Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 90


__ADS_3

Setelah mengantar Rachel ke Sekolah, Kia tidak langsung pergi dari sana. Dia berusaha keras memegang pilihan tidak menikah lagi demi perhatiannya pada Rachel agar tak terbagi. Namun ucapan Rachel kalau Indra juga sebagian kebahagiaannya membuat Kia Frustasi. Kia membenturkan kepalanya ke sandaran kursi mobilnya. Menghempas kasar napasnya, dia sangat berharap menemukan jalan keluar dilemanya ini.


Kebahagiaan Rachel kembali mengantarkannya pada sebuah persimpangan jalan. dulu dia dilema memilih meneruskan atau menyudahi pernikahannya bersama Davi, saat ini dia bagai berada di simpang jalan lagi, menerima Indra demi kebahagiaannya dan Kia, atau berpegang teguh pada pilihannya yang ingin menjadi single Mom untuk Rachel. Jujur, segala perhatian dan kebaikan Indra sudah meruntuhkan segala tembok yang dia bangun. Mengingat Indra membuat Kia segera menegakan tubuhnya dan melajukan mobilnya menuju perusahaan Indra.


Sesampai di sana Kia melengos begitu saja, tidak mempedulikan sapaan pegawai Indra. Saat sampai di depan ruangan Indra, seorang wanita cantik berdiri menyambutnya dengan senyuman manis menghiasi wajahnya.


"Selamat pagi Bu Kia, tapi maaf bu. Pak Indra sedang tidak berada di tempat."


Kia tetap berjalan menuju pintu, baginya sudah biasa menunggu Indra dalam ruangan jika Indra belum datang. Tapi kali ini Sekretaris Indra berusaha menahannya, dia berlari menuju pintu dan menghalangi Kia.


"Maaf bu, Pak Indra kemungkinan tidak masuk hari ini, jadi saya diminta menjaga ruangannya, dan tidak mengizinkan siapa-siapa untuk masuk."


Kia berusaha percaya dan berbalik, Sekretaris Indra berbalik ke mejanya, saat yang sama Kia langsung menyerobot masuk.

__ADS_1


"Ibu!" Sekretaris itu panik dan berusaha mengejar Kia, namun terlambat Kia sudah masuk ruangan dan dia melihat Indra ada dalam ruangan itu.


"Maafkan saya Pak, saya sudah lakukan seperti perintah Bapak, tapi saya ceroboh," sesal Sekretaris Indra.


"Nggak apa-apa, kamu tutup lagi pintunya." ucap Indra pada Sekretarisnya.


Setelah pintu tertutup, perlahan Kia mendekati Indra. "Apa maksudmu sembunyi dari aku?"


"Biar kamu nyaman, bukankah kamu risih jika ada laki-laki yang jatuh cinta padamu berkerliaran di sekitarmu?" Tatapan Indra masih tertuju pada laptopnya.


"Itu caraku menunjukan cintaku, bukan dengan mengambil hati Rachel. Jujur aku sangat sakit kamu tuduh aku mendekati Rachel supaya kau luluh. Tidak bisa aku pungkiri, aku menang selalu mencintaimu, tapi cintaku akan aku tunjukan dengan cara yang benar, dengan melamarmu pada kedua orang tuamu."


"Kenapa kamu minta Rachel rahasiakan kalau kamu selalu ada buatnya?

__ADS_1


"Karena aku tidak mau membuatmu terus menuduhku mengambil cara itu untuk menundukan hatimu. Jadi aku tetap dekat dengan Rachel tanpa membuatmu risih karena keberadaanku."


"Kamu tahu? Rachel memintaku untuk menjadikanmu Ayahnya, dia bilang kamu adalah kebahagiaannya."


"Anak itu sehati denganku." Indra tetap pada pekerjaannya, dia tidak mengalihkan pandangannya dari laptopnya.


"Kamu sempurna Ndra, tampan, mapan, dari keluarga baik-baik, sedang aku janda 1 anak."


"Andai aku bisa membuang cintaku, sudah dari dulu aku menikah, buat apa aku menyiksa diri bertahun-tahun karena tidak bisa membuang perasaanku padamu?"


Kia menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan itu. Dia sangat mudah menolak laki-laki yang meminta cintanya. Tapi berkaitan dengan Indra, laki-laki ini banyak berjasa dalam hidupnya. Membantu usahanya dan Davi dulu, orang yang selalu memberi tangan saat dirinya terpuruk.


"Aku sudah beri jawaban pada mamaku, aku tidak bisa menerima lamaran ibumu."

__ADS_1


"Owh." Indra sangat siap dengan jawaban itu. Bibirnya masih berusaha melengkung membentuk senyuman, tapi batinnya meringis.


Sudah ditolak, tetep aja ndra kamu masih sayang, dasar beggo! upatnya dalam hati.


__ADS_2