entah apa yang anak itu rasa sehingga dia mulai tidak mengharapkan Davi. Hal ini semakin mempermudah hidup Kia. Setelah Rachel keluar dari Rumah Sakit, Indra menepati janjinya selalu datang ke rumah kedua orang tua Kia untuk menemani Rachel. Kehadiran Indra pun semakin membuat Rachel melupakan Davi.


Indra menjadi model Rachel, kreativitas Rachel benar-benar mencoreng jati dirinya. Wajah tampannya kini berubah seperti ondel-ondel, lipstick merah, blush on, dan eyeshadow dicoretkan Rachel sesuka hatinya.


“Ya ampun Rachel, om Indra kamu apain?” Kia Syok melihat keadaan Indra.


“Ya Rachel dandanin biar cantik.” Rachel fokus pada proyeknya mempercantik wajah Indra, dia tidak mempedulikan keberadaan Kia.


Antara iba dan ingin tertawa melihat wajah Indra saat ini. Sekilas indra melirik kearah Kia.


“Om jangan gerak-gerak, nanti alisnya bengkok.”


"Alis memang bengkok sayang, masa lurus seperti penggaris?" ejek Kia.

__ADS_1


"Bunda eh cerewet ...."


“Mau ketawa, lepas aja Kia jangan di tahan.” Indra sangat tahu kalau sahabatnya itu berusaha menahan tawa.


Tawa kia pun seketika lepas. “Ganti nama ndra jadi indri.” Kia terus terkekeh.


“Nah gitu dong lepas semuanya, cukup aku aja yang nahan,” ucap Indra.


Perkataan Indra biasa, namun Kia faham kemana arah perkataan itu, seketika tawa Kia terhenti.


“Bunda ngejek aku ya?” ucap Rachel.


“Enggak, ternyata om indra cantik ya kalau didandani,” ucap Kia.


“Bunda mau aku dandani?” tawar Rachel.


“Enggak, makasih sayang.”


“Dih bunda nggak sayang aku, ternyata cuma om Indra yang sayang aku, Ayah juga dulu nggak mau jadi model aku.” Wajah Rachel seketika murung.


“Bukan gitu, bunda buru-buru. Ada panggilan dari sekolah Rachel, bunda pergi dulu ya. Oh iya kalau butuh wig minta sama oma ya.” Kia mencium pipi Rachel dan segera pergi sebelum mood anaknya itu benar-benar rusak.


"Pakai wig?" Rachel membayangkan wajah Indra jika pakai wig.


"Bukan om nggak sayang, tapi gimana kalau om lupa jadi Indra? Kalau Indri nggak bisa gendong Rachel dia bisanya gelitikin Rachel." Indra langsung menyerang titik geli Rachel.


"Om udah om, oke gini aja, tapi aku selesaikan dulu."


Rachel menyelesaikan imajinasinya pada wajah Indra. “Nah sudah selesai om. Aku foto ya.”


“Foto pakai handphone om saja.” Indra buru-buru memberikan handphonenya. Dirinya tidak siap jika ada orang lain melihat prakarya Rachel padanya.


“Oke, sini om.”


Kebersamaan sederhana seperti ini yang Rachel inginkan, dia merasa sangat bahagia setiap ada Indra.


“Ini kapan boleh di hapus, wajah om gatal.”


“Hapus aja sekarang.”


“Nggak apa-apa?” Indra memastikan, terlebih perempuan suka lain di mulut lain di hati, mulut Iya hati mengharap tidak.


“Iya boleh.”


Indra segera berlari menuju kamar mandi, dia tidak mau lebih banyak orang lagi melihatnya seperti ini.


**


Di sekolah Rachel.


Dari arah gerbang sekolah, anak-anak TK terlihat pulang lebih awal. Kia perlahan melajukan mobilnya memasuki area sekolah yang ramai. Kia terkejut melihat pengendara sepeda motor yang berpapasan dengannya. Pengendara sepeda motor itu juga menatap kearahnya.

