
Likha bersama seorang pemuda yang dipercaya menemaninya menemui Kia kini kembali ke mobil. Di dalam mobil itu ada sesosok pria tampan yang menunggu mereka.
"Bagaimana? Sudah seperti harapanmu?" tanya sosok tampan itu.
"Jauh lebih baik, setelah meminta maaf serasa ada ruang kosong dalam hatiku."
"Brian, kita langsung ketempat mahkluk setengah-setengah itu!" titah sosok itu.
Laki-laki yang menemani Likha segera masuk kedalam mobil, perlahan mobil melaju menuju tempat Muma. Sesampai di sana, Likha menuju kamarnya, memeriksa apakah ada yang penting, sedang sosok tampan yang ingin membeli Likha tengah melanjutkan negoisasinya dengan Muma.
Likha kini menjadi milik laki-laki itu, tidak ada raut kebahagiaan dari wajahnya, ditempat ini atau di tempat laki-laki itu, dirinya tetap saja menjadi wanita penghangat ranjang. Likha mengikuti laki-laki itu, saat melewati seorang aparat hukum yang melindungi muma, Likha menghentikan langkahnya.
"Apakah pelindung sepertimu sudah banyak memiliki pahala? Atau sudah menanam saham di sorga? Sehingga kamu dengan bangganya menggunakan jabatanmu melindungi tempat perzin4han ini." Likha memandangi ruangan itu.
"Dengan kamu melindungi, maka sama halnya kamu mendukung praktek ini. Saat matamu terpejam pun kamu mendapatkan dosa yang sama dengan mereka yang ada di sini." Likha berlalu begitu saja.
"Kau juga hina! Jangan sok suci kamu!"
Langkah Likha terhenti. "Aku sadar aku hina, bahkan aku sadar saat ini aku hanya seorang budak pemuas nappsu, tapi keadaanku terdesak, bukan atas keinginanku. Andai ada keajaiban, aku ingin sekali lepas dari dunia hitam pekat ini." Likha melanjutkan langkahnya.
***
Davi mencoba bangkit dari masa lalu yang kelam, memulai kembali kehidupannya perlahan, membangun bisnis kecil seperti yang Kia ajarkan saat mereka baru menikah dulu. Hari demi hari berlalu, rasanya perjalanan hidup begitu singkat, kini putri kecilnya itu sudah mengenakan seragam putih abu-abu. Davi merasa sangat bahagia, seperti kata Ronny, jika dia menunaikan kewajibannya, maka rezekinya lancar. Sejak mulai mengirim sejumlah kecil uang untuk Rachel, perlahan usahanya bangkit.
"Sampai kapan kamu hanya mengirim uang saja? Rachel juga butuh kamu, Davi ...." ucap Indra.
"Aku belum siap Ndra. Terima kasih kamu sudah memberi kasih dan cinta dari seorang Ayah buat Rachel."
"Aku memang Ayahnya, sudah tugasku." Indra menepuk pelan pundak Davi.
"Nanti main saja ke rumah papa Herman, kunjungi Rachel."
Davi mengangguk lemah. Bukan tidak sayang, namun saat melihat wajah Rachel, seketika semua tindakan bodohnya seakan terulang kembali, rasanya sangat sulit memaafkan dirinya sendiri.
Sepanjang melakukan aktivitasnya, Davi terus membayangkan Rachel. Sudah lebih dari 4 tahun dia tidak menemui Rachel. Mengingat Indra mempersilakannya untuk mengunjungi Rachel, ada sedikit keberanian dalam diri Davi. Setelah selesai bekerja, Davi memutuskan untuk mengunjungi putrinya.
__ADS_1
Mobilnya perlahan memasuki halaman rumah Herman. Di depan rumah terlihat seorang anak laki-laki yang berusia hampir 3 tahun menangis menujuk kearah Rachel.
"Kok laki-laki nangis ... sini Aunty potong burungnya, percuma jadi laki kalau mewekan!"
Davi menggeleng melihat sosok Luna, dari Rachel kecil hingga putra Kia dan Indra mendapat ledekan yang sama dari Luna. 'Jangan minta perlindungan, kan Rachel punya tangan juga, dorong kalau temen Rachel nggak mau kasih punya Rachel!'
Davi tersenyum mengingat kalimat provokasi Luna jika wanita itu menjaga Rachel saat kecil.
"Punya tangan kan? Punya kaki kan? Ayo rebut kalau kak Rachel nggak mau kasih, kalau bisa rebut sendiri!" provokasi dari Luna untuk Kaesang putra Indra dan Kia.
