
Acara Grand Opening perusahaan baru Kia berjalan seperti yang Kia harapkan. Tamu-tamu pun terlihat puas menikmati acara yang masih berlanjut. Kia terlihat asyik berbicara dengan calon patner kerjasamanya.
Sedang di sisi yang berlawanan Rury terus memandangi Kia. Tidak banyak wanita seperti Kia, yang mau bekerja keras untuk kebahagiaan bersama, tapi tetap mengutamakan keluarga. Ada pun wanita seperti itu biasanya sudah berstatus istri orang. Siapa suami Kia? Hal ini membuat Rury penasaran, sesempurna apa pilihan laki-laki itu sehingga meninggalkan Kia.
"Ehm!" Nabila berdeham dan duduk di kursi dekat Rury.
"Mau kursus padaku untuk menaklukan hati Dio?" tebak Rury.
"Bukan, aku cuma mau tanya. Kamu menyukai Kia?"
Rury menghela napas panjang. "Kia wanita muda yang cantik, karir gemilang, siapa yang tidak suka padanya?"
"Bukan apa-apa, wanita yang selama ini disukai Indra adalah Kia."
Dugggg!
Jantung Rury serasa berhenti berdetak, mengapa dia harus mencintai wanita yang juga dicintai Indra.
"Indra pasti tidak mempermasalahkan kalau kamu juga berjuang mendapatkan cinta Kia, tapi aku sebagai teman kasihan padanya. Sejak Kia belum menikah, Indra sudah mencintai dia, bahkan sampai Kia mempunyai anak rasa cinta itu tidak hilang."
"Aku harus mengalah?" tebak Rury.
"Selama ini Indra sangat baik pada teman-temannya, apakah mengikhlaskan Kia untuk Indra terasa berat?"
Rury menarik napasnya panjang, merelakan Kia untuk Indra, tapi setelah ini apakah ada wanita seperti Kia yang Tuhan datangkan padanya?
"Berat Bila, aku tidak akan mengalah, sebaiknya kamu semangati Indra untuk berjuang mendapatkan hati Kia juga."
"Indra terlalu penakut."
"Itu derita dia, jika dia tidak berjuang apa gunanya aku mengalah?"
Nabila bungkam, andai Rury mengalah, tapi Indra masih menyimpan cintanya, bagaimana cintanya bersambut? Kia bukan malaikat yang bisa mendengar kata hati orang. Sejak dulu Indra hanya menunjukan kalau Kia berarti tapi tidak mengungkapkan.
Nabila membuang pandangannya ke arah lain, dia melihat Indra bermain bersama Rachel dan Azriel. "Sama anaknya udah dekat, tunggu apa lagi Indra ...." gumam Nabila.
__ADS_1
***
Hari demi hari berlalu begitu saja. Kesibukan Kia tertumpu pada perusahaan barunya. Sejak Rachel duduk di kelas 6, kegiatannya di sekolah seharian penuh, kecuali sabtu dan minggu anak itu baru ada di rumah.
Davi juga meneruskan hidupnya yang kosong, menyibukan diri dengan bekerja dan bercinta mengalihkan pikiran dari kehampaan menjalani kehidupan baru ini. Malik juga menjadikan Fanny sebagai Sekretaris pribadi Davi, seperti permintaan putri tersayangnya itu. Fanny mengakhiri karir sebagai model di luar negri agar selalu bisa bersama Davi, dan sengaja meminta posisi itu, dia bisa berada di samping Davi sepanjang jam kerja juga saat di rumah.
Hubungan Fanny dan Davi bukan rahasia, keduanya berani tampil mesra di depan umum. Pergi dan pulang kerja bersama, bahkan Davi selalu menggandeng Fanny saat di kantor.
Merasakan kebahagiaan ini Fanny seakan ingin berterima kasih pada Likha, karena jika Likha tidak mematahkan hati Davi, dia tidak bisa memiliki Davi.
Pekerjaan kantor selesai, Davi menutup laptopnya dan duduk bersandar di kursi kerjanya. Sedetik kemudian Fanny duduk di pangkuan Davi.
"Mau makan siang di mana sayang?"
"Terserah kamu, aku ikut apa yang kamu atur."
"Kak, 1 bulan ini kamu nggak ada nengok Likha, memang dia nggak curiga?"
