
Kia masih hanyut dalam pemikirannya, mendengar handphonenya berbunyi lagi, Kia membuka pesan tersebut.
*Maaf ibu baru kasih kabar, ibu mau adain acara ulang tahun ibu ditempat pilihan ibu, tapi tahun ini acara sama kedua orang tua kamu dihari berikutnya aja ya, ibu mau tepat hari jadi ibu, ibu hanya bersama keluarga ibu. Masalah kedua orang tua kamu bisa-bisa kamu aja bicara.
Membaca pesan dari mertuanya seketika lutut Kia lemas. Bagaimana mungkin acara ulang tahun mertuanya dia tidak mengundang kedua orang tuanya?
"Bunda udahan belum handphonenya?" rengek Rachel.
Kia berusaha tersenyum. "Udah sayang, oh iya gimana kalau kita gangguin Aunty Luna di rumah oma?"
"Setuju bun, aku juga kangen sama oma."
Tanpa pikir panjang, Kia segera mengajak Rachel mengunjungi kedua orang tuanya. Sesampai di sana, seperti biasa, mereka disambut dan dijamu layaknya seperti Tuan putri. Kedatangan Rachel di rumah itu membuat Fuza sangat bahagia.
"Papa mana mah?" Kia mencoba basa-basi.
"Papamu belum pulang."
Kia menghempaskan bobot tubuhnya di sofa empuk yang setia di ruang tamu itu. Melihat bagaimana wajah Kia, siapa saja bisa menangkap kalau wanita cantik itu memiliki masalah.
"Ada apa Kia? Kalau berkenan sini cerita sama mama," ucap Fuza.
"Paling-paling Davi nggak pulang!" ucap Luna ketus.
"Bukan mas Davi, tapi Ibu."
"Kenapa dengan mertuamu nak?"
"Aku sudah pesan hotel untuk acara kecil-kecilan ibu, ya seperti biasa dihadiri keluarga dekat. Tapi ibu juga punya acara di hari yang sama tamu yang sama," keluh Kia.
"Batalin aja pesenan Kakak!" usul Luna.
"Nggak enak Luna, mendapat pembatalan itu tekanan batin tau, Kakak pernah di posisi itu. Jadi Kakak nggak mau lakuin itu pada orang lain."
"Kalau gitu, tamunya ganti sama Anak-anak panti bagaimana?" usul Fuza.
"Aku kan mau nggak mau harus ada di acara ibu, gimana aku bisa stay di sana untuk acara Anak panti?" keluh Kia.
"Kamu punya mama, punya papa, dan punya adik, acara di tempat pilihan kamu biar kami yang urus, kamu fokus acara di sana."
"Tapi--"
"Usul mama terbaik Kak, udah itu aja," sambar Luna. "Aku lebih bahagia adain ulang tahun tanpa kehadiran si rese itu, aku setuju ide mama pokoknya!
__ADS_1
"Kalian yakin mau urus acara tanpa aku?" Kia memastikan.
"Yakin pakai banget malah kak, Kakak sewa saja hotel itu tambah beberapa kamar, sewa biar bisa main dari pagi, hotel itu kan ada kolam renang, nah jadi anak panti senang-senang dulu di sana, malamnya acara doa buat mertua Kakak supaya cepat mati!"
"Luna!" Kia dan ibunya sama-sama menegur Luna.
"Maaf, maksudnya doa in buat kebahagiaan bu Ingrid lah."
"Kok aku jadi ragu buat percaya sama Luna ya ma?"
"Ada mama sama papa yang bantu, nanti urusan anak panti kami juga yang urus."
Mata Kia berkaca-kaca melihat ketulusan ibunya. Dia sangat membenci dirinya, tega berbohong agar tidak ada kerenggangan antara keluarganya dan keluarga Davi. Bahkan dia memakai alasan itu, agar keluarganya tidak menyadari kalau Ingrid tidak mengundang mereka.
Maafin Kia, Kia terpaksa bohong demi menjaga perasaan kita semua, jerit hatinya.
***
Sesampai di kediamannya makan malam sudah tertata rapi di meja makan. Para pelayan yang bekerja membantu bi Sarah memberi senyuman pada Kia.
