Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
21 Editan


__ADS_3

Setelah acara Rachel selesai, Davi tidak pulang bersama keluarganya, entah kemana laki-laki itu. Dia meninggalkan tempat acara dengan alasan mempersiapkan berkas untuk perjalanan keluar Negri. Kia tenggelam dalam dilemanya, walau dia tidak tahu di mana Davi, tapi dia yakin Davi bersama siapa.


Ceklak!


Suara pintu kamar yang terbuka membuat Kia buru-buru mengusap air matanya. Kala Kia membalikan badannya ternyata itu bukan Davi, melainkan Rachel.


"Bunda ...."


"Iya sayang." Kia berusaha tersenyum untuk malaikat kecilnya.


"Apakah keinginanku agar Ayah, bunda selalu ada bersamaku terlalu berat?"


"Mengapa begitu?" tanya Kia lembut.


"Setiap malam Ayah tidak pernah makan malam sama kita, sabtu dan minggu saja Ayah tetap bekerja."


"Ayah sibuk, do'akan semoga pekerjaan Ayah lancar, agar Ayah kembali ada buat Rachel."


"Buat bunda juga."


Kia tidak mampu mengiyakan. Dia berusaha tegar seolah tidak tahu apa-apa semata demi putrinya.


"Ayah belum pulang ya?"


"Mungkin masih di kantor, kan Ayah mau urus perjalanan bisnis keluar Negri."


"Ya sudah, aku tidur sama bunda ya."


"Boleh banget, ayok kita tidur."


Hari keberangkatan Davi keluar Negri, Kia tidak mengantar suaminya ke bandara. Dia takut bangunan hatinya tidak bisa berdiri lagi jika melihat Likha di bandara. Tanpa melihat Likha pun dia sangat tahu siapa yang duduk di samping suaminya saat di pesawat, Kia mendapatkan informasi siapa saja penumpang penerbangan itu dari detektif yang dia sewa.


Kia diam atas semua ini, ingin tahu sejauh mana suaminya tega menipunya, juga ingin membiasakan Rachel menjalani hari tanpa kehadiran sosok Ayah.


Tidak seperti perjalanan bisnis sebelumnya, dulu Davi selalu meneleponnya dan Rachel, walau hanya sekedar bertanya sudah makan atau belum, terkadang hanya menceritakan hal kecil yang dia jalani, apa yang dia makan, atau oleh-oleh apa yang mereka mau. Kali ini tak ada telepon dari Davi sama sekali.


Hari pertama kepergian Davi, Kia kewalahan mengatasi rengekan Rachel yang terus menanyakan Davi, namun inilah tujuan Kia, walau sesekali Rachel merengek agar bisa bicara dengan Davi, Kia sengaja tidak memenuhi keinginan Rachel yang itu, tujuannya agar Rachel terbiasa kecewa karena jauh dengan Ayahnya, agar hatinya kebal akan rasa sakit tanpa menerima kabar dari Ayahnya.


Tidak terasa satu minggu berlalu, Davi kembali lagi ke tanah air. Saat menjemput Davi di bandara Kia bingung dengan perasaannya, yang ada saat ini dia merasa jijik melihat suaminya itu. Entah kemana rasa cinta itu.


"Kangen bunda." Davi ingin mencium istrinya, namun Kia malah menahannya dan menepuk pundaknya.


"Ayah sudah nggak kangen aku ya? Selama pergi Ayah tidak pernah telepon aku!" protes Rachel.


"Kita pulang yuk, kasian Ayah masih capek." Kia sengaja mengalihkan suasana, dia berjalan lebih dulu sambil menarik tangan Rachel.


Melihat hal itu Davi merasa lega, dia tidak perlu mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Rachel. Dia segera menyusul anak dan istrinya.

__ADS_1


Sesampai di rumah, Davi masih sibuk menarikan jemarinya diatas layar handphonenya. Kia tidak peduli, dia lebih memilih memperhatikan Rachel, menemaninya bermain dan banyak hal.