"Ya ampun Luna ... anakku kau didik jadi preman ...." Kia tiba-tiba datang dan langsung memeluk putranya yang menangis. "Kaesang sana dekatin Kakak, minta baik-baik ya, kan Kak Rachel sayang ama Kaesang, Kaesang juga sayang sama Kakak."
Perlahan Rachel mendekat dan memberikan robot Kaesang yang sengaja dia ambil untuk membuat adiknya menangis. Namun belum sampai robot itu diterima Kaesang, robot itu terlepas dari tangan Rachel karena kemunculan sosok yang membuatnya membeku.
Sontak hal itu membuat Kia dan Luna juga menoleh kearah yang sama. Mereka sesaat membeku melihat kehadiran Davi di rumah mereka.
"Hai Kaesang, makin tampan saja kamu." Davi berusaha menyapa anak Laki-laki Kia.
"Mau apa kak Davi ke sini?" ucap Luna sinis.
"Tapi Rachel benci Ayah!" ucap Rachel.
"Ayah Davi, dia Ayah Rachel juga. Rachel nggak boleh benci sama Ayah Davi." Indra langsung merangkul Rachel.
"Apapun yang Ayah Davi lakukan dulu, maafkan dia. Manusia itu tempat salah Khilaf, begitu juga Ayah Davi, Ayah Davi manusia biasa yang tak luput dari kesalahan."
"Ada suatu rasa yang Tuhan beri pada hati kita, jika kita memberi maaf," sela Kia.
Rachel menoleh pada Davi, rasa marahnya seakan padam melihat wajah sang Ayah yang nampak menyedihkan.
"Ajak Ayah jalan-jalan, beri kesempatan pada Ayah Davi untuk mencurahkan cintanya pada Rachel," bujuk Indra.
Rachel mengangguk pelan, dia segera mengganti pakaiannya dan pergi bersama Davi.
*
__ADS_1
Hampir 5 tahun dia tidak bertemu Ayahnya membuat Rachel canggung atas kebersamaan ini, namun melihat rona kebahagiaan di wajah Ayahnya, membuat Rachel mengerti, Ayahnya juga masih menyayanginya.
"Terima kasih telah memberi Ayah kesempatan emas ini." ucap Davi.
"Berterima kasih sama pandra dan bunda, karena mereka selalu menasihatiku untuk tidak membenci Ayah."
"Tentu, Ayah sangat berterima kasih pada mereka, nanti akan Ayah ucapkan langsung lagi." Ayah dan anak itu berusaha menjalin hubungan yang sempat renggang.
Sedang di kediaman orang tua Kia, keadaan nampak sepi, hanya ada Indra dan Kia di rumah itu. Luna dan kedua orang tuanya pergi mengajak Kaesang jalan-jalan. Merasa hanya ada mereka berdua, Indra tidak menyia-nyiakan kesempatan Berharga ini, dia langsung memeluk tubuh Kia.
"Rasanya aku ingin sekali berterima kasih pada Luka, andai aku tidak terluka, aku tidak akan merasakan bagaimana luar biasanya cintamu." Kia memper-erat pelukan mereka.
"Semua perjalanan kita sudah tertulis pada takdir kita, semuanya akan tiba pada waktunya, seperti aku yang bertahun-tahun menderita memendam cinta, hingga Tuhan kasihan padaku dan mengantarkanmu pada pelukanku."
"Andai aku tahu berbelok pada simpang jalan adalah hal terindah, aku tidak akan menyiksa hatiku karena bingung memilih meneruskan atau mengkahiri," ucap Kia.
Indra melepaskan pelukan mereka, dia menangkup wajah Kia dengan tangannya. "Karena tersiksa menahan cinta, aku merasa sangat bersyukur bisa memilikimu, sedang karena luka, membuatmu kuat dan sangat luar biasa menjaga cinta."
Jarak diantara keduanya semakin menipis, hingga kedua bibir itu menyatu dan menciptakan suara decakan yang semakin membakar gair4h. Indra menahan pangutan mereka. "Sepertinya, ini waktu yang tepat untuk ikhtiar mendatangkan adik buat Kaesang."
"Bukanya katamu Rachel saja cukup saat aku ingin punya anak lagi?"
"Kalau kamu mau hamil lagi, kenapa enggak? Bikin tim keseblasan bola aku juga siap!" ucap Indra.
"Sayangnya aku yang tidak siap!"
"Ya sudah, kita coba satu lagi," bujuk Indra.
Suasana rumah yang sepi membuat Indra dan Kia merasa menjadi pengantin baru lagi.
***
Tamat
***
__ADS_1