Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 93


__ADS_3

Rachel tersenyum melihat bunda dan Indra kembali, dia semakin ceria melihat Nabila dan satu orang lagi ikut mereka.


"Eh ini om yang waktu itu bunda marahi ya?" tunjuk Rachel pada Rury.


Rury berusaha tersenyum walau batinnya meringis mengingat kejadian memalukan itu.


"Udah, ini namanya om Rury," sela Kia.


"Kita udah nemu panggilan buat om, tadi tante Nabila usul, Panda dan Pandra, terus bunda milihnya Pandra, kamu setuju?" sela Indra.


"Setuju, Pandra-bunda!" sahut Rachel girang.


"Yuk kita makan sama-sana," ajak Indra.

__ADS_1


Sore mereka terasa begitu hangat, canda tawa mereka memperlihatkan kalau mereka sangat bahagia. Berbanding terbalik dengan keadaan di belahan dunia lain. Setelah pulang bekerja, Davi selalu menyempatkan diri mengunjungi panti jompo tempat Ingrid berasa saat ini. 2 minggu setelah kedatangan mereka ke Negara ini, Ingrid ditempatkan Fanny di panti Asuhan.


"Bagaimana keadaan ibu?" tanya Davi.


"Kamu ini tega sama ibu, sesulit-sulitnya mengurus kamu sejak bayi, nggak ada niat ibu lempar kamu ke panti Asuhan, ini balasan kamu buat ibu?"


"Mau gimana lagi bu? Apartemen Fanny cuma ada 1 kamar. Saat kita hidup di negara kita dulu enak, ibu dapat uang belanja dari menantu ibu sebelumnya, sekarang? Tapi ini kan pilihan ibu, Fanny menantu impian ibu, ya kita nikmati semuanya walau hati dan perasaan kita menderita!"


Ini kan pilihan ibu.


Davi terkekeh mendengar jawaban ibunya. "Ternyata ibu tidak ikhlas dengan semua perjuangan ibu, walau aku nggak mampu bayar rasa sakit ibu saat melahirkan aku, tapi aku berusaha berbakti sama ibu, salah satunya memenuhi keinginan ibu untuk menikahi Fanny."


Davi terus menggelengkan kepalanya. Rasa kepemilikan ibunya padanya terlalu besar. "Pantas ibu susah bahagia, karena ibu nggak ikhlas!"

__ADS_1


"Ibu Ikhlas kok!"


"Kalau Ikhlas, ibu nggak akan ungkit perjuangan ibu dan menghitung-hitungnya. Perjuangan itu wajar, sebagai anak, aku juga memikirkan cara berbakti tanpa harus diingatkan perjuangan ibu saat mengurusku."


"Ya ibu proteslah, setelah kamu sukses yang pegang kendali atasmu istrimu, gajihmu yang banyak itu setidaknya kirim separu buat ibu, selama ini cuma 10 juta!


"Terus anak istriku mau dikasih apa? Ibu harus ingat, selain berbakti pada ibu, aku juga punya kewajiban pada anak istriku! Aku memang selamanya punya ibu, tapi kewajibanku memenuhi kebutuhan anak istri lebih wajib dari memberi ibu Nafkah. Oh iya 1 lagi, yang Kia berikan itu uang dia sendiri, kalau uang aku selalu kami investasikan."


Ingrid syok mengetahui hal itu, menantu yang dia sebut-sebut pelit pada semua rekannya ternyata memberikan miliknya sendiri untuknya. "Ibu mau pulang saja ke Negara kita. Di sana Ibu punya rumah sendiri, dan punya penghasilan dari pembagian saham."


Davi menggeleng melihat ibunya. "Kalau itu mau ibu, Davi akan urus segalanya perlahan, tapi butuh waktu ya bu."


Setelah melihat keadaan ibunya, Davi segera kembali ke Apartemen yang dia tempati bersama Fanny. Apartemen yang hanya cukup untuk 2 orang, sebab ini Davi setuju ibunya ditempatkan di Panti Jompo. Dia tidak mau selamanya tidur di ruang tamu bersama Fanny, tidak tega juga menyuruh ibunya tidur di ruang tamu sendiri, panti jompo solusi yang tepat.

__ADS_1


Keadaan tampak sepi, sejak 2 minggu yang lalu, Fanny kembali terjun ke dunia model. Davi mengganti pakaian kerja dengan kaos dan celana pendek, dia segera membersihkan Apartemen yang terlihat berantakan.


"Saat antar ibu pulang, aku ingin temui Rachel, aku kangen anak itu."


__ADS_2