Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 43 Seharian Bersama


__ADS_3

Mereka berempat menikmati akhir pekan bersama. Rasanya setiap sudut kota yang menjadi icon di sana mereka datangi. Tapi tidak seperti yang Fanny harapkan. Sepanjang kebersamaan mereka dia hanya dekat dengan Kia. Sedang Davi di bawah kekuasaan putri kecilnya. Hari semakin gelap, Fanny diantar Davi sekeluarga menuju Apartemennya.


"Ayah ... rasanya kita pernah main ke sini." Rachel mengamati gedung pencakar langit di depan matanya.


"Sampai jumpa di kantor Fan," Kia berusaha mengubah pembicaraan mereka.


"Rachel waktu itu ngapain ke sini?" Fanny penasaran dengan perkataam Rachel sebelumnya.


"Temanku tinggal di sini juga Fan, jadi Rachel ingat pernah tinggal di sini," sambar Kia.


"Ya sudah, kami permisi dulu ya Fan, sampai jumpa lagi," ucap Davi.


Perlahan Davi meninggalkan area itu. Entah mengapa gedung itu membuatnya mengingat semua kebodohannya.


"Aha! Aku ingat, aku ke sama nggak sama bunda, tapi sama Ayah, sama Nanda, dan sama Aunty Likha!" ucap Rachel semangat.


"Iya, bunda tau kan Rachel pernah cerita."


Davi menepikan mobilnya, hal ini membuat Kia kebingungan. Davi menatap Kia dengan tatapan yang lemah.


"Kamu tahu semua ini dari Rachel."


"Sudah lupain, bukankah kita sama-sama berusaha bangkit?"

__ADS_1


"Aku nggak bisa lupa, rasa sakit itu terlalu besar buat kamu. Setiap aku teringat kebodohanku, aku membayangkan rasa sakitmu, bahkan aku seakan merasakan rasa itu." Tak dapat ditahan, air mata seketika merembes begitu saja membasahi wajah Davi. "Aku yang membayangkan saja sakit, bagaimana kamu yang mengalami?"


"Ini bukan mengenai bangkai yang disimpan akan tercium juga, namanya perbuatan salah, Tuhan selalu punya cara membuka itu, bisa lewat anak atau dari sikap pelaku sendiri. Di posisi aku, Tuhan membuka semua itu dari Rachel. Pelajaran buat mas, walau mas berbuat salah aku tidak tahu, tapi Tuhan tahu mas, dan Tuhan punya Miliaran cara untuk membuka kebohonganmu secara perlahan."


"Kalian bahas apa? Rachel nggak ngerti, Ayah sakit lagi?" sela Rachel.


"Oh ini, mata Ayah kelilipan makanya Ayah berhenti dulu." Kia meraih beberapa lembar tisu dan melap area mata Davi yang basah. "Bagaimana Ayah?"


"Terima kasih bunda, udah lebih baik." Davi menarik napasnya begitu dalam dan menghempasnya sekali hembusan.


"Aku cengeng ya?" Davi menertawakan dirinya sendiri.


"Cengengan bunda, Ayah masih santai saat kelilipan, kalau ada air mata wajar, kan mata kita nggak e enak saat kelilipan. Sedang bunda saat kelilipan malah menjerit."


"Kita lanjut pulang ya, Ayah mau peluk Rachel di rumah." Davi melanjutkan perjalanan mereka.


***


Fanny masih melamun di tempat dia turun sebelumnya. Dia tidak tahu harus menggunakan cara apa untuk mendekati Davi.


"Sudah aku bilang caramu itu basi, masih saja kamu memakai cara itu."


Fanny langsung menoleh kearah sumber suara itu. "Eh lalat!"

__ADS_1


"Kalau aku lalat? Berarti kamu larvanya lalat?"


"Kau!" Fanny mengayunkan tangannya untuk memberi salam 5 jari pada rekan bicaranya, namun tangannya ditahan.


"Aku nungguin kamu dari tadi mau ajak kamu kerjasama, kamu malah begini!" Likha menghempas tangan Fanny.


"Ke-kerja sama?"


"Ya, Davi ninggalin aku demi selamatin rumah tangganya, aku sih nggak masalah, tapi membiarkan mereka bahagia aku tidak bisa." Likha tersenyum jahat menatap Fanny. "Melihat kamu memiliki ambisi yang sama sepertiku, membuatku semangat ingin mendukungmu, tidak masalah siapa saja yang memikat Davi, yang penting istana kebanggaanya itu hancur lagi."


Fanny masih meragukan tawaran Likha untuk bekerja sama. Secara dia tidak mengenal bagaimana liciknya orang yang berdiri di depannya ini.


"Pikirkan tawaranku, jika kamu setuju, hubungi aku, aku akan membantumu dari jauh." Likha memberi kartu namanya.


Fanny menerimanya, dia mematung menatap kartu nama itu, saat dia menegakan wajahnya, Likha sudah menghilang dari sana. "Dasar demit!"


Fanny segera menuju Apartemennya, setelah memasuki ruangan itu, Fanny menghempas tubuhnya ke sofa, pikirannya tertuju pada Ingrid dan langsung menghubungi wanita itu.


"Halo sayang, bagaimana jalan-jalan sama Davi? Berhasil kamu bikin Kia cemburu? Ingat kata tante, Kia itu hati dan kepercayaannya masih rentan, kamu goyah sedikit, meledaklah dia."


"Bukan Kia yang meledak tan, yang ada aku meledak melihat kebahagiaan mereka."


Fanny mengadukan rasa sakit dan kecewanya melihat kebahagiaan keluarga Davi saat mereka jalan-jalan bersama.

__ADS_1


__ADS_2