Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 23


__ADS_3

Luna sampai di kediaman Kia, dia berlari mencari kakak perempuannya itu. Melihat Kia sibuk membereskan tumpukan map, Luna merasa lega.


"Luna, tumben kamu ke sini?"


Luna tidak habis pikir, bagaimana Kakaknya bisa terlihat santai seperti ini, padahal matanya masih bengkak. "Rachel yang meminta aku datang."


Kia terkejut, dia berlari menuju lantai dia, tujuannya kamar Rachel, namun dia tidak menemukan putrinya di sana. Kia kembali mengayunkan cepat sepasang kakinya kearah kamarnya, di sana dia melihat Rachel menangis memandangi foto-foto tidak sopan itu.


"Bunda ... Aunty Likha jahat ...."


Kia mengutuk dirinya sendiri, bagaimana dia seceroboh ini sehingga Rachel lagi-lagi melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat. Kia menarik putrinya kedalam pelukannya.


Luna mematung melihat foto-foto yang berserakan itu, ingin rasanya dia merobek wajah perempuan ular yang menyebabkan luka dikehidupan Kakaknya. Luna tidak habis pikir Likha setega ini pada mereka.


"Luna, tolong bereskan semua itu," pinta Kia.


Luna berjongkok dan mulai memungut foto-foto memuakkan itu. Setiap lembar foto yang luna sentuh, jemarinya serasa tergores mata pisau.


Kia berusaha menenangkan putrinya. "Maafin bunda sama Ayah, bunda sama Ayah lagi berantem memutuskan untuk liburan kemana. Maafin kami ya ...."


"Bohong!" jerit Rachel.


"Rachel lupa ya, kan bunda sama Ayah selalu liburan sama Rachel."


"Nggak usah liburan! Rachel nggak suka Ayah sama bunda ribut."


Kia melirik kearah Luna, meminta bantuan adiknya itu untuk menghadapi tangisan Rachel.


"Foto itu, kenapa Aunty mengambil posisi bunda?"


Kia tidak punya jawaban atas pertanyaan itu.


"Aunty Likha lagi ajarin Ayah cara memeluk Rachel dengan benar. kan kalau salah peluk nanti Rachel sakit," sela Luna.


"Aunty Likha juga ajarin Ayah gimana cara cium Rachel yang benar." Kia menghujani wajah putrinya dengan ciuman lembut. "Juga ajarin Ayah bagaimana gelitikin Rachel yang benar, nah begini benar apa salah?" Kia mulai menggelitiki Rachel.


Sontak membuat Rachel tertawa dan menangis. "Bunda ... jangan ... geli bun ...."


"Jadi bener ya begini?" Kia terus menggelitiki Rachel.


"Stop bunda! Geliiii."


Kia segera menghentikan gelitikannya.


"Tapi kenapa difoto?"


"Karena bunda mau pastiin Aunty ajarin Ayah dengan benar," jawab Kia.


"Kenapa nggak bunda aja yang ajarin? Atau Aunty Luna?"

__ADS_1


"Bunda lagi kerja, Aunty Luna juga kerja."


Alasan mereka diterima oleh akal Rachel, anak manis itu mengusap air matanya dan kembali ceria. Luna dan Kia menemani Rachel bermain di kamar Rachel, hingga akhirnya anak itu tertidur. Kia mengajak Luna ke kamarnya.


"Jangan cerita pada siapa-siapa, termasuk mama dan papa," pinta Kia.


"Kakak jangan gila!" protes Luna.


"Tolong, biarkan aib ini hanya kita bertiga dan Tuhan yang tahu," pinta Kia.


"Kalau aku jadi Kakak, ku gugat itu orang ke pengadilan, biar malu! Biar dipenjara karena pasal perselingkuhan!"


"Menggugat?" Kia menarik napas begitu dalam. "Sampai detik ini aku masih seperti berada di simpang jalan. Bertahan demi Rachel, atau berpisah."


"Kakak mau beri kesempatan pada Davi?" Luna tidak habis pikir Kakaknya masih tidak berpikir untuk menggugat Davi dan Likha.


"Ini bukan hanya tentang aku dan Mas Davi. Perceraian tidak semudah membalikan telapak tangan, oke aku bisa lanjut hidup tanpa mas Davi, bagaimana dengan Rachel? Bagaimana mental Rachel setelah kami berpisah? Rachel terbiasa dan sangat terikat dengan Ayahnya."


"Tapi bertahan juga tidak mudah Kak! Apa Kakak siap mengorbankan diri dan perasaan Kakak seatap dengan orang yang telah menyakiti Kakak? Setelah Kakak memberi maaf pada Kak Davi, apa Kakak yakin Kak Davi tidak akan mengulangi perbuatannya?"


"Saat ini aku tidak bisa mengambil keputusan memaafkan atau mengakhiri. Aku butuh waktu Luna, sebab ini aku mohon rahasiakan hal ini."


