Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 25


__ADS_3

Rachel memandangi ibunya penuh selidik, sangat jarang ibunya mengurung diri di kamarnya. Rachel berjalan kearah pintu dan mengintip keadaan di luar. Dia melihat Ayahnya berjalan menyeret koper. Rachel langsung menghampiri Ayahnya.


"Ayah mau kemana?"


"Ayah kerja jauh lagi sayang, jaga bunda ya." Davi mendaratkan ciumannya pada Rachel, dan segera pergi dari rumah.


Rachel bingung, biasanya ibunya selalu melepas kepergian Ayahnya, namun kali ini ibunya masih di kamarnya. "Bunda berantem sama Ayah?"


"Enggak, bunda hanya sedih, Ayah harus pergi lagi, kalau Ayah capek bagaimana?"


"Iya, Rachel juga sedih Ayah pergi terus."


*****


Keadaan malam hari di kota itu tetap ramai, lalu lalang kendaraan masih terlihat di jalanan. Laki-laki paruh baya itu baru saja menurunkan salah satu penumpang di depan kantor Davi. Dia mengenal penumpang itu salah satu pekerja di kantor Davi, dan saat dia tanya tujuan orang itu, mendengar tujuannya kantor Davi, dia memberikan tumpangan.


"Terima kasih Pak Yudi, tumpangannya."


"Sama-sama." Pak Yudi melambaikan tangannya pada laki-laki yang dia beri tumpangan.


Saat beliau ingin menutup kaca mobil, dia membeku melihat putranya tengah malam begini malah memasuki kantor itu dengan membawa kantong belanja.


"Ada apa Davi tengah malam begini masih di kantor?" Pak Yudi tidak bisa menahan diri, dia langsung mengejar putranya.


"Davi!"


"Davi!"


"Davi!"


Berulang kali Pak Yudi memanggil nama itu, namun pemilik nama seolah mengalami gangguan pendengaran.


Pak Yudi berusaha menambah kecepatan langkahnya, hingga dia berhasil mengejar Davi, dan menepuk bahu putranya itu. "Bapak panggil-panggil dari tadi, apa sekarang kamu tuli?" Pak Yudi mematung kembali melihat wajah putranya sembab, terlihat mata putranya itu merah.


"Maaf Pak." Davi berusaha mengusap sisa air matanya.


"Ada apa?" Pak Yudi menurunkan nada bicaranya.


"Nggak ada apa-apa, aku cuma lembur," kilah Davi.


"Punya masalah sama istri jangan ditinggal kabur, hadapi sebagai pria sejati, bukan lari dari masalah."


"Aku hanya lembur Pak," kilah Davi.


Sekuat apapun Davi mengelak, namun raut kesedihan tak bisa Davi sembunyikan, sangat jelas terlihat dari wajah Davi, kalau laki-laki itu tidak baik-baik saja. "Pulang sama Bapak," ajak Pak Yudi.


"Aku masih ada kerjaan Pak."


"Kalau kamu tidak mau ikut Bapak, biar Bapak ikut kamu." Pak Yudi mengetik pesan di handphonenya, meminta supir untuk pulang.


Melarang Ayahnya mengikutinya, sama saja dia harus menyetujui untuk pulang ke rumah orang tuanya. Hal ini semakin memperburuk keadaan jika ibunya tau masalahnya. Davi terpaksa menyetujui keinginan Ayahnya, dia dan Pak Yudi berjalan bersama menuju ruangan Davi.

__ADS_1


Sesampai ruangan Davi sibuk mengisi perutnya, makanan enak itu tidak ada rasanya di lidah Davi, kekecewaan dan kesedihan membuatnya seakan mati rasa. Namun dia sengaja membuat mulut bekerja walau tidak menikmati, saat mulut bekerja pikiran dan hatinya sedikit teralihkan dari rasa kekecewaan yang selalu mengikatnya.


"Selama 11 tahun kamu menikah, baru kali ini Bapak melihat kamu sehancur ini, ada apa Davi? Kia merendahkanmu?"


Davi bungkam, bagaimana Ayahnya berpikiran seperti itu. "Kia tidak salah, aku yang kurangg ajjar Pak."


"Selingkuh?" tebak Pak Yudi.


Davi mengangguk lemas.


Plakkkk!


Sebuah tamparan keras seketika mendarat telak di rahang kanan Davi. Davi tetap diam, baginya dia pantas menerima ini, bahkan harusnya dia dapat yang lebih dari ini.


"Bapak tidak habis pikir, bagaimana bisa kamu selingkuhin Kia? Apa ada wanita yang lebih baik dari Kia?!" Teriakan lantang Pak Yudi seakan menggema di ruangan itu.


"Kamu lupa bagaimana Kia menghormatimu? Kalau kamu lupa Bapak akan ingatkan!"


Pak Yudi mencengkram kuat krah kemeja Davi. "Perusahaan ini berdiri karena kerja keras Kia, saat perusahaan ini besar dia memberikan tampuk kekuasaan padamu! Buat apa?!" Pak Yudi mengoncang krah kemeja itu, membuat tubuh Davi ikut melayang.


