Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
31 Kebahagiaan Ibu dan Anak


__ADS_3

Kia dan Rachel masih berada di store yang berlogo apel gigit tersebut.


"Bunda, teman-teman Rachel sudah pakai handphone, kenapa bunda belum kasih Rachel punya Handphone sendiri?"


"Rachel mau punya handphone sendiri juga?"


"Mau."


"Rachel harus nabung dulu, beli handphone dari uang sendiri, itu sangat memuaskan."


"Rachel pengen bisa telepon bunda sendiri saat Rachel nggak sama bunda."


Perhatian Kia tertuju pada Apple Watch yang dipajang. "Kalau handphone, nanti dulu ya. Bagaimana kalau itu dulu." Kia menunjuk pada jam tangan pintar.


"Itu Rachel bisa kirim pesan sama telepon juga loh," jelas Kia.


"Boleh! Rachel suka, banyak teman Rachel juga yang pakai itu!"


"Orang kaya gini banget sama anak! Anak pengen handphone dibeliin jam tangan, irit apa pelit?" gerutu pelanggan yang lain.


"Saya memang kaya bu, andai saya mau, saya mampu membeli semua barang yang ada di toko ini, tapi saya hanya membeli sesuatu yang memang perlu, semua ini saya lakukan untuk mendidik anak saya agar memilki mental pejuang walau pun dia seorang pewaris!"


Wanita yang menyindir Kia terlihat malu sendiri. Tidak ada yang salah jadi pewaris, itu keberuntungan seorang anak yang lahir dari kalangan keluarga Kaya. Hanya saja Kia ingin anaknya mampu berjuang sendiri, sebagai manusia dia tidak tahu sampai batas mana dia bisa mendampingi anaknya. Seperti kedua orang tuanya mendidiknya untuk jadi pejuang, terbukti saat ini, dia mampu mewujudkan mimpi tanpa menadah pada kedua orang tuanya, mau pun suaminya.


Tidak ada yang salah juga jika terus menadah, tapi mampu berusaha diatas kaki sendiri ada kepuasan dan kebanggaan tersendiri. Inilah yang Kia rasakan.


Handphone baru dan jam tangan pintar dengan merk yang sama sudah Kia dapat, dia tengah menunggu proses yang lain.


"Apakah mau dibantu pemindahan data handphone lama ke handphone baru?" tanya pelayan toko.


"Registrasi dan garansi sudah aktif?" tanya Kia.


"Sudah bu."


"Itu saja, yang lain saya bisa sendiri."


Kia dan Rachel keluar dari toko itu, keduanya terlihat bahagia.


"Handphonenya belum bunda aktifkan?"


"Nanti dulu, selagi bunda sama Rachel, bunda mau puas-puas senang-senang dan jalan-jalan sama Rachel dulu."


"Kita jalan kemana bund?"


"Kemana ya? Bunda juga tidak ada tujuan."


"Bagaimana kalau ke danau? Bukankah tempat itu tempat kesukaan bunda?"


"Tapi ngapain kita ke sana?"


"Lihat orang bermain di sana, jajan di sana."


Kia merasa ide putrinya bagus, dia segera menuju objek wisata yang menawarkan keindahan danau, lokasi tersebut tidak jauh dari kota mereka.


Di belahan lain. Luna baru saja ke Sekolah Rachel, namun dia mendapat jawaban kalau hari ini Rachel tidak masuk karena tidak enak badan.

__ADS_1


"Kak Kia … kemana kalian?" keluh Luna.


"Luna, kamu di sini jemput Rachel ya?" 


Luna menoleh ke suara itu berasal, wajahnya seketika masam melihat sosok yang menyapanya. Dia tidak merespon perkataan Likha, Luna segera menuju mobilnya.


"Luna! Kamu kenapa?" teriak Likha, dia terlihat bingung baru kali ini sahabatnya bertingkah aneh padanya bahkan mengabaikannya.


Luna tetap tidak menghiraukan, dan perlahan melajukan mobilnya meninggalkan sekolah itu. Merasa jarak dari sekolah sudah jauh, Luna menepikan mobilnya, kali ini harapannya untuk menemukan Kia hanya lewat Nabila. Luna segera menghubungi Nabila, berharap Kakaknya bersama sahabatnya itu.


"Iya Luna." Sapaan di ujung telepon.


"Kak Bila, Kak Kia sama Kakak?"


"Enggak, malah Kakak mau nanya, kenapa Kia tidak bisa dihubungi," ucap Nabila.


"Aku harus cari Kak Kia kemana lagi …." keluh Luna.


"Sekolah, Restoran?"


"Sudah Kak, tetap saja Kak Kia tidak ada di sana."


"Apa Kakakmu ada masalah?"


"Sudah dulu ya Kak, aku mau lanjut cari Kak Kia." Luna langsung menutup sambungan teleponnya.