"Masa bodoh dengan perasaan dan pemikirannya. Selama dia diam, jatah bulanan aku kirim, kalau dia keberatan ya udahan aja. Aku mulai bosan melihat wajahnya."
"Pekerjaan kantor kita udah selesai Kak, semua persiapan reaepsi kita juga beres, kita pulang yuk, kan besok adalah hari bahagia kita."
***
Hari bahagia yang Fanny tunggu akhirnya tiba, saat ini dia mengenakan gaun biru muda yang mewah, persis boneka barbie yang begitu cantik. Sedang Davi juga sudah mengenakan setelan jas dengan warna yang serupa dengan gaun pengantin Fanny.
Keduanya berjalan memasuki gedung resepsi pernikahan mereka. Semua tamu undangan seakan tersihir kala mata mereka melihat sepasang pengantin itu. Diantara ratusan orang yang ada di ruangan itu, kebahagiaan Ingrid yang paling terlihat
Di sisi lain.
Sejak mendengar Ingrid mempersiapkan resepsi pernikahan, Likha mulai memperhatikan dirinya. Keluar masuk salon kecantikan untuk perawatan diri. Saat ini Likha melakukan perawatan rambut.
Hari ini sebagian besar pengunjung salon hanya menata rambut mereka, sebagian lagi merias wajah mereka di sana. Sebagian besar pengunjung salon mengenakan baju pesta dan terlihat sangat cantik.
"Beruntung banget si Davi ya, pernah jatuh di kubangan lumpur, eh dipungut sama anak tunggalnya sultan."
__ADS_1
"Bener jeng, aku kira setelah dia pisah sama pengusaha cantik itu hidupnya akan melarat sama pelakor." Mata pengunjung itu tertuju pada Likha.
Sedang yang disindir membeku berusaha memahami kalimat sebelumnya.
"Nah itu, namanya beruntung walau dia bodoh akut, ada aja jalannya buat naik."
"Pantesan saja si pelakor akhir-akhir ini full perawatan, ternyata udah dibuang Davi dan siap-siap cari mangsa baru sepertinya."
Jantung Likha berdentum hebat, ingin rasanya mencekek salah satu tamu itu dan memintanya berkata dengan jelas.
"Aku yang ketawa itu pas pelakor pamer hasil rampokan dia jeng, myngkin dia ngerasa ngerampok itu prestasi."
"Udah ah jeng, nanti cantiknya kita luntur kalau bahas pelakor itu, yuk kita ke resepsi Davi dan Fanny, ini kita udah telat."
Likha tidak bisa lagi tenang, dia langsung berdiri dan mencegat salah satu tamu. "Apa ibu bilang? Resepsi pernikahan Davi dan Fanny?"
"Ya iyalah resepsi mereka, lepasin tangan najis kamu dari saya!" Tamu itu menepis tangan Likha dan segera pergi.
"Nggak diundang ya dipernikahan mantan selingkuhannya?" ledek tamu yang lain.
Salah satu tamu memperlihatkan undangan pernikahan Davi dan Fanny. "Lihat mereka, mereka sangat serasi bukan?"
Likha merebut undangan itu dan segera pergi dari sana. Likha lupa kalau rambutnya masih berbalur masker, dia terus berlari ke jalanan seperti orang gila. Likha berusaha menyetop taksi, tapi tidak satu pun berhasil.
"Mama. Aku harus minta bantuan mama." Likha langsung mencari kontak Eren dan menekan panggilan kepadanya.
"Iya Likha."
"Mama masih di rumah?"
"Masih."
"Ma, cepetan jemput aku di salon langganan kita. Mama jangan lupa bawa surat nikah siri aku sama Davi, ternyata hari ini Davi nikah ma!"
"Mama secepatnya ke sana. Kamu tunggu mama!"
__ADS_1
Eren seperti kehilangan kewarasan, dia segera mengambil surat keterangan Nikah Davi dan Likha, memasukannya dalam tas, dan segera melajukan motornya ke titik pertemuan dengan Likha.
"Ingrid kurang aj4r! Ternyata dia menyiapkan pernikahan Davi dengan wanita lain!" Eren terus memutar gas sampai habis, namun rasanya motor butut itu melaju seperti kura-kura.