Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 74 Iblis


__ADS_3

Uang penjualan handphone sudah dalam genggaman, Davi memasang kartu sim Likha ke handphone baru yang lebih ekonomis. Saat yang sama ada panggilan masuk dari nomor asing. Davi terpaksa menerima panggilan itu, niatnya ingin mengatakan hubungi beberapa saat lagi karena dia belum kembali.


"Selamat Pagi, kami dari kepolisian. Bisa kami tahu kami berbicara dengan siapa?"


Mendengar polisi seketika Davi panik, ada masalah apa Likha sehingga polisi meneleponnya.


"Saya Davi Pak, ini nomor istri saya."


"Bisa minta waktunya Pak, kami menemukan mayat tanpa identitas, hanya ada handphone yang kami temukan. Bisa Anda bawa Istri Anda ke Rumah Sakit?" polisi menyebutkan nama Rumah Sakitnya.


"Istri saya saat ini tengah hamil 7 bulan, tapi saya bersedia ke sana, jika saya mengenali korban, saya bisa bantu, tapi jika saya tidak kenal, saya bisa minta foto korban dan memberikannya pada istri saya. Bagaimana Pak?" tawar Davi.


"Baik Pak, kami tunggu kedatangannya."


Davi melaju kearah Rumah Sakit yang dimaksud. Sesampai di sana Davi di sambut beberapa pria dengan seragam kepolisian.


"Mari ikut kami Pak, kami tidak menemukan identitas korban, yang kami tahu korban bernama Rafa dari riwayat chat yang ada."


Duggg!


Mendengar nama Rafa, Davi yakin itu mantan kekasih Luna. Tapi ada hubungan apa dia dengan Likha?


"Chat yang tersisa hanya ada 1 chat. Tidak ada nomor kontak lain selain nomor istri Anda, dan riwayat chat terbaru korban berkirim pesan dengan nomor istri Anda."


"Bisa saya lihat chatnya Pak? Siapa tahu saya mengenal korban." Davi ingin memastikan kalau itu benar-benar Rafa yang dia kenal.


Polisi memberi kertas yang berisi salinan percakapan Rafa dengan Likha. Seketika pembuluh darah Davi terasa pecah membaca semua chat Rafa dan Likha. Dengan kesadaran yang tersisa Davi mencari media sosial Rafa.


"Benar ini korbannya Pak?" Davi memperlihatkan foto Rafa dari layar handphonenya.


"Iya benar." Polisi membandingkan foto yang mereka miliki dengan foto yang Davi perlihatkan.


Davi menyebutkan nama lengkap Rafa dan alamat orang tuanya. "Dia dekat sama istri saya, karena mantan kekasih Rafa sahabat istri saya. Jika Bapak ada pertanyaan, silakan datangi istri saya ke rumah." Davi memberikan alamat kontrakannya.


"Terima kasih atas kerjasamanya," ucap salah satu polisi.


"Korban meninggal kenapa ya Pak?" Davi kepo.


"Kami sudah melakukan Autopsi, tapi tidak ada tanda-tanda kekerasan dari tubuh korban, uji darah juga tidak ada yang mencurigakan."


Davi izin pamit pada para polisi itu, dan segera kembali ke kediamannya. Sesampai di rumah emosinya seketika meradang melihat senyuman Likha. Namun melakukan kekerasan pada wanita itu tidak sebanding dengan kelicikannya. Davi berusaha menahan dirinya.


"Mas, kenapa wajahnya kesal begini?"

__ADS_1


"Rachel kecelakaan, tapi Kia tega banget nggak kabarin aku!" kilah Davi.


"Mungkin mas udah nggak dianggap sebagai Ayah Rachel lagi." Likha ingin memeluk suaminya. Namun Davi malah menepisnya. "Kenapa mas? Aku kangen loh ...."


"Aku mau kasih ini, uang penjualan handphone kamu dan handphone baru kamu." Davi memberikan dua benda itu pada Likha.


"Makasih ya mas."


"Oh iya, aku harus lembur dan bermalam di cafe, ada acara beberapa hari kedepan." Davi berjalan cepat menuju kamar dan kembali membawa tas jinjingnya.


"Kok dadakan mas?"


"Mana aku tahu, aku kan sekarang pegawai yang hanya bisa tunduk dengan perintah." Davi meraih kunci motor yang tersimpan di saku. "Ini motor mama, karena bermalam di cafe, aku nggak yakin motor aman di sana."