__ADS_1


“Mas Davi?” Jujur melihat Davi seperti itu dia merasa iba, tapi mengingat Davi seperti itu karena perjuangan cintanya pada wanita lain, seketika rasa kasihan itu lenyap.


Namun rasa cinta yang pernah tumbuh di hatinya untuk laki-laki itu, melihat Davi mengendarai sepeda motor, Kia teringat masa pacaran mereka saat kuliah, naik motor kemana-mana berdua.


“Dia nggak pantas untuk dicintai Kia, sebab itu Tuhan menjauhkan dia dari hidupmu dengan mendatangkan pelakor itu!” ucap Kia pada dirinya sendiri. Kia berusaha melupakan Davi dan fokus akan tujuannya ke sekolah ini.


Kia langsung menemui guru kelas Rachel. Kia mendengarkan semua prestasi Rachel selama 1 tahun ini.


"Bunda Rachel, kami sangat tahu keadaan di rumah tidak baik-baik saja, mungkin sebab ini nilai Rachel menurun."


"Iya miss, pastinya karena keadaan kami Rachel jadi seperti ini," sesal Kia.


"Apa perlu kami menghadirkan psikiater anak untuk Rachel?"


"Tidak perlu miss, saat ini Rachel sudah terbiasa dan menerima keadaan ini."


"Prestasi Rachel sangat menurun bunda, sebagai guru saya merasa sedih, padahal Rachel dikenal murid berprestasi. Mampu lompat kelas karena kecerdasannya yang menguasai mata pelajaran kelas yang dia ikuti waktu itu. Bisa lompat 2 tahun, ini luar biasa bunda."


Kekacauan rumah tangganya bukan rahasia lagi. Kia hanya bisa meminta maaf karena keadaannya benar-benar berdampak buruk pada Rachel. Di usia 10 tahun Rachel bisa duduk di kelas 6 pada tahun ajaran yang akan datang. Karena kisruh rumah tangganya, anaknya juga terseret dalam pusaran rasa sakit dan kecewa itu.


"Semoga kita bisa kerjasama lebih lagi untuk mengasah kecerdasan Rachel."


"Iya miss, saya akan usahakan semampu saya," ucap Kia.


"Saya sangat menyesal harus memberikan undangan ini, karena biasanya Bunda selalu duduk di bangku terdepan karena prestasi Rachel, bunda tahu sendiri kan anak-anak yang beprestasi hebat orang tua mereka duduk di gate khusus, saya menyesal karena tahun ini bunda harus ada di gate umum." Guru Rachel memberikan undangan acara kenaikan kelas.


"Tidak apa-apa miss, Rachel begini juga kesalahan kedua orang tuanya."


Kia segera kembali ke rumah, dia tidak kecewa pada Rachel yang menurun jauh prestasinya. Dia hanya kecewa pada dirinya sendiri. Sesampai di rumah masih ada Indra yang setia menemani Rachel.


Melihat pemandangan itu hati Kia terasa terhimpit. Orang lain sangat sayang pada Rachel, rela meninggalkan pekerjaannya demi membahagiakan Rachel, sedang Ayahnya?


Stop Kia! Berhenti memikirkan Davi, anggap dia sudah mati!


"Bunda sudah pulang? Dapat undangan kenaikan kelas?"


Pertanyaan Rachel menyadarkan Kia dari lamunannya. "Iya sayang, bunda ambil undangan di sekolah."


"Sini Rachel lihat bunda duduk di mana? Biar Rachel saat tampil nanti mudah nyari bunda."


Kia terpaksa memberikan kartu undangannya, benar saja apa yang dia pikirkan, Rachel murung melihat kursi Kia jauh dari panggung.


"Jangan sedih gitu dong," ucap Kia.


"Ini karena aku kurang pintar makanya bunda duduk jauh."


"Rachel anak pintar kok, dan Rachel kebanggan bunda, bunda nggak sabar lihat penampilan Rachel nanti."


"Bunda nggak kecewa."


"Enggak, bagi bunda yang penting Rachel bahagia."

__ADS_1


Ibu dan anak itu berpelukan.


__ADS_2