"Oh iya, Ayah lupa kasih oleh-oleh buat kalian." Davi menyimpan handphonenya dan segera membuka kopernya.


"Ini buat Rachel, ini buat bunda."


Sambutan Rachel begitu dingin, dia menerima benda pemberian Davi dan mengucap terima kasih, namun meletakan benda itu di sampingnya.


"Kok nggak dibuka sayang?" sela Davi.


"Ini waktu aku belajar sama bunda, Ayah."


Davi menyadari ada ketidak beresan di depan matanya. Dia membiarkan Kia terus menemani Rachel, saat melihat mereka sudah selesai, Davi mengajak Kia ke kamar mereka.


"Kenapa pintunya di kunci?" Kia heran melihat Davi mengunci pintu kamar mereka.


"Kamu berubah sayang."


"Berubah bagaimana? Aku ini manusia bukan power ranger yang bisa berubah," sahut Kia.


"Kamu begitu dingin, kamu tidak sehangat Kia istriku selama ini."


"Coba mas ajari aku bagaimana aku bisa hangat dan ceria seperti dulu, jika aku tahu suamiku khianatin aku!"


Kia mengambil foto-foto yang dia terima dari detektif yang selama ini bekerja padanya untuk membuntuti Davi.


Davi memungut semua itu dan tertawa. "Aduh ... hebat banget ini yang edit."


"Editan?" Kia tidak habis pikir dengan tanggapan Davi yang mengatakan itu foto editan.


"Jangan bilang kalau kamu kemakan hasutan pembuat foto-foto ini!"


"Hasutan?!" Kia menggelengkan kepala, entah dirinya terlalu lemah atau Davi sekarang sudah menjadi suhu yang lihai memutar balikan fakta.


"Aku nggak mau debat masalah ini, kamu itu cerdas sayang, jangan kemakan masalah ini!" Davi melempar semua foto yang dia pungut dan berjalan menuju pintu.


"Mas, jangan pergi! Aku belum selesai!"


"Aku mau pergi, dan aku akan kembali saat kepala kamu sudah bisa berpikir dengan waras! Aku nggak mau ribut hanya karena kamu kemakan foto editan itu!" Davi membanting keras pintu kamar itu.


Di sisi lain.


Rachel terperanjat mendengar suara bantingan pintu itu, dia perlahan membuka pintu kamarnya, saat yang sama dia melihat ibunya berlari mengejar Ayahnya sambil menangis.


Di luar kamar.


"Mas, kembali mas! Kita selesaikan semuanya, jangan jadi banci kamu!"

__ADS_1


"Aku capek habis perjalanan bisnis, Kia! Kamu tuduh aku dengan hal itu? Aku nggak habis pikir Kia!"


"Sampai kapan mas terus mengelak?! Aku menuduh bukan karena termakan hasutan atau sekedar prasangka mas!"


"Terserah! Aku tidak melakukan itu!"


Bukan hanya Rachel yang terkejut atas pertengkaran kedua orang tuanya, namun para pelayan yang masih bekerja juga syok. Selama bekerja di rumah ini kedua majikan mereka sangat harmonis.


"Apa istimewanya Likha dari aku? Sampai mas tega membohongi wanita yang 11 tahun ini bersama mas?"


"Kenapa sekarang bawa-bawa Likha? Kenapa kemaren-kemaren kamu malah membiarkannya menjelajah rumah ini? Menanggapnya saudara, memberinya kasih sayang. Sekarang kamu nuduh aku dan dia? Mulai nggak waras kamu!"


"Yang nggak waras itu kalian! Kejahatan apa yang aku lakukan pada kalian sehingga kalian setega ini sama aku?"


"Kalau kamu tidak sanggup percaya pada Likha, seharusnya nggak usah sok pahlawan dengan mempercayainya, sudah begini aku yang di salahin dengan menuduhku selingkuh sama dia?! Aku tidak tahu apa-apa!" teriak Davi.


