Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 61


__ADS_3

Pagi-pagi Kia mengajak Rachel berkeliling kota mengendarai motor matic kesayangan Luna, urusan izin sekolah Rachel sudah dia serahkan pada Luna. Rachel sangat ceria jalan-jalan dengan motor, hal yang sangat jarang bisa dia rasakan. Kia membawa Rachel menuju pasar traditional.


“Bun, kenapa kita ke sini?”


“Bunda mau tunjukan banyak hal pada Rachel.” Kia menggandeng tangan Rachel memasuki pasar itu.


Banyak hal yang Rachel lihat, namun dia tidak mengerti mengapa keadaan di sana begitu miris. Ada orang tua yang semangat berjualan, bahkan anak seumurannya juga banyak lalu-lalang membawa keranjang belanja yang penuh. Mereka terlihat kesusahan, namun tetap berjuang membawa keranjang itu.


“Tempat apa ini bunda? Kenapa Nenek itu harus berjualan? Dia kan sudah tua. Kenapa anak-anak itu disuruh membawa belanjaan? Kan berat bun ….”


Kia menarik Rachel menuju tepi jalan, keduanya duduk leseh di trotoar memandangi lalu Lalang manusia dengan kesibukan mereka masing-masing.


“Inilah kehidupan sayang, tidak semua hal yang kita inginkan harus kita dapat.” Kia menatap sayu kearah nenek yang berjualan. “Lihat Nenek itu, di usia tuanya seharusnya beliau di rumah bukan?”


Rachel mengangguk mengiyakan perkataan Kia.


“Tapi kehidupan membuatnya harus tetap berjuang walau tubuhnya sudah tua, tidak untuk kaya, tapi untuk bertahan hidup.” Kia tersenyum sambil mengusap kepala putrinya. “Sana Rachel beli jualan Nenek itu, sepertinya kue yang Nenek itu jual enak.” Kia memberikan uang kecil pada Rachel.


“Apa ini bun?” Rachel asing dengan uang pecahan kecil, karena selama jajan di sekolah dia menggunakan kartu untuk pembayarannya.


“Ini uang, buat beli dagangan Nenek.”


“Nggak bisa pakai kartu bun?”


Kia tersenyum dengan kepolosan putrinya. Rasanya Kia juga menertawakan dirinya sendiri, dia menjujung konsep hidup sederhana, namun putrinya saja tidak mengenali uang selain merah dengan nol 5 dam si biru dengan nol 4. “Nggak bisa sayang, ayok belanja sama bunda.


Kia membeli jualan nenek yang jadi perhatian mereka, dan kembali ketempat semula lagi.


“Untung dari penjualan kue ini sangat sedikit sayang, tapi berharga bagi Nenek itu. Inilah kehidupan, setiap manusia harus berjuang dengan ujian mereka masing-masing. Nenek itu berjuang untuk menyambung hidupnya, sedang kita berjuang agar bisa hidup bahagia walau Ayah tidak tinggal serumah sama kita.”


Seketika wajah Rachel masam, dia tidak bisa terima kalau harus menerima kalau Davi bekerja jauh dari rumah.


“Rachel anak yang beruntung. Lihat anak-anak itu, mereka membawa keranjang belanja bukan milik ibu atau keluarga mereka, tapi mereka membawakan keranjang belanja milik orang lain, lalu mereka mendapat upah atas pekerjaan mereka. Uang hasil kerja keras mereka ya untuk jajan atau keperluan sekolah.”

__ADS_1


“Mana orang tua mereka? Kenapa mereka harus kerja? Bukankah kata bunda anak kecil harus sekolah?”


“Orang tua mereka bekerja, namun hasil pekerjaan mereka masih tidak cukup untuk bertahan hidup 1 hari, dan selebihnya tidak punya orang tua, misal tinggal sama Nenek.”


Rachel memandangi anak-anak seumurannya, mereka terlihat bahagia walau keadaan mereka lebih sulit dari dirinya.


“Dek ….” Kia memanggil anak-anak yang masih berkeliaran di jalan.


“Iya tante,” ucap salah satu anak.


“Sudah makan?” tanya Kia.


Mereka menggelengkan kepala.


“Bawa ini, bagi-bagi ya.”


Anak-anak itu sangat ceria mendapat makanan gratis. Rachel pun merasa bahagia melihat kebahagiaan mereka. “Aku kira hanya anak-anak panti yang susah, ternyata masih banyak.”


“Ujian hidup sayang, seperti sekolah Rachel juga kan ada ujian kenaikan kelas, apa ujiannya Cuma satu? Banyak mata pelajaran bukan?”