"Iya mas."


Davi melangkah begitu saja menuju pintu, semakin lama melihat Likha, rasanya kesabarannya semakin menipis.


"Mas!" panggil Likha. Tidak seperti biasa laki-laki itu selalu menciumnya saat datang mau pun pergi. Tapi Davi tetap pergi begitu saja.


Likha mematung menatap punggung Davi yang semakin menjauh. "Apa beban hidup yang semakin berat ini merubah dirimu mas? Jangan pernah berubah mas, saat ini aku benar-benar mencintaimu."


**


"Ada apa? Kan kerjamu malam, kenapa datang jam segini?"


"Aku butuh tempat Ron ...."


"Bukannya kamu punya kontrakan?"


"Aku nggak kuat lagi lihat wajah penipu itu!"


"Penipu?" kedua alis Ronny tertaut mempertanyakan penipu yang Davi maksud.


"Likha," ucap Davi lemas.


"Bukannya dia bidadari yang mampu menarik perhatianmu? Sehingga kamu melupakan anak dan istrimu?"


"Arrgghhhht!!!" Davi membenturkan kepalanya berulang kali ke tembok.


"Jangan bunuh diri di sini, aku tidak mau tempat usahaku tidak beroperasi karena tugas kepolisian olah TKP di sini!" omel Ronny.


"Dia benar-benar iblis! Dia datang padaku mengemis cintaku, menempatkanku seolah aku manusia paling tampan di muka bumi ini, manusia paling hebat! Tapi apa?" Tangis Davi pecah. "Semuanya bohong! Dia hanya memperdayaku, dia hanya ingin hartaku."

__ADS_1


"Kan tugasnya iblis memang memperdaya manusia, kita tahu segala kemaksiatan itu akhirnya siksa, tapi tetap saja melakukannya."


Ronny terkekeh melihat keadaan Davi. "Tapi sekarang kamu tidak punya apa-apa, dia tetap setia bersamamu."


"Dia terpaksa bertahan, karena termakan ucapannya sendiri yang mengatakan menerimaku apa adanya, tapi dia sudah menyusun drama, seolah aku selingkuh dan dia korbannya lalu pergi meninggalkanku."


"Waw, kamu harus kirim dia ke Hollywood, dia berbakat jadi aktris," puji Ronny.


"Hidupku hancur karena dramanya ...." Davi meringis.


"Yang namanya pelakor mah ratu ngibul! Ratu Drama! Dan kamu termakan." Ronny tertawa menertawakan nasib sahabatnya.


"Nikmati aja Davi, ini buah dari kerakusan kamu, sudah diberi istri yang nyaris sempurna malah dibuang, sekarang kamu ngemis-ngemis sama Kia pun, dia tidak akan kembali padamu."


"Jangan sebut Kia, aku semakin hancur jika mengingatnya."


"Ingat, kalau mau bunuh diri jangan di sini." Ronny pergi meninggalkan Davi.


**


Di kontrakan Likha.


Likha terus memandangi handphonenya. Banyak pesan yang dia kirim pada Davi, tapi tidak satu pun dibaca Davi. Bahkan panggilannya juga tidak diterima.


Sesibuk ini mas Davi? Ya ampun ... aku semakin jatuh cinta padamu mas.


Prak!


Suara tenda yang ditarik menyadarkan Likha dari lamunannya.


"Bangunin suami kamu! Sebentar lagi Nanda pulang sekolah!" ucap Eren sinis.


"Mama aja yang jemput, mas Davi lembur selama 3 hari kedepan katanya, itu motornya ada di depan rumah."


"Makanya buruan cari laki-laki kaya! Biar hidup kita lebih baik daripada sekarang!"


***


Matahari semakin condong ke arah barat, Davi bekerja lebih awal, menyibukan diri dengan bekerja membuatnya sedikit lebih nyaman menarik napas. Cinta, rindu, sayang, yang selalu dia rasa untuk Likha, semua itu seketika berganti dengan benci dan ingin mengambil nyawa wanita itu.


"Mas Davi, tolong antarkan minuman ini ke ruangan VIP yang paling ujung," ucap salah satu pelayan yang bertugas meracik minuman.


Davi hanya mengangguk, dia segera membawa nampan itu menuju ruangan yang dimaksud. Saat sampai di sana Davi mematung melihat tamu yang ada di ruangan VIP itu.

__ADS_1


__ADS_2