Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 26


__ADS_3

Acara yang dinantikan itu akhirnya tiba. Banyak anak-anak yang datang bersama kedua orang tua mereka. Setelah turun dari mobil Rachel terus memandang ke berbagai arah, mencari sosok yang dia rindukan.


"Ada apa sayang?" Kia menangkap sesuatu dari reaksi putrinya.


"Ayah mana bun?"


"Mungkin Ayah belum sampai."


"Tapi Ayah sudah janji kan kalau akan datang?"


"Bunda hanya mengingatkan Ayah kalau ada acara."


"Hai cantik, kenapa murung?"


Sapaan itu menyita perhatian Rachel. "Aunty Nabila datang gantii Ayah ya?" tebak Rachel.


"Enggak, Aunty wakilin Zera ponakan tante." Nabila semakin yakin rumah tangga sahabatnya dalam masalah, namun Kia tidak mau cerita padanya. "Memang Ayah nggak bisa datang?" tanya Nabila.


"Maaf ya sayang, Ayah terlambat."


"Ayah ...." Rachel sangat bahagia melihat Ayahnya, dia langsung melompat minta gendong.


Saat yang sama Kia juga langsung mendekati suaminya, dia merapikan bagian dada jas yang Davi kenakan, sontak hal ini mematahkan pemikiran Nabila.


"Kamu buru-buru ya mas? Sedikit berantakan ini." Kia masih membenarkan pakaian suaminya.


Sekujur tubuh Davi bergetar hebat mendapat perlakuan manis dari Kia, apakah pertanda istrinya memaafkannya?


"Hai semua."


Sapaan barusan seperti matahari yang bersinar terik, membuat embun kebahagiaan menguap begitu saja.


"Hai Aunty Likha." Hanya Rachel yang menyahut sapaan Likha.


"Rachel udah gede kok masih digendong?" ucap Likha.


"Tidak ada larangan orang gede nggak boleh digendong, aku aja sering lihat Bunda digendong Ayah."

__ADS_1


"Uluh-uluh ... Ayah Bunda Rachel ternyata selalu romatis ya walau nikahnya udah lama," komentar salah satu orang tua murid yang mendengar ucapan Rachel.


"Ya ampun Rachel, kan bunda malu ketahuan orang kalau masih manja sama Ayah," keluh Kia. Dengan bangga Kia melingkarkan lengannya di pinggang Davi.


"Santai saja bunda Rachel, kita semua malah bangga dengarnya," sela yang lain.


"Kami permisi dulu ya, mau bantu Rachel siap-siap, hari ini Rachel kebagian buat nyanyi." Kia menarik Davi berjalan bersamanya.


Melihat pemandangan itu Likha mematung. Aku masih tidak mengerti kenapa Davi ninggalin aku, padahal dia dan Kia tidak bermasalah, batin Likha.


Perhatian Likha tertuju pada Nabila. "Kak Nabila, kita bareng yukk."


"Maaf tempat kita berbeda!"


"Berbeda karena Kakak kaya aku miskin?" ucap Likha lirih.


"Oh maaf, maksudku berbeda tujuan, karena anak kamu masih TK, sedang ponakan aku SD." Nabila segera pergi meninggalkan Likha.


***


Tangan Kia masih setia memegang pinggang Davi, hingga mereka sampai di belakang panggung. Kia segera melepas gandengannya, dia langsung mendandani Rachel. Davi terus memandangi wajah Kia.


"Bunda memang terbaik, aku suka. Ya sudah aku mau kumpul sama teman-teman dulu bun." Rachel memberikan ciumannya pada Kia dan Davi, dan pergi begitu saja dari sana.


Kini dibelakang panggung hanya ada Kia dan Davi. Merasa tugasnya selesai, Kia membereskan isi tas make upnya, dan ingin meninggalkan tempat itu.


Davi menahan gerak Kia dengan memegang lengan istri yang telah dia sakiti itu. Davi mendekatkan wajahnya ke sisi telinga Kia, sekilas seperti mencium Kia. "Kamu mau maafin aku?" bisiknya.


Kia mengalungkan kedua tangannya ke leher Davi, dan menempelkan mulutnya di sisi telinga Davi. "Sebagai perempuan aku tidak sanggup lagi meneruskan hubungan ini. Andai aku tidak memiliki keluarga dan tidak ada Rachel, ingin rasanya aku mengakhiri hidupku. Rasa sakit yang kalian beri padaku diluar batas kemampuanku untuk menahannya."