Sikap Luna seperti itu, membuat Nabila merasakan sesuatu. "Apa Kia dalam masalah?"


Sebagai sahabat Kia, Nabila tidak bisa diam. Dia langsung menemui Indra, dan menceritakan kalau Luna menanyakan Kia padanya. Keduanya membisu memikirkan mengapa Kia seketika sulit dihubungi.


Indra berusaha mengingat kembali masa kecilnya bersama Kia, hingga senyuman terukir di wajahnya, dia berharap tebakannya benar.


"Kamu ingat proyek pertama om Herman?" ucap Indra begitu semangat.


"Danau buatan tengah kota!" sahut Nabila.


"Ayo kita ke sana," ajak Indra.


Demi sahabat, mereka meninggalkan pekerjaan, dan berharap sahabat mereka ada di tempat yang mereka pikirkan. Sesampai di tempat tujuan keduanya lega, karena menemukan mobil Kia di area parkir.


"Dugaanmu tepat Ndra, sekarang kita cari di mana itu anak." Nabila menyisir pandangannya, berusaha mencari keberadaan Kia.


"Tempat kesukaan Kia, pondok tepi danau, di sana banyak yang jual makanan favorite dia, dan dia suka memandangi pengunjung yang menikmati wahana sepeda air." Indra menunjuk ke arah pondok-pondok yang berjejer di tepi danau.


"Tunggu apalagi, ayok!" Nabila menarik Indra ke tempat yang Indra tunjuk.


Lagi-lagi tebakan Indra tepat, di salah satu pondok terlihat kebahagiaan ibu dan anak, keduanyaþ begitu fokus pada sesuatu.


"Takdirmu yang kejam, atau apa? Padahal segala hal kalian itu berjodoh, tapi Kia tidak bisa kamu dapatkan." Nabila menepuk pundak Indra.


"Ehm!" Nabila sengaja berdehem, untuk menarik perhatian ibu dan anak itu.


"Loh Aunty Bila, om Indra, kok kalian ada di sini?" sapa Rachel.


"Kalian lagi apa? Asyik banget!" sela Indra.

__ADS_1


"Aku lagi belajar gunain jam tangan pintar." Rachel memperlihatkan jam tangan barunya pada Nabila dan Indra.


"Waw, apple watch, Aunty mau dong …."


"Eh, kok kalian saat jam kerja ada di sini? Lagi kencan ya?" goda Kia.


"Cari elu!" ucap Nabila sinis.


"Kenapa cari aku?"


"Kamu jujur deh sama kita, kamu ada masalah?"


"Masalah?" Kia berusaha bersikap tenang.


"Adikmu sampai hubungi kami buat cari kamu, aku juga dari pagi hubungin kamu nggak bisa-bisa!" keluh Nabila.


"Handphone aku rusak, udah beli tapi belum aku aktifin," ucap Kia.


"Tieee hape baluuu," goda Nabila.


"Hape bunda aku jatuhin--"


"Ini sayang, buahnya seger ya?" Kia langsung menyuapkan buah ke mulut Rachel, agar anaknya tidak keceplosan bicara.


"Hape aku nggak sengaja jatuh dan rusak, jadi aku ganti baru, dan sengaja belum aku nyalakan." lanjut Kia.


"Ya sudah, pakai handphone aku dulu, kamu telepon balik sana nomor Luna, pasti ada hal penting, Luna aja seperti panik gitu karena nggak nemui kamu di rumah, Resto mau pun sekolah Rachel."


Kia setuju, dia langsung menghubungi Luna dengan meminjam handphone Nabila.


"Halo Kak Nabila, udah ketemu Kak Kia?" pertanyaan dari ujung telepon.


"Ada apa Luna? Handphone Kakak rusak, jadi ini pinjam handphone Nabila dulu."


"Kakak ... Kakak kemana aja! Aku panik cariin Kakak!" keluh Luna.


"Ada apa Luna?"


"Kak Davi kecelakaan, saat ini dia menjalani operasi."


"Rumah Sakit mana? Secepatnya Kakak kesana."


"Nggak usah buru-buru Kak, do'a kan saja dia cepat mati! Kakak tidak akan stres jika Davi mati!" omel Luna.


"Luna!" maki Kia


"Maaf ...." Luna menyebutkan nama Rumah sakit tempat Davi dirawat.


Setelah menyudahi panggilan teleponnya, Kia mengembalikan handphone itu pada Nabila, dan bergegas membereskan barang-barangnya. Hal ini membuat Nabila kebingungan.


"Ada apa Kia?"


"Aku harus ke Rumah Sakit, mas Davi kecelakaan."


"Ayah ...." Tangis Rachel kembali pecah mendengar sang Ayah tercinta mengalami kecelakaan.

__ADS_1


__ADS_2