
Perasaan Kia seketika memburuk jika ada laki-laki yang berusaha mendekatinya sebagai pasangan. Sejak sah bercerai dengan Davi, dari seorang pemuda bujang, suami orang, hingga duda berusaha mendekatinya. Bagi Kia saat ini dunianya hanya keluarganya. Tidak terpikir olehnya untuk menikah lagi.
Dia bisa berperan multifungsi untuk Rachel, saat ini Rachel juga sangat bahagia dengan keadaan mereka saat ini. Handphone Kia sesekali berdering, saat membuka handphonenya, Kia semakin kesal. Banyak pesan yang menjurus pendekatan padanya. Kia menonaktifkan handphonenya, saat ini dia hanya ingin fokus pada kebahagiaan Rachel.
Rury berusaha fokus pada makanannya, sesekali dia berbicara hal santai dengan Herman. Setelah menghabiskan makanan yang ada di piringnya, Rury izin pamit pada keluarga Kia, dia meneruskan kembali tanggung jawabnya sebagai EO di resepsi pernikahan cliennya yang diadakan di pantai itu.
"Papa mau ajak mama ukur bibir pantai, kalian jangan ikut!" Herman menarik Fuza dan mengajaknya menuju bibir pantai.
"Kita gangguin oma sama opa yuk!" ajak Luna pada Rachel.
"Aunty nakal, kan kata opa jangan ikutan," protes Rachel.
"Anak pintar, jangan mau ikutin ajaran sesat Aunty Luna!" ucap Kia.
"Isengin opa sama oma seru Chel, kalau kita nggak gangguin, nanti Rachel punya Aunty yang berwujud Baby," goda Luna.
"Kalau mama dengar kena jambak kamu!" ucap Kia.
"Rachel!" Azriel berteriak menyerukan nama Rachel sambil melambaikan tangannya.
Perhatian Kia tidak pada Azriel, tapi pada Indra, seketika kekesalannya semakin memuncak, apakah tidak ada yang bisa memahami pilihannya saat ini yang hanya ingin sendiri?
"Kok baru datang Ziel!" keluh Rachel.
"Maaf, tadi aku antar mama dulu ke bandara, terus ke toko mainan beli itu!" Azriel menunjuk sekeranjang perelengkapan untuk bermain pasir yang dibawa oleh Indra.
Melihat raut wajah Kia, Indra sadar dia muncul diwaktu yang salah. "Aku nggak tau bener apa enggak Rachel ngundang Azriel, bener atau tidaknya ajakan itu, aku minta maaf jika kedatangan kami malah merusak waktu keluarga kalian," sesal Indra.
"Santai aja kak, Rachel beneran kok ngajak Azriel, kemaren pas ketemu di sekolah, terus di iyain sama Kak Misye," sahut Luna.
__ADS_1
"Om! Main sama kami yuk!" pinta Rachel.
"Boleh, kamu mau main apa sama om?"
"Seperti biasa om, kami kalau di pantai suka bikin istana pasir," sahut Rachel.
"Oke, ayuk kita mulai." Indra menumpahkan semua mainan yang dia bawa, Rachel dan Azriel pun langsung menyambar mainan yang mereka inginkan.
Mereka asyik membentuk pasir sesuai imajinasi mereka.
"Kita cari sesuatu yuk ke pantai sana." Luna masih belum puas jika tidak mengisengi kedua orang tuanya, alasan aman ya mengajak Rachel dan Azriel.
"Ayuk Aunty, kita cari cangkang kerang atau apa saja."
Luna, Rachel, dan Azriel berlari ke tepian pantai bersama, ini waktu yang tepat bagi Kia untuk berbicara 4 mata dengan Indra. Karena di tempat ini hanya ada mereka berdua.
Melihat Indra sedekat itu dengan Rachel membuat Kia gusar. "Jujur aja Ndra, kamu ke sini cari kesempatan untuk dekati aku kan!?"
"Kalau kamu hanya ingin dekati aku agar aku mau jadi pasanganmu, kubur niatmu Ndra. Aku nggak mau matahin hati kamu, karena aku saat ini hanya ingin sendiri."
"Kamu lagi dapat ya Ki? Bicaramu nggak enak banget rasanya."
