Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 19


__ADS_3

Mobil Kia memasuki area parkir gedung sekolah itu. Saat yang sama sebuah mobil sedan juga parkir di samping mobilnya. Kia keluar dari mobil bersamaan dengan keluarnya pengemudi mobil sedan itu.


"Likha? Apa aku salah lihat?" sapa Kia.


"Hai Kak Kia." Likha berlari kecil menghampiri Kia.


"Aku hampir nggak ngenalin kamu," ucap Kia.


"Kakak berlebihan, aku masih seperti sebelumnya."


"Tapi di mataku kamu semakin cantik, makin glowing, makin sempurna!" puji Kia.


"Kakak berlebihan, aku hanya ikut mama perawatan kecil."


"Bunda ...."


Teriakan itu menarik perhatian Kia. Dia menyambut putri kesayangannya itu.


"Rachel, setelah ini kita enaknya kemana sayang?" tanya Kia.


"Belum ada tujuan, tapi kita makan ke Restoran bunda dulu boleh?"


"Boleh banget sayang ...."


"Hai Aunty Likha, mau ikut Rachel lagi nggak?" tawar Rachel.


"Makasih sayang, tapi Aunty ada janji sama oma Eren."


"Oke Aunty, sampai jumpa lagi lain waktu.


Kia membawa Rachel ke Restorannya, sesuai permintaan putrinya. Dia makan siang berdua dengan putrinya di ruangannya.


"Bagaimana? Rachel suka udang sama kepitingnya?"


"Suka banget bunda, enak."


"Bunda masih kepikiran cerita Rachel tadi malam, tentang Aunty Likha yang kelilipan."


"Owh ... itu terjadi saat oma Eren ulang tahun, aku kebelet pipis, pas sampai kamar mandi dengar suara-suara samar gitu."


"Rachel masih ingat seperti apa suaranya?"


Rachel menirukan suara yang dia dengar, hal itu seketika meluluh lantahkan ketegaran hati Kia. Kia langsung mengusap air matanya sebelum Rachel menyadarinya.


"Terus aku buka pintu kamar mandi, eh di dalam ada Ayah sama Aunty Likha."


Kia berusaha menahan napasnya, saat ini air matanya terasa diujung, tidak bisa dia tahan.

__ADS_1


"Terus ...." Suara Kia mulai bergetar, sekuatnya menahan air matanya agar tidak menetes di depan putrinya


"Ayah sama Aunty kayak kebingungan, aku tanya kenapa, Aunty Likha jawab dia kelilipan, Ayah lagi bantu dia niupin matanya, benar juga sih, saat itu aku lihat wajah Ayah sama Aunty sangat dekat."


"Tapi Ayah tidak bisa sembuhin kata Aunty, matanya masih perih, jadi Rachel tiupin dan sembuh ...."


"Posisi Ayah sama Aunty Likha seperti apa?"


"Persis seperti bunda sama Ayah tadi malam, bunda duduk di meja, kalau Aunty duduk di westafel. Untuk yang lainnya sama." Rachel kembali menikmati makanannya.


Baginya ceritanya hanya cerita biasa, tapi bagi ibunya setiap cerita Rachel bagai jutaan anak panah yang menembus jantungnya.


"Yang lebih parah ada sih, bagiku bunda lebai banget, kelilipan aja teriaknya iiihh ... kayak ketusuk pisau aja!"


"Bunda boleh minta tolong sama Rachel?"


"Tolong apa bunda?"


"Bunda minta tolong Rachel, agar Rachel rahasiakan hal ini ya, bunda malu kalau orang-orang tau bunda cengeng, Aunty Likha juga pasti malu kalau ada yang lain tau. Rachel aja kan malu kalau sampai ada yang tau kalau kelemahan Rachel diketahui orang."


"Siap bunda, Rachel akan simpan cerita ini."


"Jadi rahasia kita oke?" Kia memberikan jari kelingkingnya.


"Siap bunda, ini rahasia kita." Rachel menautkan jari kelingkingnya pada kelingking Kia.


"Selesai makan siang, Rachel mau jalan kemana sayang?"


"Boleh banget. Setelah istirahat kita pulang buat ambil perlengkapan ya."


"Tapi bunda temani aku ya, jangan tinggal aku kayak Ayah kemaren."


"Ayah tinggalin Rachel di mana?"


"Saat Rachel asyik main sama Nanda, nggak tau saat Rachel cari Ayah dan Aunty, mereka berdua nggak ada."


"Rachel kemaren berenang di mana?"


"Nggak tau bunda, sekeliling kolam renang banyak gedung tinggi."


Kia membeku, pikirannya saat ini tertuju pada Likha.


Tega kamu Likha, kalau dugaan aku benar terjadi. Saat dunia membencimu, aku yang memberi tangan dan cinta buatmu, tapi apa yang kau lakukan padaku?