"Aku pengen cekek leher Kakak rasanya. Kalau aku diposisi Kakak, sudah aku posting itu kejahatan mereka, suami tidak tau diri! Dan gembel yang tidak tahu terima kasih!"


"Apa yang kita dapat setelah berhasil bikin malu mereka, atau berhasil membuat mereka mendekam di penjara, apa yang kita dapat dari semua itu?"


"Rasa kecewa kita terbayar Kak!"


Luna terdiam, dia tidak memikirkan dampak pada keponakanya. "Seiring berjalannya waktu, Rachel akan mengerti, Kak."


"Sehari aja aku sulit menjawab segala pertanyaan Rachel, mengatasi Rachel yang terus merengek ingin Davi, lalu bagaimana jika pertanyaan yang sama terulang terus menerus, sedang membuat Rachel mengerti tidak cukup dalam waktu seminggu."


"Simpati publik, kebencian publik pada pelaku selingkuh, aku tidak butuh, yang aku pikirkan hanya Rachel."


"Terus Kakak mengalah pada mereka?"


"Aku tidak mau memikirkan mereka, yang aku pikirkan saat ini Rachel, sudah terlalu banyak hal yang tidak pantas dia lihat, malah terus dia lihat." Kia menatap sendu pada adiknya. "Aku mohon, rahasiakan semua ini." Kia memohon untuk kesekian kalinya.


Luna marah akan sikap Kakaknya, dia tidak menjawab, namun langsung pergi begitu saja.


Di belahan kota lain.


Saat Davi memarkirkan mobilnya, saat yang sama Likha parkir tepat di sampingnya. Menyadari sosok yang dia cari ada di depan matanya, Davi segera menuju mobil Likha.


Pemilik mobil sedan hitam itu sangat bahagia melihat ATM nya menghampirinya, dia segera membukakan pintu mobilnya untuk Davi.


"Sayang." Likha ingin mencium bibir Davi, namun kali ini Davi menepisnya.


"Kita sudahi semuanya," ucap Davi dingin.

__ADS_1


"Lagi-lagi begini ...." Likha berusaha mencium Davi, namun laki-laki itu tetap menepis.


"Kamu itu hanya takut, santai saja semua baik-baik aja sayang, kita nikmati setiap prosesnya."


"Harusnya semua ini tidak pernah terjadi! Mulai sekarang kita tidak punya hubungan apa-apa!" ucap Davi.


"Jangan mengambil keputusan saat sedang emosi, kamu ambil semua yang kamu beri padaku, pikirkan lagi beberapa hari lalu putuskan." Likha memberikan kunci mobil dan akses Apartemen yang dia pegang pada Davi.


"Semua itu untukmu, tidak usah dikembalikan."


"Ambil semua kak Davi, aku tidak menginginkan ini darimu, dari awal ku katakan aku hanya ingin dirimu, bukan hartamu."


"Ini keputusanku Likha, kita sudahi hubungan ini, maafkan aku." Davi turun dari mobil Likha dan segera kembali ke mobilnya.


Detik yang sama, ada sepasang mata yang terkejut melihat Davi keluar dari mobil asing. Belum lenyap keterkejutannya, jantungnya seakan berhenti berdetak menyadari pemilik mobil itu adalah Likha.


"Ini tidak bisa dibiarkan." Sosok itu langsung meraih handphonenya.


"Halo, Nabila kamu masih kerja?" sapaan di ujung telepon.


"Aku malah pengen nanya, kamu sudah balik apa belum?"


"Aku sudah mendarat di tanah air, bisa ketemu?"


"Pas banget! Ada hal darurat yang harus aku bahas sama kamu!"


"30 menit lagi ditempat biasa."


"Siap Indra, aku segera ke sana," ucap Nabila.


Merasa keadaan aman, Nabila keluar dari persembunyiannya, dia segera menuju mobilnya.


Di tempat pertemuan Nabila dan Indra.


"Aku bingung mulai bicara dari mana," ucap Indra.


"Sama, ada hal penting, tapi aku bingung cerita dari mana," sahut Nabila.


"Aku melihat Likha dan Davi saat perjalanan bisnis. Tapi aku tidak yakin itu mereka, takutnya jadi fitnah." ujar Indra.


"Bukan fitnah lagi, aku baru saja melihat Davi keluar dari mobil Likha."


"Kita harus apa? Aku tidak rela Kia di sakiti seperti ini."


Nabila mamandang Indra dengan tatapan penuh selidik.


"Aku sudah lama merelakan Kia bahagia sama Davi, tapi jika Davi menyakiti Kia seperti ini, aku tidak rela!" Indra memperjelas kata-katanya.


"Aku bingung, satu sisi aku ingin mengadu, satu sisi aku juga tidak tega." Nabila menelungkupkan kepalanya keatas meja.

__ADS_1


Kedua sahabat itu sangat dilema memikirkan nasib sahabat mereka.


__ADS_2