Davi terasa sulit bernapas, dia membayangkan rasa sakit yang telah dia goreskan pada Kia. Menelan saliva pun terasa berat membayangkan rasa sakit itu.


"Kenapa aku masih diam ditempat tidak mengambil keputusan apa-apa? Ini karena aku memikirkan Rachel, jika aku memutuskan untuk berpisah, bagaimana keadaan mental dia? Tapi jika aku memilih bertahan, apa aku sanggup bertahan dalam rasa sakit?"


"Sampai saat ini aku masih kesulitan mengambil keputusan apa, memaafkanmu atau melepaskanmu "


"Aku mohon jangan akhiri ini semua, beri aku kesempatan kedua, aku janji akan merubah sikapku," bisik Davi.

__ADS_1


"Aku terlalu banyak bicara. Ini bukan tempat yang tepat untuk bahas masalah itu." Kia melepaskan rangkulannya. "Bisa kita fokus untuk kebahagiaan anak kita?"


Davi mengangguk pelan, bagaimana pun perasaan Kia saat ini dia tidak tahu. Bagi Davi Kia mau berjalan bersamanya sudah cukup Bahkan Kia tetap memeluknya walau wanita itu benci padanya.


Mereka berdua berjalan menuju tempat duduk yang disediakan untuk para orang tua. Walau saat ini Davi belum mendapat maaf dari Kia, dan dirinya hanya bisa memegang tangan Kia, ini kebahagiaan luar biasa buatnya.


Acara pun di mulai dengan menampilkan bakat anak-anak mereka. Rachel terlihat sangat bahagia melihat kedua orang tuanya kembali seperti dulu. Dia terus bernyanyi dan membuat semua orang bangga dan bertepuk tangan.


Acara masih berlanjut. Para orang tua masih fokus dengan penampilan anak-anak yang lain.


"Hai Kak Kia, boleh aku gabung sama kalian?" ucap Likha.


"Maaf Kia, semua yang ada di sini sudah ditentukan sesuai nama. Kamu tidak ketemu kursi kamu ya?"


"Bukan Kak--"


"Miss ...." Kia tidak menghiraukan pembelaan Likha, dia memanggil salah satu pengajar di sana.


"Ada apa Bunda Rachel?"


"Bisa antar ibu ini ke kursi dia? Sepertinya dia tidak menemukan kursi dia. Anaknya masih TK, miss." ucap Kia.


"Ayo bunda ikut saya," ajak pengajar itu pada Likha.


"Saya tidak boleh duduk di sini?" Likha keberatan.


"Semua tempat sudah ada pemiliknya, mohon tertib ya bunda, jangan merebut tempat orang lain," ucap Pengajar.


"Milik orang sangat menawan Miss, harap maklum, kalau memiliki jiwa perebut pasti susah nahan diri dari ambil punya orang, namanya juga perebut bukan pejuang," sindir orang tua murid yang lain.


Likha mengalah, semakin dia kekeh ingin di dekat Kia, semakin kacau keadaan karena dirinya, dia segera pergi mengikuti pengajar itu.


Pertunjukan bakat anak-anak selesai, kini para orang tua menikmati waktu mereka dengan berbincang dengan sesama orang tua murid yang lain, sebagian berbicara dengan para pengajar menanyakan perkembangan anak mereka.


Davi merasa reaksi Nabila biasa-biasa saja padanya. Pikiran Davi wanita itu akan benci padanya. Pandangan Davi tertuju pada Kia, terlihat wanita itu sibuk dengan teleponnya di sudut sepi. Davi perlahan menyusul Kia.


Kia menatap sinis pada Davi yang semakin dekat dengannya. "Jangan mengambil kesempatan mas, aku manis di sini hanya karena Rachel."

__ADS_1


"Tentang masalah kita, kenapa kamu merahasiakannya dari banyak orang? Bahkan merahasiakannya dari sahabatmu."


"Semakin sedikit orang yang tau masalahku, semakin mudah aku mempertimbangkan mengikuti hatiku, bukan mengikuti kata orang. Jika banyak orang tau, makin banyak desas desus yang membuatku semakin sulit mengambil keputusan, semakin sulit menggunakan otak dan hatiku."


__ADS_2