Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 87


__ADS_3

Davi dan Fanny syok melihat dua sosok yang ditarik paksa dari mobil yang berusaha mencelakai Fanny.


"Tante Eren? Likha?"


Keduanya tak berdaya, hanya bisa menunduk lemah. Petugas keamanan itu langsung mengikat mereka di kursi dan sengaja menjemur keduanya di bawah teriknya matahari. 30 menit berlalu, Malik datang bersama Keamanannya, dia langsung menghadapi dua manusia yang berani mengusik kebahagiaan putrinya.


"Kamu!" Malik menunjuk salah satu anak buahnya. "Kamu bawa pelayan yang menerima sogokan mereka sekarang!"


"Siap Tuan!"


Pandangan Malik kembali tertuju pada Likha. "Berani sekali kamu merencanakan ingin membunuh anak saya, kamu pikir saya bodoh? Tidak akan saya biarkan anak dan menantu saya tanpa pengawalan!"


Likha dan Eren sama-sama menelan saliva mereka kasar, Likha hanya bisa mengutuki dirinya sendiri, di Villa ini hanya terlihat Davi dan Fanny, ternyata banyak pria berbandan tegap yang menjaga mereka. Likha baru sadar, kalau Fanny bukan orang sembarangan. Tatapan tajam ayahnya saja sangat menakutkan.


10 menit berlalu, keamanan yang pergi sebelumnya kini kembali menyeret 2 pelayan yang Likha sogok agar mau membuka gerbang untuknya.


"Berapa dia bayar kamu!?"


Pelayan itu tidak berani menjawab, dia langsung merayap di tanah dan berlutut pada Malik meminta belas kasih bos besarnya itu.


"Apa gajih kamu di tempat ini terlalu kecil!" maki Malik.


"Maafkan saya Tuan, saya menerima tawaran dia bukan uang, tapi dia menawarkan tubuhnya."


Mendengar hal itu Davi semakin jijik, dia tidak bisa berpikir lagi mengapa dia mudah terpedaya dengan seorang wanita yang tidak menyayangi tubuhnya. Andai Davi boleh memaki, tubuh Likha lebih murah dari gorengan. Yang membuatnya sakit, dia meningalkan tambang berlian demi sebuah bungkus gorengan.


Malik kesal, dia mengisyarat pada anak buahnya yang lain, seper sekian detik kemudian, sebuah peluru panas menembus kepala pelayan itu, membuat pelayan lain syok.


"Jika berani mengkhianati saya, tidak ada ampun!"


Hal yang sama dialami pelayan yang satunya. Likha menjerit melihat kejamnya Ayah Fanny. Sumpah demi umurnya dia menyesal mengganggu Fanny.


"Maafkan kami Tuan, kami tidak akan mengganggu Fanny ...." Eren memohon.

__ADS_1


"Lepaskan dia." Malik mengisyarat pada Eren.


Saat yang sama tali yang mengikat kedua tangan Eren dilepas.


"Yang satunya bagaimana Tuan?"


"Jual dia ketempat hiburan berikan uang penjualannya pada ibunya, keinginan ibunya dapat dipenuhi, dan keinginan dia juga terpenuhi, siapa tahu dia kurang sentuhan." Malik menyeringai jahat.


"Jangan jadiin anakku pell4cur ...." jerit Eren.


"Bukankah kelakuan kalian selama ini sama saja?" Malik menatap jijik pada keduanya. "Jika kalian berani mengusik kebahagiaan putriku dan suaminya, aku tidak langsung membunuh kalian, tapi aku akan membuat kalian dalam mimpi buruk selamanya!"


Para petugas keamanan Malik segera melakukan tugas mereka, Likha mereka bawa ketepat yang menyediakan jasa hiburan plus. Seperti titah majikan mereka, penjualan Likha mereka berikan pada Eren, dan melempar wanita itu di jalanan.


Eren menjerit memegang bungkusan yang berisi penjualan putrinya. Kilas balik perjuangan mereka terlintas di benak Eren, yang terus melatih Likha untuk jadi penggoda.


Lebih baik jadi simpanan laki-laki tajir, untung-untung dijadikan istri kedua, daripada diratukan oleh laki-laki miskin!


Salah satu pengguna jalan berusaha menangkan Eren, namun sejenak Eren tertawa terbahak, lalu menjerit dan menangis kembali. Mereka merasa ada yang tidak beres dengan wanita paruh baya itu, salah satunya menelepon dinas terkait untuk mengamankan Eren.


***


Di Villa itu tertinggal Davi, Fanny, dan Malik. Davi berusaha tenang walau dia sangat syok melihat Malik menangani masalah ini.


"Fanny, sebaiknya kamu sama Davi menetap di luar Negri saja, mengingat bagaimana kejahatan Davi, sulit untuk berbahagia di sini."


"Aku asal Kak Davi bersedia, aku siap pah."


Menetap di luar Negri? Ini pilihan yang tepat. Kebodohan, penyesalan, dan dosanya terlalu banyak. Setiap melangkah keluar dia sulit bahagia, rasanya Kia sudah mengikat semua sudut kota ini dengan kenangan mereka.


"Ide papa bagus, aku siap menetap di sana, asal mama bersama kami, karena saat ini mama hanya sendiri."


Fanny kesal mendengar Ingrid harus ikut bersama mereka, tapi mengingat panti jompo di luar Negri sangat bagus, dia berniat menaruh Ingrid di sana.

__ADS_1


***


Tempat baru Likha.


Seorang laki-laki dengan dandanan yang begitu cantik mendekati Likha. "Semoga kamu bisa jadi primadona di sini," ucapnya dengan suara lembut.


"Jangan berani macam-macam kamu! Kalau kamu lari dari tempat ini, kamu akan menyesal!" ucapnya dengan suara asli prianya.


Bekerja di sini atau tidak dirinya sudah dianggap pell4cyr di luar sana. Terlebih saat ini dia terikat karena sudah dibeli. Likha menatapi tempatnya berada. Ini adalah neraka yang tak berdasar.


Apakah mesin waktu itu ada? Aku ingin mengulang waktu di mana aku disayangi dan dipandang dengan penuh kasih oleh 2 manusia yang sangat baik.


Likha terbayang Luna dan Kia.


Dan menghapus ambisiku untuk mengejar Davi. Jujur aku menyesal ....


Likha menjerit dalam hati, penyesalannya seperti sebuah lautan yang begitu luas seperti tak bertepi.


"Eh anak baru! Cepetan keluar!" panggil salah satu wanita penghibur lain.


"Mbak aku boleh pinjem handphone?"


"Mau kabur?"


"Enggak mbak, aku mau telepon mantan suami aku, perasaan aku nggak enak mikirin anak aku."


Wanita itu memberikan handphonenya pada Likha. Dengan cepat jemari Likha menghubungi nomor mantan suaminya.


"Halo?"


"Mas, ini aku Likha. Aku dalam musibah mas, bisa cari Nanda?" Likha menyebutkan alamat kontrakannya.


"Kalau bisa bawa Nanda sama mas ya, maaf aku harus pergi." Likha menyudahi sambungan teleponya dan meminta pemilik handphone untuk langsung memblokir nomor yang barusan dia hubungi.

__ADS_1


__ADS_2