Kia menghempas kasar napasnya, entah mengapa gombalan Rury dan gombalan laki-laki lain lewat chat mereka membuat Kia seperti orang bodoh.
"Aku memang suka sama kamu Ki, dari dulu malah! Tapi apa pernah aku memaksakan cinta aku? Maaf Kia, cintaku nggak semurah itu, apalagi dengan cara memanfaatkan kedekatan aku sama Rachel untuk meluluhkan hatimu."
Perlahan Indra berjalan mundur menjauhi Kia. "Aku tidak tahu kenapa aku sayang sama Rachel, semua itu nggak bisa aku kendalikan seperti perasaan aku ke kamu. Tapi aku membiarkan semua itu tumbuh tanpa harus menampakannya."
"Maaf kalau aku terkesan sombong, cintaku kamu nggak bisa nilai Ki, sebab itu aku berharap Tuhan yang membuatmu luluh akan cintaku dengan cara Tuhan sendiri."
__ADS_1
Indra menarik dalam napasnya. "Sepertinya keputusan aku yang dulu memilih menyimpan rasa cintaku memang benar, karena kalau menunjukannya hanya menimbulkan kesalah fahaman seperti saat ini."
Keheingan tercipta, hanya hembusan angin dan deruan suara ombak yang terdengar. Pandangan Indra tertuju pada 5 orang yang berjalan kearah mereka. "Titip Azriel ya, maaf merepotkan kalian untuk menjaga Azriel, karena kalau ku ajak pulang sekarang, Azriel nggak akan mau." Indra langsung berlari kearah Azriel.
"Ziel, om boleh pergi nggak? Tiba-tiba ada panggilan kantor."
"Terus aku gimana om?"
"Kamu tetep di sini, om udah izin sama bunda Rachel, kamu nanti pulang ke rumah oma Rachel, nanti om akan jemput di sana."
Tanpa menunggu jawaban Azriel, Indra langsung pergi dengan raut kecewanya.
"Ndra! Cicipi masakan om dulu!" panggil Herman.
Indra mode tuli, dia hanya ingin meninggalkan tempat ini. Setiap butiran pasir yang dia pijak, rasanya itu duri-duri tajam yang menusuk telapak kakinya.
Aku tahu kamu perempuan istimewa Ki, aku hanya menyesal mengapa aku memperjuangkan dan menampakan cintaku, seharusnya aku diam saja dan tidak menunjukan perasaan ini.
Di sisi lain.
Setelah mengadakan Resepsi, Fanny dan Davi menikmati waktu libur mereka, keduanya memilih villa di pegunungan untuk menjadi sejarah bulan madu mereka. Sebuah Villa dengan halaman yang sangat luas memanjakan indra penglihatan mereka.
Fanny berlari-lari di tengah lapangan luas itu, dia membayangkan setiap detik yang dia lewati bersama Davi. Baginya ini adalah titik terindah dalam hidupnya. Walau dirinya sudah tak lagi murni, tapi sepadan karena saat ini Davi juga seperti manusia robot yang tidak berperasaan. Dia masih berutung Davi masih berkenan menumpahkan hasrat bersamanya.
Fanny masih berada di tengah lapangan itu, dia tidak menyadari ada sebuah mobil melaju kencang ke arahnya. Detik yang sama, sekelompok orang tiba-tiba muncul dan menarik Fanny ke sisi aman, sedang beberapa orang lain mengarahkan senjata api mereka kearah mobil uang melaju.
Suara tembakan yang beruntun membuat Davi terperanjat, dia yang bersantai di kursi malas yang ada di teras Villa, langsung berlari mencari sumber kegaduhan itu.
Mobil yang melaju itu seperti kehilangan kendali, dan menambrak pembatas beton. Sekelompok orang yang menyelamatkan Fanny langsung memeriksa mobil itu dan langsung melaporkan peristiwa ini pada Ayah Fanny.
__ADS_1
Davi langsung menghampiri Fanny dan memeluk wanita yang kini jadi istrinya. "Apa kamu terluka?"
Fanny menggeleng, dia semakin erat membalas pelukan Davi, sumpah demi apa? Ini kebahagiaan yang luar biasa, karena dikhawatirkan seseorang yang sangat dia cintai