"Tumben kali ini pulang lebih dulu Tuan," sapa Bi Sarah.
"Owh Ayahnya Rachel udah pulang bi?"
"Kalian pasti sudah makan malam di rumah oma kan?" Davi berjalan santai menuruni anak tangga.
"Ayah ...." Rachel langsung berlari kearah Davi. "Kami belum makan Ayah, kata bunda tadi mau makan malam sama Ayah aja."
"Oya?"
"Iya Ayah, ayok kita makan sama-sama. Rachel sudah lapar."
Kebahagiaan yang sempat melemah itu seakan kembali. Kehangatan dan kebersamaan di meja makan seperti salju yang mendinginkan kembali rumah tangga itu. Selesai menikmati makan malamnya, Kia mulai menceritakan rencana ibunya.
"Aku nggak enak batalin pesanan aku mas, sedih banget aja kalau tiba-tiba ada pembatalan gitu, beruntungnya ada mama yang siap bantu untuk acara di sana."
"Aku setuju sama ide mama, tapi nggak enak sama mereka, kita senang-senang ditempat lain, tapi keluarga kamu malah urus acara yang lain." Davi menghempas kasar napasnya.
"Aku juga udah bilang gitu, tapi mama yang mau."
"Yq sudah, kita jalani acaranya seperti yang kamu susun dan ikuti acaranya ibu."
Flash back
__ADS_1
Setelah mendengar aduan Fanny Ingrid segera mendatangi Fanny ke aapartemennya, dia berusaha menangkan Fanny yang terus menangis karena merasa dipermalukan Kia.
"Sudah sayang, bukan begini caranya, dia permalukan kamu, balas balik bukan nangis gini."
"Aku nggak punya jalan buat permaluin dia tan ...."
"Sebentar lagi ulang tahun tante, enaknya bikin malu dia apa ya?"
"Bagaimana kalau tante ikut kamu ke luar Negri, saat acara tante nggak di sana, pasti Kia malu sama tamu!" ide Ingrid.
Fanny menghapus air matanya. "Acara ulang tahun tante masih seperti dulu?"
Wajah Ingrid seketika masam membayangkan momen ulang tahunnya di setiap tahun. "Ya, begitu aja nggak ada mewahnya, sampai tante nggak berani undang teman arisan tante. Acaranya tidak berbeda, hanya diadakan ditempat yang berbeda."
"Kia udah pesan tempat tan?"
"Davi ada cerita, kalau Kia pesan tempat di hotel temannya. Ya mungkin pesan beberapa meja gitu ...."
"Kita bikin malu dia dengan membatalkan pesanan itu!" ide Fanny.
"Buat dia malu sama teman Davi oke, tapi apa alasannya? Kalau tante ada di sini kan nggak bisa buat dia batalin pesanan dia," keluh Ingrid.
"Aku adain party buat tante, party impian tante."
Sepasang mata Ingrid berbinar mendengar perkataan Fanny. "Apa yang tante dengar ini nyata? Bukan mimpi."
"Nyata tante, tapi tante bilang sama Davi itu teman tante yang adain."
"Kamu benar-benar menantu idaman tante." Ingrid menarik Fanny kepelukannya.
"Satu lagi tante."
"Apa sayang?"
"Buat kedua orang tua Kia tidak hadir di sana, terus tante nangis-nangis karena besan tante nggak datang di hari bahagia tante."
"Tante suka ide dan semangat kamu sayang!"
Ingrid langsung menghubungi Davi, meminta Davi bicara pada Kia untuk membatalkan acara yang Kia siapkan untuknya, karena dia mempunyai acara sendiri. Davi keberatan, namun Ingrid terus kekeh mempertahankan rencananya. Davi terpaksa setuju.
"Iya bu, acara ulang tahun ibu tahun ini akan berjalan seperti yang ibu mau. Aku mau telepon Kia dulu untuk ceritakan keinginan ibu."
Setelah panggilan bersama Davi berakhir, Ingrid dan Fanny kembali berpelukan, mereka sangat yakin acara kali ini sukses membuat Kia malu.
__ADS_1