"Sebelum kita pergi, Rachel bagiin tiap orang selembar uang ini buat teman-teman Rachel di sini." Kia memberikan uang pecahan kecil yang dia siapkan.


Rachel pun dengan semangat melakukan permintaan Kia. Melihat semangat di wajah anak-anak itu Rachel semakin bahagia. Setelah berpetualang di pasar, Kia membawa Rachel ketempat favoritenya, danau buatan yang ada di taman kota. Kali ini Kia menyewa sampan kecil yang dia naiki bersama Rachel. Keduanya terus mengayuh.


“Kehidupan kita juga seperti mengarungi lautan, anggap saja danau ini adalah laut. Anggap kedua dayung ini adalah Ayah.” Kia mengambil dayung yang Rachel pegang, lalu membuang jauh dayung itu.


“Kenapa dayungnya di buang? Bagaimana kita kembali?” protes Rachel.


“Bagaimana kita bahagia kalau Ayah tidak sama kita? Ini permasalahan yang serupa sayang.” Kia memegang wajah putrinya. “Tanpa dayung, kita bisa sampai ke tujuan kita, tanpa Ayah kita bisa menjalani hidup kita, yang kita butuhkan adalah semangat dan saling dukung.”


“Lalu, bagaimana kita ketepinya bun tanpa dayung?”


Kia mengayuh sampan itu dengan tangannya. “Lihat bisa bergerak walau pelan. Seperti hidup kita nanti sayang, kita bisa walau sulit.”

__ADS_1


"Ada permasalahan orang dewasa yang membuat Ayah dan bunda tidak bisa tinggal bersama. Tapi walau kita tidak serumah, dia tetap Ayah Rachel, saat Rachel libur sekolah Rachel boleh pergi sama Ayah."


Rachel terus menatap Kia, dia masih tidak terima kalau tidak bisa lagi tinggal serumah bersama Ayahnya.


"Bunda juga sedih, tapi hidup kita terus berjalan, apa kita harus bersedih selamanya? Maafin bunda dan Ayah, semua ini diluar kendali kami, Rachel bantu bunda ya, kita sama-sama mengerti berjuang dengan keadaan ini."


Rachel mengikuti cara Kia, niatnya membantu ibunya mendayung sampan kecil itu, dia tersenyum sampan kecil itu bergerak kearah tepi. Namun saat Rachel fokus, Kia mencipratkan air kearah Rachel, membuat anak itu berteriak dan membalas perbuatan Kia dengan cara yang sama.


*


Di sisi lain Indra pagi-pagi mendatangi tempat kesukaan Kia, rasanya setiap tempat sangat menangkan jiwanya, entah mengapa jika berada di tempat ini rasanya Kia juga bersamanya.


"Kia ... kenapa kamu begitu dalam tertaman di sana, 11 tahun aku masih menyimpan perasaan yang sama." Indra memejamkan matanya, mengetahui Kia akan bercerai perasaan yang selama ini dia kubur seakan meledak kembali.


Suara tawa renyah yang ditangkap indra pendengarannya, membuatnya semakin putus asa. "Bahkan aku mendengar tawamu Kia." keluh Indra.


Namun semakin lama tawa itu makin jelas, Indra membuka kedua matanya, dia sangat terkejut melihat Rachel dan Kia mendayung sampan dengan tangan mereka. Senyuman Kia di sana sangat menangkan batin Indra. Indra berusaha mengumpulkan sisa kesadarannya, dia menyewa sampan lain dan segera menyusul Kia dan Rachel.


"Hei kalian berdua, mana dayung kalian?" tanya Indra.


"Di buang bunda, kata bunda dayung itu ibarat Ayah," sahut Rachel.


"Ya ampun Kia, kamu contohin buang dayung sebagai buang Davi?" Indra tidak mengerti cara penyampaian Kia untuk membuat Rachel mengerti.


"Matahari mulai terik, ayo ke tepi." pinta Indra.


"Nggak bisa cepat om!" keluh Rachel.


"Begini saja, kalian pindah ke sampan om, atau om yang pindah ke sampan kalian?"


"Om aja yang lompat, aku takut kalau lompat," ucap Rachel.


Indra memberikan dayungnya pada Kia, lalu dia melompat ke perahu yang Kia tempati.

__ADS_1


"Kenapa kamu nggak jatuh sih, padahal aku ngarepnya kamu jatuh dan kecebur ke air," ucap Kia.


"Hidupku sudah terlalu sulit Kia, sebab itu nasibku yang lain sangat bagus, kesulitanku hanya tidak berani memperjuangkan cintaku, aku pandai berenang, tapi aku tenggelam di hati seseorang yang tidak menyadari perasaanku." ucap Indra.


__ADS_2