"Kia lakukan itu agar kau tidak dipandang rendah orang-orang!" Yudi melempar tubuh Davi, membuat putranya itu tersungkur di lantai.


"Bapak pikir Kia lelah menyembunyikan kehebatannya hingga dia menampakan diri dan membuatmu rendah, ternyata ...." Pak Yudi sangat kesal, ingin rasanya menembak kepala putranya itu.


Pak Yudi menarik Davi dan kembali mencengkram krah kemeja Davi, membuat laki-laki itu merasa tercekik. "Siapa yang membuatmu bodoh?! Siapa perempuan itu?"


"Li-kha."


Habis sudah kesabaran Yudi, sebuah bogeman mentah pun kembali mendarat ke wajah Davi. "Kalian berdua sama-sama bejjatt! Binatang saja saat ditolong tau caranya berterima kasih! Tapi kalian berdua?!"


"Bunuh saja aku Pak, aku sudah tidak kuat menjalani hidupku," ucap Davi.


Semakin lama melihat putranya semakin besar kemarahan dan kebenciannya, Pak Yudi segera pergi meninggalkan ruangan itu. Beliau berdiri di depan gedung menunggu supir untuk menjemputnya.


***


Keesokan paginya Pak Yudi bergegas menuju kediaman Kia. Semalaman dia terus terbayang kebodohan putranya. Sesampai di kediaman Kia, sepasang matanya di sambut pemandangan indah, melihat Kia dan Rachel bercanda di teras rumah.


Pak Yudi turun dari mobil dan mengayunkan sepasang kaki mendekati Kia.


"Kakek ...." Rachel sangat bahagia melihat sosok Kakeknya, dia berlari menyusul Kakeknya.


"Apa kabarnya cucu Kakek yang cantik ini?" Pak Yudha memeluk dan mendaratkan ciumannya di pucuk kepala Rachel.


"Baik, Kakek. Kakek sendiri?"


"Kakek juga baik, Kakek kangen sama Rachel, apa boleh kalau Kakek yang antar Rachel sekolah?"


Rachel menoleh pada Kia, menunggu persetujuan ibunya.


"Tentu boleh Pak, Bapak apa kabar?" Kia langsung menyalimi mertuanya.

__ADS_1


"Baik, eh cuma berdua, Davi mana?"


Dugggg!


Kia berusaha tetap tenang. "Mas Davi ada urusan bisnis Pak," kilah Kia.


Wanita hebat, dia berusaha menyembunyikan lukanya, batin Pak Yudi.


Pak Yudi berusaha mengumpulkan kembali kesadaran yang menguap. "Bapak mau antar Rachel dulu, sampai nanti Kia."


Kia tersenyum dan melambaikan tangannya kearah mertuanya.


Semoga Rachel tidak keceplosan menceritakan keributan kami, batin Kia.


Sepanjang perjalanan menuju sekolah Rachel Pak Yudi selalu mengajak cucunya bicara banyak hal, menanyakan keinginan cucunya, bahkan Pak Yudi berjanji akan menjemput Rachel saat pulang sekolah.


"Di rumah Rachel keadaannya bagaimana sayang?" tanya Pak Yudi.


"Baik Kek."


"Ayah memang jarang pulang?"


"Kata bunda, Ayah selalu lembur, kalau sekarang Ayah keluar kota, aku liat Ayah bawa koper saat pergi."


Pak Yudi tidak tahu harus apa, dia mengalihkan pembicaraan mereka, menanyakan hal lain. Selepas mengatar Rachel sampai gerbang sekolah, beliau berpapasan dengan wanita yang sering Kia tolong, namun wanita itu malah menghancurkan istananya.


"Pagi om," sapa Likha.


Pak Yudi tidak membalas, dia melengos begitu saja seolah tidak melihat Likha di sana.


"Jangan sok kamu, di sini tidak ada tempat buatmu, bukan level kamu!" ucap salah satu orang tua yang juga mengantar anaknya.


"Bener jeng, dia bisa ada di sini ya karena kebaikan Kia," ucap ibu-ibu yang lain.


Likha mematung, benar adanya. Dilingkungan ini tidak ada yang menerimanya, tidak ada yang melihatnya. Hanya Kia yang memberinya tempat dan melihatnya sebagai manusia, juga memanusiakan dirinya.


"Mama ... cepet, nanti Nanda celambat."


Ucapan putrinya menyadarkan Likha, dia segera mengantar putrinya.


Setiap dia berpapasan dengan para orang tua, tidak ada yang menyapanya. Sedang mereka semua saling sapa. Likha terus mengayunkan kaki melewati semua itu.


"Eh jeng, sebentar lagi hari pertemuan para orang tua, tahun ini aku hadir sendiri aja jeng," ucap salah satu orang tua.


"Sama jeng, aku juga sudah bilang anakku kalau papanya sibuk."


"Sebelumnya pertemuan para orang tua ini sangat positif, kita bisa saling mengenal satu sama lain, kalau tahun ini serasa negatif jeng."


"Benar, hawa-hawanya ada iblis yang mencari mangsa."


Likha semakin mempercepat langkahnya, dia benar-benar dikucilkan di sana.

__ADS_1


__ADS_2