Kia berusaha fokus pada Rachel saat ini, urusan Davi dan Likha Kia mengesampingkan hal itu. Dalam pikirannya saat ini dia hanya ingin putrinya bahagia.


Seperti janjinya pada Rachel, Kia mengajak putrinya pergi ke pantai. karena matahari masih terlalu terik, Kia meminta putrinya untuk tidur sambil menunggu waktu sore.

__ADS_1


Di kamar hotel yang sangat tenang, Kia mulai membuka laporan proyek yang dia perjuangkan, proyek yang diakui Davi bangkrut dan membuatnya rugi besar. Tapi pada kenyataannya, dari proyek itu Davi mendapat keuntungan Miliaran.


Kia tidak sanggup lagi menahan air mata yang terus dia tahan. Air mata itu tumpah begitu saja. "Tega kamu mas, selama 11 tahun aku ada buatmu, kamu masih tega bohongin aku."


Air mata itu seakan tidak mau berhenti, Kia membiarkan cairan bening itu mengalir deras. Sedang jemari tangannya sibuk mengirim pesan pada seseorang. Kia meminta orang itu menelusuri pengeluaran Davi pada rekening barunya.


Rachel sangat nyaman tidur di hotel itu, sedang Kia terus menumpahkan air matanya, agar saat Rachel bangun dia bisa kembali terlihat bahagia.


Saat matahari semakin tergelincir kearah barat, Kia dan Rachel asyik bermain pasir bersama, membangun istana pasir mereka.


"Rachel, ini kan ada 2 istana." Kia mengisyarat 2 istana yang mereka bangun bersama. "Misal di istana ini ada bunda, dan istana ini ada Ayah, Rachel mau tinggal di istana yang mana?"


"Aku tidak bisa memilih salah satu, karena aku mau kalian berdua bersamaku dalam 1 istana." Rachel kesal dan menghancurkan istana yang lain.


"Sekarang hanya ada satu istana untuk kita bertiga. Aku tidak bisa jauh dari Ayah atau bunda, aku ingin kita selalu sama-sama."


Batin Kia menjerit, bagaimana dia melanjutkan hidupnya dengan Rachel, anak ini sangat menyayangi Davi.


Langkah a**pa yang harus aku tempuh? Aku merasa berada dipersimpangan jalan, meneruskan hubungan ini demi Rachel apakah aku kuat?


Kia menatap sendu pada Rachel yang kini sibuk memperindah istana pasir yang masih berdiri.


Tapi, jika aku menyudahi semuanya apa aku sanggup melihat tangis Rachel yang selalu menginginkan Ayahnya?


"Bunda, kenapa bunda menangis?"


Kia berusaha mengusap air matanya. "Bunda enggak nangis, bunda kelilipan ini."


"Sini aku tiup biar cepat sembuh." Rachel meniup mata sang bunda.


"Rachel mau nggak liburan kalau hanya berdua sama bunda?"


"Kalau sebentar aku mau, tapi kalau lama aku nggak mau jika hanya berdia. Kalau liburannya lama aku mau sama Ayah sama bunda."


Kia memalingkan tubuhnya ke arah lain, putri tersayangnya memang tidak bisa jauh dari Davi.


Bersambung ....


****


Langkah apa yang Kia ambil setelah mengetahui pengkhianatan suaminya?


Banyak ujian dalam berumah tangga, ada ujian dalam ekonomi, keturunan, kesetiaan, kekeluargaan dll. Kejadian seperti Kia banyak terjadi pada sekitar kita.


Ada yang memberi maaf dan kesempatan pada suami, hanya demi anak. Mengabaikan rasa sakitnya hanya demi kebahagiaan anak-anak. Buat kalian yang bertahan demi kebahagiaan anak, semoga Tuhan memberi kebahagiaan yang besar sehingga rasa bahagia itu perlahan menutup luka yang pernah digores ke hatimu. Walau sulit tidak sembuh total.


Buat yang memilih untuk berpisah, semoga kalian diberi ketabahan dan kebahagiaan yang besar. Entah dari mana kebahagiaan itu, dari pasangan baru yang mengerti dirimu dan pandai menjaga hatimu, menyayangi anakmu, atau kebahagiaan dari prestasi dirimu mau pun kesuksesan anak-anakmu yang membuatmu bangga pada mereka. Semoga dengan kebahagian itu Tuhan membuatmu bisa melupakan rasa sakit itu.

__ADS_1


Apapun keputusan kalian, (memaafkan/mengakhiri) kalian adalah wanita hebat. Jangan pikirkan kata orang, tetap berjuang fokus untuk kebahagiaanmu dan kebahagiaan orang yang kalian sayang.


Terima kasih atas dukungan kalian, membaca karya ini, ini sebuah dukungan yang sangat besar. Sampai jumpa di bab akan datang, semoga bisa menulisnya dengan lancar sampai tamat.


__ADS_2