"Elak sekuat kamu mas! Kamu pikir aku tidak tahu kamu di luar negri sama siapa?" Kia mengambil salah satu map dan melempar berkas itu ke wajah Davi. "Likha satu penerbangan sama kamu, satu hotel sama kamu, apa lagi yang kamu elak?!"


"Apa setiap wanita yang satu pesawat sama aku berarti dia selingkuhan aku? Waw aku selingkuh sama orang satu pesawat!?"


Bi sarah yang sejak awal bekerja bersama Kia sangat hancur menyaksikan pertengkaran majikannya, dengan bahasa isyarat dia mengajak semua pelayan untuk pergi dari sana.


"Masih kurang!?" Kia mengambil map yang lain. "Proyek yang aku perjuangkan rugi?" Kia tertawa dalam tangisnya.


"Itu laporan keuntungan besar proyek yang aku perjuangkan, tapi hasilnya kemana?" Kia mengambil berkas yang lain dan melempar ke wajah Davi. "Apartemen mewah ... mobil keluaran terbaru, kartu debit ... waw ...." Kia bertepuk tangan mengagumi tipuan Davi padanya. "Semua kerja keras aku kamu sembahkan untuk Likha ...."


Keadaan semakin menegang, Rachel di lantai dua yang menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya hanya bisa menumpahkan tangisnya. "Ayah ... Bunda ... jangan berantem ...." Rachel menangis sesegukan.


"Bukti yang aku miliki masih kurang? Owh tenang, kalau kurang aku siap menambahkan."


"Terserah mas mau mengelak seperti apa, itu urusan mas."


Davi bungkam, dia tidak punya kata-kata untuk mengelak semua bukti Kia.


Kia memungut semua berkas yang dia lempar, dan menaruh semuanya di atas meja. "Aku punya satu pertanyaan buat mas. Coba mas kasih tau aku, apa kekurangan aku yang membuat mas berpaling pada wanita itu? Sesuatu yang mas cari hanya ada pada dia dan tidak ada padaku?"


"Sehebat apa dia mas?"


"Ingat mas ... Tidak ada manusia yang sempurna! Mas juga tidak sempurna, tapi aku selalu berusaha menutupi kekurangan mas, agar dunia tahu mas suami sempurna!"


"Di mana letak kekurangan aku dan kekurangan itu hanya mas temukan ada pada Likha? Masalah ranjang? Mas kurang puas?"


"Mas pikir aku selalu bahagia atas keputusan yang kau pilih? Mas pikir aku nggak punya mimpi dan keinginan? Enggak mas! Bahkan banyak mimpi dan keinginanku yang aku kubur, tapi aku sama sekali tidak keberatan dan menyesal memotong mimpiku, memotong keinginanku, setelah menjadi istrimu aku hanya ingin mematuhimu, mengikuti apa maumu walau aku tak bahagia, ada aku protes? Enggak ... Aku selalu berusaha terlihat bahagia walau aku tidak merasakannya, tidak masalah ... Karena jika kamu bahagia aku juga bahagia, semua ini semata demi kamu, agar kamu merasa kamu adalah orang hebat! Agar kamu merasa puas dan berhasil."


"Pernikahan itu ibadah seumur hidup mas, mengorbankan sebagian perasaanku demi kebahagiaanmu adalah sebagian baktiku padamu, setelah menikah bukan lagi tentang cantik dan bukan lagi tentang rasa, tapi bagaimana kita saling melengkapi!"


"Tapi apa yang mas lakukan padaku? Mas tidak menutupi kekuranganku, tapi mencari yang kurang itu pada orang lain yang di mata mas dia lebih sempurna." Kia tersungkur di lantai, rasanya kedua kakinya tidak sanggup lagi menopang bobot tubuhnya.

__ADS_1


Melihat Kia sehancur itu, Davi juga hancur. Dia memilih pergi meninggalkan rumah mereka.


__ADS_2